NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Sopan yang Melukai

Ayza tersenyum dari balik cadarnya. Senyum yang tak sampai ke mata.

“Tuan Reza Pratama yang terhormat,” ucapnya tenang. “Anda seorang CEO. Bukankah seharusnya lebih cerdas dari gadis desa sederhana seperti saya?”

Ia memiringkan kepala sedikit. “Haruskah saya menjelaskannya secara detail… dan eksplisit?”

Jleb.

Nada Ayza tetap sopan. Terlalu sopan.

Dan justru di sanalah pisau itu bekerja, menusuk perlahan, tanpa darah, tapi tepat ke pusat harga diri.

“Kenapa diam?” tanyanya lembut. “Tak bisa menjawab?”

Reza membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Lidahnya kelu. Tenggorokannya tercekat.

Lagi dan lagi, di hadapan wanita bercadar ini, ia tak menemukan celah untuk membalikkan keadaan.

“Akhh!”

Pekikan itu memecah udara.

“Zahra!” Reza tersentak, berdiri terlalu cepat, lalu berlari ke arah kamar mandi.

Ayza justru tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan, lalu menyusul dengan langkah yang jauh lebih tenang.

Tak.lama Reza sudah di depan pintu kamar mandi.

“Zahra, kamu kenapa?” suara Reza terdengar tegang.

Dari balik pintu, suara Zahra terdengar lirih. “Rez… bisa tolong panggil Ayza ke sini?”

Reza menoleh cepat. Ayza sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Aku di sini,” ucap Ayza lembut. “Ada yang bisa kubantu?”

Ada jeda sesaat.

“Ayza…” suara Zahra terdengar ragu, lalu dibuat rapuh. “Bisa kamu saja yang masuk? Aku… kurang nyaman kalau Reza.”

Reza refleks membuka mulut. “Zahra—”

“Please,” potong Zahra cepat. “Aku cuma butuh bantuan perempuan.”

Ayza menatap pintu itu beberapa detik. Tak ada perubahan di wajahnya. “Baik.”

Ia melangkah masuk, lalu pintu ditutup dari dalam.

Klik.

Reza tertinggal di luar. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Zahra?” panggilnya cemas. “Kamu nggak apa-apa?”

“Sedikit pusing,” jawab Zahra. “Ayza sudah di sini.”

Di dalam, udara kamar mandi lembap. Zahra duduk di bibir bathtub. Rambutnya basah. Salah satu tali gaunnya melorot, belahan kainnya sobek memanjang.

Ayza berhenti dua langkah darinya. Tak mendekat. “Bagian mana yang sakit?” tanya Ayza.

“Kepalaku,” jawab Zahra. “Kayaknya karena kebentur tadi.”

Ia mendongak. Menatap Ayza. Lama. Mengukur. Lalu suaranya melembut, dibuat rapuh. “Gaunku sobek… Aku malu.”

“Ayza,” lanjutnya lirih. “Bisa tolong ambilin sesuatu buat nutup ini?”

Ayza mengangguk. Tanpa komentar. Ia berbalik, membuka lemari kecil, mengambil handuk, lalu kembali. Handuk itu diserahkan, jaraknya tetap terjaga.

“Terima kasih,” ucap Zahra pelan. Bibirnya melengkung tipis. “Maaf ya, aku jadi merepotkan.”

“Tidak apa,” jawab Ayza singkat.

Nada itu datar. Tak hangat. Tak dingin. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Zahra tak nyaman.

Zahra menghela napas, lalu mendongak menatap Ayza. “Bisa bantu aku berdiri?”

Ayza mendekat. Zahra bangkit perlahan. Lalu, tepat sebelum Ayza menyentuhnya, tubuhnya oleng.

“Ah—!”

“Ra—!”

Di luar, suara Reza terdengar panik. Langkahnya mendekat. Hampir menerjang pintu.

Refleks, Ayza mengulurkan tangan dan menahan pundak Zahra.

Namun pada saat yang sama, tangan Zahra terangkat, gerakan refleks saat tubuhnya oleng. Ia meraih apa saja yang terdekat.

Dan yang tersentuh adalah ujung kain cadar Ayza. Kain itu tertarik tanpa sengaja.

Hening.

Satu detik.

Wajah itu, teduh. Putih bersih tanpa polesan. Alis tegas, mata jernih, tenang. Bukan cantik yang berteriak minta diperhatikan, melainkan cantik yang membuat orang lupa bernapas.

Zahra membeku. Jantungnya seolah berhenti sepersekian detik. Napasnya tertahan. Bukan hanya karena terkejut, melainkan karena tak ada satu pun hal pada wajah itu yang bisa ia ejek.

Ayza menatapnya. Tak terkejut. Tak tersinggung. Tenang, seolah sudah tahu niat itu sejak awal.

Ia mundur setengah langkah. Cepat. Tegas. Satu tangan Ayza tetap menopang bahu Zahra, yang lain langsung menaikkan cadar yang melorot. Cadar itu kembali terpasang.

Zahra terlihat kecewa, tapi hanya sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disadari siapa pun, kecuali dirinya sendiri.

Di luar, suara Reza kembali terdengar. Lebih keras. “Zahra? Kamu yakin nggak perlu aku masuk?”

“Jangan!” Jawaban Zahra terlalu cepat. Ia menarik napas, lalu memaksakan senyum lemah ke arah Ayza. “Maaf,” katanya. “Nggak sengaja.”

