Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DIUSIR DARI RUMAH
#
Sore itu langit mendung. Abu-abu gelap menutupi matahari. Angin bertiup keras, membawa bau hujan.
Bayu berdiri di depan kamarnya yang pintunya udah ancur. Di tangannya, tas ransel lusuh. Isinya cuma beberapa baju compang-camping, handuk tipis, dan laptop tua yang dia bungkus plastik.
Itu semua yang Kenzo punya.
Nggak ada foto keluarga. Nggak ada kenangan indah. Cuma barang-barang yang bahkan orang miskin pun mungkin nggak mau.
Bayu turun tangga pelan. Setiap langkah terasa berat. Bukan karena tas-nya berat. Tapi karena... ini terakhir kalinya dia di rumah ini.
Rumah yang bukan rumah.
Di ruang tamu, mereka semua berkumpul. Seperti nonton pertunjukan.
Valerie duduk anggun di sofa, kaki disilang, cangkir teh di tangan. Senyum tipis di bibirnya. Raka berdiri di sampingnya, tangan di saku celana, ekspresi puas. Arjuna? Dia bahkan nggak ada. Mungkin masih di kantor. Atau... memang nggak peduli.
Dua satpam berdiri di dekat pintu. Tubuh besar, wajah datar, tongkat pentungan di pinggang.
Bayu berhenti di tangga terakhir. Menatap mereka semua.
"Kenzo," panggil Valerie lembut. Tapi nada suaranya dingin kayak es. "Sudah siap?"
Bayu nggak jawab. Dia cuma jalan menuju pintu.
"Tunggu."
Suara Raka menghentikan langkahnya.
Bayu menoleh.
Raka berjalan santai mendekat. Senyumnya lebar. "Lo lupa sesuatu."
Dia mengangkat tangan. Di tangannya, amplop cokelat tipis.
"Ini. Uang sakumu bulan ini. Lima ratus ribu. Terakhir kalinya lo dapat dari keluarga ini."
Raka lempar amplop itu ke lantai. Tepat di depan kaki Bayu.
"Ambil. Atau lo mau gengsi?"
Bayu menatap amplop itu. Lima ratus ribu. Uang yang bahkan nggak cukup buat sewa kamar seminggu di kota ini.
Tapi... ini semua yang dia punya sekarang.
Dia berlutut. Mengambil amplop itu pelan. Masukkan ke saku jaket.
Raka tertawa. "Bagus. Setidaknya lo tau diri."
Valerie meletakkan cangkir tehnya. Berdiri. Berjalan anggun mendekat.
"Kenzo," bisiknya lembut. Terlalu lembut. "Dengarkan baik-baik."
Dia berhenti tepat di depan Bayu. Menatap dari atas karena Bayu masih berlutut.
"Jangan pernah kembali ke rumah ini. Jangan pernah sebut nama Samudera lagi. Kau... bukan bagian dari keluarga ini."
Setiap kata seperti pisau.
"Kau hanya beban. Sampah yang kami tolerir terlalu lama."
Valerie tersenyum. Senyum paling kejam yang pernah Bayu lihat.
"Dan sekarang... sampah sudah waktunya dibuang."
Bayu menatap matanya. Mata yang indah tapi kosong. Nggak ada jiwa di sana.
Dia berdiri pelan. Tubuhnya goyah tapi tetap tegak.
"Baik," katanya pelan. Suaranya serak. "Aku akan pergi."
"Bagus." Valerie berbalik, kembali ke sofanya.
Raka menepuk bahu Bayu keras. "Jangan sedih, Kak. Jalanan cocok buat lo. Lebih pas daripada rumah mewah kayak gini."
Bayu nggak bereaksi. Dia cuma jalan menuju pintu.
Dua satpam langsung mengapit kiri kanannya. Seperti tahanan yang dikawal.
"Kami akan pastikan dia keluar," kata salah satu satpam ke Valerie.
Valerie mengangguk. "Pastikan dia tidak kembali."
Mereka keluar. Bayu di tengah. Dua satpam mengapitnya.
Hujan mulai turun. Gerimis dulu. Lalu makin deras.
Gerbang besar mansion terbuka pelan. Di luar, beberapa tetangga elit berdiri di teras rumah mereka. Menatap. Berbisik. Menunjuk.
"Itu anak Samudera yang bermasalah, kan?"
"Dengar-dengar dia nyolong uang keluarganya."
"Memalukan sekali."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas meski hujan mulai keras.
Bayu berjalan keluar gerbang. Hujan langsung membasahi tubuhnya. Dingin. Menusuk sampai tulang.
Satpam melempar tas ranselnya ke jalanan. Tas itu jatuh di genangan air. Basah total.
"Jangan coba-coba balik," ancam salah satu satpam. "Atau kami panggil polisi."
KLEK.
Gerbang ditutup. Bunyi besi bertemu besi terdengar keras. Final.
