Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tubuh Sebagai Tungku Alkimia
Gubuk Li Jian di pinggiran Puncak Teratai Luar lebih mirip kandang kayu daripada tempat tinggal seorang kultivator. Atap jeraminya bocor, dan angin dingin berhembus melalui celah-celah dinding papan yang lapuk. Namun, bagi Li Jian hari ini, gubuk reyot itu adalah istana tempat kebangkitannya dimulai.
Ia mengunci pintu rapat-rapat, duduk bersila di atas ranjang kayunya yang keras, lalu meletakkan dua batang Rumput Embun Bulan yang memancarkan cahaya perak redup, serta sekuntum Bunga Darah Besi yang kelopaknya setajam silet dan berwarna merah pekat.
"Bahan sudah siap, Senior Yueyin," batin Li Jian. "Tapi aku tidak memiliki tungku alkimia untuk meraciknya menjadi pil."
Tawa meremehkan Yueyin kembali terdengar, dingin dan anggun. "Tungku alkimia? Mainan besi semacam itu hanya digunakan oleh para pemula yang tidak memahami esensi penciptaan. Seni Bintang Pemakan Langit mengubah tubuhmu sendiri menjadi tungku surga dan bumi."
Cahaya biru redup berkedip dari giok hitam di dada Li Jian. Suhu di dalam ruangan seketika anjlok. Embun beku mulai merambat di dinding kayu gubuk.
"Telan Bunga Darah Besi itu mentah-mentah," perintah Yueyin mutlak. "Bunga itu mengandung energi Yang yang sangat brutal. Ia akan membakar meridianmu dari dalam. Tepat saat kau merasa organmu mulai meleleh, telan Rumput Embun Bulan untuk membekukannya dengan energi Yin. Aku akan memandu benturan kedua energi itu langsung ke Dantian-mu."
Mendengar instruksi gila itu, Li Jian tidak ragu sedikit pun. Ia memetik Bunga Darah Besi dan mengunyahnya. Rasanya seperti menelan bara api yang dicelupkan ke dalam lelehan tembaga. Tenggorokannya seakan terbakar hangus, dan dalam hitungan detik, kulitnya berubah menjadi merah padam. Uap panas mengepul dari pori-porinya.
Rasa sakitnya jauh melampaui pukulan mana pun yang pernah ia terima dari Zhao Feng.
"Sekarang!" teriak Yueyin.
Li Jian meraup Rumput Embun Bulan dan menelannya. Detik berikutnya, badai salju seakan meledak di dalam perutnya. Energi panas dan dingin bertabrakan secara kejam di dalam kinh-kinh meridiannya, menciptakan sensasi seolah tubuhnya sedang dicabik-cabik oleh dua ekor naga yang bertarung.
Ia menggertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah, memaksakan kesadarannya untuk tetap terjaga. Sesuai panduan Yueyin, Li Jian menggunakan Qi dari Seni Bintang Pemakan Langit untuk membungkus kedua energi liar tersebut, memaksanya menyatu dan menekannya masuk ke pusaran di dalam Dantian.
Di ruang hampa dalam giok hitam, mata biru es Yueyin menatap proyeksi jiwa Li Jian dengan sedikit rasa takjub. Tekad anak ini... mengerikan, batinnya. Kebanyakan jenius di alam asalnya akan pingsan menghadapi metode peleburan ekstrem ini, tapi pemuda fana ini menahannya tanpa satu jeritan pun.
Perlahan-lahan, warna merah dan biru di bawah kulit Li Jian memudar, digantikan oleh kilau perak redup yang kokoh. Dantian-nya yang sebelumnya tidak stabil kini terasa padat, berputar perlahan memancarkan hawa dingin yang mematikan. Pondasi Kondensasi Qi Tingkat Pertamanya kini telah tertanam sekuat karang.
Bahkan, sisa energi dari benturan Yin dan Yang tadi mendorong kultivasinya mendekati ambang batas Tingkat Kedua.
Li Jian membuka mata, menghembuskan napas panjang yang langsung berubah menjadi kabut es di udara. Ia merasa tubuhnya setajam pedang yang baru saja ditempa dan diasah.
"Tidak buruk," puji Yueyin singkat, meski nadanya tetap terdengar angkuh. "Pondasi Dantian-mu sudah stabil. Dengan kemurnian Qi Bintang Pemakan Langit, kau bisa dengan mudah meremukkan kultivator Kondensasi Qi Tingkat Dua, dan mengimbangi Tingkat Tiga."
Li Jian mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang mengalir menderu di pembuluh darahnya. Baru saja ia hendak berdiri untuk meregangkan otot, sebuah suara hantaman keras memecah keheningan.
BRAKKK!
Pintu kayu gubuknya hancur berkeping-keping, ditendang dari luar hingga serpihannya berhamburan ke dalam ruangan. Debu mengepul, menampilkan siluet seorang pemuda berjubah putih yang memancarkan aura membunuh yang kental.
"Li Jian, kau anjing kurap!" raung Zhao Feng, matanya merah menyala penuh amarah. Di belakangnya, Sun Qiang berdiri sambil memegangi tangannya yang masih terbungkus perban tebal akibat radang dingin.
Zhao Feng mencabut pedang kayunya yang dilapisi energi Qi yang berdesir tajam. "Berani sekali kau melukai orangku dan mengambil kembali batu spiritual yang sudah menjadi milikku. Sepertinya kau bosan bernapas!"
Li Jian tidak terkejut, tidak juga gemetar seperti biasanya. Ia perlahan turun dari ranjang, menepuk debu dari bajunya dengan santai. Mata hitamnya menatap Zhao Feng, sedingin jurang es tanpa dasar.
"Pintuku harganya sepuluh batu spiritual," ucap Li Jian datar. "Tinggalkan tangan kananmu di sini sebagai ganti rugi, dan aku akan membiarkanmu pergi dari gubukku hidup-hidup."
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