NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PENGKHIANAT SEJATI

#

Adrian berdiri, berjalan santai mengelilingi kapal tua itu seperti sedang tur museum. Tangannya menyentuh dinding berkarat, wajahnya menunjukkan ekspresi geli.

"Tempat yang menarik untuk bersembunyi," katanya. "Kapal tua yang nyaris tenggelam. Romantis, tapi juga putus asa. Seperti perjuangan kalian."

"Apa maumu?" desis Arjuna. Tangannya terkepal, siap memukul meski ia tahu itu akan sia-sia. "Kalau kau mau bunuh kami, lakukan sekarang. Jangan buang waktu dengan omong kosong."

"Bunuh kalian?" Adrian berbalik, alisnya terangkat. "Kenapa aku harus bunuh kalian? Kalian sangat menghibur. Menonton kalian berlari kesana kemari, mencoba melawanku dengan sumber daya yang sangat terbatas, itu... itu hiburan terbaik yang pernah aku punya dalam bertahun-tahun."

"Kau sakit," bisik Sari. "Kau benar-benar sakit."

"Mungkin," Adrian tersenyum. "Atau mungkin aku cuma realistis. Dunia ini keras, Sari. Dunia ini tidak punya tempat untuk orang lemah. Hanya yang kuat yang bertahan. Dan aku... aku sangat kuat."

Ia berjalan ke meja, lihat laptop yang ditinggalkan Pixel. "Ah, laptop si hacker itu. Pixel, kan namanya? Anak yang pintar. Sayang dia terlalu emosional. Kalau dia lebih dingin, dia bisa jadi aset berharga untukku."

"Jangan sentuh itu," kata Arjuna cepat.

Adrian mengangkat tangan, mundur dengan senyum mengejek. "Tenang. Aku tidak tertarik dengan mainan bekas. Aku punya hacker yang jauh lebih baik."

Ia berjalan ke arah Maya yang masih terbaring di kasur, bergetar dan berkeringat. Wajah Adrian berubah, ada sesuatu yang hampir terlihat seperti kasihan.

"Gadis malang," gumamnya. "Bagas sangat mencintainya. Sayangnya, cinta tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang di dunia ini."

"Kau yang buat dia seperti ini!" Sari melangkah maju, tapi salah satu anak buah Adrian langsung todongkan pistol ke kepalanya. Ia berhenti, tapi matanya masih menatap Adrian dengan kebencian murni. "Kau yang suntik dia dengan racun itu! Kau yang hancurkan hidupnya!"

"Aku tidak menyuntiknya," koreksi Adrian. "Orang-orangku yang melakukannya. Aku cuma memberi perintah. Ada perbedaan, sayang. Dalam bisnis, kau harus belajar delegasi."

"KAU MONSTER!" Sari berteriak, air matanya jatuh. "Dia anak-anak! Dia tidak bersalah! Kenapa kau lakukan ini ke dia?!"

"Karena dia jaminan supaya Bagas tidak khianati aku," jawab Adrian datar. "Sederhana. Efektif. Dan berhasil sampai kalian datang mengacaukan segalanya."

Ia berbalik dari Maya, tatap Arjuna dan Sari dengan mata yang tiba-tiba menjadi dingin. Dingin sekali sampai ruangan terasa turun suhunya.

"Tapi sekarang Bagas mati. Maya bebas. Dan kalian... kalian jadi masalah yang harus aku selesaikan."

"Lalu kenapa kau tidak bunuh kami sekarang?" tanya Arjuna. "Kenapa kau buang waktu datang ke sini sendiri? Kau bisa suruh orang-orangmu bunuh kami dari jauh."

"Karena aku penasaran," jawab Adrian. "Penasaran bagaimana dua anak muda yang tidak punya apa-apa bisa membuat keributan sebesar ini. Penasaran bagaimana kalian bisa bertahan hidup selama ini. Dan yang paling penting..."

Ia melangkah lebih dekat, suaranya turun jadi bisikan.

"Aku penasaran apakah kalian sudah menemukan siapa pengkhianat yang sebenarnya."

Hening.

"Tidak ada pengkhianat," kata Sari, tapi suaranya tidak yakin. "Kau cuma mau pecah belah kami."

"Oh Sari, Sari..." Adrian menggeleng dengan ekspresi pura-pura sedih. "Kau selalu terlalu polos. Terlalu percaya sama orang. Sama seperti ibumu dulu. Lihat kemana itu membawanya."

