NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:94.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Tujuh

Satu minggu di kampung terasa berjalan sangat lambat bagi Hanin.

Hari-harinya dipenuhi rutinitas sederhana. Pagi ia bangun sebelum Subuh, shalat, lalu duduk lama di ruang tengah sambil membaca Al-Qur’an. Kadang ia menyapu halaman kecil di depan rumah, menyiram bunga-bunga yang dulu dirawat ibunya, atau sekadar duduk di kursi kayu tua sambil memandangi jalan desa yang sepi.

Tak banyak yang berubah di desa itu.

Anak-anak masih berlarian di jalan tanah setiap sore. Ibu-ibu masih berkumpul di warung kecil dekat pertigaan. Suara ayam berkokok dan motor lewat sesekali menjadi penanda kehidupan yang berjalan seperti biasa.

Tapi bagi Hanin, semuanya terasa berbeda.

Rumah itu tetap rumahnya. Namun tidak lagi terasa utuh tanpa Abi dan Umi. Setiap sudut selalu membawa kenangan.

Di dapur, ia teringat ibunya yang sering memasak sambil bersenandung pelan. Di ruang tengah, ia teringat ayahnya yang suka menonton berita sambil sesekali memanggilnya untuk ikut duduk.

Sekarang hanya ada sunyi. Kadang tetangga datang menyapa. Ada yang menanyakan kabarnya, ada yang sekadar membawa makanan.

“Sudah besar sekarang, Hanin,” ucap salah satu tetangga suatu sore.

“Semoga jadi anak yang membanggakan orang tua.”

Hanin hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa sampai sekarang ia masih merasa bersalah.

Malam hari sering menjadi waktu yang paling berat. Jika sudah terlalu sunyi, kenangan datang lebih ramai.

Dan di antara semua kenangan itu, wajah Fahmi juga sering muncul tanpa ia undang. Hanin sering memejamkan mata kuat-kuat ketika bayangan itu muncul. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuka kembali luka lama.

Hanin sudah belajar menerima takdir. Ia sudah belajar mengikhlaskan semuanya. Termasuk Fahmi.

Apalagi sekarang lelaki itu akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Ghania.

Nama itu selalu membuat Hanin menahan napas sejenak. Ia tidak pernah menyalahkan Ghania. Sahabatnya itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya dengan Fahmi.

Dan justru karena itu Hanin semakin merasa harus menjaga semuanya tetap tersembunyi.

Lebih baik hanya ia yang menanggung rasa itu. Daripada merusak kebahagiaan orang lain.

---

Seminggu kemudian, pagi itu Hanin kembali berdiri di depan rumahnya. Tas kecil sudah siap di tangannya.

Ia menutup pintu kayu itu perlahan, lalu menatap rumah tersebut beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Doakan Hanin kuat, Abi … Umi …,” bisiknya pelan.

Setelah itu ia berbalik dan berjalan menuju jalan desa tempat mobil travel biasanya menjemput. Perjalanan kembali ke pondok berlangsung cukup lama.

Sepanjang perjalanan, Hanin lebih banyak diam. Sawah-sawah yang dilewati, rumah-rumah kecil di pinggir jalan, bahkan keramaian kota kecil yang mereka lewati terasa seperti gambar yang lewat tanpa benar-benar ia perhatikan.

Pikirannya sibuk menata diri. Ia harus kembali menjadi Hanin yang seperti biasa. Hanin yang tenang dan kuat. Hanin yang tidak lagi terikat dengan masa lalu.

Menjelang sore, mobil akhirnya berhenti di depan gerbang pesantren. Hanin turun sambil menggendong tasnya.

Bangunan pondok yang sederhana itu menyambutnya seperti rumah kedua. Beberapa santri yang baru kembali dari liburan terlihat lalu lalang di halaman. Ada yang tertawa, ada yang saling menyapa.

Suasana yang dulu terasa seperti hukuman kini justru menjadi tempat yang paling ia pahami. Hanin berjalan menyusuri koridor menuju kamar.

Langkahnya pelan, tapi terasa ringan. Begitu sampai di depan pintu kamar, ia membuka pintu dengan santai.

Namun, langkahnya langsung terhenti. Di dalam kamar, seseorang sedang merapikan tas di atas ranjang.

Perempuan itu menoleh ketika mendengar pintu dibuka. “Eh!”

“Hanin!” Ghania berdiri dengan wajah cerah.

Hanin juga tersenyum. “Loh, kamu sudah balik?” tanya Hanin.

Ghania tertawa kecil. “Baru saja sampai tadi siang.”

