NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Malam di Surabaya terasa lebih sunyi dari biasanya ketika lampu-lampu kota mulai meredup, menyisakan sorotan kuning dari gedung-gedung tinggi. Penthouse Mahardika—yang tadi ramai oleh suara gelas kristal dan tawa sopan—kini hanya menyisakan keheningan mahal yang menggantung di udara.

Begitu pintu utama menutup setelah keluarga Adytama pulang, suasana rumah kembali jatuh pada ritme aslinya: tenang, luas, dan sedikit terlalu sepi bagi seseorang yang tinggal sendirian di lantai atas.

Raditya muncul dari arah lorong, melepaskan jaket hitamnya sembari menghela napas panjang. Kaos gelap yang melekat di tubuh atletisnya tampak kontras dengan interior rumah yang serba putih. Ia baru saja kembali dari lantai bawah—tempat ia bersembunyi saat makan malam berlangsung.

Mami Dela yang duduk anggun di sofa velvet biru laut langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki putranya.

“Kamu akhirnya keluar juga,” ucapnya lembut, menepuk sofa di sampingnya. “Sini, duduk dulu.”

Papi Rivaldo yang sedang membaca berkas perjanjian kerja sama meletakkan kacamatanya.

“Papi pikir kamu nggak akan muncul malam ini.”

Raditya tersenyum tipis dan duduk di hadapan mereka. “Mereka sudah pulang, kan?”

“Baru saja,” jawab Mami Dela. “Sekarang ceritakan. Kamu lihat sendiri bagaimana anak-anak keluarga Adytama itu. Bagaimana pendapatmu tentang Bianca? Calonmu itu.”

Raditya tidak langsung menjawab. Ia meneguk kopi hitam yang tersisa di meja lalu baru bicara.

“Bianca… cantik,” katanya jujur. “Modis. Elegan. Dan, yah… seperti perempuan seusianya yang masih dua puluh tahun.”

“Ada ketertarikan?” tanya Mami Dela, tajam namun penuh harap.

Raditya pelan menggeleng. “Aku belum bisa memutuskan apa pun, Mi. Aku cuma lihat tampilan luarnya, belum lihat tampilan dalamnya. Belum tahu siapa dia sebenarnya.”

Papi Rivaldo mengangguk lambat, memahami lebih dalam daripada sang istri. “Papi mengerti. Cantik itu bonus, bukan inti.”

Raditya mencondongkan tubuhnya sedikit. Ada ketegasan di matanya. “Dan bukan bermaksud merendahkan siapa pun, tapi kalau dipikir pakai logika, siapa sih yang nggak mau masuk ke dalam kehidupan keluarga Mahardika? Semua orang pasti akan memberikan kesan terbaiknya saat pertama kali bertemu kita. Semua orang pasti menunjukkan sisi paling bagusnya.”

Mami Dela tertawa kecil, suara yang elegan namun penuh makna. “Kamu ini. Tapi Mami setuju. Jangan terburu-buru memutuskan. Lihat dulu apakah dia benar-benar cocok. Dan kalau memang tidak ada yang cocok, itu tidak apa-apa. Kerja sama antara keluarga tetap berjalan.”

“Setuju.” Raditya mengangguk pelan.

Untuk beberapa detik mereka hanya diam. Ada sesuatu di udara—bukan canggung, tapi lebih seperti… sesuatu yang tertunda.

Lalu Papi Rivaldo bersandar dan menatap putranya lebih lekat. “Tadi saat makan malam,” ucapnya sambil menunjuk meja seolah adegannya masih terbayang jelas, “daripada Bianca yang ditawarkan untuk dijodohkan, kenapa justru Papi merasa lebih cocok dengan Kirana? Putri sulung Pak Haris itu.”

Mami Dela menoleh cepat. “Kirana?”

“Ya,” jawab Papi. “Penampilannya memang sederhana. Tapi ada sesuatu yang menarik. Entah apa… Papi pun tidak yakin. Senyumnya, mungkin. Atau cara dia bicara. Seperti ada ketenangan.”

Raditya tertawa kecil, seperti baru mendengar seseorang mengucapkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan diam-diam.

“Aku setuju,” katanya jujur. “Justru Kirana itu yang bikin aku penasaran. Sederhana, tapi… ada ‘sesuatu’ yang bikin pengen tahu lebih banyak.”

“Sesuatu apa?” Mami Dela langsung bertanya.

Raditya bersandar, menatap langit-langit seolah kata-kata susah ditangkap. “Aura. Atau mungkin cara dia memandang orang. Matanya tenang, tapi seperti menyimpan banyak beban. Tadi saat dia duduk, cara dia menjawab pertanyaan Mami—ada wibawa halus yang tidak dibuat-buat. Dewasa. Rendah hati, tapi bukan orang yang bisa diremehkan.”

