Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Yuna sedang mengerjakan tugas ketika pintu kosan digedor dari luar.
Bukan ketukan sopan. Bukan bunyi bel yang lembut. Tapi gedoran yang membuat jantungnya hampir meloncat keluar dari dada, membuat pulpennya meluncur dari tangan dan jatuh ke lantai dengan bunyi klik kecil yang tertelan oleh suara gedoran kedua.
"Yun! Buka pintunya! Ini darurat!"
"Hasya."
Yuna mengerutkan kening. Tangannya meraih handel pintu dan membukanya dengan hati-hati...
Hasya menerobos masuk seperti angin topan.
Rambut yang biasanya rapi, malam ini diikat setengah asal. Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam di atas kaos lengan panjang putih dan celana jeans ketat, dan yang paling mengejutkan: di tangannya menggantung tiga buah gantungan baju yang membawa gaun-gaun mini berkilau dengan warna yang berbeda... hitam, merah marun, dan biru langit.
"Hasya, ada apa sih..."
"Kamu harus ganti baju. Sekarang."
Yuna mengerjapkan mata. "Apa?"
Hasya sudah melempar semua gaun itu ke kasur sempit Yuna dan berbalik menatapnya dengan ekspresi serius yang jarang sekali Yuna lihat di wajah sahabatnya itu. Biasanya Hasya selalu santai, selalu senyum, selalu terlihat seperti dunia tidak pernah terlalu berat untuk dipikul. Tapi malam ini...
"Kamu inget kan tadi minta gue cariin sugar daddy?"
Jantung Yuna berhenti sedetik.
"I-iya, tapi..."
"Nah, sekarang aku udah dapet." Hasya melipat tangan di depan dada. "Dan orangnya lagi nunggu di bar sekarang."
Darah Yuna terasa turun ke telapak kakinya. "Sekarang? Hasya, aku belum siap..."
"Makanya kamu harus siap sekarang!" Hasya sudah meraih gaun hitam dari tumpukan itu dan menyodorkannya ke tangan Yuna. "Ini cocok sama kamu. Aku udah kasih tahu Om Joe kalau aku bawa temen. Orangnya beneran kaya, Yun. Aku gak bohong. Dan serius, ini kesempatan kamu buat bayar uang sekolah."
Yuna menatap gaun di tangannya. Mini dress berbahan satin hitam dengan tali bahu tipis dan potongan yang pas di tubuh. Ia tidak pernah mengenakan gaun seperti ini seumur hidupnya. Selama ini ia hanya hidup dengan kaos, celana jeans , dan sesekali kemeja flannel kalau sedang kuliah.
"Hasya..." suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan. "Aku.. nggak tahu caranya..."
"Nggak ada yang perlu kamu tahu." Hasya menggenggam kedua bahu Yuna dengan tatapan yang tiba-tiba lembut. "Kamj cuma perlu dengar apa yang dia tawarkan. Kalau kamu setuju, ambil. Kalau nggak, pulang. Simple. Aku janji aku bakal tetap di situ, oke? kamu nggak sendirian."
Yuna menelan ludah.
Uang kuliah sekolah sudah jatuh tempo.
Ia butuh uang.
Cepat.
Yuna menatap gaun di tangannya lagi. Lalu mengangguk pelan.
"Oke."
---
Sepuluh menit kemudian, Yuna berdiri di depan cermin kecil berkarat di sudut kamarnya dengan perasaan asing di seluruh tubuhnya. Gaun hitam itu pas, terlalu pas. Ia bisa merasakan bagaimana kain satin itu memeluk lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian longgar. Payudaranya terlihat lebih penuh. Pinggangnya lebih ramping. Bokongnya... Yuna memalingkan wajah dari cermin.
Hasya berdiri di belakangnya, sedang merapikan rambut panjang Yuna yang biasanya diikat asal menjadi gelombang lembut di kedua sisi wajah. "Kamu cantik banget, Yun. Serius."
Yuna tidak merasa cantik. Ia merasa seperti orang lain.
Tapi mungkin itu yang ia butuhkan malam ini.
Menjadi orang lain. Sebentar saja.
Mereka keluar dari kosan dengan Yuna mengenakan jaket tebal milik Hasya untuk menutupi tubuhnya sampai ke taksi. Di sepanjang jalan menuju bar Obsidian, Yuna tidak banyak bicara.
"Santai aja. Kamu cuma perlu dengerin. Sisanya biar mengalir."
