𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 5
...왕신...
...-----ᏇᏗᏁᎶ ᏕᏂᎥᏁ----...
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!
ー
“Dia terus menghubungiku dan memaksa ingin datang.”
Shin percaya, Yoo Ana pasti tak punya pilihan lain selain menerima. Gibaek akan mengoreksi kehidupannya lebih dalam jika Ana terus menolak dan menciptakan kecurigaan.
Sekarang dengan terlibatnya Ana, semua jadi harus diselaraskan. Shin juga harus menghubungi Park Junwon untuk merubah beberapa poin jika hal yang tidak terduga terjadi di tengah-tengah.
Libur selama dua hari, berjalan sedikit mengesalkan Shin. Son Hadam, mertua yang hanya tinggal sebelah itu terus membahas dan mengungkit hal-hal remeh yang jika ditumpuk cukup membuat mual. Tapi seperti biasa, Shin tidak banyak menanggap. Kecuali malam itu dengan kata, “Suatu saat, aku akan berikan sebanyak yang Ibu inginkan.”
Tanggapan Son Hadam hanya delikan tajam dengan bibir terangkat penuh cibiran, tidak percaya omong kosong menantu miskin.
Ana terus meminta maaf untuk ibunya, tapi Shin bukan pria yang menyatukan dua paket berbeda. “Bukan salahmu, jadi jangan terus meminta maaf. Biarkan ibumu tetap dengan segala persepsinya tentang aku. Aku akan baik-baik saja. Lagipula aku tidak berbohong, sebentar lagi setelah ini ... kau dan ibumu, akan menerima apa yang seharusnya ... dariku.”
Sebenarnya ada satu hal besar ー yang disimpan baik-baik oleh Shin, ada batas yang dia buat, setidaknya sampai semua meyakinkan menurutnya, termasuk Yoo Ana.
★★★
Sekarang waktunya Shin kembali ke pekerjaan, misi penting kepolisian yang baru akan dimulai setelah tahap pertama lulus ー menjadi bagian dari orang-orang kepercayaan.
Markas Venom.
Sekarang sudah ada di ruangan Gibaek bersama orang-orang pentingnya. Yang berumur duduk di sofa, sisanya yang lebih muda termasuk Wang Shin berdiri di belakang mereka.
“Besok sore kita akan kedatangan tamu penting dari Jepang. Semua harus dipersiapkan matang. Karena Shin di sini belum tahu apa pun, Kak Rong tolong kau ajarkan dia, jelaskan semua, jangan sampai ada yang terlewat.”
“Ya, Gibaek,” tanggap pria paruh baya bernama Koh Rong yang berperan sebagai [anggap saja] manager di sana. “Shin ... ayo ke ruanganku.”
Anggukan Shin menariknya mengikuti Koh Rong, meninggalkan mereka yang akan berembuk dengan tugas berbeda.
Sebuah ruangan kecil, hanya ada satu meja kerja dengan dua kursi berhadapan menjaganya, serta sebuah nakas yang semua bagiannya adalah laci.
“Jadi begini, Shin ....”
Tamu penting dari Jepang itu adalah orang yang dikirim rekan bisnis Venom melakukan transaksi dan memastikan barang yang mereka terima tidak palsu.
“Jadi mereka pembeli, bukan pemasok.”
Satu fakta mengejutkanーVenom sebagai penjual, bukan menerima pasokan.
“Sebentar lagi Gibaek akan mengajakmu ke sebuah tempat. Jangan bawa ponsel atau alat komunikasi apa pun jika tak ingin nyawamu berakhir sia-sia. Kau tidak menurut ... mati."
“Baik, Kak Rong.” Shin tidak gentar karena ancaman, tapi ... satu poin unggulan muncul dengan sangat mudah.
Dan waktu membawanya pada tempat yang dimaksudkan.
“Sol Gibaek benar-benar gila!" Shin dibuat lumayan takjub melihat pemandangan mengejutkan yang terpampang di sekelilingnya. Dia berjalan di samping Gibaek seraya mendengarkan penjelasan lelaki yang berperan sebagai ketua itu. “Pantas saja polisi tak menemukan bukti apa pun saat penggeledahan di markas, ternyata di sini. Kau memakan umpan dengan sangat baik, Gibaek.”
Hebatnya mereka, sekali pun tak pernah gagal mengelabui polisi.
Tapi kali ini dengan adanya Shin, akankah mereka lolos tanpa meminum air di jerang?
“Dari sinilah sumber keuangan utama kami. Jika kau bermain baik, maka kau akan turut menikmati kekayaan itu, Shin.” Gibaek bertutur bangga.
Dan sebagai tanggapan, Shin memasang wajah seolah sangat tertarik, dibantu dua anggukan dan senyum sekilas bermakna haus.
Adalah pabrik pembuatan dan pengelola psikotropika atau obat-obatan terlarang dengan beragam jenis. Terpencil di sebuah lahan luas yang disamarkan dengan perkebunan apel berhektar-hektar di bagian muka.
Sebuah laboratorium dengan kecanggihan alat yang membuat Shin cukup lama melihat-lihat sambil sedikit melebarkan mata.
“Jika produksinya sebesar ini, seberapa luas penyebarannya?”
“Berapa banyak anak-anak muda yang dikacaukan masa depannya?”
