NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 Samudra

Ada perasaan yang tak meminta dimiliki, ia hanya ingin diakui—

seperti laut yang luas, cukup dipandang dengan jujur.

—Celine Chadia Cendana—

Perjalanan dari villa menuju pantai bukanlah perjalanan singkat. Jarak yang harus ditempuh memaksa mereka berangkat lebih awal, bahkan sebelum matahari benar-benar terjaga dari tidurnya. Udara pagi masih dingin, menusuk lembut seperti sentuhan embun di ujung daun. Langit berwarna kelabu pucat, seolah menahan cahaya agar tak terlalu cepat muncul.

Villa yang semalam dipenuhi tawa kini kembali hening. Lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu. Suara langkah kaki terdengar pelan, diselingi bisik-bisik ringan yang tak ingin memecah kesunyian pagi.

Celine melangkah keluar lebih dulu. Ia mengenakan jaket tipis berwarna krem, kerudungnya terikat rapi. Nafasnya mengembun saat udara dingin menyentuh paru-parunya. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mempersiapkan dirinya—bukan hanya untuk perjalanan fisik, tetapi juga untuk sesuatu yang lebih dalam.

Perjalanan ini, ia tahu, bukan perjalanan biasa.

Reina menyusul dari belakang, menyodorkan secangkir teh hangat.

“Biar nggak masuk angin,” katanya pelan.

Celine tersenyum kecil. “Kamu selalu inget hal-hal kecil.”

“Karena hal kecil sering jadi penentu,” jawab Reina.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun menggantung lama di pikiran Celine—seperti gema lembut di lorong panjang.

Restu yang Diam-diam Menguatkan

Orang tua mereka mengizinkan keberangkatan pagi itu tanpa banyak syarat. Bukan karena perjalanan itu ringan, melainkan karena tujuan di baliknya begitu besar.

Daddy Caesar memandangi rombongan dari ambang pintu. Sorot matanya tenang, namun sarat harap. Ia tahu, sebagai orang tua, tak semua bisa ia arahkan. Ada hal-hal yang hanya bisa ia serahkan pada waktu dan kehendak-Nya.

“Jaga adikmu,” pesannya pada Calvin.

Calvin mengangguk mantap. “Pasti, Dad.”

Bunda Afsheen berdiri tak jauh darinya. Tangannya terlipat di dada, bibirnya komat-kamit melantunkan doa. Ia tak menyebut nama Aldivano dan Celine secara bersamaan, namun hatinya menyatukan keduanya dalam satu permohonan yang sama: kebaikan.

Ia paham betul, tujuan utama liburan ini bukan sekadar menikmati alam. Ada niat yang lebih dalam—niat untuk menyatukan dua hati yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.

Namun tak satu pun dari mereka memaksa.

Karena mereka tahu, sesuatu yang dipaksakan hanya akan tumbuh sebagai beban, bukan berkah.

Draven dan Perannya yang Sunyi

Draven ikut serta pagi itu. Keputusannya bukan keputusan mendadak, melainkan hasil dari pengamatan panjang. Sebagai sepupu sekaligus kakak bagi Celine, ia merasa perlu hadir—bukan untuk mengintervensi, tetapi untuk memastikan.

Ia duduk di kursi belakang kendaraan, pandangannya lurus ke depan. Wajahnya tenang, seperti permukaan danau di pagi hari. Namun pikirannya bekerja, menimbang-nimbang banyak hal.

Ia tahu Aldivano bukan lelaki sembarangan. Ia melihat caranya menjaga jarak, caranya menghormati, caranya memilih diam daripada memaksa. Dan justru di situlah Draven mulai percaya.

Perjalanan ini, baginya, adalah kesempatan untuk melihat lebih dekat. Bukan hanya melihat sikap Aldivano, tetapi juga membaca hati Celine yang seringkali menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum tenang.

Jalan Panjang dan Percakapan yang Tak Terucap

Kendaraan melaju perlahan meninggalkan villa. Jalanan masih lengang, seperti kertas kosong yang siap ditulisi kisah baru. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan, satu per satu terlewati, seperti detik-detik waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

Di dalam kendaraan, suasana hangat. Ada obrolan ringan, tawa kecil, dan diam yang nyaman. Tak ada yang terburu-buru. Semua seolah sepakat untuk menikmati setiap detik perjalanan.

Celine duduk di dekat jendela. Ia memandang ke luar, menyaksikan siluet pepohonan yang bergerak mundur. Pemandangan itu terasa seperti pikirannya sendiri—banyak hal yang ia tinggalkan di belakang, banyak pula yang belum berani ia hadapi.

Sesekali, pandangannya bertemu dengan pantulan Aldivano di kaca jendela. Ia cepat-cepat mengalihkan mata, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Seperti burung kecil yang terkejut oleh bayangannya sendiri.

