NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.13

Jam makan siang selalu menjadi momen paling berisik di kampus ini. Bukan hanya karena suara perut mahasiswa yang bersatu dalam simfoni kelaparan, tapi juga karena kantin berubah fungsi menjadi pusat sosial dadakan. Tempat bertukar gosip, tempat curhat, tempat pamer pacar baru, dan yang paling berbahaya, tempat pertemuan tidak disengaja. Hari ini tidak terkecuali.

Jam makan siang, kantin penuh sesak seperti pasar malam. Ryn Moa mencari tempat duduk sambil memanggul tray berisi ayam saus mentega yang tampak lebih sedih daripada hidupnya. Ia benar-benar serius saat memikirkan perbandingan itu. Ayamnya dingin di pinggir, sausnya mengumpul di satu sisi seperti tidak niat, dan nasi putihnya terlalu banyak untuk selera orang yang sedang kebingungan batin. Ryn Moa melangkah pelan, matanya berkeliling, berharap menemukan satu kursi kosong yang jauh dari siapa pun yang berpotensi membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sayangnya, semesta punya agenda lain.

“Eh! Ryn!”

Suara itu datang dari arah kiri. Suara yang tidak mungkin salah. Suara yang bahkan jika dipanggil dari jarak satu kilometer, tetap terdengar seperti ajakan bermain. Suara itu ceria, terang, mengalun seperti matahari jam sembilan pagi. Ryn Moa langsung tahu siapa pemiliknya bahkan sebelum menoleh.

Hoseok atau yang dipanggil semua orang dengan “J-Hope” karena dia memang seperti harapan berjalan. Cerah, ceria, energik. Ia berdiri di dekat salah satu meja panjang, satu tangan memegang botol minum, tangan lainnya melambai dengan antusias seolah mereka sudah janjian bertemu di sini. Senyumnya lebar, matanya menyipit bahagia, dan seluruh keberadaannya seperti kontras mencolok dengan kekacauan di kepala Ryn Moa. Ia melambaikan tangan dengan senyum selebar bulan sabit.

“Kursi sini kosong!”

Ryn Moa membeku sesaat, Benar-benar membeku. Otaknya mendadak berhenti memproses informasi. Semua rencana sederhana yang ia susun, makan cepat, lalu kabur ke perpustakaan, menguap seperti uap air di atas sup panas. Tidak siap sama sekali, Ia sempat melirik ke kanan dan kiri, berharap suara itu salah alamat. Tapi J-Hope masih menatapnya, senyum itu tak berkurang sedikit pun, bahkan terlihat makin cerah saat mata mereka bertemu. Tapi langkah kaki membawanya ke sana. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya, langkah demi langkah. Tray di tangannya sedikit bergoyang, dan sebelum ia sadar, ia sudah berdiri di depan meja itu.

“Terima kasih…” kata Ryn Moa sambil duduk canggung.

Ia meletakkan tray perlahan, berusaha tidak menjatuhkan sendok, lalu duduk dengan posisi terlalu tegak, seperti sedang diwawancarai untuk beasiswa.

“Tumben kamu sendirian,” J-Hope membuka pembicaraan.

Nada suaranya ringan, seolah ini percakapan paling natural di dunia. Seolah Ryn Moa tidak sedang menjalani krisis emosional tingkat menengah.

“Mereka… pada sibuk makan es krim,” jawab Ryn Moa jujur.

Ia teringat wajah keenam sahabatnya yang tadi bersikeras berburu dessert walau jam baru menunjukkan dua belas lewat sepuluh. Tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari teman yang meninggalkanmu demi es krim cokelat.

“Padahal jam makan siang bukan jam dessert,” J-Hope menggeleng dramatis.

Ia benar-benar menggelengkan kepala, lengkap dengan ekspresi kecewa berlebihan, membuat Ryn Moa nyaris tertawa.

“Itu mereka…” Ryn Moa mendesah.

Nada pasrahnya keluar tanpa sadar. Seperti sudah terlalu lelah untuk protes pada dunia. J-Hope tertawa lebar. Tawanya ringan, menular, dan jujur. Ia lalu mendorong kotak makanannya ke arah Ryn Moa, gerakannya santai seolah ini hal yang paling wajar dilakukan.

“Mau coba? Aku beli sandwich tuna tapi kebanyakan.”

Ryn Moa refleks mengangkat tangan, hampir seperti menolak tawaran makanan dari orang asing di kereta.

“Ah, enggak usah—”

“Tapi enak loh.” J-Hope mengedipkan mata.

Kedipan itu cepat, spontan, tanpa niat tersembunyi. Tapi cukup untuk membuat Ryn Moa kehilangan satu lapis pertahanannya. Ryn Moa menghembuskan napas pasrah.