Tapi Yuna tidak bisa santai. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Telapak tangannya berkeringat. Dan ketika mobil akhirnya berhenti di depan gedung dengan lampu neon biru bertuliskan OBSIDIAN di atas pintu kaca hitam, Yuna merasa seperti ingin muntah.
Hasya meraih tangannya. "Yun. Napas."
Yuna menarik napas panjang. Satu kali. Dua kali.
Lalu mereka masuk.
Bar Obsidian terasa seperti dunia yang berbeda.
Lampu redup berwarna amber dan ungu menciptakan atmosfer yang gelap dan sensual. Musik elektronik mengalun rendah dari speaker tersembunyi di langit-langit. Udara berbau campuran alkohol mahal, parfum, dan sesuatu yang Yuna tidak bisa identifikasi tapi membuatnya merasa seperti ia seharusnya tidak ada di sini.
Hasya melepas jaket dari tubuh Yuna dengan gerakan cepat sebelum Yuna sempat protes, lalu menariknya melewati kerumunan orang-orang yang berdiri dengan gelas di tangan, tertawa dengan suara yang terlalu keras, atau duduk di sofa-sofa sudut dengan cahaya yang terlalu gelap untuk melihat ekspresi mereka dengan jelas.
Di pojok counter, dua sosok pria duduk berdampingan.
Yang satu, rambut sedikit berantakan, senyum lebar... langsung bangkit saat melihat Hasya dan melambaikan tangan. Itu pasti Joe. Yuna pernah melihat fotonya sekali di ponsel Hasya.
Yang satunya lagi...
Yuna tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Lampu terlalu remang. Tapi ia bisa melihat siluetnya. Tinggi. Bahu lebar. Duduk dengan postur yang sangat tegak tapi rileks pada saat yang sama, seperti seseorang yang terbiasa mengontrol ruangan hanya dengan kehadirannya.
Ia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka, lengan digulung rapi hingga siku, dan ada segelas sesuatu berwarna gelap di tangannya.
Hasya sudah menariknya mendekat. "Om Joe! Sorry telat. Macet."
Joe tertawa dan langsung merangkul pinggang Hasya dengan gerakan yang terlalu akrab. "No problem, sayang. Ini temennya?"
Hasya menoleh ke Yuna dengan senyum penuh dorongan. "Iya. Ini Yuna."
Yuna tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya tersenyum kaku dan mengangguk kecil.
Joe bersiul pelan. "Cantik banget. Bastian, lo beruntung."
Pria di sampingnya, Bastian mengangkat kepalanya.
Dan meskipun Yuna tidak bisa melihat detail wajahnya di bawah pencahayaan yang redup ini, ia bisa merasakan tatapannya. Tajam. Lambat. Bergerak dari ujung rambut Yuna, turun ke wajahnya, leher, dada...
Yuna merasa seluruh tubuhnya memanas.
Bastian tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat gelasnya sedikit, seolah memberi salam, lalu meneguknya dalam satu gerakan panjang.
Joe menepuk bahu Bastian. "Udah dulu ya, Bas. Gue sama Hasya mau ke sana." Ia menunjuk area lounge di sisi lain bar yang lebih privat. "Lo berdua... kenalan dulu aja."
Hasya melempar pandangan cepat ke Yuna... "kamu pasti bisa" sebelum akhirnya pergi dengan Joe, meninggalkan Yuna sendirian berdiri di sana dengan jantung yang rasanya mau meledak.
Bastian mengetuk kursi kosong di sampingnya dengan jari telunjuk. Sekali. Pelan.
Yuna melangkah maju dengan kaki yang terasa seperti kayu.
Ia duduk. Tangannya langsung ia lipat di pangkuan. Ia tidak berani menatap wajah Bastian secara langsung. Hanya melirik sekilas, cukup untuk menangkap garis rahang yang tegas, bibir yang tipis dan lurus, dan hidung yang tinggi.
Mereka duduk dalam diam selama lima detik yang terasa seperti lima menit.
Lalu Bastian bicara.
Suaranya rendah. Dalam. Tanpa intonasi yang berlebihan.
"Kamu tahu kenapa kamu di sini?"
Yuna menelan ludah. "I-iya."
"Bagus." Bastian meletakkan gelasnya di counter. "Aku tidak suka basa-basi. Jadi aku akan langsung bicara."
Yuna mengangguk kecil.
