Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Tak Terduga
Dua tahun setelah pernikahan Aisyah, kehidupan berjalan dengan ritme yang tenang. Rizky dan Dian semakin menikmati masa tua mereka dengan mengelola kafe buku yang semakin ramai dikunjungi. Kirana kini berusia 26 tahun dan sudah menjadi jurnalis senior dengan reputasi yang gemilang. Ia bahkan baru saja memenangkan penghargaan jurnalistik nasional untuk liputan investigasinya tentang korupsi di daerah. Rakha berusia 14 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMP, dan semakin serius menekuni musik—ia sudah bisa memainkan gitar dan piano dengan cukup baik.
Di Balikpapan, Ima dan Firman menjalani hidup dengan bahagia. Aisyah dan Fahri tinggal tidak jauh dari rumah Ima, dan Aisyah baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu, diberi nama Khadijah. Ima bahagia menjadi nenek. Ia sering menggendong cucunya sambil tersenyum, mengingat masa-masa dulu saat Aisyah masih kecil.
Wira dan Laras juga baik-baik saja. Rakha, putra sulung Wira, kini berusia 26 tahun dan sudah dipromosikan menjadi manajer di perusahaan minyak tempatnya bekerja. Ia juga baru saja bertunangan dengan seorang perempuan cantik bernama Dina, yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit Balikpapan. Adiknya, Kirana kecil, berusia 16 tahun dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia aktif dalam kegiatan pramuka dan sering mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba.
Semua tampak damai. Hingga suatu hari, sebuah badai datang menghantam tanpa diduga.
---
Rizky sedang duduk di kafenya, membaca koran sambil menikmati kopi. Dian sedang di dapur menyiapkan kue pesanan. Suasana tenang dan damai.
Ponselnya berdering. Wira.
Rizky mengangkat dengan senyum. "Ra, ada apa?"
"Zky..." Suara Wira di ujung sana berbeda. Bergetar. Seperti menahan tangis.
Rizky langsung waspada. "Ra, lo kenapa? Suara lo aneh."
"Zky, gue... gue harus kasih tahu lo sesuatu. Tapi ini berat."
"Katakan saja, Ra. Gue di sini."
Wira diam sejenak. Lalu ia berkata dengan suara serak, "Ima... Ima masuk rumah sakit. Kena stroke."
Dunia Rizky berhenti berputar.
"Apa?" suaranya hampir tak terdengar.
"Iya. Seminggu yang lalu. Tiba-tiba jatuh waktu lagi ngajar di pesantren. Langsung dilarikan ke rumah sakit." Wira terisak. "Dia koma, Zky. Udah seminggu. Dokter bilang... kemungkinan kecil dia sadar."
Rizky merasakan dunianya runtuh. Ima. Perempuan yang pernah sangat ia cintai. Perempuan yang menjadi bagian penting dalam hidupnya. Kini terbaring di rumah sakit, antara hidup dan mati.
"Ra, gue... gue harus ke sana."
"Gue tahu, Zky. Makanya gue nelpon. Aisyah nanyain lo. Dia minta lo datang."
Rizky menghela napas. "Gue cari tiket sekarang."
---
Dua jam kemudian, Rizky sudah di bandara. Dian memaksanya pergi, meskipun ia ingin ikut. Tapi pesawat hanya ada satu tiket tersisa. Dian berjanji akan menyusul besok dengan Kirana.
Di pesawat, Rizky tak bisa tenang. Pikirannya melayang pada Ima. Pada semua kenangan yang mereka lalui bersama. Pada dosa-dosa masa lalu. Pada penyesalan dan pengampunan.
Ia ingat pertama kali melihat Ima di kelas, dengan seragam batik yang ketat dan senyum manisnya. Ia ingat pertemuan rahasia di rumah Ima, ciuman pertama mereka, dan semua dosa yang mereka lakukan bersama. Ia ingat kehancuran yang mereka ciptakan, perceraian, dan perjuangan mereka untuk bangkit kembali.
Dan ia ingat pertemuan terakhir mereka di pernikahan Aisyah, dua tahun lalu. Ima tersenyum bahagia, memeluknya, dan berkata, "Sampai jumpa, mungkin di surga."
Apakah ini saatnya? Apakah Ima akan pergi untuk selamanya?
---
Sesampainya di Balikpapan, Wira menjemputnya di bandara. Wajah sahabatnya itu tampak lelah, kusut, dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Ra..." Rizky memeluknya.
Wira menangis di pundaknya. "Zky, gue takut. Gue takut kehilangan dia."
Rizky diam. Ia juga takut.
Di dalam mobil, Wira bercerita. Ima terkena stroke saat mengajar. Ia jatuh pingsan di depan para santri. Firman yang sedang di kantor langsung lari ke rumah sakit begitu mendengar kabar. Ima sempat sadar sebentar, memanggil nama Firman dan Aisyah, lalu koma lagi. Sudah seminggu, tak ada perubahan.
"Dokter bilang ada pendarahan di otak. Mereka udah operasi, tapi... hasilnya belum tahu." Wira menghela napas. "Aisyah hancur, Zky. Dia nggak pernah nyangka ibunya bakal kayak gini."
Rizky menggenggam bahu Wira. "Dia kuat, Ra. Aisyah kuat. Ima juga kuat."
Mereka tiba di rumah sakit. Rizky berjalan cepat menuju ruang ICU. Di depan pintu, ia melihat Aisyah duduk lemas, ditemani Fahri dan Firman.
Aisyah menengadah. Begitu melihat Rizky, ia langsung berdiri dan memeluknya erat.
"Om Rizky..." isaknya. "Umi... Umi kenapa?"
Rizky memeluknya erat. "Sabar, Nak. Umi kamu kuat. Dia pasti bangkit."
Firman menyambutnya dengan jabat tangan. "Makasih udah datang, Rizky."
"Gimana kabarnya?" tanya Rizky.
Firman menghela napas. "Masih koma. Tapi tadi pagi, jari-jarinya bergerak sedikit. Dokter bilang itu tanda baik."
Rizky menghela napas lega. "Boleh lihat?"
"Iya, sebentar. Pakai APD dulu."
---
Rizky masuk ke ruang ICU. Ima terbaring di ranjang, dikelilingi monitor dan selang-selang infus. Wajahnya pucat, lebih tua dari yang Rizky ingat. Rambutnya yang dulu hitam kini mulai memutih di bagian pelipis.
Rizky duduk di kursi samping ranjang. Ia meraih tangan Ima yang dingin.
"Ima... gue di sini." Suaranya bergetar. "Lo harus bangun. Lo punya Aisyah, punya Khadijah, punya Firman, punya pesantren yang lo bangun susah payah. Lo nggak boleh menyerah."
Tak ada respons. Monitor terus berbunyi pelan.
"Ima, gue minta maaf. Buat semua dosa kita. Buat semua salah. Tapi lo udah jadi perempuan hebat. Lo bangkit dari keterpurukan, lo bangun pesantren, lo jadi ibu yang baik buat Aisyah." Air mata Rizky jatuh. "Lo harus bangun, Ima. Masih banyak yang nungguin lo."
Tak ada respons. Tapi Rizky bersumpah, ia melihat jari Ima bergerak sedikit.
---
Malam itu, Rizky menginap di rumah sakit. Ia bergantian dengan Firman dan Aisyah menjaga Ima. Dian dan Kirana tiba keesokan harinya, ikut mendoakan dan menemani.
Hari ketiga. Tak ada perubahan. Dokter mulai pesimis.
Hari kelima. Ima mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Respons terhadap rangsangan mulai ada.
Hari ketujuh. Ima membuka matanya.
Aisyah yang sedang di sampingnya berteriak bahagia. "Mi! mi! Umi sadar!"
Firman, Rizky, dan semua yang ada di ruang tunggu berlari masuk. Ima menatap mereka satu per satu, lemah, tapi tersenyum.
"Kalian... pada nangis?" bisiknya lemah.
Aisyah menangis keras. "Umu! umi tahu nggak, Umi koma seminggu! Kami takut banget!"
Ima mengusap rambut putrinya. "Maaf... bikin khawatir."
Matanya beralih ke Rizky. "Kamu... datang juga."
Rizky tersenyum, air matanya jatuh. "Iya, gue datang. Masa lo mau pergi tanpa pamit?"
Ima tersenyum lemah. "Makasih."
---
Dua minggu kemudian, Ima dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kondisinya terus membaik, meskipun ia masih harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan fungsi tubuhnya yang sempat melemah.
Rizky harus kembali ke Jakarta. Pekerjaannya tak bisa ditinggalkan lebih lama. Sebelum pergi, ia pamit pada Ima.
Ima sudah bisa duduk di kursi roda. Ia tersenyum melihat Rizky.
"Makasih, Rizky. Lo udah repot-repot."
"Nggak repot, Ima. Lo keluarga."
Ima menghela napas. "Rizky, Ima mau minta maaf."
"Buat apa?"
"Buat semua. Buat masa lalu. Buat... dosa-dosa kita."
Rizky meraih tangannya. "Udah, Ima. Nggak usah. Kita udah lewati semua. Sekarang kita harus lihat masa depan."
Ima mengangguk. "Iya. Masa depan."
"Lo harus sembuh, Ima. Aisyah butuh lo. Khadijah butuh neneknya. Pesantren butuh lo."
Ima tersenyum. "Ima usahain."
Mereka berpelukan. Lalu Rizky pergi.
---
Di pesawat, Rizky memandangi awan di luar jendela. Pikirannya melayang pada Ima, pada kejadian seminggu terakhir, pada betapa rapuhnya hidup ini.
Ponselnya berdering. Pesan dari Dian.
"Sayang, hati-hati di jalan. Aku dan anak-anak nunggu di rumah."
Rizky membalas: "Iya, Sayang. Makasih."
Ia mematikan ponsel. Memandangi langit.
Hidup ini memang penuh kejutan. Kadang kita jatuh, kadang kita bangkit. Kadang kita kehilangan arah, kadang kita menemukan jalan kembali.
Tapi yang terpenting, kita tidak sendiri.
Rizky tersenyum. Ima selamat. Dan ia bisa kembali ke keluarganya dengan tenang.
---