NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tak lama setelah itu, sesuatu yang tak masuk akal mulai terjadi.

Perut wanita yang telah tak bernyawa itu tiba-tiba berdenyut pelan. Lalu bergerak. Sekali. Dua kali. Semakin jelas.

Kelabang raksasa yang menyaksikan hal itu kembali mendesis keras, suaranya menggema memenuhi ruang gua.

“Trak… tak tak… shhhhh…”

Lima anak kelabang di dalam perut itu memancarkan cahaya kehijauan yang semakin terang, seakan menyahuti panggilan induknya. Kilau itu menembus kulit yang pucat, berpendar seperti bara yang menyala di balik selubung tipis.

Tanpa ragu, kelabang raksasa itu mengangkat sungutnya yang tajam bagai bilah pusaka. Dengan satu gerakan cepat namun terukur, ia membelah perut wanita itu.

Tak ada lagi darah yang mengalir.

Yang keluar justru lendir kehijauan yang kental dan lengket, berkilau redup di bawah cahaya tubuh sang makhluk. Dari celah yang terbuka itu, cahaya semakin memancar.

Lalu—

Tangis bayi memecah kesunyian.

Nyaring. Kuat. Menggetarkan.

Suara itu bergema di dalam gua, memantul pada dinding-dinding batu hingga terasa seperti gemuruh dari dalam perut bumi. Beberapa stalaktit kecil bergetar, bahkan ada yang patah dan jatuh menghantam lantai pasir.

Di luar sana, bulan sabit tampak semakin merah, seolah dilumuri darah senja yang tak wajar. Hutan yang semula membisu mendadak hidup oleh suara-suara liar. Sekelompok serigala melolong panjang. Monyet-monyet berteriak dari pucuk-pucuk pohon. Seekor harimau mengaum dalam, berat, mengguncang malam.

Seakan seluruh makhluk rimba menyadari—atau menyambut—keganjilan yang baru saja lahir di jantung hutan larangan.

Di tengah lingkaran tubuh kelabang raksasa itu, seorang bayi terbaring dalam cahaya kehijauan, menangis keras menantang gelap.

Jauh dari lokasi kejadian itu, seorang petapa tua perlahan keluar dari celah batang pohon raksasa tempat ia bersemadi. Pohon itu telah menjadi rumah sekaligus pertapaan baginya selama puluhan tahun.

Ia dapat membaca gejala alam yang tengah bergolak.

Tatapannya terangkat ke langit. Bulan sabit menggantung pucat, memerah seolah berlumur darah.

Dialah Ki Respada.

Angin malam berdesir lirih ketika ia menghela napas panjang.

“Hmmm… ternyata Warok Gondosupit telah gagal. Dan aku pun terlambat. Bayi itu telah dikuasai oleh alam. Tak akan ada yang sanggup merebutnya kini.”

Ia lalu duduk bersila di atas akar pohon yang menjalar bagai ular tua. Kedua matanya terpejam. Nalar budinya dipusatkan, menyelami denyut gaib yang merambat melalui tanah, angin, dan desir dedaunan.

Hening.

Tak lama kemudian, kedua matanya terbuka perlahan. Ada kilat keterkejutan di sana.

“Luar biasa… makhluk itu membawanya sangat jauh. Keluar dari wilayah Mataram. Bahkan kini telah melintasi batas tanah Pasundan. Aku tak akan mampu melawan makhluk itu… lagi pula jaraknya terlampau jauh.”

Ia terdiam sesaat, lalu menghela napas berat.

“Aku harus mengikhlaskannya. Memang bukan rezekiku.”

Dengan langkah pelan, Ki Respada kembali masuk ke celah pohon raksasa itu, menyatu dengan gelapnya batang tua yang berongga.

Bertahun-tahun kemudian.

Sementara itu, jauh di seberang batas kerajaan, hutan larangan tempat bayi itu dibawa memang terletak amat terpencil dari area pembantaian sebelumnya. Kelabang raksasa telah membawanya menembus wilayah hingga ke tanah Pasundan—wilayah di mana Kerajaan Pajajaran masih berkuasa.

Penduduk kademangan sekitar menyebut hutan terlarang itu dengan satu nama yang jarang diucapkan sembarangan:

Hutan Jagabodas.

Hutan itu membentang sangat luas, lebat, dan termasyhur karena keangkerannya. Bahkan Kerajaan Pajajaran sendiri menetapkannya sebagai kawasan terlarang—semacam cagar alam yang tak boleh sembarang dimasuki.

Titah kerajaan jelas: tak seorang pun diperkenankan melangkah jauh ke dalam Hutan Jagabodas.

Penduduk kademangan sekitar telah hafal betul batas-batasnya. Mereka tahu sampai di mana kaki boleh menjejak, dan di mana hening harus dihormati.

Pinggiran hutan bagian selatan masih diizinkan untuk dimasuki sebagian. Bukan tanpa alasan. Di arah itu berdiri sebuah desa kecil yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tepian rimba, meski masih cukup aman.

Desa itu bernama Desa Cikawulan.

Sebuah desa sederhana yang dikelilingi hamparan pesawahan hijau. Di sela-selanya, beberapa penduduk menanam bunga tujuh rupa di ladang luas yang warnanya mencolok di antara padi dan rerumputan.

Ladang bunga itulah tempat anak-anak remaja sering bermain.

Namun para orang tua tak pernah lupa mewanti-wanti.

“Jangan terlalu dekat ke hutan. Jangan melewati batas batu besar itu. Jangan masuk saat senja.”

