Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Friska di Rumah Anggun
"Kita ke rumah Anggun, kita ceritain semuanya." ajak Ditya
"Tapi, ini terlalu malam Dit. Apalagi Anggun baru saja kedatangan tamu, mungkin mereka belum pulang. Rasanya kurang etis, kalo kita datang dan mengganggu acara mereka." jawab Friska
"Justru bagus bila masih banyak orang, setidaknya calon suaminya tau. Bila calon istrinya, tengah menjadi target kejahatan orang." balas Ditya masuk akal
"Tapi... Aku malu Dit, aku suka judesin Anggun. Apa dia ga akan marah, kalo aku datang ke rumahnya?" Ditya terkekeh
"Tumben kamu peduli sama yang gitu, biasanya juga bodo amat ma penilaian orang lain." Friska berdecak
"Aku kan judesin Anggun, karena prasangka aku selama ini. Benci dan iri, tanpa sebab. Padahal dia ga pernah bikin ulah sama aku, tapi aku yang suka menatap benci padanya. Sedangkan yang lain, mereka emang julid. Bacotnya ga bisa di jaga, emang salahnya diman kalo aku ngejar-ngejar kamu. Aku yang cape, mereka yang komen. Hidupnya aku, kok mereka yang protes. Aneh, emang ga bisa masing-masing gitu. Aku aja, ga pernah ikut campur masalah mereka. Mereka sok ingin ngurusin hidup aku, emang situ siapa?" Ditya melipat bibirnya ke dalam
Beginilah Friska, cerewet, bawel, judes, galak, kalo ngomong ga ada titik ma koma nya.
"Iya, salah mereka. Biarin aja, kita cuma punya 2 telinga, 2 tangan, 2 mata ma 1 mulut. Ga mungkin kita sanggup, buat nutupin mulut-mulut julid mereka. Tapi kita bisa, tutupin 2 telinga kita sama 2 tangan kita. Ga mungkin juga kan, kita tutup kedua mata mereka. Cukup kita yang memejamkan mata, agara tak melihat apa yang mereka lakukan. Belajar untuk mengucapkan hal baik, karena mulut kita cuma ada 1. Jangan sampe bikin orang sakit hati... Karena luka di hati, takkan semudah luka fisik untuk mengobatinya. Marah boleh, tapi jangan sampe menyakiti hati orang. Hmm??" ucap Ditya menasehati
"Iihhh... Ga bisa gitu dong, kalo dia yang duluan ngatain. Masa iya kita diem aja, ga ada dalam kamus aku itu. Kalo di katain, bales. Tampar kalo perlu itu mulut mereka, kurang... Lempar pake batu beton." Ditya tertawa, Friska memanyunkan bibirnya
"Ya udah yuk, kita ke rumah Anggun. Sekalian kamu minta maaf, orang yang minta maaf itu justru lebih kuat. Karena sudah mengumpulkan niat dan rasa bersalah, bahkan kamu sudah tau kalo kamu salah kan?" Friska menganggukkan kepalanya
"Iya iya... Ayo" Ditya tersenyum, ia menggenggam tangan Friska. Lalu menariknya keluar kafe, untung udh dibayar pesanannya.
.
.
"Assalamu'alaikum" terdengar salam dari luar, semua orang berhenti berbincang.
"WA'ALAIKUM SALAM" jawab orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Anggun bangun dari duduknya, ia melangkahkan kaki ke arah pintu yang memang sengaja di buka.
Maklum tak da AC, biar pake AG aja.
"Loh... Dit... Friska... Ada apa? Ayo masuk" Friska menoleh, ia menatap Ditya. Ditya mengangguk, mereka oun masuk ke dalam.
Begitu masuk, Friska dan Ditya langsung merasa sungkan. Karena masih banyak tamu di rumah Anggun, ia tak melihat ke parkiran lapang tadi.
"Apa ga papa Nggun, kita apa ga ganggu?" tanya Ditya
"Ga papa, masuk aja. Kayanya ada yang penting, makanya kalian datang di jak segini." bukan Anggun yang menjawab, melainkan Cia.
"Ga papa, ayo duduk. Maaf ya lesehan..." Ditya dan Friska serentak menggelengkan kepala
"Ga papa kok Nggun, santai aja." jawab Friska, Anggun tersenyum
Tak lama datang Ambar, ia datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas untuk Friska dan Ditya.
"Maaf ya, cuma teh manis hangat." ucap Ambar, membuat Ditya dan Friska semakin merasa tak enak.
"Ga papa kak, kami yang harus nya tau diri. Maaf, sudah bertemu di waktu yang kurang tepat." ucap Ditya, Kenan dan yang lain tersenyum
"Ada apa? Kalian pasti sengaja ke sini kan?? Ada yang pentingkah?" tanya Anggun, Friska menegakkan kepala dan menatap Anggun.
