💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di atas motornya, Cia berusaha keras menenangkan diri. Jantungnya berdebar tak karuan, bukan karena takut, tapi lebih karena kesal! Kenapa juga ia harus ke temu Aksa di saat yang tidak tepat?
"Sialan! Cowok itu emang nyebelin!" gerutunya pelan di balik helm, menggertakkan giginya. Ia merasa seperti dipermainkan takdir. Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi seorang Cia yang biasa saja, tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu dalam diri Aksa yang menarik perhatiannya, meskipun ia mencoba menepisnya.
Ia semakin mempercepat laju motornya, berusaha menjauh dari bayangan Aksa dan fokus pada tujuannya yaitu bakso Pak Jono. Ia sudah bisa membayangkan kuah kaldunya yang gurih, baksonya yang kenyal, dan pangsit gorengnya yang renyah. Yang bisa memanjakan lidahnya!
Namun, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Tiba-tiba saja, dua motor memepetnya dari sisi kanan dan kiri. Cia mendengus kesal, sudah tahu siapa pelakunya.
"Ngapain kalian di sini?!" tanyanya ketus, tanpa menoleh sedikit pun. Ia bahkan tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang mengganggunya.
"Kami juga ingin makan bakso lah," jawab Vano dengan nada datar, khas dirinya.
"Lagian nggak mungkin kita biarin kamu keluyuran sendirian," timpal Varo, dengan senyum cerianya yang selalu bisa membuatnya mencairkan suasana.
Cia memutar bola matanya malas. "Ck, lebay!" komentarnya singkat, tapi dalam hati ia merasa sedikit hangat. Ia memang sedikit kesal dengan sikap overprotektif kedua kakaknya ini, tapi ia juga tahu bahwa mereka hanya ingin melindungi dirinya.
"Yaudah, terserah kalian aja!" ujarnya pasrah. Ia sudah tahu, percuma saja berdebat dengan mereka. Lebih baik ia segera sampai di bakso Pak Jono dan berharap bisa melupakan semua kekesalannya pada sosok Aksa.
Mereka bertiga melaju beriringan, membelah jalanan malam yang masih ramai. Tanpa Cia dan ke-dua saudaranya sadari, jika dari kejauhan, sebuah motor sport hitam mengikuti mereka dengan setia, menjaga jarak aman agar tidak ketahuan. Pengendaranya, tak lain dan tak bukan adalah Aksa, ia menyipitkan matanya berusaha tetap fokus pada sosok gadis yang mengendarai motor di depannya.
"Gue bakal cari tahu tau siapa lo sebenarnya Ratu," gumam Aksa pelan, tekadnya semakin kuat untuk memecahkan misteri dari gadis cantik yang mampu mengusik ketenangannya.
Cia terus berpacu di jalanan hingga akhirnya sampai di tujuan awalnya yaitu gerobak bakso Pak Jono. Senyumnya merekah di balik helm, ia tidak sabar untuk segera menikmati makanan favoritnya. Ia memarkirkan motornya dengan semangat, diikuti oleh Vano dan Varo yang memarkirkan motor mereka di sisi kanan dan kirinya.
Kemudian, ia membuka helm dan maskernya, menampilkan rambut panjangnya tergerai bebas, dengan gerakan santai ia mencepol asal rambutnya di atas kepala, meskipun terlihat sedikit berantakan karena anak rambutnya jatuh di sisi kedua pipi mulusnya, tapi aura cantik tetap terpancar semakin mempesona. Ia menghela napas lega, akhirnya bisa bernapas lega setelah melepas helm dan masker yang menempel di wajahnya.
"Pak Jono! Bakso tiga mangkok ya! Yang satu pangsit dan sambelnya yang banyak!" teriak Cia, memesan dengan antusias.
"Eh! Neng cantik! Dan Aden tampan datang! Silahkan duduk Bapak akan segera membuat pesanannya," seru Pak Jono dengan ramah.
Ketiganya duduk santai di salah satu meja kosong yang terletak di sudut ruangan.
Di kejauhan, Aksa menghentikan motornya di tempat yang agak tersembunyi. Ia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tidak percaya, matanya terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka.
Cia?
Jadi ... Ratu dan Cia orang yang sama?
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Tapi, pemandangan di depannya tetap sama: Cia, si gadis dingin dan misterius, kini tengah tertawa lepas dan berinteraksi akrab dengan dua cowok yang berdiri di sampingnya.