“Negara ini benar-benar perlu pembersihan dengan eksorsis, banyak Mammon yang harus dibasmi.”
“Para bajingan ini harus dihukum mati.”
Tiba di ruangan lain, Shin melihat pemandangan cukup mengenaskan.
Para pekerja di sana adalah anak-anak muda dengan tubuh kerempeng. Nampak lelah di wajah mereka seakan mati sudah di depan mata.
Sepertinya ini disinggung sebagai perbudakan oleh Park Junwon, terkait laporan anak-anak muda yang hilang lalu pulang dalam keadaan mati.
“Bekerjalah yang benar jika ingin keluar membawa uang yang banyak, atau kalian mati tanpa empati.” Gibaek menegur mereka, lebih terdengar seperti ancaman meski yang disebut adalah uang.
Tangan yang lemah langsung bekerja cepat kembali, dan itu jelas terpaksa.
“Gibaek ... sepertinya mereka sangat kelelahan, tidakkah lebih baik membiarkan mereka istirahat sejenak?”
Mata Gibaek yang sipit sekali melirik Shin, tajam untuk beberapa detik, lalu tersenyum sinting. “Tidak bisa, Shin,” sanggahnya seraya mengedar tatap ke satu persatu wajah para pekerjanya, memberi peringatan penuh.
Satu tangannya terjulur untuk meraih satu kemasan sa.bu seberat 500 gram, mengangkat dan menatapnya sampai ke depan wajah. “Pemesanan dari Jepang sudah mendesak, tidak akan selesai jika mereka menggunakan terlalu banyak waktu istirahat. Kau tenang saja, mereka akan beristirahat lama setelah target tercapai ... jadi jangan cemaskan hal yang tak berguna.”
Tidak mendebat, Shin hanya mengangguk. “Baik, maafkan aku.”
Gibaek tersenyum, meletakkan kembali gram serbuk di tangannya ke tempat semula. “Kau anak baru, pasti masih ada jiwa kasihan dalam dadamu. Ke depannya, ayo kita bersihkan itu agar kau resmi menjadi bagian kekuatan Venom.”
Saat akan berlalu dari ruangan, sekilas Shin mendapati tatapan dari salah satu pemuda lurus padanya, seperti ... sebuah permohonan. Segera dia membuang wajah saat Gibaek menelisiknya.
Dari satu pintu ruangan, seorang berpenampilan profesor memanggil Gibaek, gesturnya menandakan dia hanya perlu bicara berdua.
“Kau bisa tunggu di sini sebentar sambil melihat-lihat, aku bicara dengan Dr. Ong dulu.”
“Oke.”
Dari kesendirian itulah Shin bekerja.
Mata melirik ke satu titik di mana CCTV terpasang di sana.
“Bicaralah tanpa melihat dan menatap ke arahku, sambil tangan kalian tetap bekerja. Kamera itu hanya mengambil gambar, tidak merekam suara. Aku akan membantu kalian terbebas. Jadi ... apa yang terjadi pada kalian?”
Kalimat pelan itu disuarakan Shin sembari dirinya melihat-lihat ke pengemasan yang sudah siap.
Mereka terkesiap, namun segera mengambil kesempatan untuk bicara dengan menuruti cara yang Shin katakan.
“Tubuh kami sudah terpapar racun dari zat-zat berbahaya di sini. Beberapa teman kami tewas, entah mayatnya dibawa kemana. Jika kau benar-benar ingin membantu, tolong ... kami ingin keluar dari sini dan pulang. Kalaupun harus mati, kami ingin mati di tengah kehangatan keluarga.”
Sudah cukup, Shin mengangguk tipis.
“Dalam beberapa hari aku akan bebaskan kalian. Tapi sampai waktu itu tiba, cobalah untuk terus bertahan.”
ー
Pemantauan selesai.
Gibaek tidak curiga apa pun. Saat pengecekan cctv untuk melihat kelakuan Shin, tidak ada keanehan yang didapatnya.
Sekarang ....
Satu keranjang apel segar dimasukkan salah seorang pak tua ke bagasi mobil. Senyuman ramah Gibaek memberi kesan bijak di hadapan para pekerja kebun yang sebagian besar orang-orang berusia senja. Senang di wajah tua itu bertambah ketika beberapa helai uang diselipkan GIbaek ke tangan keriputnya sebagai hadiah kecil.
“Terima kasih, Gibaek, semoga hidupmu penuh berkat seumur hidup.”
“Iya, Pak Ming. Kami permisi.”
“Silakan. Hati-hatilah di jalan.”
Tidak seutuhnya jiwa Gibaek diisi iblis, masih bisa diberikan pertaubatan dengan ... cambukan seratus kali. Shin mencibir. Dia yang berperan sebagai supir kembali menjalankan mobil. Gibaek duduk di sebelahnya langsung bersandar dan memejamkan mata.
Di jalanan yang penuh kelokan, mulanya Shin mengendarai dengan santai, namun saat matanya mendapati satu mobil mencurigakan mengikuti dari belakang, gas langsung dipautnya dengan kecepatan maksimal sampai membangunkan Gibaek.
“Ada apa, Shin?!”
“Kita diikuti!”
----
^^^Jangan lupa like!^^^