NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit yang menyimpan janji seson 2

Pagi datang perlahan, menyingkap embun yang menempel di daun flamboyan.

Alya membuka jendela dapur, membiarkan udara segar masuk ke dalam rumah.

Dari luar, terdengar suara tawa anak-anak tetangga yang bermain di taman — taman mereka yang kini tumbuh indah dan menjadi tempat banyak hati singgah.

“Selamat pagi, dunia,” bisiknya pelan sambil tersenyum.

Raka masuk dari pintu belakang, membawa keranjang berisi sayuran segar.

“Aku ketemu Bu Rini di pasar, dia nitip salam. Katanya, bunga kenanganya udah tumbuh tinggi banget.”

Alya menoleh, menatap suaminya yang masih mengenakan jaket hitam tipis. “Lihat, kan? Taman kita ternyata nular sampai rumah orang lain.”

Raka meletakkan keranjang di meja. “Cinta yang dirawat nggak bisa diem, Ly. Dia selalu nyari tempat buat tumbuh.”

Alya tersenyum, lalu memeluk Raka dari belakang. “Kamu tahu nggak, kadang aku mikir taman kita ini bukan cuma tempat tumbuh bunga, tapi juga kenangan.”

Raka menatap ke luar jendela. “Dan janji.”

Alya menatapnya bingung. “Janji?”

“Janji buat nggak pernah berhenti tumbuh, bahkan kalau dunia di luar berubah,” katanya pelan.

Alya terdiam, memandangi wajah Raka yang kini terlihat lebih dewasa, lebih tenang.

Mereka berdua tidak lagi bicara soal cinta seperti dulu — kini mereka menjalani cinta itu setiap hari, dalam bentuk paling sederhana: memasak bersama, menyiram bunga, dan saling mendengarkan dalam diam.

Sore itu, mereka duduk di bangku taman dengan secangkir teh di tangan.

Langit mulai berwarna jingga, dan angin lembut membawa aroma kenanga yang sedang mekar.

Beberapa anak kecil berlari-lari di halaman, tertawa riang sambil memegang pot bunga kecil yang mereka rawat sendiri.

Raka memperhatikan mereka, lalu berkata pelan, “Aku suka lihat mereka lari di taman kita. Rasanya kayak dunia nggak punya beban.”

Alya menatap anak-anak itu dengan senyum hangat. “Mereka nggak tahu, taman ini dulu pernah hampir mati.”

“Dan itu bagus,” jawab Raka. “Biar mereka nggak perlu tahu rasa takutnya kehilangan, tapi tetap bisa belajar artinya merawat.”

Alya diam, menatap langit yang perlahan berubah warna. “Rak, aku kadang mikir… apa cinta kayak taman ini juga butuh orang lain buat terus hidup?”

Raka menatapnya. “Maksud kamu?”

“Dulu taman ini cuma buat kita berdua. Tapi waktu kita buka buat orang lain, aku ngerasa taman ini malah makin hidup.

Mungkin cinta juga gitu — dia tumbuh makin besar kalau dibagi.”

Raka mengangguk pelan, matanya teduh. “Iya. Karena cinta yang cuma disimpan, lama-lama layu. Tapi cinta yang dikasih ke orang lain, malah terus tumbuh.”

Angin sore berembus. Daun flamboyan bergoyang perlahan, dan satu helai jatuh ke pangkuan Alya.

Dia mengambilnya, menatap warna merah-oranye yang begitu cerah di bawah cahaya senja.

“Kayak daun ini,” katanya pelan. “Dia jatuh bukan karena lemah, tapi karena udah selesai dengan tugasnya.”

Raka menatap daun itu, lalu menggenggam tangan Alya. “Dan dari daun yang jatuh, nanti tumbuh daun baru. Sama kayak cinta kita — selalu punya cara buat lahir lagi.”

Mereka terdiam lama, menikmati suasana sore yang damai.

Langit di atas mereka tampak luas dan tenang — seolah ikut mendengarkan percakapan kecil itu, dan menyimpannya dalam cahaya lembutnya.

Beberapa hari kemudian, sekolah tempat Alya mengajar mengadakan acara syukuran akhir tahun.

Dia diminta menjadi pembicara lagi — kali ini bukan hanya tentang taman, tapi tentang arti janji.

Malam sebelum acara, Alya menulis sesuatu di buku catatannya.

