Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepucuk Payung Hitam
Aroma lavender yang menguar dari pengharum ruangan Alana hirup dalam-dalam. Setelah kesibukan yang membuat tubuhnya penat seharian ini, akhirnya dia bisa menghirup udara dalam-dalam. Meski samar aroma got saluran pembuangan yang mengalir di depan rumah ikut masuk bersama aroma pengharum ruangan kesukaan ibunya.
"Kamu beli payung baru, Lan?" tanya Laksmi yang baru keluar dari kamar.
Alana memandangi wanita yang berjalan dengan langkah lebih bugar daripada sebelumnya. Meski memang tak begitu lincah dan cukup pelan, Laksmi tampak lebih segar malam ini. Bibir itu bahkan tak kering meski tetap tampak pucat.
Pandangan Alana beralih pada kursi roda yang sudah hampir beberapa minggu ini tak terpakai. Benda itu terlipat di sudut kamar utama, mengisi sisa ruang kosong yang sempit di antara lemari jati dan tembok.
Laksmi yang tak mendapatkan jawaban lantas menoleh. "Lan? Kok diem?"
"Hah?" sahut Alana yang baru saja singgah dalam lamunannya. "Ibu bilang apa?"
"Payung punya Ibu yang biasanya kamu bawa itu rusak?" Laksmi mengganti pertanyaannya.
Alana menggeleng. "Enggak kok, Bu. Masih ada di tas Alana."
Mendengar itu, Laksmi meraih payung yang dia temukan menggantung pada rak sepatu pagi tadi. Dia mengangkatnya hingga Alana dapat melihatnya dengan jelas. Payung hitam yang sudah mengering oleh udara sekitar.
"Terus, ini kamu beli baru? Mana besar banget kayak payung dagang," ujar Laksmi pada Alana yang tampak terdiam.
Perempuan yang lebih muda itu mengangkat alisnya. Dia tentu mengenali payung milik siapa itu. Benda yang Alana gunakan sejak pertemuan tak sengaja di antaranya dan Kinan.
"Bukan punya aku, Bu." Alana menyahuti.
Dia raih sebotol minyak gosok milik Laksmi yang ada di atas meja. Bukan sekedar hendak mengoleskannya pada kakinya yang terasa pegal, Alana juga bermaksud menghindari tatapan sang ibu agar tak bertanya lebih jauh lagi. Jika nama Kinan terucap dari bibirnya, entah apa yang akan ada dipikiran Laksmi.
Aroma lavender yang memenangkan kini berbaur dengan minyak gosok yang mulai merata di antara betis hingga tungkainya. Alana mulai menikmati pijatan lembut yang menekan di sepanjang kakinya. Sementara Laksmi kini duduk di sampingnya.
Alana sempat melirik sebentar, lalu berkata, "Bu Ella datang ke rumah sakit tadi siang, sambil bawa roti buat aku sama perawat yang lain."
Laksmi yang semula baru mengoleskan minyak gosok pada dadanya, kini menoleh ke arah Alana. Wanita itu tak terkejut. Dari raut wajahnya, dia tampak penasaran dengan apa yang terjadi setelah kedatangan Ella yang terbilang cukup niat.
"Terus? Kamu masih mau nolak?" tanya Laksmi.
Alana terdiam sejenak. Mengingat Ella yang repot-repot datang tadi siang dan satu kantung plastik berisi roti abon favoritnya, Alana jadi teringat pada satu hal yang terselip di antaranya. Secarik kertas kecil yang dia pindahkan ke dalam saku jaketnya sebelum memberikan roti itu pada rekannya.
"Lan!" tegur Laksmi begitu kembali mendapati pandangan Alana yang kosong. "Kamu jadi kebanyakan ngelamun gini!"
Alana mengerjap sesaat. "Kecapekan aja, Bu," sahutnya.
Perempuan itu menurunkan kakinya kembali ke permukaan lantai yang dingin. Dia gosokkan sisa minyak yang ada di tangannya ke lututnya yang kering. Lalu, sebuah helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya.
"Kayaknya Bu Ella nggak bakal biarin aku nolak itu aja deh, Bu," tuturnya lesu.
Mendapati itu, Laksmi bukannya prihatin malah tertawa lepas melihat kemalangan Alana. Sampai bulir air mata gelak pun menjejaki sudut matanya. Sudah lama dia tak tertawa selepas ini.
Alana yang melihat senyum lebar itu setelah sekian lama, ikut tersenyum. Matanya berbinar melihat ibunya yang tampak kembali seperti semula. Gurat bahagia itu kembali dia temukan di sana.
"Ibu ngerasa enakan, ya? Hari ini kayak lebih segar dari biasanya," ucap Alana.
Laksmi menyeka sudut matanya dengan buku-buku jarinya. Dia melihat ke arah Alana dengan sisa senyum yang masih berbekas di wajahnya. Lalu, kepalanya mengangguk.
"Katanya, kondisi hati dan pikiran kita itu juga berpengaruh pada kesehatan kita, Lan. Kayaknya karena itu juga Ibu bisa ngerasa lebih segar sekarang," balas Laksmi.
Mendengar itu, Alana beringsut mendekat pada ibunya. "Emangnya, apa yang bikin hati sama pikiran Ibu membaik?"