Gadis di depannya ini, memang benar-benar baik. Padahal, Friska sudah bersikap tidak baik padanya. Tapi, Anggun masih bersikap ramah padanya. Friska kembali menatap Ditya, Ditya kembali mengangguk.
"Nggun... Sebelumnya, gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini sama lo. Gue sadar, gue salah. Jelas-jelas bukan lo yang salah, tapi hati gue yang kotor. Maaf ya Nggun.." Anggun tersenyum, ia mengangguk
Kenan dan yang lain, cukup kagum dengan pemikiran perempuan yang bernama Friska ini. Meminta maaf, juga berani mengakui kesalahannya tanpa diminta.
"Santai aja Fris, gue ga masalahin hal itu kok. Lagian kita juga ga pernah ngobrol berdua, adanya salah paham antara kita. Gue rasa, itu wajar sih." jawab Anggun, Friska menghembuskan nafas lega
"Maksud kedatangan kita ke sini, emang ada sesuatu hal yang mau kita bilang ma lu. Gue rasa, ini penting buat lo. " ucap Ditya, ia menyenggol Friska
"Nggun, waktu gue di depan. Ada orang yang deketin gue, dia ngajak bicara di kafe. Dia ngaku, kalo dia paman kandung lo. Dia juga bilang, kalo di nyariin lo yang kabur dari rumah. Namanya Darius, tapi... " Friska menceritakan semua perbincangan, antara dia dan Darius. Tanpa ada kurang atau di lebihkan, tentang tebakan dia yang ternyata benar mengenai orang tua kandung Anggun.
Walau Friska sendiri cukup shock, dengan Darius yang tega menghilangkan nyawa. Hanya karena harta, tetapi ia juga tak ada hubungannya.
Terkejut?? Tentu.. karena Darius, bisa mengetahui keberadaan Anggun. Parahnya, ia tau bila Anggun adalah keponakannya.
"Nggun, kamu ok?" tanya Kenan, Anggun menoleh dan mengangguk kaku. Padahal ia tengah sangat sangat terkejut, kenapa hidup nya yang tenang. Bisa jadi seperti ini??? padahal ia tak peduli, dengan harta yang ditengah di perebutkan. Tapi kenapa hidupnya, malah jadi rumit seperti ini??
"Kayanya yang udah ga aman, bukan cuma lu Nggun. Tapi lu juga, lu udah berani nugungkap kejahatan dia. Bisa jadi, lu di incar ma si Darius." ucap Inaya
"Gue setuju ma lu, secara dia udah utarain niatnya ma lu. Yang pengen habisin, nyawa Anggun. Tambah lagi orang yang ia ajak buat kerja sama, malah nolak mentah-mentah. Otomatis lu merupakan saksi hidup, dan harus di bungkam." sambung Hazley
DEG
Tanpa sadar, Friska melukai tangannya. Karena saking gugup dan takut, Friska menekan bagian tangannya oleh kuku. Menyebabkan lecet, dan keluar sedikit darah.
"Hei, jangan lukain tangan. Lu ga usah takut, kita bakal lindungin lu ma keluarga Anggun." ucap Ifa, Ditya tersadar. Ia gegas menggenggam tangan Friska, bisa ia rasakan getaran di tangan Friska.
"Semua baik-baik aja, aku juga bakal jagain kamu." ucap Ditya, Friska mengangguk. Ia mengusap pipinya, yang ternyata basah karen tetesan air matanya.
"Kalo boleh gue kasih saran, mendingan Anggun ma Friska tinggal di rumah utama. Ga selamanya, buat sementara waktu. Sampe kita selesai masalahnya, keknya yang kudu kita beresin itu. Masalah ibu kandung Anggun, yang di rumah sakit. Juga masalah paman kandung Anggun. Iya kan?" semua mengangguk setuju, terutama Kenan tentunya.😑
"Tapi..
"NGGAK ADA TAPI-TAPIAN" potong semuanya serentak, mengejutkan Anggun, Friska dan Ditya.
"Dit, lu anter Friska buat beresin baju yang mau di bawa. Haiba ma Hazley, ikut mereka. Lu pada yang minta ijin, ma bonyok nya si Friska. Kalo anak gadisnya, beberapa hari di kediaman kita. Gimana caranya, itu urusan lu bedua. Yang penting dapet ijin..." ucap Ghava, membuat kedua gadis itu kesal bukan main. Tapi tak urung, mereka tetap menurut.
Friska dan Ditya, mereka masih mencerna pengaturan ini.
"Udaaahhh... Ga usah banyak mikir, lu mau selamet apa nggak. Kalo mau, buruan bangun. Kita ke rumah lu, buat minta ijin. Ntar keburu tengah malem lagi.." ucap Haiba
"I iya..
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
cover baru ya thor