Wajah Sari memucat. "Jangan... jangan sebut ibuku. Kau tidak punya hak."

"Aku punya semua hak di dunia," kata Adrian dingin. "Aku yang beli dia. Aku yang jual dia. Dia milikku untuk kulakukan apapun yang aku mau. Sama seperti kau dulu hampir jadi milikku."

"Apa maksudmu?" bisik Sari.

Adrian tersenyum lagi, kali ini senyum yang paling kejam. "Kau pikir aku benar-benar membuangmu karena aku tidak mau anak? Tidak, sayang. Aku membuangmu karena aku punya rencana. Rencana untuk mengambilmu kembali saat kau sudah cukup besar. Saat kau sudah... berharga."

Perut Arjuna mual mendengar implikasinya. "Kau... kau mau menjualnya?"

"Kenapa tidak? Gadis cantik dengan kulit putih bersih, mata besar, itu barang langka di pasar kami. Aku bisa dapat untung jutaan dolar." Adrian tertawa melihat wajah Sari yang hancur total. "Tapi kemudian kau menghilang dari panti. Seseorang mengambilmu sebelum aku sempat. Dan aku kehilangan jejak."

"Pak Hendrawan," bisik Sari. "Pak Hendrawan yang ambil aku. Dia sembunyikan aku."

"Hendrawan sang penyelamat," Adrian mendengus. "Dia selalu terlalu baik untuk dunia ini. Selalu mencoba main pahlawan. Lihat kemana itu membawanya. Mati terbakar di desa kumuh."

"DIAM!" Arjuna maju, tapi ada tiga pistol langsung mengarah ke kepalanya. Ia berhenti, napasnya berat, matanya merah. "Diam tentang ayahku. Kau tidak layak sebut namanya."

"Ayahmu adalah pengecut," kata Adrian dingin. "Dia berkhianat saat kami hampir membangun kerajaan terbesar. Dia mencuri data berhargaku dan kabur seperti tikus. Jadi maaf kalau aku tidak bisa hormati orang seperti itu."

"Dia berkhianat karena dia sadar apa yang dia lakukan salah! Karena dia masih punya hati nurani! Berbeda dengan kau yang cuma punya keserakahan!"

"Hati nurani tidak bayar tagihan, Arjuna. Hati nurani tidak buat kau kaya. Di dunia ini, cuma ada dua jenis orang: predator dan mangsa. Dan aku memilih untuk jadi predator."

Adrian mengeluarkan ponsel dari sakunya, ketik sesuatu. "Tapi cukup filosofi. Waktunya untuk fakta."

Ia putar ponselnya, tunjukkan layarnya ke Arjuna dan Sari. Di layar ada foto. Foto ponsel Sari yang terbuka, menampilkan daftar aplikasi.

"Ini foto yang diambil dua hari lalu," kata Adrian. "Saat Sari tidur. Salah satu orangku yang mengambilnya."

"Apa... apa maksudnya ini?" Sari menatap fotonya sendiri dengan bingung.

"Lihat lebih dekat," Adrian zoom foto. "Aplikasi di pojok kanan bawah. Yang iconnya seperti kalkulator."

Sari menyipitkan mata. Ya, ada aplikasi kalkulator di sana. "Itu cuma kalkulator biasa."

"Coba buka," kata Adrian dengan senyum. "Buka sekarang. Di depanku."

Sari ragu, tapi akhirnya ia ambil ponselnya dari saku. Membukanya dengan tangan gemetar. Mencari aplikasi kalkulator itu. Klik.

Tapi yang terbuka bukan kalkulator.

Yang terbuka adalah aplikasi perekam. Dengan daftar panjang file audio. Ratusan file. Masing-masing diberi label tanggal dan waktu.

Sari menatap layarnya dengan mata membulat. "Ini... ini apa..."

"Itu aplikasi spyware," kata Adrian. "Aplikasi yang merekam semua percakapan di sekitarmu. Semua yang kau dengar, semua yang kau bicarakan, semua ter-rekam. Dan semua file itu dikirim otomatis ke server pribadiku setiap malam."

"Tidak," bisik Sari. Ponselnya jatuh dari tangannya. "Tidak, aku tidak... aku tidak tahu ada aplikasi ini. Aku tidak pernah pasang ini. Aku..."

