Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Sekretaris cantik
" Selamat malam Ay " ucap Hans mematikan lampu utama kamar dan mengambil satu bantal .
Hans meluruskan tubuhnya di sofa dan berbaring menghadap Ayra yang tertidur pulas diatas ranjang.
" Kita memang dekat dan saling menyayangi, tapi hati kita masih berjarak dan saat ini aku ingin mulai menjembatani jarak antara hati kita agar bersatu dengan sempurna" ucap Hans memejamkan matanya.
..........
Keesokan paginya.
Hoammmm
Ayra menguap begitu terbangun mengucek matanya " Om Hans" ucap Ayra duduk bersandar ke kepala ranjang melihat Hans yang ternyata tidur disofa .
" Om, bangun, Om , udah pagi" kata Ayra menghampiri dan membangunkan Hans .
" Mmmh, Om rasanya masih sangat mengantuk Ay" keluh Hans yang sepanjang malam sama sekali tidak tidur tapi memandangi wajah Ayra .
" Yaudah tidur diranjang , mengapa di sofa nanti punggung Om sakit " kata Ayra menarik tangan Hans sekuat tenaga sampai pria dewasa itu duduk .
" Apa , Ay , Om mengantuk sekali " kata Hans duduk menatap Ayra dengan mata sangat mengantuk .
" Iya , tapi tidur disini " ucap Ayra memegang tangan Hans dan menyuruhnya berbaring diatas ranjang.
" Kenapa Om tidur di sofa semalam " tanya Ayra menyelimuti Hans begitu dia pindah ke atas ranjang.
" Om, hanya ce,"
" Aku tidak bertanya kenapa Om tidur di kamarku, tapi mengapa tidur di sofa ?" kata Ayra to the poin.
" Semalam , kamu tidur mengigau, jadi Om tidak sampai hati, meninggalkan kamu sendiri , jadi Om temenin " alasan Hans kembali memejamkan matanya yang memang masih sangat mengantuk .
" Ya kalaupun begitu Om kan bisa tidur diatas ranjang bersamaku , kenapa disofa nanti punggung Om sakit " kata Ayra memijit punggung Hans yang berbaring tengkurap itu .
Hans membuka matanya mendengar pernyataan Ayra lalu menatap Ayra yang duduk ditepi ranjang memijit punggung nya .
" Ayra dengar kamu adalah seorang wanita , bagaimana bisa Om tidur seranjang dengan kamu" ucap Hans yang kadang bingung melihat Ayra yang terlalu percaya pada nya .
Padahal niat jahat dan gairah Hans selalu bangkit di setiap harinya untuk menjamah Ayra.
" Ya kan kita cuma tidur nggak ngapa-ngapain juga apa salahnya, lagian Om kan wali aku dan aku yakin Om nggak bakalan pernah berniat jahat padaku " pernyataan Ayra tersenyum membelai rambut Hans dengan tatapan teduh .
" Ayra , Om nggak sebaik yang kamu pikirkan" ucap Hans yang kadang merasa berdosa sekali setelah gairahnya naik terhadap Ayra yang menganggap Hans sangat sempurna seolah tanpa celah dimatanya .
" Mau satu duniapun mengatakan Om jahat aku tidak akan mempercayai nya karena Om adalah orang paling baik yang pernah aku kenal bahkan seperti bayangan Papa sekaligus Mama dalam hidup ku " ucap Ayra tiba-tiba memeluk Hans yang sedang berbaring.
" Aku sayang sama Om, aku berdoa dan berharap semoga suatu hari nanti jika Om menikah dianugerahi keluarga yang harmonis serta istri yang sangat mencintai Om " ucap Ayra yang berharap penuh .
" Dan aku berjanji akan menyayangi anak Om sebanyak kasih sayang yang Om berikan untukku " janji Ayra mengelus-elus kepala Hans .
" Yaudah tidur lah , aku mau mandi " kata Ayra berlari ceria kedalam ruang ganti mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
" Kau menyuruhku tidur setelah mengacaukan hati dan perasaan ku yang sudah lama beristirahat Ay, Iya jika aku punya anak kamu memang harus menyayangi nya sebanyak aku menyayangi mu karena itu adalah anak kita berdua " batin Hans yang sudah siap mengambil segala resiko .