“Janji bukan cuma kata yang diucapkan di awal, tapi keputusan yang terus diperbarui setiap hari.

Janji adalah cinta yang memilih untuk tetap tinggal, bahkan saat dunia berubah warna.”

Dia menutup buku itu, lalu menatap taman di luar jendela.

Raka sedang menata batu di sekitar akar flamboyan, wajahnya serius tapi damai.

“Rak,” panggilnya pelan.

Raka menoleh. “Ya?”

“Kalau suatu hari nanti kita nggak bisa lagi ngerawat taman ini, kamu janji nggak bakal biarin dia mati?”

Raka tersenyum kecil. “Nggak akan. Karena aku tahu, selama aku inget kamu, taman ini nggak akan mati.”

Alya tersenyum, lalu menatap langit di atas. “Langit malam ini cerah banget.”

Raka mendongak. “Langit memang selalu cerah buat orang yang punya cinta.”

Keesokan paginya, acara di sekolah berlangsung di aula yang penuh bunga.

Alya berdiri di depan murid-murid dan guru-guru, sementara di barisan belakang, Raka duduk diam sambil memotret dari kejauhan.

“Dulu saya pikir, janji itu sesuatu yang rapuh,” kata Alya di depan mikrofon. “Karena janji bisa dilanggar. Tapi sekarang saya tahu, janji yang berasal dari hati nggak akan mudah hilang.”

Dia berhenti sejenak, menatap wajah-wajah muda di hadapannya.

“Janji bisa aja nggak diucapkan. Tapi dia hidup lewat tindakan kecil — seperti menyiram bunga, mendengarkan orang lain, atau tetap berusaha meski nggak dilihat siapa pun.”

Suasana ruangan hening.

Beberapa murid terlihat terharu, beberapa guru mengangguk perlahan.

Alya menatap ke arah belakang ruangan, ke Raka yang sedang tersenyum lembut sambil menggenggam ponselnya.

Matanya bertemu dengan matanya.

Dan dalam pandangan itu, ada janji yang tak perlu diucapkan lagi.

Setelah acara selesai, mereka berjalan berdua di halaman sekolah.

Langit sore begitu indah — biru muda di sisi barat berubah perlahan menjadi jingga keemasan.

Alya berhenti di tengah lapangan, menatap ke atas.

“Langit hari ini kayaknya beda, ya,” katanya pelan.

Raka menatap arah yang sama. “Bukan langitnya yang beda, Ly. Tapi kita yang udah berubah.”

Alya tersenyum. “Dulu waktu aku lihat langit, aku sering berdoa supaya cinta kita kuat.

Sekarang, aku cuma berdoa supaya kita selalu bersyukur.”

Raka mengangguk, lalu menggenggam tangan Alya. “Langit itu luas, Ly. Tapi aku rasa cinta kita nggak kalah luasnya.”

Alya menatap wajahnya, lalu berbisik, “Kalau gitu, kita titipkan cinta kita ke langit, ya.

Biar dia yang jaga kalau nanti kita lupa.”

Raka tersenyum hangat. “Langit nggak akan lupa, Ly. Dia udah nyimpan semua janji kita dari dulu.”

Dan di bawah langit yang berwarna emas, mereka berdiri lama, saling menggenggam tangan tanpa perlu kata apa pun.

Karena di antara sinar sore dan bayangan yang jatuh ke tanah, cinta mereka sudah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar perasaan —

ia telah menjadi bagian dari alam, dari waktu, dan dari langit itu sendiri.

Hari-hari setelah acara sekolah terasa begitu damai.

Langit pagi di atas rumah Alya dan Raka seolah selalu lebih biru, dan udara membawa aroma kenanga dari taman belakang.

Tiap kali Alya membuka jendela, burung-burung kecil sudah berkicau di cabang flamboyan, seolah ikut menyapa dengan ceria.

Raka sedang di taman pagi itu, mengenakan kemeja putih dengan tangan sedikit berlumur tanah.

Dia menanam bibit baru di area yang dulu kosong di pojok taman.

Alya keluar sambil membawa air minum. “Kamu tanam apa lagi kali ini?”

“Lili putih,” jawab Raka tanpa menoleh. “Katanya, lili itu lambang kesetiaan dan ketulusan.”

Alya duduk di bangku kayu, memperhatikannya. “Kamu tahu nggak, setiap kali kamu nanam bunga baru, aku ngerasa taman kita kayak hidup lagi dari awal.”

