Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden apartemen mewah Paroline, menciptakan garis-garis emas di atas karpet bulu tempat Andreas Sunny sedang sibuk menyusun balok-balok mainannya. Suasana pagi itu terasa sangat tenang dan penuh kemenangan. Paroline baru saja menyelesaikan sidang skripsinya empat bulan yang lalu dan resmi menyandang gelar sarjana, sementara Fharell sedang menikmati masa libur kuliahnya yang berharga.
Di atas sofa, Fharell menarik Paroline ke dalam pelukannya. Tanpa aba-aba, tanpa persiapan lilin romantis atau makan malam mewah, Fharell menggenggam tangan Paroline, menatap matanya dalam-dalam, dan mengucapkan kalimat yang selama setahun ini sudah ia simpan di ujung lidahnya.
"Paro, aku tidak ingin menjadi pacar berondongmu lagi. Aku ingin menjadi suamimu. Menjadi ayah resmi untuk Sunny, dan pria yang kau lihat setiap kali kau bangun tidur sampai rambut kita memutih. Menikahlah denganku?"
Paroline terpaku sejenak. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Tanpa ragu, tanpa pikir panjang, ia mengangguk mantap. "Ya, Fharell. Aku mau. Aku sangat mau."
Jawaban itu ditutup dengan ciuman manis yang panjang, sebuah janji suci yang kini sudah mereka ikat meski belum di atas kertas.
Setelah momen emosional itu, Fharell yang memang dasarnya tidak bisa diam dan selalu punya sisi humoris yang konyol, langsung beralih pada Andreas yang sedang duduk di lantai. Fharell turun dari sofa, ikut duduk bersila di samping bocah kecil itu.
"Hey, jagoan Papa! Dengar ini baik-baik," ujar Fharell dengan nada serius yang dibuat-buat, namun matanya berkilat jahil.
Andreas mendongak, matanya yang besar mengerjap bingung. "Papa?"
Fharell mengacak rambut Andreas, lalu membisikkan sesuatu yang cukup keras hingga terdengar oleh Paroline. "Dengar, Sunny. Mommy akan punya anak lagi sebentar lagi. Papa sudah menyicil pengerjaannya sejak semalam, tahu tidak?"
Paroline yang sedang menyesap tehnya hampir saja tersedak. "Fharell! Apa yang kau katakan pada anak kecil itu?!"
Fharell tidak mempedulikan protes calon istrinya. Ia justru semakin bersemangat menggoda Andreas. "Dan kau akan punya adik, Jagoan. Apa kau sudah siap, Sayang? Adik bayi yang lucu. Coba kau tanya Mama sekarang."
Fharell menuntun tangan mungil Andreas untuk menunjuk ke arah Paroline. "Ayo, tanya begini, 'Mama, apa adiknya sudah jadi? Papa bilang Papa sudah membuat stok banyak semalam di kamar'."
"Fharell Desmon! Kau benar-benar gila!" Paroline melempar bantal sofa ke arah Fharell, wajahnya sudah semerah tomat. Malu, namun ia tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol pria yang usianya lima tahun di bawahnya itu.
Fharell menangkap bantal itu dengan tangkas sambil tertawa lepas. Ia kembali mendekati Andreas, memeluk bahu kecil itu. "Sungguh, Sunny. Papa ingin sekali memberimu teman main. Papa sudah berusaha keras semalam, semoga adik bayi segera hadir di perut Mommy, ya? Biar rumah ini makin ramai."
"Adik... bayi?" beo Andreas, mencoba meniru kata baru yang didengarnya.
"Iya! Adik bayi!" Fharell berseru girang, lalu mencium pipi Andreas bertubi-tubi. Ia kemudian menoleh ke arah Paroline dengan kedipan mata yang sangat nakal. "Tenang saja, Sayang. Kalau stok semalam masih kurang, nanti malam kita bisa buat lagi. Sampai targetnya tercapai."
"Diam atau aku batalkan pernikahan kita!" ancam Paroline sambil tertawa geli, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Mana bisa begitu? Kau sudah menerima lamaranku tanpa pikir panjang tadi. Tidak ada jalan kembali, Nyonya Desmon masa depan," sahut Fharell bangga. Ia bangkit berdiri, menghampiri Paroline, lalu berlutut di depannya sambil memeluk pinggang wanita itu.
Fharell menempelkan telinganya di perut rata Paroline yang masih terbungkus daster sutra tipis. "Halo, Adik Bayi... apakah kau sudah ada di sana? Papa sudah tidak sabar ingin mengajakmu bermain mobil-mobilan bersama Kakak Sunny."
Paroline mengusap rambut tebal Fharell dengan penuh kasih. Meskipun kata-kata Fharell sangat konyol dan vulgar bagi orang dewasa, ia tahu itu adalah cara Fharell mengekspresikan betapa bahagianya dia. Pria muda ini benar-benar tidak sabar untuk memulai hidup baru yang nyata bersamanya.
Sisa hari itu mereka habiskan dengan bermalas-malasan. Fharell memesan banyak makanan kesukaan Paroline dan Andreas. Mereka menonton film kartun bersama di ruang tengah. Fharell tampak sangat telaten menyuapi Andreas, sementara kakinya sesekali menyenggol kaki Paroline, memberikan godaan kecil yang membuat Paroline terus-menerus tersenyum.
Di tengah suasana santai itu, Fharell mendadak menjadi sedikit lebih serius, meski tetap dengan nada santainya. "Paro, setelah kita menikah nanti, aku ingin kita pindah ke rumah baru. Aku sudah menyiapkan sebuah mansion di dekat pantai. Aku ingin Sunny punya halaman luas untuk berlari, dan tentu saja... kamar bayi yang luas untuk adik-adiknya nanti."
Paroline tertegun. "Fharell, kau sudah menyiapkan sejauh itu?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah bermain-main saat aku bilang aku mencintaimu," Fharell meraih tangan Paroline, mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Aku ingin dunia tahu bahwa kau adalah ratuku, dan aku akan memberikan segalanya untukmu dan anak-anak kita."
Paroline merasa hatinya meleleh. Pria yang tadinya ia sebut 'bocah' ini ternyata memiliki perencanaan hidup yang jauh lebih matang daripada pria-pria dewasa yang pernah ia kenal. Fharell mungkin suka bercanda konyol soal stok bayi atau menyicil semalam, tapi di balik itu semua, dia adalah pria yang siap pasang badan untuk masa depan keluarga mereka.
"Terima kasih, Fharell," bisik Paro.
"Terima kasih kembali karena sudah memberiku kesempatan untuk menjadi Papa yang paling bahagia di dunia," jawab Fharell. Ia kemudian kembali menoleh pada Andreas yang sedang asyik merangkak. "Hey Sunny! Sini, cium Mama dulu, biar proyek Papa semalam cepat membuahkan hasil!"
Lagi-lagi tawa pecah di apartemen itu. Di hari libur yang sederhana ini, di tengah godaan-godaan konyol Fharell, Paroline menyadari bahwa ia tidak membutuhkan kemewahan yang rumit. Ia hanya membutuhkan tawa Fharell dan celoteh Andreas untuk merasa bahwa hidupnya sudah sangat sempurna.
🌷🌷 Happy reading dear 🥰