Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lampu-lampu Manhattan yang berpendar di spion tengah mobilnya perlahan menjauh, namun gema suara Audrey di lobi tadi masih berdenting jelas di telinga Keenan. Sambil mengarahkan setir menuju Lower East Side, tangan Keenan yang kokoh mencengkeram kemudi dengan ritme yang tak menentu.
"Demi Allah... aku nggak mau buat sejauh itu, Rafael."
Kalimat itu terus berputar seperti piringan hitam yang rusak. Keenan adalah pria yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat logis dan dingin. Di New York, ia terbiasa mendengar orang bersumpah demi apa saja, demi uang, demi karier, atau sekadar "I swear to God" yang sering kali hanya menjadi bumbu percakapan tanpa makna. Namun, cara Audrey mengucapkannya tadi berbeda. Ada getaran ketakutan, ada perlindungan yang ia cari, dan ada keyakinan yang mendalam di balik dua kata itu.
"Demi Allah," gumam Keenan pelan, bibirnya mencoba mengecap kembali kata-kata itu. "Jadi... Audrey seorang Muslim?"
Keenan menyandarkan punggungnya pada jok kulit mobilnya yang nyaman. Pikirannya melayang pada kontradiksi yang ia lihat malam ini. Gadis itu mengenakan gaun pendek yang memamerkan kaki jenjangnya, rambutnya tergerai bebas, dan ia tampak sangat menyatu dengan gaya hidup metropolis yang liar. Namun, di titik paling kritis saat harga dirinya terancam, ia justru kembali pada akarnya. Ia menggunakan nama Tuhan sebagai benteng terakhir.
Pikiran Keenan kini terbang jauh melampaui jalanan New York, menuju ke sebuah rumah besar di kawasan elit di mana ia tumbuh besar. Keenan bukan orang asing bagi agama Islam. Ayahnya, Atharrazka senior, adalah seorang Muslim taat yang berasal dari garis keturunan Timur Tengah yang kental dengan prinsip. Ayahnya adalah pria yang setiap subuh sujud dengan khusyuk dan setiap tindakannya didasari oleh etika ketuhanan.
Namun, di sisi lain, maminya adalah seorang wanita Amerika berdarah Prancis yang liberal, elegan, dan menjunjung tinggi kebebasan berpikir. Maminya tidak pernah memeluk Islam. Mereka adalah pasangan yang hidup dalam toleransi yang luar biasa, namun bagi Keenan kecil, itu adalah sebuah kebingungan besar.
Keenan tumbuh melihat ayahnya shalat, sementara maminya membawanya ke gereja pada hari-hari besar hanya untuk menghormati tradisi keluarga besar sang mami. Seiring bertambahnya usia, Keenan harus memilih.
Dan pada usia 17 tahun, Keenan membuat keputusan yang sempat membuat suasana rumahnya membeku. Ia memilih untuk mengikuti keyakinan maminya. Bukan karena ia membenci Islam, justru sebaliknyavia sangat menghormati agama ayahnya. Namun, Keenan merasa jiwanya lebih bebas dan logis dalam memandang dunia melalui kacamata yang diajarkan maminya.
Meskipun Keenan bukan seorang Muslim, ia dibesarkan dengan nilai-nilai Islam yang sangat keras dari ayahnya. Itulah sebabnya ia memiliki kontrol diri yang luar biasa. Ia tidak menyentuh alkohol secara berlebihan, ia tidak pernah mempermainkan wanita, dan ia memiliki kode etik yang sangat kaku tentang kehormatan.
"Dia berhijab di dalam hatinya," bisik Keenan saat mobilnya berhenti di lampu merah Broadway.
Keenan teringat pada Alana Richard. Siapa yang tidak kenal Alana? Model Muslimah paling ikonik di dunia. Keenan baru saja menyadari bahwa Audrey adalah putri dari wanita hebat itu. Ia bisa membayangkan tekanan yang dialami Audrey. Tumbuh sebagai putri seorang ikon hijab namun memilih untuk melepasnya, pastilah sebuah pemberontakan yang melelahkan.
Namun, yang membuat Keenan terkesan adalah bagaimana nilai-nilai itu tidak hilang. Rafael menyebutnya kuno, tapi bagi Keenan, Audrey adalah sosok yang memiliki kelas. Di mata Keenan, kesucian yang dipertahankan di tengah godaan sebesar New York adalah bentuk kekuatan mental yang paling tinggi.
Keenan memarkir mobilnya dan kembali masuk ke apartemennya yang kini terasa sangat luas dan sunyi. Sisa aroma parfum Audrey masih tertinggal tipis di ruang tamu. Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit.
Ia mengambil ponselnya, menatap kontak Rafael yang masih tersimpan di sana. Dengan satu gerakan cepat, ia memblokir nomor Rafael. Ia tidak butuh teman yang tidak tahu cara menghargai wanita dan menghormati batasan prinsip orang lain.
Pikiran Keenan kembali pada pilihan hidupnya sendiri. Ia teringat wajah ayahnya yang kecewa namun tetap memeluknya saat ia berkata tidak akan menjadi Muslim. Ayahnya hanya berpesan satu hal saat itu, "Keenan, apa pun jalan yang kau pilih, jangan pernah kehilangan rasa hormatmu pada Tuhan dan pada wanita. Karena dari sanalah martabat seorang pria diuji."
Malam ini, Keenan merasa ia baru saja lulus ujian yang diberikan ayahnya. Ia telah melindungi seorang gadis Muslim dari kehancuran, meskipun ia sendiri tidak lagi berdiri di atas sajadah yang sama.
Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh di hati Keenan. Audrey adalah sebuah paradoks. Gadis itu adalah lambang kebebasan New York namun memiliki hati yang masih terkunci oleh nilai-nama Tuhan.
"Universitas New York akan menjadi tempat yang menarik semester depan," gumam Keenan dengan senyum tipis.
Ia membayangkan pertemuan mereka di kampus nanti. Audrey pasti akan datang sebagai mahasiswi baru yang menjadi pusat perhatian, dan Keenan akan ada di sana sebagai senior yang memegang rahasia malam ini. Ia bertanya-tanya, apakah Audrey akan tetap membenci aturan rumahnya, atau apakah kejadian dengan Rafael akan membuatnya sadar bahwa terkadang aturan yang ia benci itulah yang menyelamatkannya.
Keenan mematikan lampu apartemennya. Di tengah kegelapan, ia merasa memiliki koneksi aneh dengan Audrey. Mereka sama-sama anak dari dua dunia yang berbeda. Bedanya, Audrey sedang berusaha lari dari akarnya, sementara Keenan sudah memilih jalannya namun tetap membawa rasa hormat pada akar tersebut.
New York tidak pernah tidur, dan malam ini, di dua tempat berbeda, dua jiwa sedang merenungkan hal yang sama. Audrey di kamarnya yang mewah sedang memeluk jaket Keenan, sementara Keenan di apartemennya sedang memikirkan makna sebuah sumpah.
Keenan tahu, langkahnya mengantar Audrey pulang bukan sekadar tindakan heroik sesaat. Itu adalah pembuka dari sebuah cerita panjang. Ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang bisa bersumpah demi Tuhan di saat pakaiannya menceritakan hal yang berbeda.
Bagi Keenan, Audrey bukan hanya sekadar mantan Rafael lagi. Dia adalah teka-teki paling indah yang pernah ia temui di Manhattan. Dan bagi seorang Keenan Atharrazka yang terbiasa hidup dalam logika, Audrey adalah sebuah variabel yang tidak terduga, yang mungkin akan mengubah ritme hidupnya yang selama ini kaku dan dingin.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
siap2....
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku