"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Tarian Maut di Jalur Ekspres
Mon, ambil jalur kiri sekarang! Jangan injak rem, biarkan lampu rem kita mati!" perintah Ken dengan nada yang sangat tenang, kontras dengan deru mesin yang semakin keras dan getaran hebat yang merambat dari kemudi.
Mona melakukan apa yang dikatakan Ken tanpa ragu sedikit pun. Mobil hatchback tua berwarna putih ini meluncur di jalur paling kiri, menyelinap di antara bayang-bayang lampu jalan yang menerangi jalanan.
Mobil putih ini kayak hantu di tengah gelap. Di spion, lampu mobil hitam itu nyari-nyari kita kayak detektif yang kehilangan jejak.
"Lex, ambil kaleng oli bekas di bawah kursimu. Dan Miyuki, buka jendela belakang sebelah kanan sedikit saja," instruksi Ken lagi.
Suaranya kini terdengar lebih tajam. Ia merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi petasan besar sisa perayaan tahun baru. Benda sepele yang kini menjadi harapan terakhir kami.
"Kau mau ngapain, Ken? Ini gila sumpah!" tanyaku sambil meraba-raba lantai mobil yang licin hingga menemukan kaleng oli itu.
"Memberi mereka kejutan, Lex," Ken menyeringai, sebuah senyum nekat yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak punya pilihan.
Ia menuangkan oli kental itu ke dalam sebuah botol kaca kosong dengan tangan yang sangat stabil, lalu dengan cepat mengikat petasan itu di badan botol menggunakan kabel.
"Mona, dalam hitungan ketiga, banting setir ke jalur kanan dan biarkan mereka mendekat. Lex, begitu mereka tepat di belakang kita, lemparkan ini tepat ke aspal di depan roda mereka!"
Aku menggenggam botol itu. Dingin dan berat. Di sampingku, Sayuri menatapku dengan mata yang bergetar.
Satu... dua... tiga!
Mona membanting setir ke kanan dengan sentakan yang membuat kami semua terlempar ke samping. Ban mobil menjerit pilu bergesekan dengan beton jalan tol.
Mobil hitam di belakang kami langsung bereaksi, menambah kecepatan hingga jarak kami hanya tinggal hitungan meter.
Cahaya lampu depan mereka sangat menyilaukan, membuat penghlihatan kami sedikit terganggu.
"Sekarang, Lex! Lempar!"
Aku menurunkan kaca jendela. Angin malam yang dingin dan kuat menampar wajahku. Aku melemparkan botol racikan Ken dengan seluruh tenaga yang kumiliki. Botol itu pecah berkeping-keping tepat saat mobil hitam itu melintas di atasnya.
DAR!
Ledakan petasan itu menghantam bagian bawah mesin mereka, menciptakan kilatan api pendek.
Tapi, oli kental itulah yang menjadi pemenang sesungguhnya. Ban depan mobil mewah itu kehilangan traksi di atas aspal yang kini selicin es.
Mobil hitam itu melintir hebat, berputar berkali-kali di tengah jalur cepat hingga menghantam pembatas jalan dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga.
"Yes...Berhasil!" teriak Ken sambil memukul dasbor.
Tapi, sorak sorai kami hanya bertahan sesaat. Dari balik kepulan asap mobil yang hancur itu, muncul dua sepeda motor besar yang melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Pengendaranya mengenakan helm hitam legam dengan visor yang tidak tembus cahaya, memegang tongkat energi yang memercikkan arus listrik biru.
"Mereka punya senjata yang berbahaya! Gawat!" Mona berteriak panik.
Salah satu pengendara motor melompat dari motornya yang masih melaju kencang. Ia mendarat dengan dentuman berat tepat di atap mobil kami.
Aku bisa melihat langit-langit kabin di atas kepalaku melesak masuk, hampir menyentuh rambutku. Tekanan udara di dalam mobil mendadak terasa berat dan menyesakkan.
"Sayuri, Miyuki, merunduk!" teriakku sambil menarik tubuh mereka ke dekapanku, melindungi mereka dengan seluruh punggungku.
Sebuah tangan dengan sarung tangan taktis memecahkan kaca jendela belakang hingga pecah berkeping-keping. Kristal kaca menghujani punggung dan bahuku.
"Ah...Brengsek!! " ucapku kasar.
Tongkat energi itu masuk melalui celah, memercikkan kilatan biru yang mengeluarkan bau kimia yang menyengat. Aku merasakan amarah yang luar biasa kembali membakar dadaku bukan amarah biasa, tapi energi murni yang merespons rasa takut Sayuri.
"Keluar dari mobilku bajingan!" teriakku dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti suaraku sendiri.
Aku menempelkan telapak tanganku pada atap mobil yang penyok. Mendadak, garis-garis jingga berpendar merambat dari ujung jariku, menjalar melalui kerangka besi mobil seperti akar pohon yang membara.
Pengendara di atas mobil itu berteriak kesakitan saat kejutan energi jingga menghantam tubuhnya. Ia terlempar jatuh ke aspal, lalu menghantam rekan di belakangnya hingga mereka berdua terseret di jalan tol yang keras dan dingin.
"Gila, Lex! Kau memang Monster!" Ken menoleh sekilas, matanya terlihat membesar tak percaya melihat sisa cahaya yang masih bersinar di tanganku.
"Fokus ke depan, Ken! Bantu Mona jaga arah!" teriakku sambil terengah-engah.
Energi itu benar-benar menguras tenagaku, membuat pandanganku sedikit kabur sementara luka di punggungku mulai berdenyut hebat.
"Ah... brengsek, sakit sekali," gerutuku pelan, mencoba menahan rasa sakit dan perih oleh karena pecahan kaca itu.
"Lex, Lukamu?" tanya Ken memastikan, suaranya dipenuhi kecemasan.
"Hanya sedikit, Ken. Fokus saja!" jawabku, meski keringat dingin mulai membasahi dahiku.
Sayuri yang mendengar rintihanku langsung bereaksi panik. Miyuki pun dengan sigap meminta kotak P3K kepada Ken.
"Alexian! Lukamu... ini parah!" seru Sayuri, suaranya bergetar saat melihat noda darah di baju belakangku. Ia bergerak gelisah, mencoba meraih kerah bajuku.
"Tunggu, biarkan aku melihat lukamu!"
Aku segera menangkap lembut tangannya, mencoba meyakinkannya bahwa aku masih bisa bertahan.
"Gapapa, Sayuri. Ini cuma luka kecil," bisikku sambil memaksakan senyum dan mengelus rambutnya untuk menenangkannya.
"Sabar, Lex. Kita akan cari tempat aman untuk bersembunyi," sahut Mona yang kini mencengkeram kemudi dengan sangat erat, berusaha fokus penuh.
Di depan, sebuah papan petunjuk arah besar terlihat di bawah remang lampu jalan Pintu Keluar Shimizu - 2 km.
"Kita akan menghilang di kaki Gunung Fuji," ucap Mona dengan tekad baru. Ia menginjak pedal gas hingga batas maksimal.
"Mereka tidak akan bisa menemukan kita di antara kabut dan pepohonan. Kita akan masuk perlahan ke dalam kegelapan sampai mereka kehilangan jejak kita sepenuhnya."
Di luar sana, kegelapan hutan mulai menyambut kami, menjanjikan perlindungan sekaligus misteri yang baru.
Perjalanan ke Kyoto memang masih jauh, tapi malam ini, kami membuktikan bahwa kami bukan lagi mangsa yang mudah untuk di kalahkan.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.