Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA DI BALIK TIRAI
Suara riuh warga di luar sana masih terdengar samar, seperti dengungan lebah yang siap menyengat. Hinaan "koruptor" dan "penjahat" terus berputar di kepalanya, merobek sisa-sisa harga diri yang ia coba jahit kembali sejak kemarin.
Ia merasa seperti sampah yang tak sengaja tersapu masuk ke rumah Tuhan. Tidak ada tempat baginya, tidak di kota yang glamor, tidak pula di desa yang terlihat damai ini.
Malam merambat perlahan, membawa sunyi yang mencekam bagi Hafiz yang masih meringkuk di kegelapan. Ia tidak berani keluar, takut jika wajahnya muncul, warga akan kembali melempari dengan makian atau bahkan batu.
Waktu seolah berhenti berputar sampai telinganya menangkap suara gemericik air wudhu dari arah luar. Hafiz melirik jam dinding tua yang berdetak lemah; pukul tiga dini hari.
Seberkas cahaya lampu neon dari ruang utama masjid menyelinap masuk lewat celah pintu penyimpanan yang sedikit terbuka. Hafiz mendengar langkah kaki yang sangat ringan, begitu halus hingga nyaris tak terdengar, memasuki area sholat wanita yang hanya dibatasi tirai kain hijau.
Ia menahan napas, mencoba menghapus sisa air mata dengan ujung baju koko pemberian Kyai Abdullah yang kini terasa sangat berat di pundaknya.
Sret...
Suara kain mukena yang bergesekan dengan sajadah memecah keheningan sepertiga malam itu. Hafiz mengintip lewat celah pilar yang berbatasan langsung dengan ruang sholat wanita.
Di sana, di balik tirai tipis, bayangan sesosok wanita yang ia kenali sedang berdiri tegak. Zahra.
Gadis itu memulai sholatnya dengan keheningan yang begitu magis. Hafiz terpaku melihat betapa tenang gerakan Zahra, seolah dunia luar yang kacau balau tadi sore sama sekali tidak menyentuh jiwanya.
Hafiz terdiam, rasa malu tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Pria itu merasa sangat kontras; ia yang penuh lumpur dosa, hanya beberapa meter dari wanita yang tampak begitu suci di mata Allah.
Sholat itu berlangsung lama, sangat lama bagi Hafiz yang biasanya hanya mengenal durasi rapat direksi yang membosankan. Namun, saat Zahra jatuh ke dalam sujud terakhirnya, suasana berubah menjadi sangat emosional.
Hafiz mendengar isak tangis yang sangat tipis, jauh lebih menyayat hati daripada tangisannya sendiri tadi sore. Isak tangis itu datang dari Zahra.
Setelah salam, Zahra tidak langsung beranjak. Gadis itu menengadahkan kedua tangannya, dan suara bisikan doanya mulai terdengar merayap masuk ke telinga Hafiz.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim..." suara Zahra bergetar, membawa emosi yang sanggup meruntuhkan ego siapa pun yang mendengar.
"Engkau datangkan seorang tamu ke rumah-Mu dalam keadaan luka, Ya Allah. Tamu yang sedang mencari jalan pulang setelah tersesat begitu jauh di hutan dunia yang fana."
Hafiz tersentak. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul. Doa itu... doa itu untuknya.
"Hambamu ini tahu, hatinya sedang menjerit kesakitan. Hatinya sedang terbakar oleh api hinaan manusia yang merasa diri mereka suci," lanjut Zahra, kini suaranya semakin parau oleh air mata.
Hafiz memejamkan mata rapat-rapat, tangannya meremas pilar masjid yang dingin. Air mata yang sempat kering kini kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang kusam.
"Kuatkanlah ia, Ya Allah. Jangan biarkan ia menyerah tepat saat kakinya sudah menyentuh pelataran rumah-Mu. Berikanlah ia hidayah-Mu, karena sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baiknya pemberi petunjuk."
Zahra terisak pelan, pundaknya terguncang di balik mukena putih itu. Ia memohon dengan sangat tulus, seolah beban yang dipikul Hafiz adalah bebannya juga.
"Ya Allah, muliakanlah ia dengan iman, bukan dengan harta yang telah Engkau ambil. Jadikanlah setiap tetes keringatnya saat menyapu lantai ini sebagai penggugur dosa-dosanya di masa lalu."
Hafiz terisak tanpa suara di balik pilar. Ia merasa jiwanya baru saja ditelanjangi oleh doa wanita itu.
Ia yang selama ini sombong, merasa bisa membeli segalanya dengan uang, kini baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terbeli: doa tulus di sepertiga malam dari orang yang pernah ia hina.
"Dan ampuni pula warga kami, Ya Allah. Maafkan lisan mereka yang belum memahami bahwa setiap pendosa punya masa depan, dan setiap orang suci punya masa lalu."
