Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA KAKU
"Ziva udah gak Sayang lagi sama Mommy," ucap Nyonya Mauren, dengan air mata buaya nya.
"Mom stop! Oke Ziva mau," ucap Ziva akhirnya mengalah.
"Terimakasih Sayang, kamu memang Putri mommy yang paling cantik dan baik hati," ucap Nyonya Mauren, tersembunyi lebar.
"Tentu saja, Ziva yang paling Cantik, karena Putri Mommy hanya Ziva," jawab Ziva, mendengus sebal.
Mereka semua tertawa, hanya Damian yang berwajah dingin dan datar.
Setelah semua sepakat dan Ziva sudah setuju untuk menikah dengan Damian, mereka akhirnya bernafas lega.
Makan malam itu berlanjut dengan obrolan detail mengenai persiapan pernikahan yang ternyata sudah hampir rampung di tangan kedua ibu mereka.
Ziva sendiri hanya bisa menusuk-nusuk steak di piringnya dengan perasaan dongkol, sesekali melemparkan tatapan tajam ke arah Damian yang duduk tepat di hadapannya.
Namun, Damian seolah memiliki perisai tak kasat mata, pria berwajah datar itu sama sekali tidak terpengaruh, justru dia terlihat sangat tenang, menyelesaikan makan malamnya dengan gerakan yang sangat rapi dan terkontrol, khas seorang pemimpin perusahaan besar.
"Oh iya, karena besok Ziva ada janji dengan teman-temannya, bagaimana kalau Damian yang menjemput Ziva?" usul Nyonya Diandra tiba-tiba, matanya berbinar licik.
"Setelah Ziva selesai dengan teman-temannya, Damian bisa langsung membawanya ke butik untuk fitting terakhir. Bukankah itu ide bagus, Mauren?" lanjut Nyonya Diandra, mengedipkan sebelah matanya pada calon besan nya.
"Ide cemerlang, Ra!" jawab Nyonya Mauren, mengangguk semangat.
"Ziva, kirimkan lokasi tempat kamu berkumpul besok pada Damian," ucap Nyonya Mauren, melihat ke Ziva.
Ziva nyaris tersedak air mineral yang sedang diminumnya.
"Mom! Aku bisa pergi sendiri!" jawab Ziva, menolak.
"Tidak ada bantahan, Ziva, ini kesempatan kalian untuk saling mengenal lebih dekat sebelum minggu depan, kalian menikah!"ucap Tuan Justin tegas.
Damian akhirnya mendongak, menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kirim lokasinya padaku sebelum jam dua siang," ucap Damian singkat, suaranya terdengar seperti sebuah perintah daripada permintaan.
"Jangan memerintah ku," gumam Ziva pelan.
Damian sebenarnya mendengar gumaman Ziva, hanya saja dia tidak perduli.
Setelah acara makan malam yang terasa seperti sidang eksekusi bagi Ziva itu berakhir, kedua keluarga tersebut berjalan menuju lobi restoran.
Udara malam Negara J yang dingin menusuk kulit, namun tidak sedingin suasana hati Ziva saat ini.
"Damian, antar Ziva pulang ya, mobil Daddy biar dibawa supir," ucap Tuan Justin dengan nada yang tidak menerima penolakan.
"Dad! Ziva bawa mobil sendiri tadi dari rumah!" protes Ziva.
"Mobilmu biar dibawa pengawal pulang, sudah jangan membantah, kamu butuh waktu berdua dengan calon suamimu," sahut Nyonya Mauren, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nyonya Diandra.
Sungguh rasanya ingin berteriak sekencang mungkin, melihat kekompakan mommy nya dan calon ibu mertua nya, dalam menjerumus kan diri nya, ke lautan es Damian.
"Dada sayang, nikmati waktu berdua kalin, hitung-hitungan pacaran sebelum menikah," ucap Nyonya Mauren, tertawa cekikikan.
Tanpa menunggu persetujuan Ziva, kedua orang tua itu segera masuk ke mobil masing-masing, meninggalkan Ziva dan Damian berdiri mematung di depan lobi.
"Mommy," batin Ziva, menjerit geram.
Hanya suara bising kendaraan di kejauhan yang mengisi kekosongan di antara mereka.