Laksmi menyandarkan punggungnya yang mulai membungkuk pada sandaran kursi kayu. Matanya menatap langit-langit ruangan, seolah menata kata demi kata yang melayang di atas sana.
"Sejak kedatangan Ella kemarin dan meminta kamu buat menikah sama anaknya, Ibu kayak ngerasa lebih lega, Lan. Seolah ada yang lepas satu per satu dari badan Ibu," tuturnya.
Setelah kalimat itu berhasil dituturkan bersama hela nafas ringan dari Laksmi, Alana terdiam. Matanya tak lepas dari ibunya yang kini tersenyum entah pada siapa. Yang jelas, mata itu terus menatap lurus pada langit-langit ruang tamu yang tak terlalu tinggi.
Kini, Alana melakukan hal yang sama. Sembari menyandarkan tubuhnya, dia berkata, "Jadi, Alana selama ini jadi beban buat Ibu, ya?"
Laksmi sontak menoleh. "Mana ada Ibu ngerasa kayak gitu, Lan?" sanggahnya. "Ibu itu malah bersyukur karena punya anak kayak kamu. Nggak pernah ngeluh walaupun Ibu juga tahu kalau ngerawat Ibu sambil kerja itu juga pasti capek banget."
"Tapi, Ibu tadi bilang kayak gitu. Seolah Alana cuma jadi beban buat pikiran Ibu," sahut Alana sembari menggembungkan pipinya.
Sorot sendu menguar dari mata Alana. Perempuan itu kini menurunkan pandangannya. Bukan pada sang ibu, tapi pada jemari tangannya yang saling memilin di atas pangkuannya. "Maaf, kalau selama ini ternyata Alana yang jadi penyebab Ibu banyak pikiran."
"Hush.... Bukan begitu, Lan." Laksmi mengusap garis rambut Alana dengan lembut. "Ibu bilang begitu, karena Ibu ngerasa lega, anak Ibu bakal punya pendamping hidup setelah ini."
"Alana kan nggak bilang kalau bakal nerima permintaan Bu Ella," timpal Alana.
"Tapi, kamu juga masih mempertimbangkan jawabannya kan, Lan? Kalau kamu memang sudah yakin mau nolak, kenapa harus mundur lagi cuma karena Ella yang datangin kamu tadi siang?" tanya Laksmi berturut-turut.
Wanita itu betah sekali melihat wajah Alana yang murung saat ini. Raut itu tampak semakin pekat sejak kedatangan Ella beberapa hari yang lalu. Seolah ada yang berkecamuk dalam hatinya.
Jujur saja, Alana sempat berpikir untuk menerimanya saja. Bukan karena hatinya yang memang menginginkan Kinan, tapi karena mengingat hubungan antara ibunya dan Ella yang terbilang cukup erat. Menjaga hubungan tetap baik berpuluh tahun lamanya tentu bukan hal yang mudah.
"Jangan pernah libatkan hubungan Ibu dan Ella dalam pertimbangan kamu, Lan. Ibu nggak mau kalau kamu menjadikan Ibu sebagai alasan buat kamu terpaksa menerima permintaan Ella," lanjut Laksmi begitu mendapati anaknya kembali terdiam.
Alana membenahi duduknya. "Nggak, kok. Ibu nih pede banget," sanggahnya. "Alasan aku mikir-mikir lagi tuh karena ingat kondisi anaknya Bu Ella, Bu."
Lalu, pandangannya beralih pada sebuah payung hitam yang bertengger manis di sisi jendela. Alamat apartemen tempat tinggal Kinan pun masih tersimpan hangat dalam saku jaketnya yang menggantung di belakang pintu kamar. Dalam diam dia kembali mempertimbangkan, apakah sebaiknya dia mencoba berbicara lagi dengan Kinan?
Sementara, Laksmi sudah lebih dulu mengembangkan senyumnya. Meski nama itu tak tersebut dari bibir Alana, namun dia tentu tahu yang dimaksud anaknya ini adalah Kinan.
"Udah ya, Bu. Alana ke kamar dulu." Alana menoleh pada ibunya begitu berdiri dari duduknya. "Nanti kalau Ibu butuh bantuan aku tingga panggil aja."
Alih-alih menjawab, Laksmi malah tersenyum menggoda. "Jadi, kamu udah mulai tertarik sama Kinan, Lan?"
Alis Alana sontak bertaut. "Ini tuh namanya empati, Bu," tepis Alana atas kalimat ibunya yang terdengar ngawur.
Dengan wajah sedikit cemberut, Alana kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya yang tak jauh dari sana. Tak ingin lagi menoleh pada ibunya dengan raut tak mengenakkan itu, Alana segera menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.
Namun sebelum itu, suara Laksmi sudah lebih dulu kembali terdengar. "Kinan itu memang lebih tua dari kamu, Lan. Tapi, dia lebih muda dari Masmu kok. Jadi... bisalah dipikirkan lagi keputusannya?"
"Alana besok pulang telat," balas Alana seolah tak mendengar apapun. Dia langsung menutup pintu kamarnya sebelum ibunya kembali berbicara tentang Kinan yang entah kapan selesainya.