Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datngnya Mustika
Freen dan Nam meninggalkan rumah sakit dengan tergesa-gesa. Sebelum pergi, Freen sempat menitipkan pesan pada perawat bahwa ia akan kembali malam nanti untuk mengecek kondisi Ibu Khai. Tugas kemanusiaan sudah selesai, kini saatnya kembali ke urusan karma dan modal.
Motor Nam melaju kembali menuju rusun tua Nam. Suasana di dalam helm terasa tegang bercampur semangat.
"Nam, kita harus memetakan ini cepat," ujar Freen di tengah perjalanan.
"Kasus di Ibu Kota. Bayaran tinggi. Kelainan aneh. Ini pasti kasus besar. Mae Nakha tidak akan mengirim kita sejauh ini hanya untuk mencari kucing hilang."
"Aku setuju. Di rumah kita bisa riset tentang keluarga itu dan penyakit putrinya," balas Nam, suaranya antusias.
Saat mereka tiba di depan rumah Nam, Freen mematikan mesin motor. Sinar matahari pagi sudah mulai meninggi, memantul di cat biru pudar rumah tua itu.
Mereka berdua berjalan menuju pintu depan. Kelelahan dari semalam suntuk berjaga, mencuri, berhadapan dengan arwah pendendam, arwah anak kecil, dan akhirnya menjadi wali di rumah sakit, mulai terasa memberat.
"Masuk, Freen. Aku akan membuat kopi lagi dan kita browsing sampai mata kita copot. Setelah itu, tidur selama 12 jam," kata Nam, meraih kunci di tasnya.
Namun, saat Nam hendak membuka pintu, Freen merasakan hawa dingin yang familiar, tetapi kali ini disertai dengan aroma khas: wangi dupa dan bunga melati yang sangat kuat.
"Tunggu, Nam," bisik Freen, menahan Nam. "Ada sesuatu."
Nam mengerutkan kening. "Apa? Chanya kembali?"
Freen memejamkan mata sejenak, mengaktifkan mata batinnya. Begitu ia membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada teras.
Di teras itu, duduk bersila seorang wanita muda cantik berbusana adat Jawa yang elegan. Ia memakai kebaya berwarna hijau tua, rambutnya disanggul tinggi, dan ia sedang memegang tasbih kayu. Di depannya, diletakkan sesajen berupa bunga-bunga, buah-buahan, dan sebuah cawan berisi air.
Wanita itu bukan arwah, dia adalah manusia. Namun, aura spiritual yang memancar dari tubuhnya sangat kuat, melebihi Biksu yang mereka temui semalam.
Dan Freen, dengan mata batin yang terbuka lebar, bisa melihat dua sosok bayangan samar—arwah pengawal—berdiri tegak di belakang wanita itu.
Wanita itu mendongak, matanya bertemu dengan Freen. Ia tersenyum tipis, senyum yang sama percaya dirinya dengan Freen.
"Selamat pagi, Nona Freen Sarocha," sapa wanita itu dengan suara lembut. "Saya sudah menunggu Anda."
Nam menatap bingung. "Siapa dia, Freen? Kenapa dia tahu namamu? Dia kenalan Bibi Som?"
Freen mengabaikan Nam, matanya terpaku pada wanita itu. Freen tahu ini bukan kunjungan biasa.
"Siapa Anda?" tanya Freen, melangkah maju, waspada.
"Nama saya Matahari," jawab wanita itu, suaranya tenang.
"Saya diutus oleh klien yang akan Anda temui di Ibu Kota. Mereka ingin memastikan bahwa 'Paranormal' yang datang ke rumah mereka adalah yang asli, bukan sekadar gadungan."
Freen tersenyum sinis. "Jadi, Anda adalah penguji?"
Matahari mengangguk. "Saya adalah utusan. Dan saya tahu, Anda adalah alat baru dari Mae Nakha. Saya datang untuk menguji keaslian Anda, dan memberikan bekal untuk perjalanan Anda."
Matahari mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya terdapat sebuah kantung kain beludru berwarna emas.
"Di dalamnya ada mustika pelindung. Mae Nakha tahu, perjalanan Anda ke Ibu Kota akan dipenuhi bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar arwah penasaran. 'Kelainan' yang menimpa anak itu bukan kutukan biasa, Nona Freen. Itu adalah perang spiritual."
Freen mengambil kantung itu. Kantung itu terasa hangat dan memancarkan energi yang lembut namun kuat.
"Dan sebagai tambahan, saya adalah rekan Anda yang lain," tambah Matahari.
"Saya adalah sumber informasi. Jika Anda membutuhkan pengetahuan tentang spiritualitas Jawa, saya siap membantu. Kita akan sering bertemu."
Matahari bangkit, mengambil sesajen yang dibawanya. "Selamat berjuang, Paranormal Freen. Saya akan memberitahu klien bahwa Anda adalah pilihan yang tepat. Sekarang, pergilah. Waktu adalah kunci."
Tanpa menunggu balasan, Matahari berjalan pergi dengan anggun, menghilang dari pandangan secepat ia muncul.
Nam menatap kepergian wanita itu dengan mulut ternganga. "Si... siapa dia? Dia paranormal juga? Dan kenapa dia memberi kita jimat?"
Freen menggenggam kantung beludru emas itu. Rasa lelahnya menghilang, digantikan oleh rasa gentar dan antusiasme. Mae Nakha benar, ini bukan lagi permainan.