Papi tersenyum lebar. “Itu yang Papi maksud.”

Mami Dela memandang keduanya dengan ekspresi campuran antara terkejut dan terkesan.

“Tapi Kirana bukan calon yang ditawarkan,” gumam Mami Dela, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Justru Bianca yang didorong orang tuanya…”

“Justru itu,” jawab Raditya. “Bianca terlalu… jelas menunjukkan tujuannya.”

“Ambisius?” tebak Mami.

“Ambisi itu bagus,” kata Raditya setengah bercanda. “Tapi kalau ambisinya terlihat banget sampai menutupi karakter lain, itu jadi kurang menarik.”

Papi Rivaldo tertawa pelan. “Katamu tadi semua orang pasti menampilkan sisi terbaiknya.”

“Iya,” Raditya membalas tawa itu. “Makanya aku tidak mau menilai dari satu malam saja.”

Mami Dela lalu memberi tatapan khas seorang ibu yang mengenal putranya lebih dari siapa pun. “Jadi… apa yang kamu rencanakan?”

Raditya merapikan posisi duduknya. Tatapannya tajam.

“Besok aku mulai bekerja di rumah mereka sebagai Rio. Supir baru.”

Mami Dela mengangkat alis. “Kamu serius dengan penyamaran itu?”

“Sangat,” jawab Raditya tegas. “Kalau aku ingin tahu siapa yang benar-benar tulus, aku harus turun langsung. Aku harus lihat bagaimana dua kakak-adik itu memperlakukan orang biasa. Bukan pewaris Mahardika.”

Papi Rivaldo menepuk meja, puas. “Itu yang Papi suka dari kamu. Cara berpikir yang tidak mudah dipengaruhi.”

Raditya tersenyum, lalu berdiri. “Besok akan menarik.”

Mami Dela ingin bertanya lebih panjang, tetapi langkah kaki putranya yang menuju balkon membuatnya mengurungkan niat. Ia hanya menatap dari jauh—putranya itu tampak tinggi, kuat, sekaligus sendirian dengan segala beban yang ia pikul.

**

Di balkon, angin Surabaya yang lembab menerpa wajah Raditya. Dari atas sini, kota terlihat seperti miniatur kehidupan—ramai, sibuk, tapi semuanya tampak kecil.

Tadi saat makan malam, ia memang tidak hadir sebagai dirinya. Tapi ia melihat semuanya dari balik pilar rumahnya. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik keluarga itu. Setiap ekspresi.

Bianca yang terlalu berusaha terlihat sempurna. Kirana yang justru tidak berusaha apa pun, tapi memancarkan sesuatu yang membuat mata sulit terlepas.

“Aku ingin tahu kamu, Kirana…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar, seolah hanya angin yang menjadi saksi.

Lalu, ia kembali ke dalam rumah. Membiarkan malam menutup halaman awal dari kisah besar yang baru akan dimulai.

**

Keesokan paginya, rumah keluarga Adytama mulai ramai. Tapi bukan karena suara Kirana—karena perempuan itu bahkan sebelum matahari naik sudah pergi ke Kafe Teras Senja untuk membuka toko. Aroma kopi adalah rutinitas paginya.

Justru Bianca yang paling berisik.

Mama Reva mengetuk pintu kamar Bianca. “Bianca, supir baru sudah datang. Kamu harus berangkat kuliah.”

“Bentar, Ma!” teriak Bianca sambil memilih tas mana yang cocok dengan outfit hari ini.

Ayah Haris yang sedang membaca koran di ruang makan hanya geleng-geleng. “Anakmu itu kalau dandan bisa bikin Surabaya pindah ke Jakarta, Reva.”

Mama Reva tertawa sambil menuruni tangga. “Namanya juga anak perempuan.”

Suasana rumah seperti biasa—ramai, hangat, dan sedikit kacau. Dan di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria berdiri di depan rumah dengan kaos hitam polos, celana kargo, dan jam tangan sederhana. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya bersih namun tidak mencolok, cukup membuat orang mengira ia hanya laki-laki biasa.

Dia mengetuk pintu—dan menunduk saat Bi Tuti membuka.

“Selamat pagi, Bu. Saya Rio. Supir baru.”

"Masuk, Mas Rio. Tunggu di ruang tamu." Bi Tuti menyambut ramah kedatangan Rio.

Dan di sanalah Rio—atau Raditya—duduk. Dengan ekspresi santai namun matanya awas, memperhatikan setiap detail rumah, setiap foto keluarga yang menggantung.

“Non Bianca masih siap-siap, ditunggu ya Mas Rio,” kata Bi Tuti.

Raditya tersenyum sopan. “Siap, Bu.”

Baru saja ia berdiri, Bianca turun dari tangga, mengibas rambut panjangnya, wajah full makeup, parfum mahal menguar ke seluruh ruangan.