Raka tersenyum kecil. “Emang gitu tujuannya. Biar setiap hari kita punya alasan buat mulai lagi.”

Alya menatapnya lama. “Mulai lagi?”

“Iya,” katanya sambil menepuk tanah di sekitar tanaman itu. “Cinta nggak bisa bertahan kalau nggak mulai lagi setiap hari.

Makanya aku tanam sesuatu yang baru, biar kita selalu inget: cinta itu tumbuh, bukan tinggal diam.”

Alya terdiam sebentar, lalu mendekat dan berjongkok di sebelahnya.

“Tapi kamu nggak capek, Rak? Setiap hari harus ngerawat, nyiram, bersihin daun yang kering…”

Raka menatap matanya lembut. “Capek, iya. Tapi kalau aku berhenti, nanti taman ini mati.

Dan aku nggak mau cinta kita kayak taman yang berhenti disiram.”

Kata-kata itu membuat dada Alya hangat.

Dia menatap lili kecil itu yang baru saja ditanam — masih basah oleh air, tapi berdiri tegak di tanah lembut.

“Aku juga nggak mau, Rak. Makanya mulai sekarang, kalau kamu capek, biar aku yang nyiram.”

Raka tersenyum. “Kesepakatan diterima.”

Mereka saling berpandangan, lalu tertawa kecil.

Langit di atas mereka berwarna biru muda, dan awan bergerak perlahan seperti lukisan yang hidup.

Siang itu, Alya duduk di ruang tamu sambil menulis jurnal.

Sudah jadi kebiasaannya — menulis tentang hari-hari kecil yang kadang tampak biasa, tapi menyimpan arti besar.

Hari ini, ia menulis satu kalimat:

“Janji bukan tentang kata-kata di awal, tapi tentang tindakan kecil yang dijaga setiap hari.”

Dia berhenti sejenak, memandangi halaman itu, lalu menatap ke luar jendela.

Raka sedang berbicara dengan anak-anak tetangga di taman.

Anak-anak itu membawa pot bunga kecil dan meminta Raka membantu mereka menanam.

“Boleh nggak, Om, aku tanam bunga matahari di sini?” tanya salah satu anak kecil berambut kuncir dua.

“Boleh banget,” jawab Raka sambil tersenyum. “Tapi kamu harus janji buat nyiram tiap sore, ya.”

Anak kecil itu mengangguk mantap. “Janji, Om!”

Alya tersenyum sendiri melihat pemandangan itu.

Dia sadar, tanpa disadari, mereka berdua sudah menanam banyak “janji kecil” di taman ini — bukan cuma antara mereka berdua, tapi juga antara taman dan setiap orang yang datang ke dalamnya.

Sore menjelang.

Langit mulai berubah warna menjadi oranye keemasan.

Alya membawa dua cangkir teh jahe keluar ke taman.

Raka duduk di kursi kayu, memperhatikan bunga-bunga yang bergoyang lembut diterpa angin sore.

“Minum dulu,” kata Alya sambil menyerahkan teh.

Raka menerimanya. “Makasih, Ly. Aku kayaknya bisa duduk di sini seharian.”

Alya tersenyum. “Kayak nggak pernah bosen, ya, ngeliatin taman ini?”

“Bosen? Justru ini tempat paling hidup yang aku tahu.”

Alya menatap ke arah langit yang kini bergradasi jingga dan biru. “Rak, kamu sadar nggak, setiap sore langit berubah tapi tetap indah?”

Raka mengangguk pelan. “Itu karena langit nggak berusaha jadi sama setiap hari. Dia tahu keindahan datang dari perubahan.”

Alya terdiam. “Aku rasa cinta juga gitu.”

Raka menatapnya. “Kamu bener. Cinta yang mau berubah bareng waktu — itu yang bertahan.”

Angin sore meniup lembut rambut Alya.

Dia memejamkan mata, menikmati ketenangan yang menyelimuti mereka.

“Kadang aku takut, Rak… kalau suatu hari nanti kita nggak sekuat ini lagi.”

Raka meletakkan cangkirnya, lalu menggenggam tangannya. “Kita nggak harus selalu kuat, Ly.

Yang penting kita nggak berhenti berpegangan.”

Alya membuka mata, menatap wajahnya yang begitu dekat. “Janji?”

“Janji,” jawabnya, dengan suara lembut tapi pasti.

