DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pengakuan dan Terluka
Beberapa hari yang lalu...
Oliver melangkah bersama temannya menuju ke bus sekolahnya. Terlihat, pak Raji-sang pelatih sudah berdiri di dekat pintu memandangnya tajam.
"Oliver, kamu tuh bener-bener, ya! Kamu pikir sudah berapa banyak biaya yang di keluarkan sekolah untuk turnamen ini, malah seenak jidatnya kamu bikin sekolah di diskualifikasi," omel pak Raji.
"Maaf, pak!"
"Maaf-maaf. Awas ya, kalau pertandingan yang akan datang kamu seperti ini lagi, bapak kick kamu dari tim basket," katanya tak main-main.
Oliver menghela napas dan mengangguk pelan.
Pak Raji memijit pelipisnya-stres sendiri, "Masuk sana, cepetan! Kita harus pulang."
Raut wajah Oliver murung.
Seharusnya, kalau sekolahnya tidak di diskualifikasi dan sekolah mereka masih lanjut sampai final, itu berarti, 3 sampai 4 hari ke depan, dia masih berkesempatan bertemu Aqqela.
Tapi sayang, baru hari pertama, sekolahnya sudah di diskualifikasi.
Dia duduk di kursi bus, sambil mendengarkan musik lewat earphone putih di telinganya.
"Oliv, Oliver!" Jimmy yang duduk di sebelah jendela melotot lebar.
"Apaan?" Oliver menoleh.
"Tuh-tuh, lihat! Ada cewek lo."
Oliver langsung mendekati Jimmy dan tersentak begitu saja melihat motor Fattah melewati bus-nya sambil membonceng Aqqela.
"What the fuck?" gumamnya kaget dengan tangan mengepal.
"Brengsek!" umpat Oliver sambil berlari keluar bus.
"Loh-loh Oliver, mau kemana kamu?" teriak pak Raji.
"Tinggal aja, pak! Saya balik sendiri," balasnya sambil berlari keluar gerbang, mencari taxi.
Dia berdecak, lalu menghentikan taxi yang lewat dan masuk ke dalamnya.
"Pak, susulin motor hitam di depan!" perintahnya.
"Baik, den."
Oliver tampak gelisah bukan main saat melihat motor itu.
Entah kenapa mulai cemas, memikirkan banyak kemungkinan di dalam kepalanya.
Tapi mata Oliver membulat saat melihat ninja hitam milik Fattah memasuki halaman gedung apartemen-masih dengan Aqqela di boncengannya menuju area basement.
"Mereka tinggal bareng? K-kok bisa?"
Oliver mengeryit kebingungan.
Jantung Oliver berpacu cepat, merasa sesak juga tak terima. Dia sampai menyenderkan punggungnya ke jok mobil, sambil mengusap wajahnya kalut dan merasa frustasi.
"Qell, kamu sama dia nggak mungkin sejauh itu, kan?" gumamnya dengan mata memerah.
***
Pagi hari ini, di SMA Starlight.
Oliver duduk di kursi rooftop sambil menghisap rokok di tangannya. Raut wajah pemuda itu benar-benar tidak terbaca. Frustasi, kesal, marah, atau lebih tepatnya kecewa-mungkin.
"Bos, gue udah dapat infonya!" kata Jimmy berlarian menaiki tangga dan menghampiri Oliver di kursi.
"Gimana?" Oliver menoleh.
"Lo pasti nggak akan nyangka, kalau yang ngurus berkas kepindahannya Aqqela itu...bokap-nya Fattah."
Oliver tersentak kaget, "Kok bisa anjir?" tanyanya langsung sewot.
"Tante gue yang jadi petugas TU bilang, waktu itu dia sempat tanya. Kenapa Aqqela harus di pindahkan? Apalagi murid pintar kayak dia nggak mungkin di lepas gitu aja sama sekolah. Terus bokap-nya Fattah ngomong, kalau di Jakarta Pusat, Aqqela udah nggak ada yang jagain. Makanya niat mau di asuh gitu dan di bawa ke Jaksel."
Rahang Oliver mengeras begitu saja, dengan dadanya bertalunan sesak.
"A-apa?"
"Terus ya bos, gue selidiki lagi, ternyata sempat ada skandal antara om Mikhael sama om Jordan. Tapi gue nggak tau apaan."
Oliver menghela napas sambil mengusap wajahnya frustasi.
"Jadi mereka nggak ada hubungan keluarga atau apapun?"
"Kalau di lihat dari segi muka dan silsilah, kayaknya nggak ada, deh. Keluarga Aqqela aja cuma om-nya yang di Kalimantan. Keluarga ibunya juga cuma kakek neneknya karena ibunya anak tunggal, itu pun udah lama meninggal."
Mata Oliver mulai memanas sekarang. Entah kenapa takut setengah mati.
