NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - Bima Terlambat Menjemput

Sore itu, langit berubah menjadi jingga kemerahan, menciptakan bayangan panjang di sepanjang aspal depan sekolah yang mulai sepi. Bima masih belum memunculkan batang hidungnya, membuat Aura duduk termenung di atas trotoar dengan sisa-sisa kegelisahan yang masih mengganjal. Zahra sudah pulang lebih dulu karena dijemput ayahnya, meski awalnya ia bersikeras ingin menemani Aura. Kini, hanya ada Aura dan Mawar yang setia berdiri di sampingnya.

Tanpa Aura sadari, beberapa puluh meter di seberang jalan, di balik rimbunnya pohon mahoni, Arfan masih ada di sana. Ia tidak pulang. Ia mematikan mesin motornya dan tetap mengawasi dari kejauhan. Arfan tahu, jika ia mendekat lagi, Aura pasti akan menghindar atau merasa tertekan. Dan ia tidak ingin menjadi sosok yang jahat di mata gadis itu.

Arfan melihat seorang anak kecil penjual tisu yang sedang duduk di dekat lampu merah. Ia memanggil anak itu, lalu merogoh dompetnya. Diambilnya selembar uang seratus ribu rupiah, lalu ia menyerahkan kantong plastik berisi roti gandum dan susu kotak yang tadi ia siapkan.

"Dek, tolong kasih ini ke Kakak yang pakai kerudung putih dan tas pink di depan gerbang itu ya," ucap Arfan sambil memberikan uang tersebut. "Bilang saja, ini dari orang yang ingin dia tetap sehat. Jangan bilang dari saya, ya?"

Anak kecil itu mengangguk semangat melihat uang yang begitu besar di tangannya. Ia berlari kecil menghampiri Aura.

"Kak... ini ada titipan buat Kakak," ujar anak kecil itu sambil menyodorkan plastik tersebut ke arah Aura.

Aura mengerutkan kening, bingung. "Dari siapa, Dek?"

"Nggak tahu, Kak. Katanya buat Kakak supaya tetap sehat," jawab anak itu jujur, lalu ia segera berlari pergi sebelum Aura sempat bertanya lebih jauh.

Aura menatap plastik itu dengan perasaan campur aduk. Ia melirik ke arah jalanan, mencari-cari siapa pengirimnya. Jauh di sana, ia sempat melihat siluet motor besar yang sangat ia kenal perlahan bergerak menjauh dan menghilang di belokan jalan.

"Itu pasti dari Kak Arfan, Ra," bisik Mawar pelan, matanya menatap kepergian motor itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lihatlah, meskipun kamu bersikap keras tadi, dia tetap peduli dengan caranyanya sendiri. Dia nggak mau kamu kelaparan sambil nunggu Kak Bima."

Aura terdiam. Roti itu terasa berat di tangannya. Di satu sisi, ia merasa tersentuh dengan perhatian yang begitu detail, tapi di sisi lain, ia merasa seperti sedang diawasi oleh mata yang tidak pernah tertidur.

"War, kenapa dia harus se-obsesi ini?" tanya Aura lirih.

Mawar hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa perih. "Mungkin karena baginya, kamu adalah satu-satunya warna di atas kanvas hidupnya yang selama ini cuma hitam dan putih, Ra."

Raungan knalpot motor Bima membelah kesunyian sore di depan gerbang sekolah. Ia berhenti mendadak, membuat debu jalanan sedikit beterbangan. Wajahnya kusut, peluh membasahi pelipisnya, tapi begitu matanya menangkap sosok Aura, dan terutama sosok yang berdiri di samping adiknya amarahnya mendadak surut, berganti dengan getaran aneh yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Bima turun dari motor. Ia melepaskan helmnya dengan kasar, namun matanya terkunci pada Mawar. Gadis itu berdiri dengan anggun meski matahari sore mulai redup, memegang tali tasnya dengan jemari yang mungil.

"Ra, naik," perintah Bima singkat. Suaranya berat, tapi nadanya tidak sekeras biasanya saat ia menatap Mawar.

Bima beralih menatap Mawar. Tatapannya dalam, tajam, namun ada kilat kerapuhan di sana. Ia melihat Mawar yang tampak begitu tenang, begitu suci, tapi hatinya perih karena ia tahu atau setidaknya merasa bahwa Mawar punya hubungan khusus dengan Arfan, si pelukis yang paling ia benci.

"Lo..." Bima menggantung kalimatnya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Mawar. "Kenapa lo masih di sini? Ini udah hampir maghrib, War."

Mawar menunduk, tidak berani menatap mata Bima yang berkilat. "Aku nggak mungkin ninggalin Aura sendirian, Kak Bima. Aku khawatir."

Bima mendengus, tapi hatinya menghangat mendengar kata khawatir itu, meski ia tahu Mawar mungkin juga sedang menjalankan tugas dari Arfan. "Lo terlalu baik buat dimanfaatin orang, War. Jangan biarin diri lo jadi alat buat orang lain masuk ke keluarga gue."

