Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Alana menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen laut yang segar memenuhi paru-parunya satu kali lagi sebelum ia bangkit berdiri. Ia mengeluarkan cermin kecil dari tasnya, memastikan tidak ada maskara yang luntur atau garis merah yang terlalu mencolok di matanya. Dengan gerakan cekatan, ia memoleskan sedikit bedak dan lipstik tipis untuk menyamarkan pucat di wajahnya.
Ia harus kembali menjadi Alana si profesional. Alana yang tidak punya celah.
Namun, saat ia baru saja keluar dari balik semak-semak menuju jalan setapak utama, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
Di ujung jalan, berdiri seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Napas pria itu sedikit memburu, rambutnya berantakan tertiup angin kencang Uluwatu, dan matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Alana.
Pradipta.
"pak Pradipta?" suara Alana tercekat, nyaris tertelan suara ombak. "Bagaimana bisa... bukannya kamu di Jakarta?"
Pradipta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka hanya dalam hitungan detik. Ia berhenti tepat di depan Alana, begitu dekat hingga Alana bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan bau aspal panas dan keringat.
Pradipta menatap Alana dengan intensitas yang mengintimidasi. Ia memperhatikan setiap inci wajah wanita itu—hidung yang sedikit kemerahan dan mata yang, meski sudah dipoles kosmetik, tetap tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa badai emosi yang baru saja lewat.
"Kamu bilang kamu butuh udara, Alana," suara Pradipta berat dan rendah, terdengar seperti peringatan sekaligus kekhawatiran yang mendalam. "Tapi udara di sini sepertinya tidak cukup untukmu."
Alana memaksakan sebuah senyum tipis, senyum yang biasa ia gunakan dalam rapat-rapat penting. "saya baru saja ingin kembali ke proyek, pak saya sudah merasa jauh lebih baik. anda tidak perlu datang sejauh ini hanya karena pesan singkat saya yang—"
"Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja," potong Pradipta tajam. Ia tidak peduli pada topeng profesional yang sedang coba dipasang oleh Alana.
Tangan Pradipta terangkat, jari jempolnya mengusap lembut sudut mata Alana—tempat di mana setitik sisa air mata yang terlewatkan masih tertinggal. Sentuhan itu sangat pelan, namun dampaknya seperti sengatan listrik bagi Alana.
"Kamu bisa membohongi Pak Wayan, atau rekan karyawan di sana," bisik Pradipta, wajahnya merunduk agar matanya sejajar dengan Alana. "Tapi jangan pernah mencoba membohongiku. Aku tahu kamu baru saja menangis."
Dinding pertahanan yang baru saja dibangun Alana kembali retak. Ia ingin membantah, ingin lari, tapi tatapan Pradipta seolah memaku kakinya di atas tanah berbatu itu. Di bawah langit Uluwatu yang mulai menggelap, Alana menyadari satu hal: pelariannya telah berakhir di depan pria ini.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Alana untuk mengelak lagi, Pradipta menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Lengan kokohnya melingkar protektif, menyembunyikan wajah Alana di dadanya yang bidang. Alana bisa mendengar detak jantung Pradipta yang berpacu cepat, sebuah ritme yang membuktikan betapa paniknya pria itu saat terbang dari Jakarta hanya untuk mencarinya.
Seketika, aroma maskulin yang menenangkan menyergap indra penciuman Alana. Hangat. Sangat berbeda dengan dinginnya lemari kayu yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya.
Namun, di tengah rasa nyaman yang asing itu, logika Alana berteriak. Kesadarannya sebagai seorang asisten manajer kembali mencuat ke permukaan. Ia teringat akan batasan profesionalisme yang selama ini ia jaga dengan ketat.
"P-pak Pradipta... tolong lepaskan," bisik Alana, suaranya teredam oleh kemeja putih Pradipta. Tangannya yang gemetar mencoba mendorong pelan dada pria itu. "Ini tidak benar. Anda atasan saya. Bagaimana jika ada karyawan lain atau Pak Wayan melihat kita?"
Alana merasa tidak enak hati. Di matanya, Pradipta adalah simbol otoritas, sosok yang seharusnya ia hormati dengan jarak yang sopan, bukan sosok yang memeluknya di tepi tebing seperti ini. Ia takut batasan ini akan mengaburkan segalanya dan membuat posisinya di perusahaan menjadi bahan pembicaraan.
Pradipta justru mempererat pelukannya, seolah tidak membiarkan satu celah pun bagi rasa takut Alana untuk menyelinap masuk. "Persetan dengan posisi itu, Alana," desisnya rendah, tepat di samping telinga Alana. "Saat ini, aku bukan sedang menjadi atasanmu. Dan kamu bukan sedang bekerja untukku."
"Tapi, Pak—"
"Diamlah sebentar saja," potong Pradipta, suaranya kini melunak, hampir terdengar seperti permohonan. "Biarkan aku menjadi sandaranmu kali ini. Kamu sudah terlalu lama berdiri sendirian melawan badai itu."
Alana tertegun. Kata-kata Pradipta menghujam tepat ke ulu hatinya. Perlahan, kekuatan di tangannya yang tadi mencoba mendorong Pradipta mulai luruh. Meskipun hatinya masih diliputi rasa cemas akan status mereka, tubuhnya tidak bisa berbohong bahwa ia sangat membutuhkan kehangatan ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alana berhenti melawan. Ia membiarkan kepalanya bersandar sepenuhnya di dada Pradipta, sementara air mata yang tadi ia hapus dengan susah payah, kembali merembes membasahi kemeja pria itu. Di bawah langit Uluwatu yang kini benar-benar gelap, Alana membiarkan dirinya "menyerah" pada perlindungan sang atasan.