"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Hukuman dua minggu tanpa keluar malam ternyata tidak seburuk yang Keyla bayangkan. Meskipun ia merasa seperti tawanan di rumahnya sendiri, ia justru mendapatkan sesuatu yang lebih berharga, yaitu waktu berkualitas yang nyata dengan Arlan. Tanpa mal, tanpa bioskop, dan tanpa gangguan naga kampus.
Sore itu, hujan turun dengan deras. Keyla duduk di sofa rotan teras belakang, mengenakan kaos kebesaran dan celana training. Di hadapannya, Arlan duduk dengan laptop yang terbuka di pangkuannya, namun fokusnya jelas tidak pada angka-angka saham.
"Om, fokus dong kerjanya. Katanya cuma mau numpang cek email sebentar," goda Keyla sambil menyodorkan sepiring pisang goreng hangat buatan Bi Ijah.
Arlan menutup laptopnya dengan pelan. "Bagaimana aku bisa fokus kalau ada mahasiswa yang terus-menerus menatap aku sambil makan pisang goreng?"
Keyla tertawa. "Habisnya, Om kelihatan beda kalau lagi di rumah gini. Lebih... manusiawi. Nggak kayak robot CEO yang mau makan orang."
"Hukuman ini sepertinya lebih berat untukku daripada untukmu, Keyla."
"Kok gitu?"
"Biasanya aku bisa membawamu pergi ke tempat yang tenang kalau aku merindukanmu. Sekarang? Aku harus berhadapan dengan tatapan Papamu yang setiap tiga puluh menit selalu memastikan kita tidak duduk terlalu dekat," ucap Arlan dengan nada sarkasme yang halus.
Keyla terkikik, ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, memastikan posisi mereka masih dalam batas aman dari intaian jendela ruang tengah. "Tapi Papa sekarang udah mulai suka sama Om, kan? Tadi aja Papa titip dibeliin martabak pas Om mau ke sini."
"Itu namanya suap agar aku tidak membawamu kabur," jawab Arlan.
"Om, tentang Vino... apa yang Om lakuin ke dia? Aku denger dia minta cuti kuliah mendadak."
Arlan terdiam sejenak. Ia mengelus rambut Keyla dengan gerakan lembut yang posesif. "Aku hanya memberikan dia pilihan, Keyla. Mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum atas pencemaran nama baik, atau pergi dari lingkunganmu selamanya. Dia memilih yang kedua."
"Om beneran se-berbahaya itu ya kalau lagi marah?"
"Aku tidak berbahaya bagi orang yang jujur, Keyla. Tapi bagi siapa pun yang mencoba menyakitimu atau menggunakanmu sebagai pion, aku tidak punya belas kasihan. Kamu adalah satu-satunya hal yang membuat aku tetap membumi. Jika itu terancam, tidak keberatan menjadi jahat."
"Makasih ya, udah selalu jadi tameng buat aku," bisik Keyla.
Arlan tidak menjawab . Ia merengkuh bahu Keyla, menariknya lebih erat ke dalam dekapannya.
"Dua minggu ini akan segera berakhir," ucap Arlan. "Dan setelah itu, aku ingin membawamu ke suatu tempat. Bukan untuk pesta, bukan untuk pamer. Hanya kita berdua."
"Ke mana?"
"Rahasia. Fokus saja pada ujian tengah semestermu dulu. Aku tidak mau pacarku dapet nilai jelek gara-gara sibuk mikirin hukuman."
"Ih, mulai deh sifat bosnya keluar!" Keyla mencubit pinggang Arlan, membuat pria itu tertawa kecil
Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Arlan yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Arlan meraihnya, dan seketika ekspresinya berubah menjadi sangat dingin.
Nomor Tidak Dikenal: Arlan, kamu pikir kamu sudah menang? Siska mungkin lemah, tapi dia punya kartu yang kamu lupakan. Ibumu sudah tau tentang gadis kecil ini. Dan kamu tau bagaimana pendapatnya tentang skandal usia.
Arlan mengepalkan tangannya. Keyla yang menyadari perubahan raut wajah Arlan, mulai merasa cemas. "Om? Ada masalah?"
Arlan segera mematikan layar ponselnya dan tersenyum tipis. "Bukan apa-apa. Hanya urusan kantor yang sedikit menjengkelkan."