Beberapa hari kemudian, taman mereka kembali ramai.

Bukan karena acara besar, tapi karena anak-anak datang untuk melihat bunga matahari yang mulai tumbuh.

Alya mengajarkan mereka cara menyiram yang benar, sementara Raka membantu memperbaiki pagar kecil yang rusak.

Salah satu anak bertanya polos, “Om Raka, kenapa sih bunga harus disiram tiap hari?”

Raka tersenyum, menatap wajah kecil itu. “Karena bunga bisa haus, sama kayak hati.

Kalau nggak dikasih perhatian, dia bisa layu.”

Anak itu mengangguk pelan. “Berarti hati juga harus disiram, ya, Om?”

Raka menatap Alya sebentar, lalu menjawab, “Iya. Dan siramannya itu namanya kasih sayang.”

Anak-anak itu tersenyum, lalu berlari ke arah pot mereka masing-masing.

Alya memandangi mereka, hatinya penuh haru.

Tanpa sadar, dia menggenggam tangan Raka dan berkata pelan, “Kamu sadar nggak, Rak… taman ini udah ngajarin banyak hal, bahkan ke anak-anak?”

Raka mengangguk. “Aku sadar.

Dan aku seneng, karena itu artinya cinta kita nggak cuma buat kita.”

Mereka berdua berdiri berdampingan di tengah taman yang kini penuh tawa anak-anak.

Langit di atas mereka tampak indah — awan membentuk pola seperti sayap, dan cahaya matahari sore memantul lembut di bunga-bunga yang bermekaran.

Alya berbisik, “Rak, kalau suatu hari aku nggak ada, kamu janji nggak bakal biarin taman ini sepi?”

Raka menatapnya pelan. “Kamu ngomong apa sih, Ly…”

“Aku cuma pengen tahu,” katanya, tersenyum kecil. “Janji, ya?”

Raka mengangguk, lalu mencium punggung tangannya. “Aku janji. Tapi kamu juga harus janji…”

“Janji apa?”

“Kalau aku yang pergi duluan, kamu harus terus nyiram taman ini.

Karena setiap tetes air dari tangan kamu, itu artinya aku masih di sini.”

Alya menatap matanya, air bening menggenang di pelupuk. “Aku janji.”

Mereka saling berpelukan di bawah langit yang kini mulai berwarna ungu lembut.

Dan di momen itu, seolah seluruh alam ikut menahan napas — menjaga janji dua hati yang menanam cinta mereka di bawah langit yang sama.

Malam datang perlahan.

Lampu taman menyala, memantulkan cahaya ke daun-daun basah.

Raka duduk di teras, memainkan gitar kecil yang sudah lama tak tersentuh.

Alya keluar membawa selimut, duduk di sebelahnya.

“Aku udah lupa kamu bisa main gitar,” katanya pelan.

Raka tersenyum. “Aku juga hampir lupa. Tapi malam ini, aku pengen nyanyiin sesuatu.”

Dia memetik senar perlahan, lalu bernyanyi pelan — lagu lama yang dulu sering mereka dengar waktu masih SMA.

Suara Raka lembut, sedikit parau, tapi penuh rasa.

Alya menutup mata, membiarkan suaranya mengalun bersama angin malam.

Ketika lagu berakhir, dia membuka mata dan berbisik, “Aku nggak tahu kenapa, tapi setiap kali kamu nyanyi, aku ngerasa dunia berhenti sebentar.”

Raka menatapnya. “Mungkin karena cinta memang bikin waktu berhenti.”

Mereka tertawa kecil.

Langit malam penuh bintang, dan di antara bintang-bintang itu, satu bintang jatuh perlahan.

Alya menatapnya cepat-cepat. “Aku sempat liat! Katanya kalau ada bintang jatuh, kita bisa minta satu permintaan.”

Raka menatapnya. “Kamu mau minta apa?”

Alya tersenyum lembut. “Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma pengen kayak langit malam ini — penuh cahaya, tapi tetap tenang.”

Raka mengangguk pelan. “Kalau gitu, biar aku jadi langitnya.”

Alya menatapnya lama. “Dan aku jadi cahayanya.”

Mereka saling tersenyum, lalu kembali menatap langit.

Malam terasa panjang, tapi damai.

Dan di antara cahaya bintang yang berkelip, mereka tahu — janji mereka kini telah menjadi bagian dari langit itu sendiri.

Sudah seminggu sejak malam penuh bintang itu.

Hari-hari Alya dan Raka kembali berjalan seperti biasa — tenang, sederhana, tapi penuh makna.

Setiap pagi, mereka menyiram taman bersama. Setiap sore, mereka duduk berdua di bangku kayu, berbagi cerita kecil tentang hidup.

Tapi entah kenapa, pagi itu terasa sedikit berbeda.

Langit tampak lebih cerah dari biasanya, seolah membawa pesan yang tak bisa dijelaskan.

Alya menatapnya lama dari jendela, lalu memanggil pelan, “Rak?”

Raka muncul dari dapur dengan celemek masih terikat di pinggang. “Hm?”

“Kamu pernah ngerasa nggak, kayak ada sesuatu yang pengen langit bilang?”

Raka menatapnya, tersenyum samar. “Mungkin langit cuma pengen kita lihat dia, bukan cuma lewat.”

Alya tertawa kecil. “Kamu dan filosofimu yang nggak pernah habis.”

Dia berjalan ke arah taman. Embun masih menempel di daun, dan angin pagi berhembus lembut membawa aroma kenanga.

Alya menunduk, menyentuh tanah di sekitar flamboyan yang semakin kokoh.

“Pohon ini tumbuh lebih tinggi dari dulu,” katanya. “Akar dan cabangnya kayak ngerti kalau dia disayang.”

Raka berdiri di sampingnya. “Dia ngerti, Ly. Karena cinta nggak pernah berhenti bergetar, bahkan di hal yang nggak kita sadari.”

Alya menatapnya. “Kamu sadar nggak, taman ini udah jadi saksi semua janji kita dari awal?”

Raka mengangguk pelan. “Aku sadar. Makanya aku nggak mau janji kita berhenti di sini.”

Alya tersenyum lembut. “Kamu mau janji apa lagi kali ini?”

Dia menatap langit yang perlahan berubah warna. “Aku mau janji bukan buat masa depan, tapi buat setiap hari.

Aku janji buat terus memilih kamu — di pagi yang sibuk, di sore yang sepi, bahkan di malam yang nggak kita tahu apa yang akan datang.”

Alya terdiam. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya tidak hilang.

Dia membalas, suaranya lembut, nyaris seperti bisikan,

“Aku juga janji, Rak. Aku janji bakal terus menanam cinta, meski suatu hari nanti kita nggak bisa lagi nyiram bareng.”

Raka menatapnya, lalu menggenggam tangannya kuat-kuat.

Langit di atas mereka semakin terang, seperti ikut menjadi saksi janji yang diucapkan dengan seluruh hati.

Hari-hari berlalu.

Musim hujan datang lagi, tapi kali ini hujan terasa seperti teman lama yang menyapa dengan lembut.

Setiap kali hujan turun, Alya membuka pintu belakang, membiarkan udara basah masuk, dan berdiri di ambang pintu sambil menatap taman yang berkilau diterpa air.

Suatu sore, Raka memanggilnya dari ruang tamu.

“Ly, sini deh sebentar.”

Alya menghampiri, masih memakai celemek. “Kenapa?”

Raka menatapnya dengan mata berbinar. “Aku dapet surat dari dinas kota. Taman kita terpilih jadi Taman Inspiratif Warga tahun ini.”

Alya membeku. “Serius?”

Raka mengangguk. “Mereka bilang taman ini banyak bantu warga buat belajar cinta dan ketulusan.

Mereka mau datang minggu depan buat liputan.”

Alya menutup mulutnya, tak kuasa menahan senyum dan haru yang bercampur jadi satu. “Aku… aku nggak tahu harus ngomong apa, Rak.”

Raka mendekat, menatap matanya dengan lembut. “Cukup bilang terima kasih sama Tuhan, sama hujan, sama semua yang pernah kita rawat.”

Alya mengangguk, lalu memeluknya erat.

Di dadanya, Raka bisa merasakan degup hati yang dulu sering berlari karena takut kehilangan — kini berdegup tenang karena tahu ia sudah sampai di rumah.

Seminggu kemudian, wartawan dan warga datang ke rumah mereka.

Taman itu terlihat begitu indah sore itu — lavender berbaris rapi, flamboyan menjulang dengan daun yang bergoyang lembut, dan bunga-bunga kecil menebarkan wangi yang menenangkan.

