"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - KELAHIRAN DAN ANCAMAN BARU
Ruang operasi dingin... terlalu dingin untuk bayi prematur yang akan lahir.
Dara berbaring di meja operasi dengan tubuh bagian bawah mati rasa karena anestesi spinal. Layar hijau menghalangi pandangannya ke perutnya yang sedang dibedah.
Tapi dia bisa mendengar semuanya.
Suara mesin pemantau jantung. Suara instrumen bedah. Suara Dr. Sinta memberikan instruksi pada timnya.
"Sayatan horizontal. Hati-hati dengan plasenta, karena posisinya agak rendah."
Dara menutup mata, mencoba tidak membayangkan apa yang terjadi di balik layar hijau itu. Dia yang biasa di sisi lain, yang memegang pisau bedah, yang memotong kulit. Sekarang jadi yang dipotong.
Arkan memegang tangannya dari samping, dia diizinkan masuk dengan pakaian steril.
"Kamu kuat," bisiknya. "Kamu perempuan terkuat yang pernah aku kenal."
Dara tersenyum lemah. "Aku... tidak merasa kuat sekarang..."
"Tapi kamu bertahan. Itu yang penting."
Suara Dr. Sinta berubah serius. "Rahim sudah terbuka. Saya melihat kepala bayi..."
Kemudian... Tangisan. Tangisan lemah, terputus-putus, tapi tangisan.
Dara membuka mata, air mata mengalir tanpa bisa dia tahan.
"Bayinya..." bisiknya.
"Bayi perempuan," kata Dr. Sinta. "Berat satu koma delapan kilogram. Dia kecil tapi... dia menangis. Itu bagus."
Tapi kemudian tangisan itu berhenti.
Hening mengerikan.
"Apa yang terjadi?!" Dara mencoba bangkit tapi tubuh bawahnya tidak bisa bergerak.
"Dia kesulitan bernapas. Tim neonatal, siap!" Dr. Sinta bergerak cepat.
Dara mendengar suara tergesa alat oksigen, ventilator, instruksi medis yang dia terlalu paham artinya.
Tidak. Tidak. Kumohon tidak.
"Detak jantungnya turun, tujuh puluh... enam puluh..."
"Berikan epinefrin point-oh-one miligram..."
Dara mengenal protokol ini. Ini protokol resusitasi bayi.
Bayinya sekarat.
"SELAMATKAN DIA!" teriaknya. "LAKUKAN APAPUN! SELAMATKAN ANAKKU!"
Arkan memegang bahunya. "Kiara, tenang, kamu harus tenang..."
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?!" Dara menatapnya dengan mata penuh air mata. "ITU ANAK KITA! DIA SEKARAT!"
Lima menit yang terasa seperti lima tahun.
Kemudian,
Tangisan kecil. Lemah. Tapi ada.
"Detak jantung stabil. Saturasi oksigen naik. Dia bernapas sendiri," kata dokter neonatal, Dr. Rahman.
Dara menangis... menangis seperti tidak pernah menangis sebelumnya.
"Dia... dia selamat?"
"Untuk sekarang, ya. Tapi dia harus langsung masuk NICU. Kondisinya kritis tapi stabil."
Sekilas... hanya sekilas Dara melihat bayinya.
Kecil. Sangat kecil. Kulitnya merah, rambutnya hitam tipis, matanya tertutup.
Tapi dia hidup.
"Dia cantik..." bisik Dara.
Lalu bayinya dibawa pergi dikelilingi tim medis, dimasukkan ke dalam inkubator portabel.
Dan Dara sendirian lagi di meja operasi dengan perut yang masih terbuka, dengan Dr. Sinta yang masih menjahit lapisannya satu per satu.
"Nyonya Kiara, saya harus tutup sekarang. Ini akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit lagi."
Dara mengangguk lemah tidak peduli lagi dengan rasa sakit, dengan prosedur medis.
Yang dia pedulikan...
Bayinya hidup.
Enam jam kemudian, Dara terbangun di ruang pemulihan pasca operasi.
Tubuhnya sakit, terutama di perut yang terasa seperti sobek. Tapi dia tidak peduli.
"Bayiku..." suaranya serak.
Arkan langsung ada di sampingnya. "Dia di NICU. Kondisinya stabil. Dokter bilang dua puluh empat jam pertama kritis tapi dia bertahan sampai sekarang."
"Aku mau lihat dia..."
"Kamu belum bisa jalan. Lukamu masih segar." Arkan menunjukkan tablet, ada foto bayinya di dalam inkubator, dikelilingi kabel dan selang.
Dara menatap foto itu tangannya gemetar menyentuh layar.
"Dia... dia sangat kecil..."
"Tapi kuat. Seperti ibunya."