Ia melihat pria baru itu dan langsung memicingkan mata.

“Kamu supir baru?” tanyanya dengan nada menilai.

Raditya menunduk hormat. “Iya, Non.”

Bianca mengangguk kecil. Tidak terlalu peduli.

“Bawa tas aku, ya. Hati-hati, itu limited edition.”

Raditya menahan senyum. Ini menarik. Ia mengambil tas itu—yang harganya hampir sama dengan gaji tiga bulan seorang supir.

Sambil berjalan menuju mobil, ia mendengar Bianca mengomel pelan tentang jadwal kuliahnya, panasnya cuaca Surabaya, dan betapa capeknya menjadi mahasiswi jurusan desain interior.

Raditya membuka pintu mobil dan menunggu Bianca masuk. Dan di detik itu, sesaat sebelum Bianca duduk, suara motor meliuk masuk halaman.

Raditya refleks menoleh dan dunianya seolah berhenti sebentar.

Kirana turun dari motor, rambutnya terikat sederhana, memakai kemeja coklat muda dan apron hitam bertuliskan "Teras Senja". Keringat tipis di pelipisnya membuatnya terlihat… nyata.

Bukan glamor. Bukan dibuat-buat hanya… dirinya sendiri.

Begitu Kirana melihat pria asing itu, ia menahan langkah.

“Oh, kamu supir baru? Rio, ya?” tanyanya sopan.

Raditya menahan detak jantung yang anehnya naik setengah detik.

“Iya, Non. Saya Rio.”

Kirana mengangguk. “Selamat bekerja di keluarga kami. Kalau ada yang tidak jelas, bisa tanya Bi Tuti.”

Raditya ingin tersenyum lebih lebar daripada yang seharusnya. “Baik, Non.”

Bianca turun dari mobil, memutar bola mata. “Mbak Kirana, kamu berangkat pake motor lagi? Aduh, panas banget loh hari ini. Kenapa gak nyuruh supir antar?”

Kirana tertawa kecil. “Kafe ramai. Lebih cepat pakai motor.”

“Ya udah sana, cepat. Aku telat kuliah gara-gara nunggu supir baru dateng,” keluh Bianca.

Kirana hanya tersenyum, menepuk bahu adiknya. “Jangan bawel.”

Kemudian ia pergi. Meninggalkan aroma kopi dan kesederhanaan yang entah kenapa menempel di ingatan Raditya lebih kuat dari parfum mahal mana pun.

Bianca masuk mobil dengan dramatis. “Buruan berangkat, Rio!”

Raditya duduk di kursi depan. Menghidupkan mesin dan sambil mobil bergerak keluar dari rumah keluarga Adytama, ia tersenyum tipis.

Hari pertama penyamarannya baru dimulai, tapi sesuatu dalam dirinya sudah berubah. Ia tidak hanya penasaran lagi. Ia ingin tahu lebih dalam tentang Kirana, tentang keluarganya dan tentang apa yang mungkin terjadi ketika seorang pewaris berpura-pura menjadi supir… tepat di tengah kehidupan dua bersaudara yang sangat berbeda.

***

1
Ma Em
Raditya sdh terpikat dgn pesona Kirana , Raditya lbh baik sudahi penyamaran mu dan terus terang saja bahwa kamu sdh menyukai Kirana .
shabiru Al
masa gak nyadar sama perasaan nya sendiri,, raditya sudah jatuh cinta sama kirana
Nda
novelmu luar biasa thor
merry
Kirana cinta mu dit 😄😄😄 mky kmu melakukan hal. plg gila yg blm kmu lakukan,, klien triliunann kmu abaikn demi Kirana
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
Desi Santiani
double up thor seruuu bgttt
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up trs
shabiru Al
nah lho kayaknya kirana bakalan tau siapa rio sebenarnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
bagus bgt ceritanya , doubel up thor
shabiru Al
waaahhh pertemuan apa ya,, sama siapa ya,, bianca kah ? atau kirana ?
shabiru Al
benar2 tipe perempuan yang merepotkan bianca itu
shabiru Al
jangan lama2 dong nyamar nya,, dah tau kan gimana bianca dan kirana spt apa
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: up setiap jam 8 pagi, kak 😊
total 1 replies
shabiru Al
cocok banget visualnya
shabiru Al
udah mulai condong ke kirana nih
shabiru Al
buseeett holang kaya mah bebas ya...🤭
Ma Em
Semoga yg pertama Rio adalah Raditya bkn Bianca tapi Kirana , Bianca biar dia kerja magang di perusahaan nya Raditya tanpa tau Raditya adalah Rio agar Bianca TDK cari perhatian pada Rio .
merry
tu kn gk adil msk ank dr istri pertama yg kaya tdr dikmr biasa sdgkn ank dr bini kedua hdp penuh kemewahan,,, Bpk haris jg knp diem ajj si
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!