NovelToon NovelToon
Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action / Fantasi Isekai / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)

Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.

Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.

Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.

Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Saat Kabut Belum Berani Mengingat.

Kami meninggalkan rumah saat fajar masih ragu untuk benar-benar lahir. Cahaya pagi cuma garis tipis pucat di ufuk timur, dan kabut menelan desa Qingyun dengan sopan, seolah kepergian kami bukan sesuatu yang layak diingat.

Aku digendong Ibu. Kain gendongan diikat erat di dadanya, terlalu aman untuk ukuran orang yang sedang kabur. Hangat. Stabil. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.

Aneh bagaimana aku sudah terbiasa dengan posisi ini.

Yu Yan berjalan di depan, membawa tas besar yang jelas terlalu berat untuk tubuhnya. Wajahnya tegang, tapi matanya penuh tekad. Anak lima tahun dengan beban orang dewasa.

Dimana pun dunianya selalu serupa, memang tidak pernah adil, tapi setidaknya konsisten dalam ketidakadilannya.

“Jangan menoleh,” bisik Ibu padanya. “Berjalan saja.”

Kami tidak lewat jalan utama. Tentu saja tidak. Kami menyusuri jalur sempit di belakang rumah, lalu masuk ke hutan lebat di selatan, berlawanan arah dengan titik kacau Qi yang kemarin membuat bagian dalam kepalaku terasa tidak nyaman.

Udara hutan pagi basah dan dingin. Embun jatuh dari daun, membasahi rambut dan pakaian. Di mata biasa, ini hanya hutan. Di mataku, Qi hijau mengalir tenang, hidup, murni. Tidak lapar. Tidak mengintai.

Aku mulai bisa membedakan tempat yang ingin memakanku dan yang tidak.

Pencapaian besar untuk seorang bayi yang baru menginjak usia beberapa bulan.

Kami berjalan diam-diam. Hanya suara daun terinjak dan napas yang ditahan. Tidak ada percakapan. Orang-orang dewasa selalu percaya bahwa diam membuat mereka tidak terlihat.

Kadang benar.

Kadang tidak.

Sekitar satu jam kemudian, Ibu berhenti di depan pohon beringin tua. Akar-akar gantungnya menjuntai seperti tirai alami. Tempat yang terlalu sempurna untuk pertemuan rahasia.

“Dia seharusnya sudah di sini,” gumam Ibu.

Siapa?

Pertanyaan itu muncul refleks. Lalu aku ingat. Aku bayi. Aku tidak bisa bertanya. Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan suara yang terdengar seperti sedang bernegosiasi dengan udara.

Jawabannya muncul sendiri.

Dari balik tirai akar, seseorang melangkah keluar. Wanita dengan rambut perak dikepang rapi, mata setajam elang, wajahnya mirip Ibu tapi tanpa kelembutan yang sama. Aura-nya tertahan, padat, seperti pedang yang belum ditarik.

“Awal sekali,” katanya datar. “Bagus.”

“Ada masalah?” tanya Ibu.

“Pengintai di hutan utara hilang. Mati atau pergi, tidak tahu. Dua di bukit masih ada. Belum sadar kalian pergi.”

Tatapannya jatuh padaku. Lalu ke Yu Yan.

“Ini dia?”

“Yu Yan,” kata Ibu. “Yu Yan, ini kakakku, Lin Jie.”

“K-Kakak Ibu Shen?” Yu Yan ragu.

“Bibi Jie,” koreksi Lin Jie, suaranya sedikit lebih lembut. Matanya menelusuri tubuh Yu Yan, dan aku melihat kilatan cahaya perak. Dia bisa melihat Qi. Tentu saja. Keluarga ini tampaknya alergi pada hal-hal normal.

“Simpul gelapmu … parah,” katanya. “Tapi ada perbaikan kecil.”

“Berkat Shen Yu,” kata Yu Yan sambil menoleh padaku.

Aku menatap balik dengan ekspresi bayi paling polos yang bisa kupasang. Dalam hati, aku mendesah. Ma’ling Sheng yang dulu akan tersenyum miring pada pujian seperti itu. Sekarang? Aku hanya berharap tidak gumoh.

Lin Jie menunjuk ke selatan. “Kita lewat lembah sungai. Ada jalur rahasia. Tapi kita harus cepat. Kabut tidak akan bertahan lama.”

Kami berjalan lagi. Lin Jie memimpin. Setiap langkahnya efisien, tidak berisik, hampir tidak meninggalkan jejak. Aku memperhatikannya dari balik gendongan.

Aura Lin Jie berbeda dari Ibu. Ibu seperti samudera dalam, tenang dan luas. Lin Jie seperti pedang tersarung. Diam, tapi selalu siap.

Setelah beberapa jam, kami sampai di sungai kecil. Airnya jernih, mengalir deras, Qi biru pucat berkilau di dalamnya.