Sebab ladang bunga yang indah itu, meski tampak damai, berdiri tak jauh dari bayang-bayang Jagabodas.

Suatu sore, seorang gadis kecil berusia sembilan tahun berlari-lari di antara bunga yang bermekaran. Rambutnya tergerai tertiup angin, tawanya ringan memecah sunyi ladang.

Di tangannya tergenggam tongkat pendek dengan jaring kecil di ujungnya.

Ia gemar berburu kupu-kupu.

Dan memang, di ladang itu bertebaran berbagai jenis kupu-kupu dengan sayap warna-warni—biru berkilau, jingga terang, kuning pucat seperti cahaya senja.

Gadis kecil itu berlari mengejar seekor kupu-kupu putih keperakan yang terbang semakin mendekati batas ladang… dan semakin dekat pula ke arah rimbun pepohonan Hutan Jagabodas.

Namanya Larasati.

Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang terurai hingga melewati punggung. Matanya agak sipit, namun justru memberi kesan teduh pada wajahnya yang elok. Di seluruh Desa Cikawulan, tak ada satu pun gadis seusianya yang mampu menandingi kecantikannya.

Namun pesonanya bukan semata anugerah rupa.

Larasati adalah putri seorang pendekar yang dahulu disegani di dunia persilatan. Namanya pernah mengguncang banyak gelanggang, dikenal dengan julukan Baraya Pedang Keramat—sebuah sebutan yang melekat karena ia memiliki sebilah pedang sakti yang konon tak tertandingi.

Banyak lawan tumbang di hadapannya. Banyak kisah beredar tentang kedahsyatan pedangnya.

Namun itu dahulu.

Setelah menikahi Nyi Lestari, ia menarik diri dari hiruk-pikuk persilatan. Ia memilih meninggalkan ambisi, pertarungan, dan dendam lama. Bersama istrinya, ia hidup memencilkan diri di desa terpencil bernama Cikawulan, jauh dari pusat kekuasaan maupun intrik dunia pendekar.

Dari pernikahan itulah lahir dua anak.

Yang sulung bernama Jatisangkar.

Dan yang bungsu—Larasati.

Tak seorang pun di desa kecil itu menyangka bahwa darah pendekar besar mengalir tenang dalam diri gadis kecil yang gemar mengejar kupu-kupu di ladang bunga.

Di Desa Cikawulan, Baraya hanya dikenal sebagai petani sawah sekaligus pemilik sebagian ladang bunga. Tak seorang pun mengetahui bahwa lelaki pendiam itu pernah mengguncang dunia persilatan dengan pedang keramatnya.

Sementara itu, kupu-kupu di ladang memang bukan kupu-kupu jinak. Mereka liar dan lincah. Meski Larasati telah berusia sembilan tahun, tetap saja tidak mudah menangkapnya.

“Ahh… susah sekali menangkap kupu-kupu di sini. Kalau di rumah rasanya mudah,” gumam Laras dalam hati. “Tapi kupu-kupu di sekitar rumah tak ada yang unik dan indah. Berbeda dengan yang di ladang ini. Selain warnanya beraneka ragam, ukurannya pun lebih besar… hanya saja mereka terlalu lincah.”

Namun Laras bukan anak yang mudah menyerah. Ia terus mengejar seekor kupu-kupu berukuran besar dengan corak sayap menyerupai loreng harimau. Kupu-kupu itulah yang paling menarik perhatiannya.

Tanpa disadari, langkah kakinya makin jauh menyusuri ladang… semakin mendekati batas Hutan Jagabodas.

Hari kian meninggi. Matahari terasa lebih terik. Ketika Laras mengangkat wajah dan melihat rimbunan hutan gelap membentang di hadapannya, barulah ia tersentak.

Ia telah terlalu jauh.

Laras segera berbalik arah.

“Uh, hari ini gagal lagi. Kupu-kupu harimau itu jarang sekali muncul. Sial… baiklah, aku pulang saja,” keluhnya pelan.

Namun ketika ia memutar tubuhnya, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa.

Seorang anak laki-laki tengah duduk santai di atas batang pohon besar di tepi ladang. Ia menggigit buah jambu dengan lahap.

Aneh sekali.

Anak itu tak mengenakan baju. Celananya hanya berupa rumbai-rumbai kasar yang dijahit seadanya. Kulitnya tampak kumal, rambutnya kusut tak terurus. Sekilas ia terlihat seperti anak gelandangan dari hutan.

Laras mengernyit.

Dengan sedikit keberanian, ia berseru, “Hei, bocah! Turunlah. Berbahaya berada di atas sana. Apa kau tak takut jatuh?”

Anak itu melirik sekilas ke arahnya. Senyumnya tipis, lalu ia kembali mengunyah jambunya seolah tak peduli.

“Astaga… bocah ini tuli, ya?” gerutu Laras dalam hati.

“Hei! Apa kau tak mendengar perkataanku? Turunlah. Kalau kau jatuh dan mati, orang tuamu pasti bersedih!”

Kali ini anak kumal itu menghentikan kunyahannya. Ia kembali menoleh, menatap Laras lebih lama. Senyum aneh terukir di bibirnya.

Lalu ia berdiri.

Tanpa berkata sepatah pun, ia memeluk batang pohon itu.

Namun cara turunnya membuat darah Laras terasa dingin.

Kepalanya menghadap ke bawah. Kakinya tetap mencengkeram bagian atas batang. Ia merayap turun perlahan… seperti cicak yang menempel di dinding.

Gerakannya lentur. Tidak tergesa. Tidak goyah.

Laras terperangah.

Bulu kuduknya meremang.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!