Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman untuk Arimbi
#23
Suasana sekolah kala jam istirahat, Arimbi dan sekelompok teman-temannya sedang ada di kantin dan bersenda gurau. Tanpa rasa berdosa, Arimbi bahkan mentraktir teman-temannya dengan uang hasil menjual ponsel milik kakak iparnya.
“Asik, traktiran lagi,” kata salah satu teman karib Arimbi.
“Sering-sering, ya, Mmbi, kalau mau jadi orang sukses, memang harus sering berbagi, biar berkah gitu, duitnya,” sanjung yang lain.
Kembang kempis hidung Arimbi, baginya gaya tetap nomor satu, meski belum bisa menghasilkan uang sendiri.
“Tenang saja, pokoknya, kalian kudu rajin doain aku, biar cepet dapet agensi, dan mulai kerja. Nanti gaji pertamaku, aku pake buat traktir kalian, deh,” janjinya pongah, padahal belum juga menjajaki langkah menjadi calon model, tapi gayanya saja sudah melebihi tingginya langit.
Sementara Arimbi tak sadar bahwa ada juga teman yang tak menyukai keangkuhan serta kesombongannya. Tapi orang itu hanya diam di pojokan, berpura-pura tersenyum, kelak jika Arimbi terjatuh, maka dialah orang pertama yang bertepuk tangan.
“Mmbi, kamu dipanggil Bu Ratih dan Pak Rahmad.”
“Ada apa, ya?”
“Nggak tahu.”
Arimbi pun pamit, tapi sebelum itu ia membayar semua yang dipesan teman-temannya.
Beberapa saat kemudian, Arimbi pun tiba di ruang guru. “Permisi, Bu. Saya dipanggil kemari oleh Bu Ratih.”
“Oh, Bu Ratih di ruang BK.”
Arimbi masuk ke ruang guru, karena ruang BK berada di ujung ruangan guru.
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk.”
Setelah mendengar instruksi, barulah Arimbi memutar handle pintu. “Permisi, Pak, Bu. Ada apa memanggil saya?” tanya Arimbi dengan sopan.
Suasana ruangan sangat tegang, tak ada secuil pun tawa yang menyambut kedatangan Arimbi. Hingga gadis itu semakin pucat ketakutan, ditambah lagi, ada dua pria asing yang ikut duduk di ruangan tersebut.
“Duduk dulu, Mmbi.” Pak Rahmad guru BK mempersilahkannya untuk menempati salah satu kursi kosong di ruangan tersebut.
“Mmbi, Bapak dan Ibu mau bertanya, kamu jawab yang jujur, ya?”
“I-iya, Bu,” jawab Arimbi dengan suara terbata.
“Beberapa jam yang lalu, kami menerima laporan, bahwa kamu telah mencuri ponsel milik seseorang.” Pria berpakaian non formal itu menjelaskan maksud kedatangannya.
Brak!
Arimbi menggebrak meja, demi menutupi kegugupannya. “Fitnah, dia pasti menyebar fitnah!” elah Arimbi keras serta tegas, agar semua percaya dengan kebohongannya.
“Tapi dia juga datang dengan membawa bukti rekaman CCTV.”
Rekaman CCTV, sejak kapan di rumahnya asa CCTV? Pasti kakak iparnya hanya mengada-ada. “Apalagi rekaman CCTV, apa Bapak percaya, di rumah saya tidak ada CCTV, jadi mana mungkin ada rekaman?” kata Arimbi dengan percaya diri, tanpa sadar ia telah masuk jebakan dengan mudah.
Pria berpakaian non formal, yang ternyata seorang polisi yang sedang bertugas itu, nampak tersenyum tipis. Sedikit bersilat lidah, demi menjebak tersangka mengakui kejahatannya, adalah hal biasa baginya, dan Arimbi terlalu mudah memperlihatkan kejahatan yang ia anggap kecil itu.
“Rumah? Jadi kamu mencuri ponsel itu di rumahmu sendiri? Begitu?”
Arimbi terkejut, tak siap dengan pertanyaan pak polisi itu selanjutnya, “Emp, aku, s-saya—” Arimbi semakin gugup, hingga meremas ujung rok sekolahnya.
“Mmbi, apa itu benar?” tanya Bu Ratih sedikit tak percaya.
Selama ini ia selalu mendengar hal yang baik-baik saja dari Lilis, kakak tiri Arimbi yang selalu datang ke sekolah sebagai, bila waktu pembagian raport tiba. “T-tidak, Bu. Tentu saja tidak!”
Arimbi masih berusaha mengelak, tapi Polisi itu sudah bisa menyimpulkan, hanya berdasarkan satu kalimat kecil Arimbi, serta gerak gerik tubuhnya yang mulai aneh.
Pak polisi pun menyalakan layar laptop yang sesaat lalu, di setel ke mode sleep.
Nampak di layar monitor, kedatangan Arimbi ke counter HP, untuk menjual barang yang ia curi.
Lemas sudah tubuh Arimbi, bila melihat rekaman itu ia tak mungkin bisa mengelak lagi, maka Arimbi hanya bisa mengangguk pasrah sambil menangis memohon keringanan hukuman.
Begitu pula bapak dan ibu guru Arimbi yang masih mengusahakan agar ada keringanan, mengingat sebentar lagi gadis itu menjalani ujian kelulusan.
Tapi polisi itu berkata, bahwa si pelapor tetap ingin memberi hukuman pada Arimbi, agar Arimbi belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.
Akhirnya Arimbi hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah yang basah, karena air matanya tak berarti apa-apa.
•••
Di rumah Lilis, belum lagi kering kesedihan Lilis setelah Bu Saodah diseret pergi, kini dada wanita itu seolah kembali dihantam batu besar, setelah mendengar kabar penangkapan Arimbi.
Tak percaya rasanya, karena Arimbi lah yang tega mencuri ponsel suaminya, apakah uang begitu berharga bagi sang adik, hingga tega berbuat hal yang mempermalukan dirinya sendiri?
“Apakah hari-hari biasa, Mas Rayyan juga se-tegas itukah, Nyonya?” gumam Lilis belum mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini.
Rosa mengusap punggung Lilis dengan sabar, “Jangan terlalu bersedih, Lis. Suamimu hanya ingin mereka belajar bertanggung jawab,” hibur Rosa di tengah isak tangis sedihnya Lilis.
“Hari-hari biasa dia cukup humoris, dan sangat baik pastinya. Tapi dia akan tetap tegas pada saatnya.”
Ponsel Rosa tiba-tiba bergetar. “Halo, Ray.”
“Halo, Tante. Bagaimana Lilis?”
“Shock tentu saja, apalagi memangnya?”
Di tempatnya sana, Rayyan menyeringai. “Boleh aku bicara dengan Lilis?”
“Kalau mau bicara dengan Lilis, kenapa menghubungi nomorku?!” tanya Rosa gemas.
“Aku— belum menyimpan nomor ponsel Lilis,” ungkap Rayyan malu-malu harimau.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