"Tentu saja kau tidak pasang," kata Adrian. "Aku yang pasang. Atau lebih tepatnya, orangku yang pasang. Dua bulan lalu, saat kau tinggalkan ponselmu di meja warung untuk ke toilet. Cuma butuh tiga menit untuk pasang aplikasi itu dan sembunyikan iconnya."

Arjuna menatap Sari. Lalu menatap ponsel yang jatuh di lantai. Lalu menatap Adrian.

"Jadi... jadi sejak awal... kau tahu semua yang kami rencanakan?"

"Setiap kata," jawab Adrian bangga. "Setiap rencana. Setiap langkah. Aku tahu kalian akan ke markas The Black Serpent. Aku tahu kalian akan coba selamatkan Maya. Aku tahu segalanya. Dan aku biarkan kalian datang. Karena aku ingin kalian lihat betapa sia-sianya perjuangan kalian."

Sari jatuh berlutut. Tangannya menutupi wajahnya. "Ini salahku," bisiknya. "Ini semua salahku. Bagas mati karena aku. Karena ponselku. Karena aku bodoh tidak sadar ada aplikasi aneh..."

"Sari, ini bukan salahmu," Arjuna berlutut di sebelahnya, tangannya menyentuh bahunya. "Kau tidak tahu. Kau tidak bisa tahu."

"Tapi aku seharusnya lebih hati-hati! Aku seharusnya cek ponselku! Aku seharusnya..." Ia menangis sekarang, tubuhnya bergetar hebat. "Pixel pergi karena aku tuduh dia. Padahal yang pengkhianat adalah aku. Aku... aku menghancurkan semuanya..."

"Lihat?" Adrian tersenyum puas. "Lihat bagaimana mudahnya menghancurkan kepercayaan? Menghancurkan persahabatan? Aku bahkan tidak perlu membunuh kalian. Kalian akan menghancurkan diri sendiri."

"KAU BRENGSEK!" Arjuna berdiri, melompat ke arah Adrian dengan tangan terkepal. Tapi sebelum ia sempat menyentuh, salah satu anak buah memukul kepalanya dengan popor pistol.

BRAK!

Arjuna jatuh, kepalanya pusing, ia lihat darah di tangannya sendiri. Tapi ia coba berdiri lagi, coba maju lagi.

"Arjuna, jangan!" Sari berteriak. "Mereka akan bunuh kau!"

"Aku tidak peduli!" Arjuna raung. "Aku tidak peduli lagi! Kalau aku harus mati, biar aku mati sambil coba bunuh monster ini!"

Adrian mengangguk ke anak buahnya. Tiga orang langsung maju, pukul Arjuna sampai ia jatuh lagi. Tendang perutnya, perut, punggungnya. Arjuna mencoba melawan tapi terlalu banyak, terlalu kuat.

"HENTIKAN! KUMOHON HENTIKAN!" Sari menangis, mencoba mendekat tapi ada yang menahannya. "Jangan sakiti dia! Kumohon!"

Adrian angkat tangan. Pemukulan berhenti. Arjuna terbaring di lantai, batuk-batuk, muntah darah. Tubuhnya penuh lebam, ia hampir tidak bisa bergerak.

"Cukup," kata Adrian. "Aku tidak mau dia mati terlalu cepat. Aku masih punya rencana untuknya."

Ia berjalan ke arah Maya yang masih tidak sadar dengan semua keributan. Tangannya menyentuh dahi gadis itu.

"Gadis ini butuh perawatan medis. Dan kalian tidak bisa kasih itu. Tapi aku bisa."

"Jangan... jangan sentuh dia..." Arjuna mencoba bicara tapi darah di mulutnya membuat suaranya tidak jelas.

"Aku akan bawa dia," kata Adrian. "Bawa dia ke rumah sakit pribadiku. Selamatkan nyawanya. Dan sebagai gantinya..."

Ia menatap Sari.

"Sari akan ikut aku. Pulang ke rumah aslinya. Jadi anak yang seharusnya dia jadi dua puluh tahun lalu."

"TIDAK!" Arjuna mencoba berdiri tapi tubuhnya tidak kuat. "Jangan... jangan ambil dia..."

"Ini bukan tawar menawar, Arjuna. Ini perintah." Adrian mengangguk ke anak buahnya. "Bawa gadis itu dan Maya. Kita pergi."