“Kita istirahat di sini,” kata Lin Jie. “Minum, makan sedikit. Jangan lama.”

Yu Yan menurunkan tasnya. Ibu duduk di batu dan melepaskanku dari gendongan.

“Sudah lapar, Nak?”

Aku mengangguk dengan antusias yang tidak sepenuhnya dibuat-buat. Perutku benar-benar kosong. Dan di sinilah absurditas hidupku kembali menampar.

Aku adalah pria dewasa. Aku tahu itu. Aku sadar penuh. Aku ingat kehidupan sebelumnya.

Dan aku sedang menyusu.

Yang lebih mengganggu adalah … aku tidak lagi terlalu terganggu olehnya.

Aku mengalihkan pandangan ke sungai. Qi air mengalir lembut. Biru pucat. Tapi ada sesuatu yang lain.

Di bawah batu besar di tengah sungai, kilatan keemasan. Padat. Tua.

Bukan Qi biasa.

Aku berhenti menyusu dan menunjuk. “Aaah.”

Ibu dan Lin Jie mengikuti arah jariku.

“Ada apa, Shen Yu?” tanya Ibu.

“Dia melihat sesuatu,” kata Lin Jie. Dia melompat dari batu ke batu, lalu merogoh ke bawah batu besar itu.

Saat dia mengangkat tangannya, sebuah liontin perak kecil berkilau di genggamannya. Ukiran naga melingkar di permukaannya.

“Peninggalan klan,” bisiknya. Wajahnya memucat.

Ibu mendekat. “Itu … milik Ayah.”

Ketegangan mengental. Aku bisa merasakannya bahkan tanpa mata spiritual.

“Artinya dia pernah lewat sini,” kata Lin Jie pelan. “Atau …”

“Atau ini pesan,” lanjut Ibu. “Bahwa jalur ini tidak aman.”

Lin Jie menggenggam liontin itu. “Kita ubah rute.”

“Tapi jalur lain—”

“Lebih berbahaya,” potong Lin Jie. “Tapi lebih tidak terduga.”

Dan saat itu, aku merasakannya.

Getaran di kejauhan. Lemah, tapi bertambah kuat. Seperti langkah kaki banyak orang atau sesuatu yang bergerak bersama.

Lin Jie juga merasakannya. Wajahnya mengeras.

“Mereka datang,” katanya. “Cepat.”

Dan entah kenapa, di tengah semua itu, satu pikiran aneh muncul di kepalaku.

Aku sudah terlalu terbiasa digendong.

Dan dunia ini sepertinya tidak akan memberi waktu bagiku untuk berhenti menjadi bayi dengan nyaman.

1
^_^
tampar balik aja wajahnya (๑˃ᴗ˂)ﻭ
Aku Suka Plagi, Kamu Diam
aku nunggu adegan insectnya kk
Auzora Taraka Vesta
yang komentar Ironside semua /Sweat//Sweat//Sweat/
Auzora Taraka Vesta: Tapi bagus tuh...bang yoga jadi ada reader setia /Proud//Smile/
total 5 replies
Ironside
/Doge/
Ironside
owalah, kukira timeskip
Ironside
Gak sadar, udah lima tahun aja 🗿
Lin Mei: kecepatan kalo timeskip lima tahun, Pace slow-burn ini bg Leo 🗿
total 1 replies
Ironside
Tidak bisa dipungkiri, memakai antithesis itu enak /Chuckle/
Ironside: bentuk keren dari penolakan
total 2 replies
Ironside
👀
Ironside
Dongjua /Tongue/
Lin Mei: ahh iya typo njrr
total 1 replies
Ironside
Pengungkapannya kurang bagus menurutku, sebenarnya bisa tunjukkan lewat deduksi Malingseng aja 👀
Lin Mei: iyasih seharusnya MC yg ambil kesimpulan soal mata saktinya, tapi yg tahu soal seluk beluk dunia itu cmn si ibu 😭
total 1 replies
Ironside
Mana mesumnya? 🥀💔
Lin Mei: belum 🗿
total 1 replies
Ironside
Mirip-mirip nih novel Fantim Ucok, gak pakai dinkus.
Lin Mei: fantim emang aku ambil referensi dari Ucok, termasuk pecah bab juga
total 1 replies
Ironside
kyknya ini lupa tanda petik
Lin Mei: jirr iyaa 🗿
total 1 replies
Ironside
Chapter ini mengingatkanku dengan satu karakter wanita berambut pink itu /Chuckle/
Lin Mei: hentikaaaan bg Leo /Curse/
total 1 replies
Ironside
Kebiasaan malingseng dengan elipsisnya
Lin Mei: aowkaowkaok hampir setiap dialog, bahkan narasi pun /Facepalm/
total 1 replies
Ironside
Yey ... susu itu kembali
@Xiao Han (GG) ୧⍤⃝🍌 : SUSU!!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!