"Aku butuh seseorang yang bisa menemani aku tanpa drama. Tanpa ekspektasi macam-macam. Tanpa pertanyaan tentang perasaan atau masa depan." Bastian memutar tubuhnya sedikit menghadap Yuna. "Sebagai gantinya, kamu akan tinggal di apartemen yang aku sediakan. Dapat mobil. Dan uang seratus juta per bulan."
Yuna hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Seratus juta?"
"Syaratnya," lanjut Bastian dengan nada yang sama datarnya, "kamu harus siap melayani kebutuhanku. Kapan saja. Di mana saja. Tanpa menolak."
Jantung Yuna berdegup kencang. Ia tahu apa artinya itu. Ia tidak bodoh. Tapi mendengarnya diucapkan dengan terang-terangan seperti ini...
Bastian merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna hitam dengan logo bank ternama, sebuah kunci mobil dengan gantungan berbentuk logo mercy, dan sebuah kunci apartemen dengan gantungan bertuliskan Serenity Heights.
Semua diletakkan di atas counter. Di depan Yuna.
"Ini bukan lelucon," kata Bastian. "Aku serius. Kalau kamu setuju, ambil semuanya sekarang. Kalau tidak, kamu bisa pergi."
Yuna menatap ketiga benda itu dengan napas yang tertahan.
Seratus juta.
Apartemen.
Mobil.
Semua uang sekolahnya bisa lunas. Dia tidak perlu lagi makan mie instan. Dan yang lebih penting... Ia bisa bebas beli apapun yang ia mau seperti dulu.
Tangannya bergerak sebelum otaknya sempat melarang.
Ia meraih kartu itu. Lalu kunci mobil. Lalu kunci apartemen.
"Aku... setuju."
Bastian menatapnya selama dua detik penuh. Lalu ia berdiri, melangkah mendekat, dan...
Menarik Yuna berdiri.
Lalu duduk kembali di kursi bar sambil menarik Yuna ke pangkuannya.
Yuna terkesiap. Tangannya refleks menekan dada Bastian untuk menjaga jarak tapi pria itu sudah menggenggam pinggangnya dengan kedua tangan... pegangan yang kuat tapi tidak menyakitkan... dan menariknya lebih dekat.
"Om..."
Bibir Bastian menyapu bibirnya.
Rakus. Panas. Menuntut.
Yuna membeku.
Ini ciuman pertamanya.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tangannya hanya menggantung canggung di udara, tubuhnya kaku, dan bibirnya tidak bergerak sama sekali. Bastian menciumnya seperti ia lapar... bibir pria itu bergerak dengan intensitas yang membuat kepala Yuna berputar... tapi Yuna tidak membalas.
Tidak bisa membalas.
Bastian berhenti.
Ia menarik wajahnya sedikit, cukup untuk menatap mata Yuna yang membesar dengan campuran panik dan bingung. Alisnya mengerut sedikit.
"Kamu..." suaranya pelan. "Belum pernah dicium?"
Yuna merasakan wajahnya memanas. Ia menunduk, tidak berani menatap matanya. "I-ini... yang pertama."
Hening.
Lalu Bastian tertawa kecil... bukan mengejek, tapi seperti... geli? Ada sesuatu di nada suaranya yang terdengar hampir... senang?
Tapi hanya bertahan sedetik.
Lalu ia sudah menarik dagu Yuna dengan lembut, memaksanya menatapnya lagi. Matanya, bahkan dalam cahaya redup ini terlihat lebih gelap dari sebelumnya.
"Kalau begitu," bisiknya, "belajar sekarang."
Dan ia mencium Yuna lagi.
Tapi kali ini lebih lambat. Lebih sabar. Bibirnya bergerak dengan ritme yang memberi Yuna waktu untuk mengikuti. Tangannya yang satu tetap di pinggang Yuna, yang satunya pindah ke belakang leher, membelai lembut dengan ibu jari di garis rahang.
Yuna menutup mata.
Dan mencoba membalas.
Canggung. Tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi ia menggerakkan bibirnya mengikuti irama Bastian, membiarkan pria itu memimpinnya, membiarkan sensasi asing ini memenuhi seluruh tubuhnya dengan panas yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bastian mengerang pelan di tenggorokannya, suara rendah yang membuat perut Yuna terasa melilit dan menciumnya lebih dalam.
Dan Yuna, untuk pertama kalinya malam itu, melupakan di mana ia berada.
Melupakan siapa ia sebenarnya.
Dan hanya merasakan.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya