Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 (Part 1) Gerbang Singa dan Lantai Pualam
Malam yang dinanti—atau ditakuti—akhirnya tiba. Langit Jakarta seolah ikut bersolek dengan taburan bintang yang jarang terlihat, seakan-akan semesta ingin memberikan panggung yang megah bagi sandiwara yang akan segera dimulai. Bagi warga biasa, kediaman Alangkara di kawasan elit Menteng adalah benteng kemewahan yang tak tersentuh.
Namun bagi Kella, rumah itu adalah labirin yang menyimpan napas terakhir Gabriel dan masa depan Gala yang terpasung.
Kella turun dari bus agensi bersama lima pelayan lainnya. Di depan mereka, gerbang besi setinggi tiga meter yang dihiasi ukiran naga emas terbuka perlahan. Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang masuk satu per satu menciptakan orkestra kekayaan yang memekakkan telinga.
"Tundukkan kepala, jangan menatap tamu, dan tetap pada posisimu," Bu Sandra mengingatkan dengan suara tajam di dalam van. "Gunakan masker kalian sekarang."
Kella mengenakan masker sutra hitam yang menjadi tema pesta kostum malam itu. Ia meraba pinggangnya, memastikan saku rahasia di balik renda roknya terpasang sempurna. Di lehernya, kalung kunci pemberian Gala terasa dingin, menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang ia miliki.
...
Pukul 19.30 WIB – Memasuki Wilayah Musuh
Bagian dalam rumah Alangkara jauh lebih mengintimidasi daripada bayangan Kella. Lantai pualam putih yang dipoles hingga mengkilap memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai di ruang utama. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan abstrak yang harganya mungkin bisa membeli seluruh blok kontrakan Kella.
Kella ditugaskan di area sayap barat, tepat di jalur menuju ruang kerja Bramantyo. Tugasnya sederhana namun krusial: menyajikan minuman dan memastikan nampan selalu penuh.
"Kella, bawa nampan ini ke ruang tunggu tamu VVIP," perintah seorang pengawas staf.
Kella mengangguk patuh. Ia berjalan dengan langkah kecil yang sudah ia latih. Saat melewati lorong besar, ia melihat foto keluarga Alangkara yang masih lengkap. Ada sosok wanita cantik yang tersenyum lembut—ibunda Gala—dan di sampingnya, seorang pria muda dengan wajah yang sangat mirip dengan Gala namun memiliki sorot mata yang jauh lebih hangat. Gabriel.
Kella menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya. Ia terus berjalan hingga sampai di ruang tunggu. Di sana, ia melihat Bramantyo Alangkara sedang berdiri memunggungi pintu, berbicara dengan seorang pria berseragam militer.
"Proyek Green Residence harus bersih dari sengketa minggu depan. Aku tidak peduli bagaimana caranya," suara Bramantyo terdengar seperti parutan logam. Dingin dan tanpa ampun.
Kella meletakkan gelas-gelas kristal di atas meja dengan tangan yang diusahakan tidak bergetar. Ia melirik pergelangan tangan kiri Bramantyo. Jam tangan Patek Philippe edisi terbatas melingkar di sana. Itu dia. Target utamanya.
...
Pukul 20.15 WIB – Sang Pangeran yang Terluka
Gala muncul di puncak tangga utama tepat saat musik klasik mulai memenuhi ruangan. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membuat bahunya yang lebar terlihat semakin gagah. Masker perak menutupi sebagian wajahnya, namun sorot matanya yang merah dan sayu tidak bisa disembunyikan.
Kella melihatnya dari kejauhan. Gala tampak sangat pucat, kemungkinan besar efek dari demamnya yang belum sepenuhnya hilang. Ia harus berdiri di samping ayahnya, menyalami tamu-tamu penting yang memujinya sebagai "penerus masa depan".
Di antara kerumunan tamu, Kella menangkap sosok Reno. Reno mengenakan topeng serigala, sangat cocok dengan kepribadiannya yang licik. Ia sedang berbicara dengan Hendra di dekat bar minuman. Reno sesekali melirik jam tangannya—jam tangan yang menurut Gala berisi kamera pengintai.
Gala sesekali melirik ke arah sayap barat, tempat Kella berdiri. Tatapan mereka bertemu sekejap di antara ratusan orang. Itu adalah komunikasi tanpa kata. Aku di sini. Tetap pada rencana.
...
Pukul 21.00 WIB – Distraksi Pertama
Reno mulai bergerak. Sesuai dugaan Gala, Reno mulai mendekati area staf, mencoba mencari tahu siapa saja yang bekerja malam itu. Ia berjalan menuju arah Kella dengan segelas sampanye di tangannya.
"Hei, pelayan," panggil Reno. Suaranya terdengar sombong. "Minuman ini kurang dingin. Ambilkan yang baru."
Kella menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik masker dan helaian rambutnya. Ia mengambil gelas dari tangan Reno. Saat itulah, ia melihat kamera kecil di sela-sela angka jam tangan Reno yang sedang membidik ke arah lorong ruang kerja.
Kella tidak sengaja—atau setidaknya terlihat tidak sengaja—menyenggol siku Reno saat hendak mengambil nampan lain.
"Aduh! Maaf, Tuan!" pekik Kella pelan.
Minuman soda yang lengket tumpah tepat di atas pergelangan tangan Reno, meresap ke dalam celah jam tangannya.
"Sialan! Lo tahu nggak harga jam ini berapa?!" bentak Reno. Ia mencoba mengelap jam tangannya, namun layar digital kecil di samping jam itu berkedip merah lalu mati. Korsleting.
Hendra mendekat dengan curiga. "Ada apa?"
"Pelayan ceroboh ini ngerusak jam gue," gerutu Reno.
Hendra menatap Kella dengan tajam. Ada sesuatu pada postur tubuh Kella yang membuatnya teringat pada gadis yang ia kejar di sekolah. Namun, sebelum Hendra bisa bertindak lebih jauh, suara keras terdengar dari arah ruang dansa.
...
Pukul 21.30 WIB – Amarah Gala
Gala sengaja menjatuhkan menara gelas sampanye di tengah ruangan. Suara dentingan kristal yang pecah membuat seluruh tamu terdiam.
"Gue bilang gue nggak mau minum sampah ini!" teriak Gala. Suaranya serak karena flu, namun volumenya cukup untuk menciptakan kekacauan yang diinginkan.
Bramantyo mendekati putranya dengan wajah merah padam. "Gala! Apa yang kamu lakukan? Jaga sopan santunmu!"
"Sopan santun? Di rumah yang penuh dengan kebohongan ini?" Gala tertawa getir. Ia menarik kerah bajunya sendiri seolah sesak napas. "Gue butuh udara segar. Jangan ada yang ngikutin gue!"
Gala berlari menuju taman belakang, menarik perhatian sebagian besar petugas keamanan dan tamu. Bahkan Hendra terpaksa mengikuti majikannya yang sedang "mengamuk".
Inilah momennya. Distraksi yang diciptakan Gala memberikan celah selama sepuluh menit.
...