Seorang wartawan muda bertanya, “Bu Alya, Pak Raka, apa rahasia taman ini bisa jadi seindah ini?”

Alya tersenyum, menatap Raka sebentar, lalu menjawab, “Rahasia kami sederhana: kami nggak pernah berhenti mencintai.

Bukan cuma taman ini, tapi juga satu sama lain.”

Raka menambahkan, “Taman ini cuma cermin dari hati yang dirawat dengan sabar.

Kalau cinta disiram tiap hari, dia nggak akan mati, meski musim berubah.”

Semua orang tersenyum.

Beberapa mencatat, beberapa hanya menatap dengan kagum.

Tapi bagi Alya dan Raka, hari itu bukan tentang penghargaan — hari itu adalah tentang janji mereka yang akhirnya tumbuh menjadi sesuatu yang hidup di luar diri mereka sendiri.

Malamnya, setelah semua tamu pulang, mereka duduk di taman dengan lilin kecil menyala di atas meja.

Langit malam begitu bersih, penuh bintang seperti lautan cahaya.

Alya menatap ke atas, lalu berkata pelan,

“Rak, kamu tahu nggak, aku kadang masih nggak percaya semua ini nyata.

Dulu aku pikir cinta cuma buat orang muda, yang penuh janji-janji manis. Tapi ternyata, cinta juga bisa tenang, dan tetap indah bahkan setelah bertahun-tahun.”

Raka menatapnya lembut. “Cinta nggak hilang waktu kita dewasa, Ly. Dia cuma berubah bentuk — dari kata jadi tindakan, dari janji jadi kebiasaan, dari mimpi jadi kenyataan.”

Alya tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahunya. “Dan kamu tahu apa yang paling aku syukuri?”

“Apa?”

“Kita nggak cuma janji untuk bahagia. Kita janji buat tetap tumbuh, bareng-bareng.”

Raka mengangguk. “Itu janji yang paling indah, Ly.”

Angin malam berembus pelan.

Lilin di meja bergoyang, cahayanya menari di antara wajah mereka.

Raka menatap langit, lalu berbisik,

“Kamu lihat bintang di sana? Yang paling terang itu?”

Alya menatap ke arah yang sama. “Iya, kenapa?”

“Mulai sekarang, setiap kali kamu lihat bintang itu, anggap aja itu janji kita.

Janji yang disimpan langit buat kita, biar nggak hilang walau waktu terus jalan.”

Alya tersenyum, air matanya menetes pelan.

“Kalau gitu, aku nggak akan pernah takut malam datang lagi.”

Raka menggenggam tangannya lebih erat. “Nggak perlu takut. Selama masih ada langit di atas kita, janji kita nggak akan pernah hilang.”

Mereka terdiam lama, menikmati suara malam, aroma bunga, dan cahaya bintang yang memantul di mata mereka.

Dan di bawah langit yang begitu luas dan lembut, dua hati itu akhirnya tahu —

cinta sejati bukan tentang janji yang diucapkan sekali, tapi tentang janji yang dijaga selamanya.

Keesokan harinya, Alya menulis satu kalimat terakhir di buku catatannya.

Tulisannya rapi, sederhana, tapi penuh makna:

“Kami tidak meminta cinta yang abadi.

Kami hanya berjanji untuk terus menyirami cinta itu, sampai waktu sendiri berhenti menetes.”

Dia menutup buku itu, lalu menatap taman yang kini penuh warna.

Flamboyan bergoyang lembut di bawah cahaya pagi, dan langit di atasnya tampak biru tanpa batas.

Raka datang dari belakang, memeluknya pelan.

“Lagi nulis?” tanyanya.

Alya mengangguk. “Iya. Tapi aku rasa buku ini udah selesai.”

Raka menatapnya, lalu bertanya lembut, “Kalau buku ini selesai, artinya cerita kita juga selesai?”

Alya menatapnya dengan senyum yang menenangkan.

“Nggak, Rak. Cerita kita nggak akan pernah selesai.

Dia cuma berpindah tempat — dari kertas ke langit.”

Raka terdiam, lalu tersenyum. “Dan langit bakal terus nyimpan janji kita, ya?”

Alya menatap ke atas. “Iya, Rak. Selamanya.”

Langit pagi itu seolah ikut tersenyum.

Dan di bawah sinarnya yang hangat, taman mereka berkilau — hidup, damai, dan abadi dalam kenangan.

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!