Mawar mendongak sedikit, matanya yang teduh bertemu dengan mata Bima yang liar. "Maksud Kak Bima apa? Aku cuma nemenin sahabatku."

Bima terdiam. Ia ingin sekali bilang 'Gue tahu lo sering kontakan sama Arfan, dan itu bikin gue muak karena gue nggak bisa benci lo seumur hidup gue.' Tapi yang keluar dari mulutnya justru hanya geraman rendah.

"Pulang sana. Gue nggak mau liat lo keluyuran sore-sore begini. Bahaya," ucap Bima, nadanya melembut tanpa ia sadari. Ia seolah sedang memberikan perintah, tapi sebenarnya itu adalah bentuk proteksi yang canggung.

Aura yang sedang naik ke boncengan motor mengamati interaksi itu dengan dahi berkerut. Ia melihat bagaimana tangan Bima yang biasanya kuat dan stabil, sedikit gemetar saat berdekatan dengan Mawar. Ia melihat bagaimana kakaknya yang pemberani itu mendadak jadi kikuk dan hanya bisa berkata kasar untuk menutupi rasa pedulinya.

"Ayo, Ra!" Bima menghidupkan mesin motornya dengan kencang, seolah-olah suara mesin itu bisa meredam debaran jantungnya yang tidak keruan.

Sebelum pergi, Bima melirik Mawar sekali lagi lewat spion. Mawar masih berdiri di sana, menatap keberangkatan mereka dengan raut wajah yang sulit ditebak.

Di sepanjang jalan, Bima hanya diam. Ia benci kenyataan bahwa ia jatuh cinta pada gadis yang mungkin saja sedang mengkhianati kepercayaannya demi pria lain. Ia benci karena di antara semua perempuan di dunia, hatinya justru memilih Mawar gadis yang merupakan bagian dari rencana Arfan.

Angin sore menerpa wajah Aura saat motor Bima melesat membelah jalanan yang mulai temaram. Di balik punggung kakaknya, Aura terdiam, merasakan ketegangan yang masih memancar dari pundak Bima yang kaku. Ia membuka plastik pemberian anak kecil tadi, mengeluarkan kotak susu, dan mulai meminumnya dengan pelan. Rasa manis susu itu sedikit meredakan lapar yang sedari tadi menusuk perutnya, namun tidak dengan rasa ingin tahunya.

Aura melirik kaca spion motor. Ia bisa melihat mata Bima yang menatap lurus ke depan dengan sorot tajam, namun tampak kosong.

"Kak Bima," panggil Aura sedikit berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru angin.

Bima tidak menyahut, hanya gumaman pendek yang terdengar seperti dengusan.

"Tadi Kakak... kenapa ngomong gitu ke Mawar?" tanya Aura hati-hati. Ia sengaja tidak menyebut nama Arfan karena ia tahu itu adalah pemantik api amarah kakaknya. "Mawar itu sayang sama aku, Kak. Dia tulus nemenin aku."

Bima memperkencang genggamannya pada stang motor. "Gue cuma nggak mau ada orang luar yang ikut campur urusan keluarga kita, Ra. Termasuk temen lo yang terlalu lembut itu."

Aura menyesap susunya lagi, lalu tersenyum tipis di balik bahu Bima. "Tapi Kakak tadi khawatir banget kan sama dia? Bilang jangan keluyuran sore-sore karena bahaya. Itu bukan gaya Kak Bima yang biasanya galak sama semua orang."

Tubuh Bima sedikit menegang. Ia berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian. "Ya... ya kalau dia kenapa-napa di depan gerbang sekolah lo, gue juga yang repot entar ditanyain guru."

Aura terkekeh pelan. Ia tahu kakaknya sedang berbohong. Ada getaran berbeda dalam suara Bima hari ini, sesuatu yang jauh lebih manusiawi dan rapuh. Bima yang ia kenal sebagai preman pelindung rumah, ternyata bisa menjadi pria yang sangat canggung saat berhadapan dengan gadis setenang Mawar.

"Tapi Kak," suara Aura merendah, "Mawar itu beda. Dia nggak bakal mau dimanfaatin siapa pun. Kalaupun dia deket sama Kak Arfan, mungkin karena dia ngelihat Kak Arfan sebagai sosok yang baik. Sama kayak Bunda ngelihat dia."

Mendengar nama Arfan, Bima langsung menarik gas motornya lebih dalam. Motor mereka melaju lebih cepat, membuat Aura hampir tersedak susunya.

"Itu masalahnya, Ra," suara Bima terdengar parau. "Gue benci kalau dia ngelihat orang yang salah sebagai sosok yang baik. Gue nggak mau dia... terjebak di lukisan-lukisan palsu cowok itu."

Aura terdiam. Ia merasakan kepedihan yang tersembunyi dalam kalimat Bima. Ia menyadari bahwa kebencian Bima pada Arfan bukan lagi sekadar soal proteksi adik, tapi soal rasa takut kehilangan perhatian seseorang yang ia cintai kepada pria yang menurutnya sangat berbahaya.