Ayza menatapnya. Lama. Tenang. “Kalau pusing,” ucap Ayza pelan, “sebaiknya duduk diam. Gerakan mendadak bisa berbahaya.”

Nada itu tidak menggurui. Tapi menutup ruang.

Zahra terdiam.

“Aku bantu berdiri,” lanjut Ayza.

Zahra mengangguk. Ayza menahan bahunya, memastikan pijakannya stabil. Mereka melangkah keluar kamar mandi.

Baru satu langkah, Zahra tiba-tiba meringis. “Ah…” napasnya tersendat. Tangannya refleks meraih dinding. “Kakiku… kayaknya salah tumpuan.”

Ayza menoleh. Tatapannya turun ke pergelangan kaki Zahra. “Keseleo?” tanyanya tenang.

“Sedikit,” jawab Zahra pelan. Terlalu pelan. Seolah menahan rasa sakit yang tak seberapa, tapi ingin terlihat berarti.

Ayza memapah Zahra.

Saat Ayza hendak membuka pintu, Zahra berhenti. Menoleh lagi. “Kenapa kau menutup wajahmu?” tanyanya tiba-tiba. “Banyak orang penasaran dengan wajah perempuan bercadar.”

Ayza tersenyum tipis. “Kepo lahir dari rasa kurang,” jawabnya lembut. “Dan aku tidak merasa kurang apa pun.”

Hening.

Zahra menelan ludah. Malam itu ia merasa kalah. Tanpa pernah benar-benar bertarung.

Ayza membuka pintu kamar mandi. Di luar, suara Reza langsung mendekat. “Kenapa?”

Zahra menoleh. Senyum kecil muncul, lemah, rapuh, tepat sasaran. “Aku gak apa-apa,” katanya cepat, lalu berhenti sejenak. “Cuma… jalannya agak susah.”

Reza sudah berdiri di hadapannya. “Biar aku antar pulang,” ucapnya tanpa ragu.

Ayza mundur setengah langkah, memberi ruang. “Jangan dipaksakan,” katanya datar. “Kalau terasa nyeri, sebaiknya dikompres.”

Nada itu tidak menahan. Tidak juga menawarkan diri.

Zahra melirik Ayza sekilas, lalu berpaling pada Reza. “Maaf jadi merepotkan,” katanya lirih.

Reza sudah menopangnya.

Ayza berdiri di tempat. Tenang. Tidak ikut berjalan. Karena ia tahu, beberapa orang memang lebih suka tampak terluka, asal tidak harus mengakui kalah.

Langkah Reza menjauh, membawa Zahra bersamanya. Suara mereka perlahan hilang di lorong.

Ayza menurunkan pandangan sejenak. Bukan kecewa. Bukan pula cemburu. Hanya paham.

Sudut bibirnya bergerak tipis, nyaris tak terlihat. “Dunia memang panggung sandiwara,” gumamnya pelan.

Lalu ia berbalik. Cadar terpasang rapi. Wajah kembali tak bisa dibaca. Karena ia tahu, dalam sandiwara, yang paling berbahaya bukan aktor yang berisik, melainkan penonton yang mengerti alurnya.

***

Di dalam mobil yang melaju, Zahra memeluk sebelah lengan Reza yang tidak menggenggam setir. Tubuhnya miring, kepala disandarkan ke bahu pria itu. Terlalu dekat untuk sekadar diantar pulang.

“Malam ini menginap di apartemenku, ya,” pintanya, manja.

“Ra—”

Reza belum sempat menyelesaikan kata ketika Zahra memotongnya.

“Sayang, aku baru pulang dari luar negeri.” Suaranya melembut, hampir merajuk. “Aku masih rindu sama kamu.”

Reza menghela napas berat. Matanya tetap ke jalan. “Aku juga rindu. Tapi Ayza tahu aku nganter kamu. Kalau aku nggak balik, dia bakal mikir macam-macam.”

Zahra mendengus pelan.

“Dia itu kalau ngomong kayak pengacara,” lanjut Reza. “Aku males debat.”

Kilasan wajah Ayza melintas di benak Zahra. Cadar itu. Sikap tenang itu. Cara perempuan itu berdiri seolah selalu punya pijakan.

"Reza nggak boleh lihat wajahnya," batinnya menegang.

“Sayang,” panggil Zahra lagi, lebih lirih. “Kamu beneran nggak lihat wajahnya, 'kan?” Ia menelan ludah. “Nggak sentuh dia?”

Reza melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Aku udah janji sama kamu.”

Jawaban itu seharusnya cukup. Tapi dada Zahra tetap terasa sempit. Ada sesuatu yang menggerogoti, ketakutan yang tak mau pergi.

Takut digeser. Takut tergantikan.

Mobil melaju memasuki ruas jalan yang makin sepi. Lampu-lampu kota tertinggal, menyisakan bayangan panjang di aspal.

Di keheningan itu, Zahra menatap lurus ke depan. Dan di sanalah, sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. Tipis. Tenang.

Berbahaya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Dalam sandiwara, yang paling berbahaya bukan yang berteriak,...

...melainkan yang paham naskah."...

..."Ada yang berpura-pura terluka agar dipilih, ada yang diam karena tahu ia tak perlu diperebutkan."...

..."Beberapa orang tidak takut kehilangan. Mereka hanya takut tergantikan."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!