Aldivano menyadari perubahan itu. Namun ia memilih diam. Ia tahu, jarak yang Celine jaga bukan penolakan, melainkan bentuk kehati-hatian. Dan ia menghormati itu.

Bagi Aldivano, mencintai bukan tentang mendekat sejauh mungkin, melainkan tentang tahu kapan harus menunggu.

Pelajaran dari Perjalanan

Semakin jauh mereka melaju, semakin jelas satu hal: perjalanan ini mengajarkan banyak makna.

Bahwa kebersamaan tak selalu harus dipenuhi percakapan. Bahwa niat baik tak selalu harus diumumkan. Bahwa restu dan doa seringkali bekerja dalam diam.

Celine mulai menyadari sesuatu. Perjalanan panjang ini, dengan segala kesederhanaannya, terasa lebih bermakna daripada perjalanan singkat yang penuh kemewahan. Seperti hidup itu sendiri—bukan tentang seberapa cepat sampai, tetapi bagaimana kita berjalan.

Ia teringat pesan Grandma-nya dulu:

“Hidup itu seperti jalan panjang. Jangan takut kalau langkahmu pelan, selama arahmu benar.”

Kalimat itu kini terasa begitu dekat.

Pantai itu terbentang luas di hadapan mereka, seperti hamparan doa yang dijawab perlahan oleh waktu. Pasirnya keemasan, berkilau ketika disentuh cahaya matahari sore, seolah ribuan butir kecil sedang bertasbih tanpa suara. Ombak datang silih berganti, berdebur lembut di bibir pantai, seperti napas panjang alam yang tak pernah lelah.

Celine berdiri mematung di tepi pantai.

Matanya menatap jauh ke garis cakrawala, tempat langit dan laut bertemu tanpa sekat. Dadanya terasa penuh—bukan sesak, melainkan penuh oleh rasa tak bernama. Seolah hatinya sedang ditarik perlahan ke arah luas yang tak bisa ia ukur.

Angin laut menyibakkan anak rambutnya, membelai wajahnya seperti sentuhan lembut seorang ibu yang menenangkan anaknya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti bergerak. Tidak ada kegelisahan, tidak ada pertanyaan. Hanya ada Celine dan kebesaran ciptaan-Nya.

“MasyaAllah…” lirihnya, nyaris seperti bisikan yang takut mengganggu keheningan.

Keindahan itu tidak sekadar terlihat, tapi terasa. Seperti simfoni yang tak perlu suara, pantai itu menyentuh relung terdalam jiwanya. Setiap ombak yang datang terasa seperti panggilan untuk melepaskan beban, setiap hembusan angin seperti ajakan untuk bernapas lebih dalam.

Reina menyusul langkahnya. Ia berhenti tepat di samping Celine, matanya menyapu pemandangan yang sama. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya tertahan sesaat.

“Ya Allah…” Reina berdecak kagum. “Ini indah banget.”

Celine tersenyum tipis. Senyum yang tak dibuat-buat, seperti bunga liar yang mekar tanpa disuruh.

“Indahnya bukan yang bikin heboh,” ucapnya pelan, “tapi yang bikin hati tenang.”

Reina menoleh ke arahnya. Ia melihat sesuatu di mata sahabatnya—ketenangan yang bercampur dengan kejujuran yang mulai berani muncul. Seperti laut di sore hari; terlihat tenang di permukaan, namun menyimpan arus kuat di dalam.

Mereka berdiri berdampingan, tanpa perlu banyak kata. Pasir di bawah kaki mereka terasa hangat, seperti bumi yang menyambut langkah dengan ramah. Jauh di belakang, keluarga Cendana dan Athariz terlihat sibuk—ada yang menggelar alas duduk, ada yang menyiapkan bekal, ada pula yang sibuk mengabadikan momen.

Namun bagi Celine dan Reina, dunia seolah menyempit menjadi dua pasang mata yang memandang ke arah yang sama.

Celine melangkah sedikit lebih dekat ke air. Ombak kecil menyentuh ujung sepatunya, lalu surut kembali, seperti ragu-ragu ingin menetap. Ia tertawa kecil, suara tawanya ringan seperti burung camar yang melintas di atas mereka.

“Laut itu kayak perasaan,” katanya tiba-tiba.

Reina mengangkat alis, tertarik. “Maksud kamu?”

“Kelihatannya tenang,” Celine menghela napas, “tapi kalau kita nggak hati-hati, bisa kebawa arus.”

Reina tersenyum miring. Ia paham ke mana arah pembicaraan itu.

“Kamu lagi ngomongin laut… atau hati?”

Celine tak langsung menjawab. Ia memandang ombak yang kembali datang, kali ini sedikit lebih besar, lalu pecah menjadi buih putih.

“Mungkin dua-duanya.”

Angin kembali berhembus, membawa aroma asin yang khas. Aroma itu mengingatkan Celine pada banyak hal—tentang perjalanan ini, tentang doa-doa yang tak terucap, tentang jarak yang sengaja ia jaga.

