"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: ANTARA ADAT DAN RASA
Sejak kapan mencari kebenaran dianggap melawan adat?
Halimah hafal semua larangan. Ia tahu betul batas antara perempuan dan lelaki. Tapi rasa ingin tahunya kini lebih jujur daripada rasa takutnya. Ia tidak ingin mendekati Datuk Maringgih sebagai perempuan yang tergoda. Ia ingin menemuinya sebagai anak yang dulu ia lindungi.
Malam kembali turun. Rumah besar Datuk Sulaiman sunyi setelah Isya. Lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu. Hanya kamar Halimah yang masih menerawang cahaya remang.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi dirinya di cermin kecil di sudut kamar. Wajahnya sayu, matanya sembab—bukan karena menangis, tapi karena bergulat dengan sesuatu yang lebih berat: pilihan.
Sejak kapan mencari kebenaran dianggap melawan adat?
Pertanyaan itu terus berputar.
Ia hafal semua nasihat ibunya. "Perempuan jangan keluar malam." "Perempuan jangan bicara dengan lelaki yang bukan mahram." "Perempuan harus menjaga nama baik keluarga."
Ia tahu. Ia paham. Ia hafal di luar kepala.
Tapi adat mana yang mengajarkan untuk diam saat kebohongan berserakan di depan mata? Adat mana yang melarang seorang anak mencari tahu mana yang benar dan mana yang salah?
Halimah menghela napas panjang.
Aku tidak ingin mendekatinya sebagai perempuan yang tergoda. Aku ingin menemuinya sebagai anak yang dulu ia lindungi. Sebagai manusia yang hanya ingin tahu kebenaran.
Kenangan masa kecil datang lagi. Kali ini lebih jelas.
Usianya sepuluh tahun. Waktu itu ia baru saja mulai mengerti banyak hal. Datuk Maringgih—saat itu berusia dua puluh tujuh tahun—sedang duduk di teras rumahnya. Halimah lewat di depan rumah itu bersama teman-temannya.
"Halimah," panggilnya.
Ia berhenti. Datuk Maringgih tersenyum. "Kemari, aku punya sesuatu."
Halimah mendekat dengan ragu. Datuk Maringgih mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam rumah—kue pisang buatan Mak Ijah.
"Ini buat kamu. Bagi sama teman-temanmu."
Halimah tersenyum lebar. "Terima kasih, Datuk."
"Kabar ayahmu baik?"
"Baik, Datuk."
"Sampaikan salamku padanya."
Halimah mengangguk. Lalu berlari kembali ke teman-temannya.
Kenangan lain muncul. Waktu itu Halimah jatuh dari sepeda di depan rumah Datuk Maringgih. Lututnya berdarah, dan ia menangis sejadi-jadinya.
Datuk Maringgih keluar, menghampiri. Ia tidak marah karena sepeda itu hampir menabrak tanamannya. Ia justru berjongkok, melihat luka di lutut Halimah.
"Sakit?"
Halimah mengangguk sambil menangis.
Datuk Maringgih menggendongnya masuk ke rumah. Di dalam, ia mengobati luka Halimah dengan sabar. Membasuh darah, mengoleskan minyak, membalutnya dengan kain bersih. Usianya dua puluh tujuh tahun, tapi tangannya lembut seperti seorang ayah.
"Jangan nangis," katanya lembut. "Besok sembuh. Lusa bisa main lagi."
Setelah selesai, ia memberi Halimah segelas air dingin dan sepotong kue pisang.
"Ini buat penghilang sakit."
Halimah tertawa kecil. "Kue pisang obat, Datuk?"
"Obat paling manis." Datuk Maringgih tersenyum.
Tak lama kemudian, ayahnya datang menjemput. Datuk Sulaiman waktu itu masih tersenyum ramah pada Maringgih. Mereka berbincang sebentar, lalu ayahnya membawa Halimah pulang.
"Om baik ya, Yah?" tanya Halimah di jalan.
"Iya, Nak. Om memang baik."
Om baik. Om memang baik.
Halimah tersenyum pahit di dalam gelap. Kata-kata ayahnya sendiri dulu. Kini berubah jadi kebencian.
Apa yang terjadi, Ayah? Apa yang membuatmu berubah?
Sekarang, Halimah sudah tujuh belas tahun. Datuk Maringgih tiga puluh empat tahun. Tujuh tahun berlalu sejak kenangan terakhirnya bersama lelaki itu.
Ia ingin bertemu. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk melihat sendiri, apakah lelaki itu masih sama seperti dulu. Apakah matanya masih seteduh itu. Apakah senyumnya masih sehangat itu.
Tapi bagaimana caranya?
Ia tidak bisa begitu saja datang ke gudangnya. Itu akan jadi gunjingan kampung. Fitnah akan beterbangan. Nama keluarganya akan semakin hancur.
Aku harus hati-hati.