Ketukan di pintu. Dr. Sinta masuk dengan papan catatan medis.
"Nyonya Kiara, bagaimana perasaannya?"
"Sakit tapi aku tidak peduli. Bagaimana bayiku?"
"Dia mengalami respiratory distress syndrome, umum pada bayi prematur. Parunya belum sepenuhnya berkembang. Kami berikan surfaktan dan ventilator untuk membantu pernapasan. Dia juga mengalami hipotermia ringan karena belum bisa mengatur suhu tubuh sendiri, makanya ada di inkubator dengan suhu terkontrol."
Dara mengangguk, dia paham semua istilah medis itu. Terlalu paham.
"Prognosis?"
Dr. Sinta ragu sebentar. "Jujur? Lima puluh-lima puluh. Dua hari pertama adalah yang paling kritis. Kalau dia bertahan, peluangnya naik jadi delapan puluh persen."
"Dan kalau tidak bertahan?"
"Nyonya Kiara..."
"Jawab aku. Aku dokter. Aku bisa terima kenyataan."
Dr. Sinta mengambil napas. "Kalau paru-parunya tidak respon dengan treatment dalam empat puluh delapan jam, ada risiko kegagalan organ multipel. Dalam kasus terburuk... kita mungkin harus lepaskan alat bantu napas dan... biarkan alam mengambil keputusan."
Artinya, biarkan dia mati dengan damai.
Dara menutup mata, rasa sakit di dadanya jauh lebih besar dari rasa sakit di perutnya.
"Aku mengerti."
"Tapi saya optimis," Dr. Sinta menambah cepat. "Dia sudah bertahan enam jam. Itu tanda bagus. Dan detak jantungnya kuat, seperti pejuang kecil."
Setelah Dr. Sinta pergi, Dara menatap langit-langit rumah sakit.
"Arkan," katanya pelan. "Kalau terjadi sesuatu padaku, kalau Bos Rendra datang lagi... janji padaku kamu akan lindungi anak kita."
"Jangan bicara seperti itu..."
"Janji!" Dara menatapnya tajam. "Aku pernah mati sekali. Aku tahu kematian bisa datang kapan saja. Janji padaku!"
Arkan mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Aku janji. Dengan nyawaku sendiri."
Ketukan lagi di pintu, kali ini Regan masuk dengan kursi roda, kakinya diperban.
"Kak, maaf ganggu. Tapi ada yang harus Kakak tahu."
"Apa?"
"Bos Rendra kabur dari gudang. Polisi datang terlambat, hanya tangkap dua anak buahnya. Victor juga kabur meski terluka."
Dara merasa dingin menjalar. "Berarti dia masih di luar sana..."
"Dan lebih marah dari sebelumnya." Regan menunjukkan ponselnya, pesan teks dari nomor tidak dikenal.
[Selamat untuk kelahiran putrimu, Dara. Atau haruskah kupanggil Kiara? Bayi prematur sangat rentan, banyak hal buruk bisa terjadi di rumah sakit. Pikirkan itu. - R]
R inisial nama Rendra.
Ancaman yang jelas.
Dara merasakan amarah meledak, amarah yang lebih besar dari ketakutan.
"Dia mengancam anakku..."
"Kak, aku sudah atur pengawal di depan NICU. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin..."
"Itu tidak cukup!" Dara memaksa diri duduk, mengabaikan rasa sakit yang menusuk perutnya. "Bos Rendra punya koneksi di mana-mana. Dia bisa menyuap perawat, bisa menyamar jadi dokter, bisa..."
Rasa sakit menikam dadanya.
Bukan rasa sakit fisik.
Tapi rasa sakit seorang ibu yang tidak bisa melindungi anaknya.
"Aku harus ke NICU. Sekarang."
"Kamu belum bisa jalan..."
"AKU TIDAK PEDULI!" Dara mencoba turun dari tempat tidur, kaki gemetar, luka jahitan di perut menarik keras.
Arkan menahannya. "Kiara, tunggu! Aku akan bawa kursi roda."
"Tidak ada waktu."
Alarm berbunyi.
Alarm darurat NICU.
Semua orang membeku.
Lalu berlari.
Dara dipaksa berbaring lagi oleh perawat, tapi dia bisa mendengar keributan di koridor.
Suara teriakan. "KODE BIRU! KODE BIRU DI NICU!"
Kode biru... cardiac arrest.
Seseorang jantungnya berhenti.
Dan Dara tahu dengan instink seorang ibu... Itu anaknya.
Dia berteriak... berteriak sampai suaranya hilang, sampai tubuhnya kejang, sampai kesadarannya memudar.
Terakhir yang dia dengar... Suara tangisan bayi.
Atau itu hanya harapan?
👻👻👻👻