Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik
Kael dan Farel melangkah masuk ke pesta dengan santainya, seolah tidak ada yang istimewa. Jas hitam yang melekat di tubuh Kael membuat setiap gerakannya terlihat tegas dan elegan, sedangkan Farel di sampingnya tampak lebih rileks tapi tetap menunjukkan aura berwibawa. Mereka menatap sekeliling dengan dingin, pandangan tajam Kael seolah menilai setiap orang yang hadir.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik, suara mereka rendah tapi jelas terdengar, terkejut sekaligus penasaran dengan kehadiran Kael dan Farel. Mata mereka mengikuti setiap langkah Kael, ada rasa kagum bercampur cemas, seolah tak banyak yang berani mendekat.
Di sudut lain, Rossa menoleh ke arah Kael. “Gantengnya,” gumamnya lirih, bibirnya membentuk senyum tipis. “Dia memang pantas jadi putra konglomerat di Zhenkai,” tambahnya, suara yang hampir tak terdengar tapi cukup untuk Adela, yang berada di dekatnya, mendengarnya.
Kael hanya melirik sekilas ke arah Rossa, tanpa ekspresi berlebihan, lalu menatap lurus ke depan. Namun bagi Rossa, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa percaya diri berlebihan. “Tadi dia melirik aku, kan?” ujar Rossa pada Adela dengan nada hampir membanggakan.
Adela justru menatap dengan curiga. “Orang seperti Tuan Kael… kenapa bisa datang ke pesta keluarga Rothwell, orang kaya baru ini? Apa dia datang karena Mirea? Jangan-jangan cewek itu cantik banget,” gumam Adela sambil menyilangkan tangan, menatap sekeliling dengan tatapan sinis.
Rossa mendengar itu dan langsung cemburu, alisnya berkerut. “Mana mungkin… orang yang tumbuh di panti asuhan, pasti badannya kotor dan bau. Nggak mungkin secantik itu,” katanya, nada judes terdengar jelas.
“Benar, dia cuma cewek kampungan,” sahut Adela dengan anggukan, seolah menguatkan pendapat Rossa. “Jangankan Tuan Kael, orang yang mungkin tertarik sama dia paling cuma satpam,” tambah Adela lagi.
Farel menoleh ke belakang mendengar bisik-bisik tamu yang menilai Mirea, sedangkan Kael hanya meneguk segelas minumannya dengan tenang, tatapannya tetap dingin.
“Kael, mereka ngomongin buruk tunanganmu,” ujar Farel sambil menepuk bahu Kael, nada suaranya penuh campuran heran dan kesal.
“Kenapa kamu nggak bereaksi sama sekali?” tanya Farel lagi, sedikit frustrasi.
Kael menatap Farel sebentar, lalu menjawab singkat dengan senyum tipis yang menandakan ketenangan penuh percaya diri, “Harus bereaksi bagaimana? Mereka semua punya mata, bisa lihat sendiri.”
Farel hanya mengangguk pelan, menahan kekesalannya, menyadari bahwa Kael memang tipe orang yang tak mudah terpancing.
Tak lama kemudian, Rosse, yang penasaran mendekati Boris yang tengah memilah-milah minuman di meja.
“Pak Boris,” panggilnya dengan suara jelas, membuat Boris menoleh cepat.
“Kudengar kamu pernah bertemu Nona Mirea,” kata Rosse, nada suaranya penuh penasaran dan sedikit ingin menilai. “Gimana penampilannya?”
Boris menatap Rosse sebentar, lalu mulai tersenyum tipis sambil menahan kesenangannya. “Dia…” Boris berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya, membuat Rosse sedikit gelisah menunggu kelanjutan jawaban itu.
Namun sebelum Boris sempat melanjutkan, sebuah suara lantang menggema dari arah tangga aula.
“Maaf membuat semuanya menunggu!”
Semua mata otomatis tertuju ke arah tangga saat Kak Aren muncul, berdiri dengan sikap anggun di sisi tangga. “Mari kita sambut Tuan Putri kita hari ini!” serunya dengan semangat, memberi aba-aba bagi semua tamu untuk menaruh perhatian pada Mirea.
“Putri keluarga Rothwell, Nona Mirea Rothwell!” lanjut Aren sambil menunjuk ke arah tangga, menegaskan siapa yang harus menjadi pusat perhatian malam itu.
Sontak, tepuk tangan riuh terdengar dari para tamu yang hadir. Suara-suara kagum bercampur dengan bisik-bisik, “Akhirnya muncul!” “Cantiknya luar biasa!” “Benar-benar pantas jadi putri Rothwell.”
Mirea, dengan gaun putih elegan yang memeluk tubuhnya pas, mulai menuruni tangga dengan langkah hati-hati. Heels tinggi yang ia kenakan membuatnya bergerak pelan, satu per satu anak tangga ditapaki dengan teliti. Ia tetap memegang pegangan tangga, memastikan tidak tergelincir.
Di tengah kerumunan tamu, mata Kael seakan menempel padanya. Setiap gerakan Mirea ia perhatikan dengan tajam, tak lepas sekejap pun. Hatinya sedikit berdebar, tetapi tetap tenang, menilai setiap detail dari gadis di hadapannya. “Dia cantik banget…” batinnya, suara hati yang tak bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
“Dia berkarisma banget,” terdengar bisik-bisik lain, diselingi tepuk tangan dan sorakan kecil.
Mirea berhenti sejenak di salah satu anak tangga, menatap sekelilingnya. Sorot matanya menilai tamu-tamu yang hadir, dari wajah penasaran hingga yang menatap penuh kekaguman, dan sebagian yang menyimpan rasa iri. Napasnya sedikit tertahan, tapi ekspresi wajahnya tetap tenang, anggun, dan sedikit canggung di depan semua mata yang menyorotnya.
Beberapa tamu berbisik satu sama lain, saling berkomentar tentang keanggunan dan pesona Mirea. Di antara mereka, ada yang menatap penuh kekaguman, ada pula yang mengernyit tak percaya, membandingkannya dengan status keluarga Rothwell yang baru.
Kael tetap menatap tanpa berpaling.