"Nam, lupakan tidur," kata Freen, membuka kunci pintu. "Kita harus riset, berkemas, dan pergi ke Ibu Kota. Kita punya musuh baru, sekutu baru, dan misi besar yang melibatkan 'perang spiritual'. Hidup Paranormal Gadungan Freen Sarocha... baru saja menjadi sangat rumit."
Freen berdiri mematung di ambang pintu, kantung beludru emas terasa hangat di telapak tangannya. Otaknya, yang sudah beroperasi tanpa tidur selama lebih dari 24 jam, langsung memproses identitas 'Matahari'.
"Paranormal Jawa," gumam Freen, mengulang istilah yang diucapkan Nam, meskipun ia lebih fokus pada busana tradisional wanita itu.
"Di Thailand? Kenapa paranormal dari Jawa bisa tahu tentang Mae Nakha dan misiku?"
Freen berbalik cepat, menatap Nam yang masih terpaku di luar pintu.
"Lupakan kopi sebentar, Nam! Kita punya riset yang jauh lebih penting daripada mencari tahu penyakit anak orang kaya itu dulu," desak Freen. "Masuk! Cepat!"
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Freen langsung menuju laptop Nam.
"Nam, browsing! Cari tahu semua tentang 'Paranormal Jawa' atau 'Kebatinan Jawa'. Fokus pada pakaiannya. Kebaya hijau tua, sanggul rapi, aura spiritual kuat, dan tasbih kayu!" perintah Freen, nadanya penuh urgensi.
"Aku belum pernah dengar ada paranormal dari Indonesia yang sampai ke Thailand untuk urusan spiritual begini," kata Nam, tangannya bergerak cepat di papan ketik. "Jawa... itu di Indonesia, kan? Kenapa dia tahu tentang kita dan Mae Nakha?"
"Tentu saja dia tahu! Dia bilang dia utusan klien. Artinya, klien kita sudah mencari tahu Mae Nakha dan sistem karma ini. Mereka tidak mau mengambil risiko dengan paranormal lokal," duga Freen.
"Tapi yang lebih penting, kenapa Matahari yang dikirim? Dan apa itu 'mustika' yang dia berikan?"
Freen mengeluarkan mustika dari kantung beludru emas itu. Itu adalah batu kecil berwarna merah marun, berkilauan samar-samar. Saat Freen memegangnya, ia merasakan gelombang energi hangat yang menjalar di tangannya.
"Matahari bilang ini pelindung dari Mae Nakha. Nam, lihat ini!"
Nam melihat ke layar laptop. Ia sudah menemukan beberapa artikel tentang praktik spiritual di Jawa.
"Freen, lihat ini," kata Nam, memutar layar laptop. "Kebanyakan paranormal atau dukun di Jawa dikenal karena praktik kebatinan yang sangat mendalam, terkait dengan leluhur, keraton, dan kejawen. Pakaian tradisional seperti kebaya hijau sering dikaitkan dengan Nyai Roro Kidul atau entitas Ratu Laut Selatan, yang merupakan roh penguasa alam gaib yang sangat kuat di sana."
"Ratu Laut Selatan?" Freen mengerutkan dahi. "Dia bilang dia hanya Matahari."
"Mungkin dia agennya," tebak Nam. "Intinya, Freen, wanita ini Matahari berasal dari latar belakang spiritual yang sangat kuno dan kuat. Dia bukan sekadar dukun biasa. Dia mungkin dikirim oleh klien karena mereka tahu bahwa masalah mereka bukan kasus Thailand biasa, melainkan kasus lintas dimensi atau lintas budaya spiritual."
Nam melanjutkan, "Dan dia memberimu jimat pelindung dari Mae Nakha? Artinya, Mae Nakha itu dikenal luas di kalangan spiritualis kuat di Asia Tenggara, bahkan di luar Thailand! Ini menegaskan bahwa Mae Nakha adalah entitas sejati, bukan arwah lokal biasa."
Freen menatap mustika di tangannya, lalu ke alamat mewah di Ibu Kota di handphone-nya. Rasanya seperti ia baru saja naik level dari game detektif amatir menjadi pemain di arena spiritual internasional.
"Baiklah, Nam. Jadi, kita sekarang punya Dewi Thailand sebagai manajer, Paranormal Jawa sebagai konsultan, dan kasus di Ibu Kota dengan bayaran tinggi," simpul Freen.
"Kita harus percaya pada Matahari. Dia memberiku perlindungan yang kuharap bisa bekerja saat 'perang spiritual' yang dia sebutkan itu dimulai."
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Nam, memejamkan laptop.
"Rencana kita adalah ini: Pertama, tidur satu jam di sofa. Kedua, bangun, dan Nam, kau harus mencari semua yang kau bisa tentang keluarga di Ibu Kota itu, sejarah mereka, dan laporan medis tentang 'kelainan aneh' anak mereka. Ketiga, kita langsung naik bus ke Ibu Kota. Waktu adalah uang, dan uang kita sudah menipis."
Freen meletakkan mustika itu di nakas kecil di samping sofa. Ia memutuskan untuk tidur, meskipun ia tahu, dengan mata batinnya yang terbuka lebar, tidurnya tidak akan pernah lagi tenang. Perjalanan ke Ibu Kota akan menjadi ujian terbesar bagi Paranormal Gadungan yang dipaksa oleh takdir itu.