Setelah belasan tahun terjebak di lingkungan berbahaya akhirnya Glamour bisa kabur dan menyelamatkan diri.
"Tuan selamatkan aku," bisiknya bergetar menahan tangis kepada pria yang menyewanya malam ini. "Apapun akan aku berikan kepadamu, termasuk keperawanku," imbuhnya, berharap pria yang memakai topeng itu mau membantunya.
Glamour tidak tahu jika pria yang tengah mendekapnya ini adalah mafia berbahaya dan paling keji di dunia. Ibarat kata, baru keluar dari kandang buaya tapi kembali terperangkap di kandang singa.
Bagaimana perjuangan Glamour untuk menyelamatkan hidupnya demi bisa kembali berkumpul dengan keluarganya?
Simak terus kisahnya ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang dibalik semua ini?
"Ayah, sibuk?" Anna masuk ke ruang pribadi ayahnya setelah mengetuk pintu.
Ben mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, menatap putrinya yang berdiri tak jauh dari pintu.
"Anna, ada apa malam-malam ke sini?" tanya Ben, lalu melihat jam dinding di ruang itu dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Ada yang ingin aku bicarakan, penting! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," jawab Anna seraya mendekat ke ayahnya yang duduk di balik meja kerja.
Ben melepaskan kaca mata baca yang nangkring di hidung mancungnya, lalu menutup laptop. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Ben mempersilahkan putrinya duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Ini tentang Nyonya Toro dan juga Glamour." Anna menjeda ucapannya. "Sebenarnya Ele melarangku mengatakan semua ini tapi aku sudah tidak tahan lagi," sambungnya, membuat Ben semakin penasaran.
"Mommy, Glam, dan Ele? Ada apa?" Ben bertanya dengan alis mengerut, dan rasa penasaran semakin membuncah. Tidak sabar, ia segera meminta Anna untuk melanjutkan ucapannya.
"Ele mendengar pembicaraan Nyonya Toro dengan seseorang di telepon. Dia mendengar dengan jelas kalau Nyonya Toro adalah dalang di balik hilangnya, Glamour." Anna memperjelas semuanya.
"Tidak mungkin!" Ben sangat terkejut tapi juga tidak percaya begitu saja. Tidak mungkin ibunya dalang di balik peristiwa tragis yang menimpa Glamour.
Anna mendengus mendengar jawaban ayahnya. "Ini yang membuat Ele melarangku untuk cerita kepada Ayah, karena Ayah tidak akan percaya!" Anna beranjak berdiri, menatap pria itu dengan tatapan dingin, lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan Ayahnya yang terpaku di tempat.
Anna sangat kesal karena Ayahnya tidak percaya dengan ucapannya. Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Gloria.
Gloria membawa secangkir kopi yang akan di bawa ke ruang pribadi Ben.
"Anna, kau di sini?' Gloria menyapa putri sambungnya dengan ramah dan tidak lupa memberikan senyuman manis.
"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku di sini?" balas Anna, ketus dan judes pada ibu sambungnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Gloria menggeleng, tidak membenarkan tuduhan Anna. "Anna, tidak begitu maksudku. Kau bebas mau ke sini kapan pun, pintu rumah selalu terbuka untukmu," jawab Gloria dengan cepat, agar tidak terjadi salah paham antara dirinya dan Anna.
Anna tersenyum miring, ia masih kesal dan marah dengan ibu sambungnya itu.
"Aku tahu, karena kau menikah dengan Ayahku! Jadi aku ada hak berada di rumah ini!" balas Anna, semakin ketus dan menatap dingin Gloria.
Gloria sangat sedih melihat sikap Anna sekarang. Tapi, ia juga bersalah dalam hal ini, jika dirinya selama ini tidak egois, mungkin hubungannya dengan Anna masih baik-baik saja seperti hari-hari sebelumnya.
Anna hendak melanjutkan langkah tapi terhenti ketika mendengar Gloria memanggilnya.
"Anna, bisa bicara sebentar? Aku ingin meluruskan beberapa hal, agar tidak ada salah paham lagi di antara kita." Gloria menatap Anna dengan pandangan memohon.
Anna berdecak lalu memainkan lidah di langit-langit mulut, menatap jengkel pada ibu sambungnya itu.
"Salah paham? Tidak ada kesalahpahaman di antara kita! Yang ada hanyalah keegoisanmu!" jawab Anna seraya menunjuk wajah Gloria penuh emosi.
"Aku minta maaf, Anna. Aku sekarang sadar kalau selama ini terlalu egois dan mengesampingkan Ele." Gloria menyadari kesalahannya.
"Baguslah kalau kau sudah menyadari semuanya, tapi sayangnya semua sudah terlambat!" balas Anna, sinis, lalu beranjak dari sana, meninggalkan Gloria yang terpaku di tempatnya.