Hanin masuk ke kamar sambil meletakkan tasnya di dekat ranjang. Matanya mengamati Ghania dari ujung kepala sampai kaki. Sahabatnya itu tampak sedikit lebih berseri dari biasanya.

Hanin lalu menyeringai. “Calon pengantin masih mau ngajar juga?” godanya ringan.

“Tak pingit aja sekalian?”

Ghania langsung tertawa. “Pingit apanya,” balasnya sambil duduk di ranjang. “Masih dua bulan lagi, Han.”

“Lumayan lama juga.”

“Iya,” kata Ghania santai. “Masih ada waktu buat pengabdian di sini.”

Ia lalu menambahkan sambil mengangkat bahu, “Nanti setelah jadi istri Mas Fahmi, siapa tahu aku tak diizinkan kerja.”

Nama itu disebut begitu saja. Namun bagi Hanin, rasanya seperti ada sesuatu yang menyentuh bagian paling sensitif di dalam dadanya.

Hanin hanya tersenyum kecil. Ia tidak berkata apa-apa. Dulu, ia pernah membayangkan sesuatu yang sama. Membayangkan masa depan bersama Fahmi.

Membayangkan membangun rumah tangga sederhana. Mungkin tidak mewah, tapi cukup untuk mereka berdua.

Ia pernah memimpikan itu. Tapi hidup ternyata punya jalan yang sangat berbeda.

Sekarang justru sahabatnya sendiri yang akan menjadi istri lelaki itu.

Hanin menarik napas pelan dan mencoba tetap tersenyum. Ia lalu membuka tasnya dan mulai menyusun pakaian ke dalam lemari kecil di sudut kamar.

Ghania memperhatikannya sebentar. Kemudian ia turun dari ranjang.

Perlahan ia berjalan mendekati Hanin, lalu duduk di lantai tepat di sampingnya. Gerakan itu membuat Hanin sedikit heran. Biasanya Ghania tidak terlalu suka duduk di lantai.

“Hanin,” panggilnya pelan.

“Iya?”

Ghania tampak ragu sejenak. Lalu ia bertanya, “Kamu mengenal Mas Fahmi?”

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Tangan Hanin yang sedang melipat pakaian langsung berhenti.

Ia menoleh cepat ke arah Ghania. Wajahnya jelas terkejut.

“Apa?” tanya Hanin.

Ghania menatapnya dengan ekspresi serius. “Mas Fahmi,” ulangnya. “Kamu mengenalnya?”

Beberapa detik Hanin hanya diam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa Ghania tiba-tiba menanyakan itu Bukankah tadi Fahmi sudah berjanji mereka akan saling asing? Bukankah tadi aku sudah memintanya begitu jelas?

Hanin memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia kembali menunduk, pura-pura merapikan pakaian.

“Kenal … saat kamu kenalin saja,” jawabnya pelan. Lalu ia menambahkan cepat, “Kenapa?”

Ghania tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Hanin beberapa saat.

Kemudian ia berkata, “Mas Fahmi bilang dia mengenalmu.”

Kali ini Hanin benar-benar terkejut. Tangannya kembali berhenti. Ia menoleh lagi.

“Dia bilang begitu?” suaranya hampir tak terdengar.

“Iya.”

Hanin menelan ludah. Di kepalanya langsung teringat wajah Fahmi di terminal.

Kenapa Fahmi berkata seperti itu? Padahal ia sudah memohon agar mereka berpura-pura tidak saling mengenal.

1
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Mardiana: tapi memang kebanyakan orang suka begitu datang ke kuburan berdoa untuk almarhum endingnya minta di doain. maaf memang keliru🙏🙏
total 2 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
Ilfa Yarni
loh fahmi ngapain datang ke kuburannya orangtua hanin apa tujuannya
ken darsihk: Mungkin Fahmi mau minta maaf ke makam abi da umi nya Hanin
Karena secara tidak langsung penyebab kematian orang tua nya Hanin ya dia dan mama nya Fahmi
total 1 replies
Oma Gavin
ngapain fahmi datang ngga ngaruh sama hanin
Lela Angraini
hohohoooo,,ada apakah ini?🤔🤔 sprtiny ada sesuatu disini,,knp fahmi tba" muncul? hayo hayoooo
dyah EkaPratiwi
ngapain Fahmi Dateng
Ikaaa1605
Fahmi ngk sih, Lanjuttttt lagi dong
Radya Arynda
mama reni up satu lagidong
Wiwi Sukaesih
pasti Fahmi ...
up LG thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!