Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Hujan baru saja berhenti, menyisakan jalanan aspal yang basah dan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Lampu teras rumah Arsy Raihana Syahira menyala temaram, menerangi halaman depan yang malam itu berubah menjadi saksi runtuhnya hidup seseorang.
Arsy berdiri di sana dengan napas tersengal, matanya memerah, dan tangannya yang gemetar menahan sesuatu yang rasanya hampir meledak di dadanya. Di hadapannya berdiri dua orang yang paling ia percaya.
Radit Pradana, calon suaminya. Lelaki yang seharusnya menjadi imam yang menggenggam tangannya di hadapan penghulu untuk mengucap janji suci. Dan Nadira Anindya, sahabat yang sudah Arsy anggap seperti saudara sendiri. Namun malam ini, keduanya berdiri berdampingan bukan sebagai dua orang yang akan membantu Arsy dalam mempersiapkan hari bahagianya melainkan sebagai dua pengkhianat yang dengan satu kesalahan, berhasil meruntuhkan seluruh kepercayaan Arsy.
Nadira berdiri terlalu dekat dengan Radit yang membuat bahu mereka hampir bersentuhan. Sementara Radit menghela napas berat, menoleh sebentar ke arah Nadira yang menunduk malu, lalu kembali menatap Arsy dengan ekspresi yang datar tanpa ada rasa bersalah.
Pandangan Arsy mengabur karena air matanya yang berusaha ia tahan supaya tidak jatuh.
“Jelasin.” Suaranya terdengar lirih hampir tak terdengar tapi cukup untuk membuat Radit mengangkat wajahnya. “Jelasin sekarang apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua.” ulang Arsy yang kali ini terdengar lebih tegas, meski tenggorokannya terasa terbakar.
Radit menghela napas panjang, seperti seseorang yang lelah menghadapi masalah sepele. Bukan seperti pria yang baru saja ketahuan berselingkuh.
“Kamu udah lihat sendiri, kan? Gue jalan sama Nadira, yang artinya gue dan Nadira memang ada hubungan.” kata Radit dengan datar.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bantahan apa pun. Arsy tertawa kecil. Tawa yang terasa getir bagi siapapun yang mendengarnya.
“Jadi aku nggak salah lihat? Kalian berdua udah selingkuh di belakang aku.” kata Arsy dengan gemetar.
Nadira menunduk. Tangannya saling meremas. Bahunya bergetar, ia tak percaya kalau Arsy telah memergoki hubungannya dengan Radit.
“Arsy… A-aku bisa jelasin semuanya,” suara Keira gemetar. “Aku bersumpah, ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
“DIAM.”
Arsy menoleh cepat. Tatapannya tajam. Air matanya menggenang di sudut matanya, tapi ia berusaha untuk menahannya supaya tidak jatuh.
“Kamu jangan lagi memanggil nama aku dengan mulutmu yang kotor itu.” ucap Arsy pelan namun mengancam. “Kamu nggak punya hak.”
Nadira terisak setelah dibentak oleh Arsy, tapi Radit justru melangkah maju dihadapan Nadira seolah olah ia siap melakukan apapun untuk melindungi Nadira dari kemarahan Arsy.
“Jangan bentak dia,” sahut Radit dengan dingin. “Ini bukan salah Nadira, tapi aku. Aku yang sudah meminta Nadira untuk menjadi pacarku.”
“Oh,” Arsy mengangguk pelan. “Sekarang kau terang terangan mengakui hubunganmu dengan Nadira dihadapan ku sendiri?”
Radit terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Satu kata itu cukup membuat dunia Arsy runtuh.
“Kalian…” Arsy menelan ludah. “Kalian berdua benar benar sangat keterlaluan. Tega teganya kalian melakukan ini padaku. Apa salahku pada kalian, HAH?!”
Radit tak langsung menjawab. Ia justru melirik sekitar, ke arah rumah-rumah tetangga, ke orang-orang yang pura-pura sibuk tapi jelas jelas tengah menguping pertengkaran mereka. Wajah Arsy memanas.
"Aku calon istri kamu, Radit. Aku yang nemenin kamu dari nol sampai kamu sukses dan diterima jadi dokter. Aku yang selalu kamu cari tiap kamu butuh sesuatu. Aku yang—”
“Cukup." Potong Radit yang nada suaranya membuat Arsy terdiam. “Aku nggak pernah minta kamu buat ngelakuin itu semua,” lanjut Radit. “Kamu sendiri yang mau melakukannya.”
Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Arsy.
“Jadi sekarang aku yang salah?” tanya Arsy nyaris berbisik dan membuat Radit mengangkat bahu.
“Aku cuma berkata jujur.”
Arsy menggeleng, tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.
“Jujur?” ulang Arsy “Jujur yang mana, Radit? Jujur karena kamu mengakui telah berselingkuh atau jujur karena kamu malu untuk mengakui semua yang telah aku lakukan untuk membuatmu sampai di posisi saat ini?”
Radit menatap Arsy lurus lurus. Ia tanpa ragu mengakui perselingkuhannya dengan Nadira di depan semua orang.
“Yang sekarang.”
Keheningan menyergap. Arsy merasa lututnya lemas. Tapi ia memilih untuk bertahan. Ia menolak jatuh di hadapan Radit dan Nadira.
“Kenapa?” tanya Arsy akhirnya. “Kenapa kalian tega ngelakuin ini ke aku?”
Radit menghela napas, jelas tak sabar meluapkan semua pikirannya selama ini.
“Karena aku nggak cinta sama kamu, Arsy.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Radit tanpa rasa empati dan bersalah. Membuat perasaan Arsy semakin ditusuk semakin dalam. Arsy menatap Radit dengan tatapannya yang kosong. Ia tak percaya kalau laki laki yang selama ini ia anggap mencintainya, ternyata tidak mencintainya.
“Apa?”
“Aku nggak pernah cinta sama kamu, Arsy.” ulang Radit. “Aku setuju nikah sama kamu cuma karena orang tua aku yang minta aku buat nikahin kamu. Mereka suka sama kamu dan keluarga kamu. Dan aku hanya menuruti permintaan mereka.”
Air mata Arsy akhirnya jatuh juga setelah mendengar pengakuan menyakitkan dari Radit.
“Terus aku ini kau anggap apa, Radit?” suara Arsy pecah. “Boneka? Pajangan?”
“Anggap aja gitu,” jawab Radit ringan yang membuat Nadira tersentak.
“Radit—”
“Nadira tolong, tolong jangan hentikan aku buat kasih tahu ke perempuan ini. Aku capek pura-pura terus. Apa kau tahu Arsy, sejak aku sama Nadira, aku ngerasa lebih hidup.”
Kalimat itu menghancurkan sisa hati Arsy. Arsy menoleh ke Nadira. Tatapannya penuh dengan luka.
“Kamu tahu nggak Nadira, Aku selalu cerita semuanya ke kamu. Entah itu masalah aku sama Radit. Ketakutan aku. Bahkan rencana pernikahan aku. Kamu tau aku sayang sama kamu, aku anggap kamu seperti saudara aku sendiri. Tapi apa balasan kamu ke aku? Kamu justru balas semua kasih sayang dan kepercayaan aku dengan selingkuh sama calon suami aku.” pinta Arsy dengan lirih.
Nadira menangis.
“Aku jatuh cinta, Arsy… Aku nggak bermaksud merebut Radit dari kamu. Aku berusaha menjauh dari Radit, tapi aku nggak bisa.”
Beberapa tetangga mulai berbisik lebih keras. Nama Arsy terdengar di antara mereka. Membuat Radit mengusap wajahnya, lalu berkata lantang dan sengaja meninggikan suaranya.
“Udah cukup. Aku rasa nggak ada lagi yang perlu dipertahanin.”
Jantung Arsy berdetak kencang.
"Apa maksud ucapan kamu ini, Radit?" Tanya Arsy yang membuat Radit menatap Arsy tanpa ragu.
“Lebih baik kita batalkan pernikahan ini.”
Kalimat itu menggema di udara malam. Beberapa tetangga terdengar menarik napas kaget. Sementara Arsy merasakan kakinya lemas setelah Radit dengan sepihak membatalkan pernikahan diantara mereka.
“Kamu… kamu ngomong apa Radit?” tanya Arsy dengan terbata-bata.
“Aku bilang kita batalkan saja pernikahan ini,” ulang Radit. “Aku nggak mau nikah sama perempuan yang nggak aku cintai.”
Kalimat itu masih menggantung di udara malam ketika suara pintu rumah Arsy terdengar terbuka. Suara itu tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Arsy menoleh.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit