Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Mansion mewah keluarga Lopez pagi itu terasa begitu tenang, dengan sinar matahari yang menembus jendela-jendela tinggi berbingkai emas. Namun, ketenangan itu tidak berlaku di sayap kanan bangunan, tempat kamar pribadi sang pangeran es, Logan Mateo Lopez, berada.
Biasanya, Bi Minah yang sudah berumur akan masuk dengan sangat sopan untuk mengambil keranjang pakaian kotor. Namun pagi ini, Bi Minah sedang sibuk di dapur utama, sehingga Issaura yang harus mengambil alih tugas tersebut.
Issaura berdiri di depan pintu jati besar yang kokoh. Ia menghela napas panjang, membenarkan letak kacamata besarnya, lalu mengetuk pintu tiga kali.
"Permisi, Tuan Muda. Saya ingin mengambil pakaian kotor," ucapnya dengan nada sedatar mungkin.
"Masuk," terdengar suara berat dan serak khas orang bangun tidur dari dalam.
Issaura memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Kamar itu sangat luas, dengan aroma maskulin yang kental dan desain minimalis yang elegan. Di tengah ruangan, Logan masih berbaring di atas ranjang king size-nya. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana training hitam, dengan selimut yang melilit di pinggangnya. Otot-otot tubuhnya yang atletis terpapar jelas, namun Issaura terlalu kesal untuk merasa kagum.
Logan yang sedang memejamkan mata, mengira itu adalah Bi Minah. Namun, saat ia merasakan kehadiran seseorang yang langkahnya lebih ringan dan aroma tubuh yang berbeda, ia langsung membuka matanya dengan tajam.
"Beraninya kau masuk ke kamarku?!" bentak Logan sambil langsung duduk tegak. Matanya berkilat penuh kecurigaan dan amarah.
Issaura yang baru saja membungkuk untuk meraih tumpukan kemeja mahal di keranjang, tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati Logan menatapnya seolah ia adalah hama yang paling menjijikkan di dunia.
"Tuan Muda yang bilang masuk tadi!" balas Issaura, suaranya naik satu oktav. Ia sudah benar-benar muak. Ketakutannya pada identitas yang terbongkar kalah telak oleh rasa jengkelnya pada keangkuhan pria di depannya.
"Aku mengira itu Bi Minah! Kau sengaja, kan?" Logan turun dari ranjang, melangkah mendekat dengan aura mengintimidasi. "Kau sengaja masuk saat tahu aku belum berpakaian lengkap. Ini trik klasik. Apa langkah selanjutnya? Kau akan berteriak atau mencoba menyentuhku?"
PLAK!
Bukan tamparan, melainkan seikat pakaian kotor yang dilempar Issaura tepat ke wajah tampan Logan. Kemeja putih dan kaos kaki itu mendarat di kepala Logan sebelum jatuh berserakan di lantai.
"Jaga mulutmu, Tuan Muda Gila!" Issaura berteriak, tidak lagi peduli pada penyamarannya. Ia berkacak pinggang, menatap lurus ke mata Logan yang terbelalak karena syok. "Dengar ya, aku bukan fans gila mu! Aku tidak peduli seberapa kaya atau tampannya dirimu! Aku terpaksa bekerja di sini karena aku melarikan diri dari ibu tiriku yang gila yang ingin menjualku pada pria tua! Aku butuh pekerjaan, bukan butuh perhatianmu!"
Logan terdiam sejenak, tangannya mengepal. Ia membuang kaos kaki yang tersangkut di bahunya dengan jijik. "Ibu tiri? Melarikan diri? Wow, skenario yang sangat kreatif. Kau pasti banyak menonton drama picisan sebelum menyusup ke rumahku."
Logan melangkah maju hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Wanita seperti kalian punya bakat akting yang luar biasa. Kau pikir dengan melempar baju ke mukaku, aku akan merasa tertantang? Itu juga bagian dari rencana, kan? Berpura-pura membenciku agar aku tertarik padamu?"
Issaura tertawa getir, tawa yang penuh penghinaan. "Kau benar-benar narsis tingkat akut, Logan Lopez! Di matamu, semua wanita adalah pemuja. Padahal bagiku, kau hanyalah pria sombong yang tidak punya empati. Aku lebih baik menikahi pria tua pilihan ibu tiriku daripada harus melayani tuan muda sepertimu selamanya!"
"Kalau begitu pergi sekarang! Keluar dari rumahku!" usir Logan dengan suara rendah yang mengancam.
"Aku akan pergi setelah gajiku dibayar oleh Nyonya Cassie! Dan sebelum itu, kerjakan sendiri pakaian kotor mu!" Issaura berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah yang menghentak keras, lalu membanting pintu jati itu hingga suaranya menggema ke seluruh lorong.
Di dalam kamar, Logan berdiri mematung. Napasnya memburu. Belum pernah ada orang yang berani melempar pakaian kotor ke mukanya, apalagi meneriakinya narsis. Ia melihat ke arah pintu yang tertutup, lalu beralih ke tumpukan baju di lantai.
"Dia... dia benar-benar berani," gumam Logan. Logikanya masih mengatakan gadis itu aktris yang hebat, tapi ada sesuatu di matanya tadi, kemarahan yang begitu murni dan rasa lelah yang dalam yang membuat sedikit bagian dari hatinya ragu.
Sementara itu, di lantai bawah, Zion yang sedang menyesap kopi di ruang makan bersama Cassie, menoleh ke arah tangga saat mendengar suara pintu dibanting dari atas.
"Suara apa itu, Sayang?" tanya Zion sambil menaikkan alisnya.
Cassie tersenyum tipis, ia menyesap tehnya dengan tenang. "Sepertinya 'malaikat baru' kita baru saja memberikan pelajaran pagi pada putra kesayanganmu, Zion."
Zion tertawa terbahak-bahak. "Haha! Bagus! Akhirnya ada yang berani membungkam mulut sombong Logan. Aku harus berterima kasih pada gadis itu nanti."
Di kamarnya, Issaura duduk di balik pintu, dadanya kembang kempis. Ia menyesali tindakannya yang gegabah, namun ia merasa sangat puas. "Biar saja dipecat! Pria itu benar-benar butuh disadarkan bahwa dunia tidak berputar di sekeliling ketampanannya!"
Pertengkaran sengit itu menjadi rahasia mereka berdua di dalam kamar, namun mulai detik itu, dinamika di antara sang Pangeran Es dan sang Gadis Pelarian tidak akan pernah sama lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.