 “Baiklah… sedikit ya.”

Ia mengambil sepotong kecil sandwich itu, jari-jarinya menyentuh kertas pembungkus dingin. Ada aroma tuna yang lembut, tidak amis, dan roti yang masih empuk. Dia menggigitnya,Rasanya… enak. Benar-benar enak. Seimbang, tidak berlebihan, dan entah kenapa terasa lebih hangat dari ayam saus mentega miliknya sendiri.

“Sumpah. Enak banget,” gumam Ryn Moa.

Nada suaranya jujur, refleks, tanpa basa-basi. J-Hope bersinar seperti lampu LED 100 watt. Wajahnya benar-benar berbinar, bahunya terangkat sedikit, dan ia menepuk meja kecil di antara mereka.

“KAN?! Aku memang punya insting makanan yang bagus.”

Ryn Moa tertawa kecil, tawa yang tulus, dan J-Hope memperhatikan itu. Ia memperhatikan bagaimana mata Ryn Moa sedikit menyipit saat tertawa, bagaimana bahunya turun seolah beban di punggungnya berkurang, bagaimana suaranya terdengar lebih ringan dari beberapa menit lalu. Walau ia sendiri belum sadar.

J-Hope menyandarkan dagunya di tangan, menatap Ryn Moa dengan cara lembut tetapi cerah. Ia bukan tipe tatapan yang intens seperti Namjoon, atau tajam seperti Taehyung. Ia tatapan hangat, tatapan yang tidak menuntut, tidak menguji, tidak menghakimi. Sehangat selimut saat musim hujan.

“Kamu suka nulis, ya?”

Pertanyaan itu datang begitu saja, tanpa pengantar. Dan tepat sasaran.

“Kok tau?”. Ryn Moa mematung.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, tapi karena terkejut, ada yang memperhatikan hal kecil tentang dirinya. J-Hope menunjuk buku kecil di pangkuan Ryn Moa.

“Kamu selalu bawa itu. Dan kadang kamu berhenti jalan cuma buat nulis dua baris.”

Ryn Moa langsung memukul dahinya.

“Astaga… keliatan banget ya?”

Ia merasa sedikit malu. Selama ini ia pikir kebiasaan itu tak terlihat. Ternyata tidak.

“Banget,” J-Hope terkekeh. “Tapi itu imut.”

Kata itu jatuh pelan, tanpa tekanan, tapi cukup untuk membuat wajah Ryn Moa memanas.

Ryn Moa menunduk cepat. Ia berpura-pura sibuk dengan makanannya, mengaduk nasi yang sebenarnya sudah tidak menarik. J-Hope mengamati perubahan ekspresi itu… dan ada rasa aneh muncul di dadanya. Rasa yang bukan sekadar senang, bukan sekadar penasaran. Sesuatu yang hangat, ringan, tapi menetap lebih lama dari seharusnya.

“Eh, Ryn” panggil J-Hope. “Hari Jumat ada festival kecil di kampus. Kamu ikut?”

Ryn Moa mengangkat kepala perlahan, masih mencerna perubahan topik yang tiba-tiba.

“Ah… aku belum tau,” jawab Ryn Moa. “Seharusnya aku ikut temanku...”

“Kalo kamu mau,” J-Hope menggaruk belakang kepalanya, “kita bisa jalan bareng.”

Gerakan kecil itu, garukan gugup, senyum yang sedikit berubah, tidak luput dari perhatian Ryn Moa. Ia menatapnya kosong lima detik, benar-benar kosong. Semua suara kantin seolah meredam. Sendok berhenti di udara. Dunia mengecil jadi meja ini saja.

“Jalan… bareng?”

“Iya. Maksudku… ya gak harus berdua. Kalau mau rame-rame juga boleh.”

Nada J-Hope cepat, sedikit terburu-buru, seperti takut disalahartikan tapi juga berharap tidak ditolak. Ryn Moa mengangguk perlahan, antara bingung dan kaget.

“O-oh… ya… boleh.”

Jawabannya keluar lebih cepat dari analisis panjang yang biasanya ia lakukan.

J-Hope tersenyum lebar. Senyum yang puas, cerah, dan jujur. Tidak ada perayaan besar, tapi ada sesuatu yang terasa pas. Dan saat itu, entah kenapa Ryn Moa merasa dadanya hangat. Bukan hangat yang membakar atau yang membuat gelisah melainkan hangat yang nyaman. Seperti matahari yang berwarna kuning penuh dengan harapan.

Ryn Moa belum tahu dan J-Hope juga belum sadar, bahwa makan siang sederhana ini akan terus muncul dalam ingatan mereka berdua, jauh setelah ayam saus mentega dan sandwich tuna itu terlupakan. Dan seperti biasa, semesta belum selesai.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!