"Jadi bener, kalau Aqqela tinggal di apartemen sekarang? Tapi kenapa harus di sana, bukan di rumah?"
"Lah, emang lo belum tau? Fattah kan emang udah misah sama orang tuanya sejak ceweknya meninggal. Dia tinggal di apartemen."
Tubuh Oliver kian membeku dan terpaku di tempat.
"Ja-jadi maksud lo...mereka tinggal bareng?
Berdua doang?"
"Bisa jadi sih bos." Jimmy mengangguk, menatap Oliver tak tega.
"OLIV, OLIVER!" teriak Diego berlarian menaiki tangga dengan napas ter-senggal-senggal.
"Kenapa?"
"Parah anjir!" kata Diego histeris, "Lo tau nggak, ada rumor gitu yang bilang kalau bokap-nya Aqqela adalah hakim yang nanganin kasus anaknya Pejabat dan libatin Sandrina ceweknya Fattah jadi saksi."
Oliver tersentak dan berdiri kaget, "Tau darimana lo?"
"Gue di kasih tau om gue yang wartawan. Tapi kasus itu nggak pernah di naikin dan kayak hilang gitu aja. Ada banyak pemain besar di belakang kasus itu."
"Terus-terus?"
"Sandrina meninggal. Dia tewas di tabrak mobil. Dan itu bertepatan sama hari sebelum sidang pertama di gelar." Diego mendesah.
"Om gue dah duga, kalau kematian Sandrina emang di sengaja sama seseorang. Dan yang di curigai om gue adalah pejabat tinggi-ayah tersangka kasus pelecehan seksual itu. Tapi dia sempat mikir, bisa jadi dalangnya om Michael sendiri, karena om gue tau se-licik apa hakim itu sejak dulu. Sayangnya, waktu om gue mau up kasus ini, direktur stasiun televisi tempatnya kerja ngelarang. Gue yakin, pejabat tinggi ini juga bukan orang sembarangan, makanya dia bisa jadi backing-an om Michael."
Oliver melebarkan mata kaget dengan kepala nyaris mau meledak, "Ja-jadi kesimpulannya, Aqqela, Fattah dan kematian Sandrina itu berkaitan?"
"Bener." Diego mengangguk.
"Wait!" tahan Jimmy membuat ke-dua temannya menoleh, "Bisa jadi, Aqqela di sandera Fattah buat misi balas dendamnya, karena dia udah tau kalau ayahnya Aqqela penyebab Sandrina meninggal?"
Oliver terlonjak begitu saja. Tidak menyangka Jimmy akan berpikiran sejauh itu dan sangat masuk akal.
Apalagi saat Oliver ingat, Fattah pernah bilang, dia tidak akan pernah melepas Aqqela.
Jadi...karena itu?
"Anjing!" umpat Oliver, "Kalau bener kayak gitu, gue matiin tuh cowok."
"Tapi kalau di jadiin sandera, kenapa Aqqela hidup dengan baik? Maksud gue... Aqqela bisa sekolah, hidup yang layak, kan?" tanya Diego, "Kalau dia di jadiin sandera, mungkin dia udah di kurung di gudang? Oliver nggak akan ketemu sama dia."
Ada benarnya juga.
"Tapi Fattah bukan orang se-baik itu, Go. Dia bakalan hancurin apapun yang ngusik dia.
Apalagi kalian tau sendiri, pas kelas 10, dia se-bucin itu sama Sandrina. Kalian lupa, kalau dia pernah hampir bakar markas kita gara-gara kita culik ceweknya buat jadi pancingan?"
Oliver terdiam begitu saja, "Shit, gue bener-bener bingung. Gue harus ke Jaksel. Gue harus tanya sendiri sama Aqqela soal semuanya."
Dia kemudian merunduk, mengetikkan chat ke Aqqela.
***
Mobil Ferarri sport warna biru milik Oliver melaju kencang di jalan raya, dari Jakarta Pusat menuju ke Jakarta Selatan.
Sial, sial, sial.
Karena ada rapat mendadak untuk acara pekan olahraga, cowok itu jadi terlambat menemui Aqqela.
Oliver mendecak kesal, melihat ponselnya.
"Pakai acara mati segala lagi. Sialan," umpatnya sambil memukul setir kesal.
Sore itu, hujan deras mengguyur langit ibukota. Membuat Oliver jadi makin cemas-takut Aqqela memilih pulang duluan karena malas menunggunya.
"Kamu masih di sana, kan? Kamu masih nungguin aku kan, Qell?" gumamnya khawatir.
Tiba di jalanan area sekolah Aqqela, mobil Oliver menepi di jalan.
Mata tajamnya melihat gerbang sekolah tinggi SMA Taruna Jaya Prawira yang sudah sepi.