Aksa menyipitkan mata, memperhatikan kedua cowok itu dengan seksama. Wajah mereka sangat familiar. Tunggu sebentar ... Itu kan Vano dan Varo?
Otaknya mulai bekerja keras, berusaha menghubungkan semua informasi yang ia dapatkan. Cia adalah Ratu, dan Cia ternyata sangat dekat dengan Vano dan Varo, bahkan di luar sekolah keduanya selalu ada di sisi Cia. Tapi, kenapa? Apa hubungan mereka? Gak mungkinkan kalau dua kembar itu menyukai gadis yang sama?
"Gak mungkin ..." gumam Aksa pelan, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ini terlalu janggal jika hanya kebetulan semata.
Ia terus memantau setiap gerak gerik Cia yang sedang bercanda dan tertawa dengan Vano dan Varo. Sikapnya sangat berbeda saat berhadapan bersama dengan dirinya. Sikap dingin dan acuh tak acuh yang biasa ia tunjukkan di sekolah kini malah terlihat Cia lebih ceria, lebih hidup, dan itu membuat Aksa semakin penasaran.
"Sial," umpat Aksa pelan, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya dan ia bertekad untuk mencari tahu kebenarannya. Rasa posesif mulai menguasai dirinya. Cia adalah miliknya dan ia tidak suka ada orang lain yang mendekatinya.
Vano dan Varo, yang merasa seperti diperhatikan dari kejauhan, menajamkan indra mereka dan menyapu pandangan ke sekeliling. Mata Vano yang tajam menangkap siluet seseorang yang bersembunyi di balik bayangan. Ia menyenggol lengan Varo, memberi isyarat. Varo mengangguk mengerti, senyumnya mengembang, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Cia, tunggu sebentar ya. Gue mau ke toilet dulu," ujar Varo, memasang senyum menawan yang mampu membuat banyak gadis terpesona.
"Hm! Gue juga!" tambah Vano dengan nada datar seperti biasa. Ekspresinya dingin, tapi matanya menyimpan kewaspadaan.
Cia mengangkat bahunya acuh. "Terserah," balasnya singkat, lalu kembali fokus pada baksonya.
Vano dan Varo melangkah menjauh dari Cia, menuju arah tempat Aksa bersembunyi. Mereka berdua berjalan dengan tenang, tapi aura intimidasi terpancar jelas dari setiap gerakan mereka. Aksa bisa merasakan tatapan tajam mereka mengarah padanya.
"Siapa tuh?" gumam Varo pelan, sambil melirik ke arah siluet di kegelapan. Ia sengaja bertanya dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh Aksa.
"Gak tau," balas Vano, dengan nada dingin. "Paling penggemar Cia juga kali?" lanjutnya.
Mereka berdua tersenyum sinis, seolah memancing Aksa. Mereka membiarkan Aksa menilai mereka sesuka hatinya, tanpa berniat menjelaskan apa hubungan mereka dengan Cia. Biarkan saja cowok itu salah paham, pikir mereka. Toh, bukan urusan mereka.
Aksa, yang mendengar percakapan mereka, semakin geram. Ia mengepalkan tangannya semakin kuat, berusaha meredam emosinya. Jadi, Varo juga menyukai Cia? Pesaing macam apa ini? Masa gue harus bersaing dengan kedua kembar ini sih? pikirnya.
Ia memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi. Ia melangkah keluar dari bayangan dan berjalan dengan santai menuju meja Cia. Bahkan ia mengabaikan Vano dan Varo yang ada di hadapannya. Ia memasang ekspresi dingin dan datar, berusaha menutupi rasa cemburu dan penasarannya.
Vano dan Varo hanya memperhatikan Aksa dengan tatapan datar. Mereka tidak berniat menghentikannya. Biarkan saja cowok itu mendekat, pikir mereka. Kita lihat apa yang akan dia lakukan.
Aksa sampai di meja Cia dan menarik kursi, duduk tepat di hadapan gadis itu. Ia menatap Cia dengan tatapan intens, berusaha membaca pikirannya.
Cia yang sedang asyik menikmati baksonya hampir keselek saat melihat Aksa tiba-tiba duduk di hadapannya. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan makanan yang tersangkut di tenggorokannya.
"Uhuk ... uhuk ..."
Dengan sigap, Aksa membuka tutup botol yang da di dekatnya, menyodorkan botol air mineral itu ke arah Cia. Ia terlihat sangat khawatir, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
"Minum dulu," ujarnya, dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Cia menerima botol air itu dengan cepat. Dan meneguknya hingga menyisakan setengah botol.
Bersambung ...
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,