.............
Siang ini Ayra ikut bersama Hans untuk menghadiri pertemuan bisnis luar perusahaan di sebuah hotel bintang lima .
" Ay sudah siap?" tanya Hans pada Ayra sebelum mereka masuk kedalam ruangan khusus untuk bertemu semua orang.
" Siap dong" kata Ayra merapikan jepitan pita di rambutnya agar lebih rapi hingga membuatnya jadi percaya diri .
Begitu mereka masuk semua mata tertuju pada Ayra dan Hans yang sangat kharismatik serta mempesona, Aura mereka berdua benar-benar membuat orang lain hilang fokus .
" Dengar Ay sekarang waktunya menunjukkan kualitas dirimu, lakukan dengan baik semua yang pernah Om ajarkan" ucap Hans yang diangguki Ayra .
Kepintaran, kecerdasan dan kecantikan Ayra seolah membekukan suasana didalam ruang meeting itu ketika Ayra berdiri memimpin meeting dengan sangat baik dan profesional.
" Apa yang kalian lihat sampai tidak berkedip begitu ?" pertanyaan Hans dengan tatapan tak suka nya melihat empat dari 5 orang yang ada dalam ruangan bersama mereka bukan memperhatikan monitor tapi memperhatikan Ayra yang sedang menjelaskan.
" Pak Hans, sekretaris mu sangat cantik boleh aku minta nomer nya ?" pertanyaan salah seorang pria berbisik kedekat Hans .
" Jika tidak bisa profesional maka kita akhiri saja meeting ini " ucap Hans yang mengejutkan mereka berempat hingga segera minta maaf .
" Maaf, maaf pak Hans kami tidak akan mengulangi nya" ucap mereka sementara Hans hanya menatap dengan wajah datar .
............
Selesai meeting Ayra mengajak Hans makan dulu di salah satu restoran di Mall.
" Gimana Om , apa aku udah bisa?" tanya Ayra yang berjalan memeluk lengan Hans dengan ceria dan bercerita banyak .
" Om, Ihhhh, kenapa sih gitu kali ekspresi nya " kesal Ayra yang sungguh baru memperhatikan ekspresi wajah Hans yang seperti akan makan orang saja padahal sedari tadi Ayra bercerita banyak padanya .
" Om" rengek Ayra meronta-ronta memegang tangan Hans yang terus diam itu agar berhenti berjalan .
" Ayra diam lah, Om lagi nggak mood " ucap Hans kembali melanjutkan langkahnya sampai Ayra yang memeluk sebelah tangan ikut terseret.
" Yaudah , ayo beli es krim dulu " kata Ayra yang sangat ceria dan excited membawa Hans ketempat orang jual es krim.
7 Bodyguard yang berjalan dibelakang mereka hanya bisa tergelak melihat mereka yang benar-benar dua sisi yang sangat jauh berbeda namun tak terpisahkan.
" Kak mau es krim rasa coklat dua" kata Ayra memesan lalu setelah beberapa saat pesanan nya diberikan.
Hans membayar es krim yang dipesan Ayra lalu mereka kembali berjalan .
" Ini Om , makanlah " kata Ayra memberikan satu es krim yang dipegang nya pada Hans .
" Enggak, kamu aja" ucap Hans yang semakin jelek saja mood nya .
" Mmmm, makan " rengek Ayra memberikan lagi .
" Tidak ay, Om tidak ingin makan es krim " ucap Hans yang merasa mood nya jelek sekali .
" Kalau Om nggak makan es krim , aku juga nggak bakal makan siang" ucap Ayra berhenti berjalan.
" Jangan bandel tadi pagi jika juga nggak sarapan karena buru-buru " ucap Hans memegang tangan Ayra dan mengajaknya kembali berjalan .
" Enggak , Om harus makan es krim ini dulu " cemberut Ayra tidak mau berjalan hanya ingin Hans makan es krim agar mood nya membaik .
" Bandel ya " kata Hans dengan sebelah tangan saja menggendong Ayra dan membawanya masuk kesalah satu restoran
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