💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tengah malam yang sunyi menyelimuti kota. Di sebuah markas rahasia, tiga sosok berpakaian serba hitam bergerak dengan lincah dan tanpa suara. Mereka adalah The Silent Triple, Cia, Vano, dan Varo, yang bersiap untuk menjalankan misi rahasia mereka.
Cia memeriksa pistol Glock 19 miliknya, memastikan setiap peluru terisi penuh. Ia memasang silencer pada ujung laras, mempersiapkan diri untuk pertempuran yang mungkin terjadi. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan fokus.
Vano sibuk mengatur peralatan cybersecurity miliknya. Ia menghubungkan laptop ke sebuah drone kecil yang dilengkapi dengan kamera pengintai. Ia akan menggunakan drone itu untuk memantau situasi di dalam hotel dan memberikan informasi kepada timnya.
Varo mengenakan seragam security palsu yang akan ia gunakan untuk menyusup ke dalam hotel. Ia memasang earpiece di telinganya, menghubungkannya ke interkom yang akan digunakan untuk berkomunikasi dengan Cia dan Vano. Ia melatih gerakan bela dirinya di depan cermin, memastikan ia siap untuk menghadapi siapapun yang menghalangi jalannya.
"Semuanya siap?" tanya Vano melalui interkom, memecah keheningan.
"Siap," jawab Cia dan Varo serempak.
"Oke, mari kita mulai," ujar Vano dengan nada tegas.
The Silent Triple keluar dari markas dan menaiki sebuah van hitam yang sudah menunggu. Vano mengemudikan van itu dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang mulai sepi menuju hotel mewah di pusat kota, tempat pertemuan rahasia para pemimpin sindikat narkoba akan diadakan.
Saat mereka tiba di depan hotel, Varo turun dari van dan berjalan menuju pintu masuk utama, menyamar sebagai seorang security. Ia menunjukkan kartu identitas palsunya kepada petugas keamanan dan berhasil masuk ke dalam hotel tanpa dicurigai.
Cia dan Vano menunggu di dalam van, memantau pergerakan Varo melalui kamera pengintai yang terpasang pada drone. Mereka melihat Varo berhasil melewati beberapa pos pemeriksaan keamanan dan menuju ke lantai atas, tempat pertemuan rahasia akan diadakan.
"Varo sudah berhasil masuk. Kita tunggu instruksi selanjutnya," ujar Vano melalui interkom.
Di dalam hotel, Varo bergerak dengan hati-hati, menghindari kamera pengintai dan petugas keamanan asli. Ia berhasil mencapai pintu masuk ruang pertemuan dan memasang alat penyadap di dekat pintu tersebut.
"Alat penyadap sudah terpasang. Sekarang kita bisa mendengarkan percakapan mereka," ujar Varo melalui interkom.
Vano mulai menyadap percakapan di dalam ruang pertemuan melalui laptop miliknya. Ia mendengar suara beberapa orang berbicara dalam bahasa asing, merencanakan transaksi narkoba yang akan mereka lakukan.
"Kita punya bukti yang cukup untuk menangkap mereka," ujar Vano dengan nada puas.
"Tunggu dulu. Kita harus memastikan semua target berada di dalam ruangan yang sama," balas Cia mengingatkan.
Beberapa saat kemudian, Vano melihat melalui kamera pengintai, semua target sudah berada di dalam ruang pertemuan. Ia memberikan instruksi kepada Cia dan Varo untuk segera masuk dan menangkap mereka.
"Oke, sekarang waktunya bertindak. Cia, kamu masuk dari pintu utama. Varo, kamu masuk dari pintu belakang. Tangkap semua target hidup-hidup," perintah Vano melalui interkom.
Cia dan Varo bergerak cepat menuju target masing-masing. Cia menerobos masuk ke dalam ruang pertemuan dari pintu utama, menodongkan pistolnya ke arah para pemimpin sindikat narkoba.
"Jangan bergerak! Kalian semua ditangkap!" teriak Cia dengan lantang, mengagetkan semua orang yang berada di dalam ruangan.
Para pemimpin sindikat narkoba itu mencoba untuk melawan, namun Cia dengan sigap melumpuhkan mereka satu per satu dengan gerakan bela diri yang mematikan. Dalam waktu singkat, semua target berhasil ia kuasai.