Damian berdiri dengan tangan di dalam saku celananya, menatap lurus ke depan seolah Ziva adalah benda mati di sampingnya.
"Masuk," ucap Damian pendek sambil melangkah menuju mobil Ferrari hitam miliknya yang baru saja tiba di depan lobi.
"Kamu itu tidak punya kata-kata lain selain perintah ya?" ucap Ziva menghentakkan kakinya kesal.
Damian menghentikan langkahnya, menoleh sedikit.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat, masuk, atau aku tinggalkan kamu di sini," jawab Damian, masuk ke dalam mobil nya.
Ziva mendengus kasar namun tetap mengikuti langkah pria itu, dia masuk ke kursi penumpang dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar untuk menunjukkan protesnya.
Saat masuk mobil calon suami nya itu, Ziva langsung di sambut dengan aroma maskulin yang elegan campuran kayu cendana dan sedikit aroma tembakau mahal langsung menyeruak di dalam mobil Damian yang sangat bersih dan rapi.
Selama sepuluh menit pertama, tidak ada yang bicara, Damian mengemudi dengan sangat fokus, tangannya yang kokoh memegang kemudi dengan santai namun mantap.
Sementara Ziva memilih untuk membuang muka, menatap lampu-lampu kota yang berlarian di jendela.
"Kenapa kamu setuju?" tanya Ziva tiba-tiba, memecah keheningan.
"Karena aku tidak suka membuang waktu untuk urusan yang tidak produktif," jawab Damian tidak menoleh.
"Menikah dengan orang asing itu kamu bilang produktif?" tanya Ziva menoleh, menatap wajah Damian dari samping yang terlihat sempurna namun kaku seperti patung.
"Menikah adalah kontrak sosial dan bisnis yang harus dipenuhi dalam keluarga kita. Selama kamu tidak mengganggu privasiku dan tetap melakukan tugasmu, aku tidak masalah," jawab Damian datar, suaranya sedingin es.
"Kontrak? Luar biasa! Jadi aku hanya sekadar koleksi baru di daftar asetmu?" tanya Ziva tertawa hambar.
Cittt
Damian menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah, lalu dia menoleh perlahan, menatap mata Ziva dengan intens, yang membuat gadis itu menahan napas sejenak.
"Dengar, Nona Desainer, aku tidak pernah punya waktu untuk drama percintaan, orang tuaku menginginkan pernikahan ini, dan orang tuamu juga sama, anggap saja ini kerja sama yang saling menguntungkan," ucap Damian, tidak ada manis-manis nya sedikit pun.
"Menguntungkan bagi siapa? Aku punya kehidupan di Negara K!" ucap Ziva, geram.
"Dan sekarang kehidupanmu ada di sini," jawab Damian cepat saat lampu berubah hijau.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, kamu sudah dewasa, Ziva Putri Willson," ucap Damian, kembali fokus mengemudi.
Mendengar ucapan Damian, membuat Ziva semakin geram, dia mengepalkan tangannya di atas pangkuan nya, pria ini benar-benar kanebo kering, tidak ada empati, tidak ada kehangatan dalam tutur kata nya.
Bagaimana bisa dia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan pria yang menganggap pernikahan sebagai transaksi bisnis?
"Sial! Kehidupan tenang ku benar-benar akan berakhir," batin Ziva, berteriak frustasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mobil mewah itu berhenti di depan gerbang megah mansion keluarga Willson.
"Turun!" perintah Damian tanpa menoleh.
"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan Es yang tidak sopan," ucap Ziva ketus sambil membuka pintu mobil.
Baru saja Ziva hendak keluar, suara Damian kembali terdengar.
"Ingat! Besok jam dua siang, jangan membuatku menunggu, karena aku sangat membenci orang yang tidak tepat waktu," ucap Damian, datar.
"Jangan berharap banyak!" jawab Ziva keluar dan membanting pintu mobil dengan keras.
BRAK
Damian memperhatikan punggung Ziva yang menjauh masuk ke dalam rumah dengan menghentak-hentakkan kaki nya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa sedikit terusik oleh kehadiran seorang wanita, karena biasanya, wanita yang mendekatinya akan selalu bersikap manis dan penuh kepura-puraan demi mendapatkan perhatiannya. Namun gadis ini, dia terang-terangan menunjukkan kebenciannya.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