Doa itu ditutup dengan "Aamiin" yang panjang dan penuh pengharapan. Zahra terdiam cukup lama, membiarkan keheningan malam menyerap setiap permintaannya kepada sang Pencipta.
Hafiz merasa tubuhnya lemas, ia merosot jatuh ke lantai semen yang dingin. Tangisnya kini pecah, meski ia berusaha membekap mulutnya agar tidak terdengar.
Pikiran Hafiz melayang pada semua kesombongannya. Patek Philippe di tangan, mobil sport di garasi, dan tumpukan uang di bank. Semuanya tak ada artinya dibanding ketenangan yang dirasakan Zahra dalam doanya.
Ia merasa begitu kerdil. Ia merasa begitu kotor. Namun, anehnya, di tengah rasa hancur itu, ada sebuah harapan kecil yang mulai mekar di hatinya.
Harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, Tuhan memang benar-benar menginginkannya kembali melalui tangan Kyai Abdullah dan doa Zahra.
Hafiz mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap telapak tangannya yang lecet-lecet. Luka itu kini tak terasa perih lagi, berganti dengan rasa rindu yang luar biasa pada ketenangan batin.
Zahra melipat sajadahnya dan bersiap meninggalkan masjid untuk kembali ke rumah Kyai di samping. Hafiz segera merapatkan diri ke balik pilar, tidak ingin keberadaannya diketahui.
Langkah kaki Zahra menjauh, suara pintu masjid yang ditutup pelan menandakan ia sudah keluar. Hafiz masih terpaku di sana, dalam kegelapan yang kini tak lagi terasa menakutkan.
"Gue... gue harus berubah," bisik Hafiz pada dirinya sendiri. Suaranya pecah, tapi penuh tekad.
"Gue nggak bisa cuma jadi tukang pel. Gue nggak bisa cuma sembunyi di balik sarung pinjaman ini selamanya."
Hafiz berdiri, kakinya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Ia berjalan keluar dari ruang penyimpanan, menuju ke tengah masjid yang luas.
Ia berdiri tepat di depan mimbar tempat Kyai Abdullah biasa memimpin sholat. Hafiz menatap ke arah kiblat, merasai kehadiran sesuatu yang selama ini ia abaikan demi angka-angka di rekening sahamnya.
Matahari pagi mulai mengintip dari balik ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang menembus jendela kaca masjid yang berdebu.
Hafiz melangkah ke arah gudang alat-alat kebersihan. Ia mengambil sapu lidi yang baru, yang diberikan Kyai Abdullah kemarin sore.
Ia tidak peduli jika warga kembali menghujatnya pagi ini. Ia tidak peduli jika pria berjas dari kota kembali datang memotretnya.
Karena sekarang ia tahu, di sepertiga malam, ada satu jiwa yang memintakan keselamatan untuknya di hadapan Tuhan Semesta Alam.
Hafiz mulai menyapu pelataran dengan gerakan yang lebih mantap. Srak... srak... suara sapu itu terdengar seperti irama zikir baginya.
Tiba-tiba, ia melihat Kyai Abdullah sudah berdiri di teras rumahnya, mengenakan baju koko hijau lumut dan sorban yang disampirkan di bahu.
Kyai tersenyum melihat Hafiz yang sudah bekerja sepagi itu, seolah tahu apa yang baru saja dialami pria itu semalam.
Hafiz meletakkan sapunya dan berjalan mendekati Kyai Abdullah. Ia menjabat tangan pria tua itu dan menciumnya dengan penuh hormat, hal yang tak pernah ia lakukan pada siapa pun seumur hidupnya.
"Kyai... saya ingin bicara sesuatu," ucap Hafiz dengan nada serius.
Kyai Abdullah mengangguk, matanya menatap tajam ke dalam mata Hafiz yang kini terlihat lebih jernih. "Bicaralah, Hafiz. Pintu hati saya selalu terbuka."
Hafiz menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia melirik ke arah rumah Kyai, berharap Zahra ada di sana mendengarkan.
"Saya sadar sapu lidi ini belum cukup untuk membersihkan hati saya yang sudah berkerak hitam, Kyai," ucap Hafiz parau.
Kyai Abdullah menaikkan alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Hafiz.
"Saya ingin belajar lebih dari sekadar wudhu. Saya ingin belajar... bagaimana cara bicara dengan Tuhan yang benar."
Hafiz menelan ludah, suaranya sedikit gemetar. "Kyai, tolong ajarkan saya mengaji. Dari awal. Dari alif... ba... ta..."
Kyai Abdullah menepuk bahu Hafiz dengan sangat kuat, tanda dukungan yang tak ternilai. Tatapan pria tua itu seolah menembus langsung ke dasar jiwa Hafiz yang baru saja retak namun mulai menyatu kembali.