Seperti pintu penjara yang dikunci dari luar.
Bayu berdiri di sana. Sendirian. Di tengah hujan yang makin deras. Jalanan sepi. Hanya lampu jalan yang menyala redup.
Dia mengambil tas ranselnya dari genangan. Airnya mengalir dari sela-sela kain. Bajunya basah semua.
Tetangga-tetangga itu masih menatap. Dari balik jendela. Dari teras. Mata mereka penuh penghakiman.
"Sampah."
"Pencuri."
"Memalukan."
Bayu menatap gerbang mansion yang tertutup rapat. Di balik pagar besi itu, lampu mansion menyala terang. Hangat. Nyaman.
Tapi dia nggak boleh masuk lagi.
Sesuatu di dadanya terasa... remuk.
Bukan dadanya. Dada Kenzo.
Memori mengalir lagi. Paksa. Brutal.
Kenzo kecil. Berdiri di gerbang yang sama. Habis pulang sekolah. Diguyur hujan. Mengetuk gerbang berkali-kali.
"Buka... kumohon... aku kedingan..."
Tapi nggak ada yang buka. Valerie dengan sengaja biarin dia di luar. Berjam-jam. Sampai dia sakit demam tinggi.
Dan saat masuk... dia nggak dipeluk. Nggak diobati. Cuma dimarahin karena bikin lantai basah.
Kenzo nangis malam itu. Sendirian di kamar sempit. Tubuhnya menggigil. Demamnya tinggi.
"Ibu... kenapa mereka nggak sayang aku... apa aku anak yang jahat..."
Air mata mengalir di pipi Bayu. Bercampur hujan.
Bukan air matanya. Air mata Kenzo yang tersisa. Kesedihan yang nggak pernah sembuh.
"Lo... lo nggak jahat, Kenzo..."
Bisikan itu keluar pelan. Gemetar.
"Lo cuma... pengen disayang..."
Bayu menutup matanya. Membiarkan hujan membasahi wajahnya. Membiarkan air mata mengalir.
Sakit.
Sakit banget.
Bukan sakit fisik. Tapi sakit yang lebih dalam. Sakit kehilangan sesuatu yang sebenarnya nggak pernah dia punya.
Keluarga.
Rumah.
Cinta.
Kenzo nggak pernah punya itu semua. Dia cuma anak yang dibuang sejak kecil. Ditolerir karena terpaksa. Lalu disingkirkan saat nggak berguna.
Dan sekarang...
Dibuang beneran.
Kayak sampah.
Bayu membuka matanya. Menatap jalanan basah di depannya. Hujan makin deras. Angin makin kencang.
Dingin.
Kedinginan.
Tapi entah kenapa... bibirnya tersenyum.
Senyum yang aneh. Senyum yang dingin. Senyum orang yang udah nggak punya apa-apa lagi buat hilang.
"Permainan... baru aja dimulai."
Bisikan pelan itu hilang ditelan suara hujan.
Tangannya masuk ke saku dalam. Meraba USB kecil yang masih aman di sana.
Bukti.
Senjata.
"Kalian pikir gue bakal nangis? Bakal minta balik?"
Dia tertawa pelan. Suara tawanya serak. Seperti orang gila.
"Gue nggak bakal balik sebagai pengemis. Gue bakal balik... sebagai penguasa."
Bayu berbalik. Membelakangi mansion megah itu. Berjalan pelan di jalanan basah.
Nggak ada tujuan. Nggak ada rencana. Cuma... jalan.
Karena kalau dia berhenti, dia takut dia nggak akan bangun lagi.
Lalu... suara itu muncul. Dingin. Mekanik.
**[STATUS SAAT INI: TANPA TEMPAT TINGGAL]**
**[UANG TERSEDIA: 500.000 RUPIAH]**
**[KONDISI KESEHATAN: 25 PERSEN]**
**[PERINGATAN: CUACA BURUK. CARI TEMPAT BERLINDUNG SEGERA]**
**[MISI DARURAT AKTIF: CARI TEMPAT TINGGAL DAN SUMBER PENGHASILAN]**
**[BATAS WAKTU: 24 JAM]**
**[KEGAGALAN: KEMATIAN KARENA HIPOTERMIA]**
Bayu berhenti sebentar. Menatap kosong ke depan.
Dua puluh empat jam.
Kalau gagal... mati kedinginan di jalanan.
"Hidup atau mati, ya..."
Dia tertawa lagi. Tawa yang pahit.
"Gue udah mati sekali. Mati lagi juga nggak masalah."
Tapi kakinya tetap melangkah. Terus melangkah.
Karena di dalam dadanya, ada sesuatu yang masih menyala.
Bukan harapan.
Tapi dendam.
Dendam yang akan bikin mereka semua membayar.
Dan Bayu akan pastikan...
Mereka membayar dengan cara paling menyakitkan.