Susu di tangan Aura sudah habis, tapi rasa hangat di hatinya karena melihat sisi lain dari kakaknya masih tertinggal. Di tengah kemelut obsesi Arfan dan mimpinya ke London, Aura menyadari ada drama lain yang sedang berkecamuk tepat di depannya, kakaknya yang garang, sedang berjuang melawan perasaannya sendiri pada seorang gadis yang mungkin merupakan mata-mata bagi musuhnya.

"Kita mampir makan dulu, Ra. Gue tahu lo laper," ucap Bima tiba-tiba setelah beberapa menit hening.

"Tadi Kakak bilang HP mati, ban bocor... kok sekarang malah ajak makan?" goda Aura.

"Udah, jangan banyak tanya. Gue yang bayar," ketus Bima, namun kali ini ada nada perlindungan yang tulus, seolah ia ingin menebus rasa bersalahnya karena datang terlambat.

Aura menyandarkan kepalanya sejenak di punggung lebar kakaknya. Di tengah badai yang diciptakan Arfan, setidaknya ia tahu Bima dengan segala kecemburuan dan kekasarannya adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah membiarkannya berjalan sendirian di kegelapan.

Bima membawa motornya menepi ke sebuah warung bakso pinggir jalan yang legendaris, tempat dengan bangku-bangku kayu panjang yang catnya sudah mulai mengelupas. Bau kuah kaldu yang gurih dan aroma bawang goreng langsung menyambut indra penciuman mereka.

Aura tertegun sejenak saat turun dari motor. Ia menatap spanduk kusam warung itu dengan perasaan getir. Ini adalah tempat yang sama satu tahun lalu. Tempat di mana pertama kalinya ia memperkenalkan Arfan kepada Bima.

Kala itu, suasana sangat berbeda. Arfan baru saja mengantarkan Aura pulang sekolah, dan mereka bertemu Bima di sini. Bima yang biasanya skeptis, saat itu justru menyambut Arfan dengan tawa lebar. Mereka duduk di sudut yang sama, memesan bakso urat, dan mengobrol akrab tentang otomotif. Bima sangat terkesan dengan pengetahuan Arfan soal mesin motor tua. Bahkan, Bima sempat berkata, "Ra, akhirnya lo punya temen cowok yang nggak cuma pinter teori, tapi asyik diajak ngomong."

"Kok makan di sini, Kak?" tanya Aura lirih saat mereka duduk di bangku kayu yang sama.

Bima terdiam sebentar, menatap kursi kosong di depan mereka. kursi yang dulu diduduki Arfan dengan senyum ramahnya yang menipu. Bima menghela napas panjang sambil memesan dua porsi bakso.

"Gue cuma pengen inget-inget di mana titik awal gue jadi orang bego," jawab Bima tanpa menatap Aura. Suaranya terdengar sangat manusiawi, penuh penyesalan. "Dulu gue pikir dia beneran tulus mau jadi abang buat lo. Gue pikir dia orang yang bisa gue percaya buat jagain lo pas gue lagi nggak ada."

Aura memperhatikan tangan Bima yang sibuk mengaduk sambal dengan gerakan mekanis. Ia ingat betul bagaimana akrabnya Bima dan Arfan saat itu. Mereka bahkan sempat bertukar nomor telepon dan berencana pergi ke pameran otomotif bareng. Tidak ada kebencian, tidak ada kecurigaan. Arfan telah memainkan perannya dengan sangat sempurna sejak awal.

"Kak Bima nggak salah. Semua orang juga mikir Kak Arfan itu malaikat," hibur Aura sambil menusuk satu bakso kecil.

"Nggak, Ra. Gue yang salah. Sebagai abang, harusnya insting gue lebih tajam," Bima menatap Aura dengan mata yang sedikit memerah. "Karena gue buka pintu buat dia waktu itu, sekarang dia ngerasa punya hak buat ngatur hidup lo. Dan yang paling bikin gue muak sama diri gue sendiri..." Bima menggantung kalimatnya, bayangan wajah Mawar tiba-tiba melintas. "...adalah karena dia tahu persis titik lemah gue."

Aura terdiam. Ia baru menyadari bahwa rasa bersalah Bima jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Bima merasa dialah yang membawa serigala itu masuk ke dalam rumah mereka.

"Makan, Ra. Habisin rotinya tadi juga nggak apa-apa, lo butuh tenaga buat mikir gimana caranya dapet beasiswa itu," ucap Bima lagi, mencoba kembali ke mode protektifnya yang kasar namun sayang.

Di bawah lampu neon warung yang sesekali berkedip, Aura makan dengan tenang. Tempat ini dulunya adalah memori tentang pertemanan yang hangat, tapi sekarang hanya menjadi pengingat betapa rapinya Arfan menyusun skenario untuk menjerat keluarga mereka. Dan Bima, dengan segala harga dirinya, berjanji di dalam hati bahwa keakraban di tempat makan ini tidak akan pernah terulang lagi.

Bersambung.......

Assalamualaikum semuanya, jangan lupa like dan komen yaaa🫶🏻.

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!