Dua orang angkat Maya. Dua orang lain menarik Sari yang meronta.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" Sari menendang, mencoba lepas, tapi mereka terlalu kuat. "ARJUNA! ARJUNA BANGUN!"

Arjuna meraih tangannya, tapi cengkeramannya lemah, tangan Sari terlepas dari jarinya. Ia menatap mata gadis itu, mata yang penuh ketakutan, yang memohon, yang... yang seolah bilang pamit.

"Sari..." bisiknya. "Sari, aku... aku janji... aku akan selamatkan kau. Aku janji..."

"Janji yang manis," kata Adrian. "Tapi janji yang kosong. Kau tidak bisa selamatkan siapapun, Arjuna. Kau bahkan tidak bisa selamatkan dirimu sendiri."

Mereka menyeret Sari keluar. Teriakannya perlahan menjauh. Lalu hilang total saat mereka masukkan ke mobil.

Adrian berdiri di pintu, menatap Arjuna yang masih terbaring di lantai.

"Aku biarkan kau hidup," katanya. "Bukan karena aku baik hati. Tapi karena aku ingin kau merasakan penderitaan yang sebenarnya. Penderitaan kehilangan orang yang kau sayangi satu per satu. Sama seperti yang kau buat aku rasakan saat kau coba hancurkan bisnsku."

"Ayahku... tidak melakukan... apa-apa padamu..." Arjuna terbatuk lagi.

"Ayahmu mengkhianatiku. Dan pengkhianatan adalah dosa yang tidak termaafkan." Adrian berbalik, mulai berjalan keluar. "Selamat tinggal, Arjuna. Semoga kita tidak bertemu lagi. Karena kalau bertemu, aku tidak akan seramah ini."

Ia pergi. Meninggalkan Arjuna sendirian di kapal yang sunyi.

Arjuna terbaring di lantai dingin, menatap langit-langit berkarat, mendengar suara mobil yang pergi membawa Sari dan Maya.

Ia gagal.

Gagal melindungi mereka.

Gagal melawan Adrian.

Gagal dalam segalanya.

Air matanya jatuh. Jatuh bercampur dengan darah di wajahnya. Ia ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar. Cuma isakannya yang terdengar, lemah, putus asa.

Lalu ia dengar suara. Suara langkah kaki.

Seseorang masuk ke kapal.

Arjuna mencoba angkat kepala, lihat siapa.

Dan yang ia lihat membuat ia hampir tidak percaya.

Pixel.

Pixel berdiri di pintu dengan laptop di tangannya, napasnya tersengal, wajahnya penuh keringat.

"Aku... aku sudah lacak server," katanya cepat. "Aku tahu dimana Adrian kirim semua data dari ponsel Sari. Aku tahu dimana dia tinggal. Dan aku... aku punya rencana untuk masuk ke sana."

Arjuna menatapnya. "Kau... kau kembali?"

"Tentu saja aku kembali, bodoh," Pixel berlutut di sebelahnya, cek lukanya. "Kita keluarga. Dan keluarga tidak tinggalkan satu sama lain. Meski salah satu dari mereka adalah idiot yang suka nuduh tanpa bukti."

Ia tersenyum. Senyum yang sedih tapi juga tulus.

"Sekarang ayo. Kita harus ke rumah sakit dulu. Sembuhkan luka kau. Lalu kita... kita akan selamatkan Sari. Dan kali ini, kita akan lakukan dengan benar."

Arjuna menggenggam tangan Pixel. Genggaman yang lemah tapi penuh rasa terima kasih.

"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku untuk semua yang aku bilang. Kau... kau sahabat terbaik yang pernah aku punya."

"Aku tahu," jawab Pixel. "Sekarang diam dan biarkan aku bantu kau berdiri. Kau berat sekali, sialan."

Mereka keluar dari kapal bersama. Matahari mulai terbit, cahayanya menerangi dermaga yang kotor.

Dan di kejauhan, di gedung pencakar langit yang megah, Sari duduk di mobil mewah, menatap keluar jendela dengan mata kosong.

Menatap kota yang semakin jauh.

Menatap kebebasannya yang hilang.

Dan bertanya-tanya apakah ia akan pernah melihat Arjuna lagi.

Atau apakah ini... apakah ini akhir dari segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!