Tentang Aldivano.

Nama itu tak ia sebutkan, tapi terasa jelas hadir di benaknya. Seperti bayangan awan di permukaan laut—tak mengganggu, tapi tak bisa diabaikan.

Dari kejauhan, Aldivano berdiri bersama Calvin dan Draven. Matanya sesekali melirik ke arah pantai, ke arah dua sosok yang berdiri menghadap laut. Ia tak mendekat. Ia memilih menjaga jarak, seperti karang yang setia di tempatnya, membiarkan ombak datang dan pergi tanpa berpindah.

Ia melihat Celine tertawa kecil, rambutnya tertiup angin, siluetnya terlihat begitu hidup di bawah cahaya sore. Dadanya terasa menghangat, seperti matahari yang perlahan turun namun meninggalkan sisa hangatnya.

“Cantik ya,” ujar Calvin santai, mengikuti arah pandangan Aldivano.

Aldivano mengangguk pelan. “Iya.”

Jawabannya singkat. Tapi di dalamnya tersimpan banyak makna.

Sore semakin condong. Langit berubah warna, dari biru cerah menjadi gradasi jingga dan keemasan. Seperti lukisan yang diselesaikan dengan sabar oleh tangan Maha Kuasa.

Keluarga-keluarga itu mulai berkumpul lebih dekat ke pantai. Ada yang duduk di atas tikar, ada yang berjalan menyusuri garis air. Suara tawa anak-anak bercampur dengan debur ombak, menciptakan harmoni yang hangat.

Celine duduk di atas pasir, lututnya ditekuk. Ia menancapkan pandangannya ke laut, seolah ingin menyimpan pemandangan itu dalam ingatannya. Seperti menyimpan doa di dalam hati, agar bisa diingat saat rindu.

Reina duduk di sampingnya.

“Kamu bahagia?” tanyanya lembut.

Celine mengangguk. “Iya.”

“Tenang?”

“Banget.”

Reina tersenyum, lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Kadang, tenang itu tanda hati lagi jujur sama dirinya sendiri.”

Celine terdiam.

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat di tengah dadanya. Seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang—menimbulkan riak yang perlahan melebar.

Ia menunduk, menatap pasir yang menempel di jemarinya.

“Kalau jujur itu bikin takut?” tanyanya lirih.

“Takut itu wajar,” jawab Reina. “Yang bahaya kalau kita terus lari.”

Celine menarik napas panjang. Dadanya naik turun, seperti ombak yang mengikuti irama alam.

“Aku cuma nggak mau salah langkah.”

Reina menoleh, menatap sahabatnya penuh keyakinan.

“Makanya kamu jalan pelan. Nggak perlu lompat.”

Matahari semakin rendah. Azan magrib terdengar dari kejauhan, menggema lembut, seolah memanggil seluruh isi pantai untuk berhenti sejenak. Suara itu menyatu dengan debur ombak, menciptakan suasana yang sakral.

Semua bergerak. Ada yang berwudu dengan air mineral, ada yang membentangkan sajadah di atas pasir. Langit kini berwarna oranye kemerahan, seperti kanvas yang dipenuhi rasa syukur.

Celine berdiri, merapikan kerudungnya. Kakinya menjejak pasir dengan ringan, seolah setiap langkahnya kini lebih yakin.

Saat ia berdiri dalam saf, menghadap kiblat, laut berada di belakangnya. Ombak tetap datang dan pergi, tapi hatinya terasa lebih stabil. Seperti menemukan porosnya kembali.

Dalam sujudnya, Celine berdoa tanpa banyak kata.

“Ya Allah,” bisiknya dalam hati, “kalau perasaan ini benar, tuntun aku. Kalau belum waktunya, kuatkan aku.”

Doa itu mengalir begitu saja, seperti air yang menemukan jalannya sendiri.

Setelah shalat, langit mulai gelap. Bintang satu per satu muncul, bertaburan seperti janji-janji kecil yang ditebar di angkasa. Lampu-lampu kecil dinyalakan, menerangi wajah-wajah yang tampak damai.

Celine kembali berdiri di tepi pantai. Kali ini, Aldivano berada tak jauh darinya. Jarak mereka masih ada—cukup untuk menjaga, cukup untuk merasakan.

Tak ada dialog. Tak ada tatap mata yang lama.

Namun di antara suara ombak dan angin malam, ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Bukan kepastian, tapi keberanian untuk mengakui.

Bahwa detak jantung itu memang berbeda.

Bahwa rasa itu nyata.

Dan bahwa semua ini—laut, perjalanan, jarak—bukan kebetulan.

Celine memejamkan mata sejenak, membiarkan angin laut menyentuh wajahnya.

Di kejauhan, ombak terus datang, seperti waktu yang tak pernah berhenti.

Dan di dalam hatinya, sebuah kisah baru mulai bergerak—pelan, namun pasti.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!