Esok harinya, Halimah menemui Nyai Imah di dapur. Waktu tepat ketika Siti dan Zubaidah pergi ke pasar.
"Nyai," bisiknya. "Aku harus bertemu Datuk Maringgih."
Nyai Imah terkejut. "Neng, jangan gila. Itu—"
"Aku tahu, Nyai. Aku tahu risikonya." Potong Halimah tegas. "Tapi aku harus tahu. Aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan."
Nyai Imah diam. Ia memandang Halimah lama. Anak yang diasuhnya sejak kecil ini kini sudah dewasa. Matanya tidak main-main.
"Neng mau ketemu di mana?" tanya Nyai Imah akhirnya.
"Aku dengar dari Nyai, ia sholat magrib di mushola dekat sungai. Mungkin aku bisa... ikut sholat berjamaah."
Nyai Imah mengerutkan dahi. "Neng mau sholat di mushola kampung? Itu—"
"Aku tahu, Nyai. Mungkin aneh. Tapi lebih aneh lagi kalau aku datang ke gudangnya." Halimah menatap Nyai Imah. "Sholat berjamaah itu wajar. Perempuan boleh sholat di mushola. Tidak ada yang aneh."
Nyai Imah mengangguk pelan. "Neng benar. Tapi—"
"Tapi apa?"
"Fitnah kampung, Neng. Orang bisa lihat Neng datang ke mushola, lalu melihat Neng bicara dengan Datuk Maringgih. Itu bisa—"
"Makanya Nyai harus temani aku."
Nyai Imah terkejut. "Nyai?"
"Iya. Kalau Nyai ikut, tidak ada yang bisa berkata apa-apa. Nenek-nenek tua menemani cucunya sholat. Itu wajar."
Nyai Imah terdiam. Lalu tersenyum. "Neng pintar. Lebih pintar dari yang Nyai kira."
Halimah tersenyum tipis. "Bukan pintar, Nyai. Hanya tidak ingin menambah dosa ke keluarga."
Nyai Imah menghela napas. "Neng yakin?"
"Yakin."
"Tapi bagaimana kalau Datuk Maringgih tidak mau bicara? Bagaimana kalau ia mengusir Neng?"
Halimah diam. Ia belum memikirkan itu.
"Nyai... aku tidak tahu. Tapi aku harus coba."
Nyai Imah memandangnya dengan iba. "Neng, Datuk Maringgih bukan orang jahat. Ia tidak akan mengusir Neng. Tapi Neng harus siap dengan apa pun yang terjadi."
"Maksud Nyai?"
"Neng mungkin akan mendengar hal-hal yang tidak enak tentang ayah Neng. Mungkin Neng akan tahu kebenaran yang menyakitkan. Mungkin Neng akan—"
"Aku siap, Nyai." Potong Halimah. "Apa pun itu."
Nyai Imah mengangguk. "Baik. Kalau begitu, besok sore Neng ikut Nyai ke mushola."
Halimah menarik napas lega. Tapi di dadanya, debar masih terasa.
Sepanjang hari itu, Halimah gelisah. Ia membantu ibunya di rumah, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Siti melihatnya. "Nak, kenapa? Dari tadi melamun terus."
Halimah tersenyum tipis. "Tidak, Bu. Hanya sedikit pusing."
"Minum obat nanti."
"Iya, Bu."
Di ruang tamu, Datuk Sulaiman duduk membaca surat. Matanya sesekali melirik ke arah Halimah, tapi tidak bertanya.
Malam turun. Halimah kembali ke kamar.
Ia memandangi pakaiannya—kain kebaya sederhana yang biasa ia pakai ke pasar. Ini cukup, pikirnya. Tidak perlu mencolok.
Lalu ia berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri.
"Sekali ini saja... Halimah harus tahu."
Di dapur, Nyai Imah juga tidak bisa tidur.
Ia memikirkan Halimah. Gadis kecil yang dulu ia gendong, kini berani melangkah ke hal yang tak terduga.
Semoga Allah lindungi dia, doanya. Semoga yang ia temukan adalah kebenaran yang tidak menghancurkan.
Di kamar Siti dan Datuk Sulaiman, keduanya sudah terlelap. Tidak tahu apa yang direncanakan putri mereka.
Dan di kamar Halimah, gadis tujuh belas tahun itu masih terjaga. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit.
Besok sore. Mushola dekat sungai.
Datuk Maringgih yang dulu menuntunku pulang saat senja. Datuk Maringgih yang dulu mengobati lukaku. Datuk Maringgih yang selalu membawakan kue.
Apakah kau masih sama seperti dulu?
Atau ayahku yang benar tentangmu?
Ia tidak tahu. Tapi besok, ia akan tahu.
Di luar, angin malam berdesir. Membawa pesan yang belum bisa ia artikan.
Tapi di dalam hatinya, satu hal mulai menguat:
Kebenaran, apa pun bentuknya, lebih baik dari kebohongan yang manis.
[Bersambung...]