Sementara itu, Varo menerobos masuk ke dalam ruangan dari pintu belakang, membantu Cia mengamankan para target. Ia mengikat tangan mereka dengan borgol dan menggiring mereka keluar dari ruangan.
Aksi penangkapan berjalan dengan lancar dan sukses. The Silent Triple berhasil menangkap semua pemimpin sindikat narkoba tanpa ada korban jiwa. Mereka merasa puas dan bangga dengan keberhasilan misi mereka kali ini.
Namun, saat mereka sedang membawa para target keluar dari hotel, tiba-tiba terjadi aksi perlawanan dari pihak lain. Beberapa orang bersenjata muncul dan menyerang mereka, mencoba untuk membebaskan para pemimpin sindikat narkoba.
Cia, Vano, dan Varo terkejut dengan serangan mendadak itu. Mereka berusaha untuk melindungi diri dan para target, sambil membalas tembakan dari para penyerang.
Dor!
Dor!
Hujan peluru memenuhi ruangan, memaksa The Silent Triple berlindung di balik pilar-pilar beton. Cia merasakan jantungnya berdebar. Ia menggenggam pistolnya erat-erat, tekadnya semakin kuat.
Vano dengan cekatan memanfaatkan laptopnya untuk mengendalikan drone, mencari celah di antara para penyerang. Ia melihat pergerakan mereka, membaca pola serangan mereka, dan memberikan informasi kepada Cia dan Varo melalui interkom. "Sebelah kiri! Ada dua orang! Varo, hati-hati di belakangmu!" serunya, suaranya tegang namun penuh perhitungan.
Varo bergerak lincah menghindari tembakan, tubuhnya berputar dan meliuk seperti penari. Ia menggunakan setiap sudut dan celah sebagai perlindungan, melompat dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan kilat. Ia teringat pesan sang Opa, yang selalu menekankan pentingnya ketenangan dan fokus dalam situasi apapun. "Jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Jadikan ia sebagai bahan bakar untuk bertindak," kata-kata itu terngiang di benaknya.
Di tengah kekacauan itu, seorang penyerang bertubrukan dengan Cia, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Penyerang itu mengangkat pistolnya, siap untuk menghabisi Cia dari jarak dekat. Cia memejamkan matanya, pasrah pada keadaan. Namun, tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam penyerang itu, membuatnya terpental jauh.
Cia membuka matanya, melihat seorang pria bertopeng berdiri di depannya, melindunginya dari bahaya. Pria itu bergerak seperti bayangan, melumpuhkan para penyerang dengan gerakan yang cepat dan mematikan. Cia terpesona dengan kemampuannya, namun juga merasa aneh. Aura yang terpancar dari pria itu terasa familiar, namun ia tidak bisa mengenalinya.
Setelah semua penyerang berhasil dilumpuhkan, pria bertopeng itu berbalik menghadap Cia. Ia mengulurkan tangannya, membantunya untuk berdiri. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan suara berat, namun ada nada lembut yang tersembunyi di dalamnya.
Cia menerima uluran tangan pria itu dan berdiri. Ia menatap pria itu dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari tahu siapa dia sebenarnya. "Siapa kamu?" tanyanya, suaranya bergetar.
Pria bertopeng itu tersenyum tipis, seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Itu bukan urusanmu," jawabnya singkat, lalu berbalik dan menghilang di balik pilar-pilar beton. Saat ia berbalik, tanpa sengaja kalung yang dipakai Cia terlepas dan tersangkut di jaketnya, tepatnya di bagian resleting. Cia tidak menyadarinya, terlalu terpaku pada sosok misterius itu. Pria itu pun, dalam ketergesaannya, tidak menyadari kejadian tersebut.
Cia menatap kepergian pria itu dengan tatapan bingung dan penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria itu. Filingnya mengatakan jika pria itu bukanlah orang asing, namun ia tidak bisa menebak siapa dia sebenarnya. Perasaan campur aduk berkecamuk di dalam hatinya, rasa lega karena telah diselamatkan, rasa penasaran terhadap identitas pria itu, dan sedikit rasa kecewa karena ia pergi begitu saja.
Bersambung ...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,