NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Kain Dan Urat Saraf

Momen pembuktian pertama bagi Arka. Kita akan melihat bagaimana kontrak mereka diuji di bawah lampu butik yang terang benderang dan tatapan tajam para orang tua yang merasa memiliki hak atas tubuh dan citra anak-anak mereka.

Butik itu terletak di kawasan Kebayoran Baru, sebuah bangunan kolonial yang direnovasi menjadi istana mode bagi kaum elit. Harum melati segar dan aromaterapi sandalwood memenuhi ruangan, namun bagi Laras, baunya lebih mirip ruang interogasi. Cermin-cermin besar setinggi langit-langit berjejer di setiap dinding, seolah siap menangkap setiap inci kekurangan dari siapa pun yang berdiri di depannya.

Laras datang lebih awal bersama ibunya. Sesuai janjinya pada Arka semalam, ia sengaja memilih pakaian yang "salah" menurut standar ibunya. Ia hanya mengenakan celana jeans hitam berpotongan lurus, sepatu bot kulit tanpa hak, dan kemeja putih oversized yang kancing atasnya terbuka sedikit, memperlihatkan tulang selangkanya yang tegas. Rambutnya diikat asal, tanpa sasakan, tanpa hairspray.

"Laras! Ibu sudah bilang berapa kali, ini fitting baju pengantin! Kenapa kamu datang pakai baju seperti mau ke lokasi proyek?" Ibunya berbisik dengan nada tertahan, wajahnya merah padam saat melihat staf butik mulai melirik mereka" . "Lihat itu, staf di sini semuanya pakai seragam rapi, kamu malah seperti ini. Apa kata keluarga Baskoro nanti?"

"Ini baju yang nyaman buat gonta-ganti pakaian, Bu," jawab Laras santai, sambil membolak-balik majalah di meja marmer. "Lagi pula, yang mau dinilai kan baju pengantinnya, bukan baju yang kupakai sekarang."

"Kamu itu calon menantu Jenderal! Citra itu dimulai dari saat kamu keluar dari pintu rumah!" Tepat saat itu, pintu butik terbuka. Arka masuk bersama ayahnya, Baskoro. Arka tampak kembali ke setelan biasanya jas abu-abu yang pas di badan, rambut tertata rapi, dan wajah yang tenang. Namun, begitu matanya bertemu dengan Laras, ada kilatan jenaka yang sangat tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Laras. Arka menyadari "pemberontakan" kecil itu.

Baskoro menyalami ibu Laras dengan formal, namun matanya langsung tertuju pada penampilan Laras. Alisnya bertaut. "Laras, kamu... tampak sangat santai hari ini." Ibunya Laras langsung panik. "Maaf, Pak Baskoro, Laras tadi habis ada urusan mendadak di kantor, tidak sempat ganti baju "

"Aku sengaja pakai ini, Pak," potong Laras tenang, menatap Baskoro tepat di mata. "Karena hari ini jadwalnya mencoba kain, aku ingin merasa bebas sebelum nantinya harus dibungkus baju pengantin yang... mungkin akan sangat membatasi gerakku."

Suasana mendadak hening. Para staf butik menahan napas. Baskoro adalah pria yang tidak suka dibantah, dan kejujuran Laras barusan terdengar seperti tantangan.

"Perempuan harus tahu tempat dan waktu untuk 'bebas', Laras," suara Baskoro merendah, penuh intimidasi. "Di keluarga kami, penampilan adalah pesan tentang siapa kita."

Laras merasakan tangannya mulai dingin. Ia melirik Arka. Inilah saatnya. Pasal 3.

Arka berdehem, melangkah maju dan berdiri tepat di samping Laras. Ia secara alami meletakkan tangannya di pinggang Laras sebuah gestur protektif yang jarang ia tunjukkan. "Aku rasa Laras benar, Pa. Justru kepercayaan diri seperti ini yang membuat dia menonjol. Dia tidak perlu baju mewah untuk menunjukkan siapa dia. Bukankah Papa selalu bilang, singa tetaplah singa meski tanpa mahkota?"

Baskoro terdiam. Ia menatap putranya, lalu kembali menatap Laras. Penggunaan analogi "singa" yang biasa dipakai Baskoro rupanya berhasil mematikan argumen pria tua itu. "Sudahlah," sahut Baskoro akhirnya, meski masih tampak tidak puas. "Ayo mulai. Pemilik butik ini sudah menyiapkan desain khusus."

Mereka digiring ke ruang ganti utama yang luasnya lebih besar dari kamar apartemen kebanyakan orang. Di sana, sebuah gaun pengantin berwarna putih gading dengan ribuan payet kristal dan ekor sepanjang tiga meter sudah terpajang. Gaun itu sangat indah, tapi bagi Laras, itu terlihat seperti kurungan besi yang sangat mahal. "Silakan, Mbak Laras. Ini desain pilihan Ibu dan Bapak Baskoro. Klasik, sangat tertutup, dan sangat... agung," ujar sang desainer dengan nada memuja.

Laras masuk ke ruang ganti bersama dua asisten. Selama tiga puluh menit, ia dipaksa masuk ke dalam korset yang mencekik, ditarik-tarik kainnya hingga ia sulit bernapas. Saat tirai dibuka, semua orang terpaku. Laras tampak seperti dewi cantik, sempurna, namun pucat.

"Luar biasa!" seru Ibunya Laras hampir menangis. "Kamu sangat cantik, Nak. Seperti ini harusnya penampilanmu setiap hari."

Laras menatap dirinya di cermin. Ia membenci apa yang ia lihat. Ia melihat seorang wanita yang identitasnya perlahan dihapus oleh tumpukan kain putih. Ia menatap Arka lewat pantulan cermin. Arka berdiri di belakang, matanya menyapu gaun itu, lalu naik ke wajah Laras yang tampak tersiksa. "Gaunnya terlalu berat," komentar Arka tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Arka?" tanya Baskoro. "Ini desain terbaik di Jakarta."

"Terlalu berat untuk Laras," Arka berjalan mendekat, menyentuh kain payet di bagian bahu Laras. "Laras adalah orang yang aktif. Dengan ekor sepanjang ini dan berat seperti ini, dia tidak akan bisa menikmati pestanya sendiri. Dia akan sibuk menahan beban baju ini." Arka menatap desainer itu. "Buat yang lebih simpel. Hilangkan ekornya setengah, buat bagian bahunya lebih ringan. Laras tidak boleh terlihat seperti pajangan yang kaku."

"Tapi Arka, ini sudah sesuai permintaan Papa"

"Papa, yang akan berdiri di sampingku adalah Laras, bukan baju ini," potong Arka dengan nada yang tak terbantahkan. "Aku ingin dia nyaman. Kalau dia tidak nyaman, dia tidak akan bisa tersenyum dengan tulus. Dan Papa tentu tidak ingin foto pernikahan kita terlihat seperti drama pemakaman, kan?"

Baskoro mendengus, namun kali ini ia mengangkat tangannya, memberi tanda setuju. "Lakukan saja apa maunya. Asalkan tetap terlihat mahal."

Laras menghela napas lega. Ia merasa sebuah beban secara harfiah dan kiasan mulai terangkat dari bahunya. Saat ia kembali ke ruang ganti untuk melepas gaun itu, ia sempat berbisik pada Arka yang berdiri di dekat tirai. "Terima kasih, Ka. Itu tadi... Pasal 3 bekerja dengan baik."

Arka hanya mengangguk kecil. "Ini baru permulaan, Laras. Ingat, setelah ini ada acara perkenalan dengan keluarga besar. Doni akan ada di sana, dan dia pasti akan membawa lebih banyak peluru."

"Aku tidak takut," sahut Laras. "Selama pasukannya lengkap."

"Kita adalah pasukan itu," jawab Arka dingin. Saat mereka meninggalkan butik, Laras kembali mengenakan kemeja putih dan jeans-nya. Ia berjalan keluar dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia menyadari satu hal: Arka bukan hanya sekadar "perisai" baginya. Pria itu mulai belajar untuk memahami apa yang ia rasakan tanpa harus ia jelaskan. Di tengah dunia yang selalu menuntut mereka untuk "terlihat", mereka baru saja menemukan cara untuk "menjadi".

Namun, di dalam mobil yang diparkir di seberang butik, Doni sedang memperhatikan mereka lewat lensa kameranya. Ia melihat bagaimana Arka membela Laras di dalam butik tadi lewat jendela kaca besar. Ia tersenyum sinis sambil melihat foto-foto di layar kameranya beberapa foto Laras saat di lokasi proyek tempo hari yang ia kumpulkan secara diam-diam.

"Kita lihat seberapa lama si Baja bisa melindungi si Lonte ini saat semua rahasianya terbongkar," gumam Doni.

Perang citra baru saja mencapai level yang lebih personal, dan etalase yang mereka jaga mulai dihujani kerikil-kerikil tajam dari masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!