"Dia nungguin gue dimana anjir?"
Hingga kepala Oliver tanpa sengaja menoleh ke kiri.
Tepatnya di depan sebuah kios tutup-yang ada di sebelah SMA Ghaveria-sekolah yang berlokasi di depan SMA Taruna Jaya Prawira.
Di sana ada Aqqela, membuat Oliver merekah.
"Akhirnya ketemu juga," katanya senang, walau diam-diam mendelik tak suka melihat Fattah di sebelah gadis itu, "Tuh cowok ngapain di situ sih, elahh. Dasar tukang caper!"
Tidak tahan membiarkan mereka berduaan, Oliver bergegas keluar dari mobil, ingin menghampiri.
"Qell-" Langkah Oliver sontak terhenti. Matanya membelalak sempurna, melihat Fattah menarik kedua pipi Aqqela mendekat-mengikiskan jarak dan di susul ciuman lembut.
Oliver jelas melihat raut wajah terkejut Aqqela saat Fattah tiba-tiba mencium bibirnya.
Tapi sungguh, tubuh Oliver tidak mampu bergerak ketika Fattah mulai melumat bibir Aqqela, tetapi gadis itu tidak mendorongnya dan malah diam.
Ya Tuhan...tolong jangan seperti ini! Mereka tidak mungkin sejauh itu, kan?
Lidah Oliver terasa kelu. Matanya memerah dengan dadanya nyaris meledak dan tangan mengepal. Rasa kecewa meninju perasaannya sekarang, melihat Fattah menghisap bibir Aqqela penuh perasaan.
Ciuman itu merenggang, sementara ibu jari tangan Fattah mengusap bibir basah milik Aqqela-setelah ciuman cukup intim itu.
"Manis."
Oliver menelan ludah getir.
A-apa? Manis katanya? Dasar cowok brengsek!
Entah bagaimana semesta bekerja sekarang.
Tepat saat ciuman itu selesai mereka lakukan, Fattah menoleh dan tersentak melihatnya, membuat Aqqela mengeryit samar dan ikutan menoleh.
Mata Aqqela membulat begitu saja, "Ol-Oliver?"
Oliver masih diam di tempatnya. Otaknya blank. Dia masih kesulitan mencerna situasi sekarang.
Aqqela, gadis yang dia cintai, baru saja berciuman dengan Fattah-musuhnya?
Fattah mulai berdiri, membuat Aqqela terbelalak panik dan meminta cowok itu agar diam.
"Please, biar gue aja yang jelasin sama dia!
Nggak usah berantem-berantem lagi," kata Aqqela memohon, "Lo tetep di sini dan jangan kemana-mana!"
Mau tidak mau, Fattah mengangguk.
"Oliver!" Aqqela berlari menerobos hujan dan menahan lengannya saat Oliver hendak berbalik masuk ke mobil-mencegahnya pergi.
"Kenapa?" tanya Oliver dingin.
"Aku bakalan jelasin semuanya," kata Aqqela.
Oliver tersenyum sinis, "Gimana rasanya ciuman ke-dua kamu? Nggak bisa lebih memuakkan dari ini, Qell?"
Mata Aqqela memerah menatap Oliver yang menatapnya penuh kebencian.
"Kamu tau, aku kebut-kebutan di jalan karena aku takut kamu nunggu kelamaan, tapi kamu justru ciuman sama dia? Kamu waras?" bentaknya berapi-api membuat Aqqela diam.
"Qell, what's wrong with you? Kamu lagi balas dendam karena waktu itu kamu lihat Vicky cium aku? Tapi bukan begini harusnya Qell...! Nggak dengan ciuman sama musuh aku juga," kata Oliver dengan air mata menetes di pipinya.
Aqqela merunduk, mengepalkan tangannya dengan air mata ikutan menetes, "Aku minta maaf! Ta-tapi aku sama Fattah udah-"
"Apa?" potong Oliver cepat, "Aku ngajak kamu ketemu, karena banyak hal ganjal yang pengen aku tanyain ke kamu. Kenapa kamu bisa tinggal sama Fattah di apartemen yang sama? Kenapa bisa kamu tiba-tiba pindah sekolah di sini dan dengan bodohnya aku percaya kalau itu beasiswa? Aku pengen tau semuanya tentang kamu. Aku cari semua infonya karena aku ngerasa terlambat buat tau semua hal tentang kamu. Tapi hari ini, sore ini, aku justru harus nerima kejutan luar biasa dari kalian."
Oliver mengalihkan wajah, merasakan dadanya sesak dengan tenggorokannya seperti di cekik.
"Oliv, semuanya juga mendadak buat aku, bukan kamu aja." Aqqela menyeka air matanya, "Tapi aku minta maaf karena harus bilang ini."
"Bilang apa? Kamu sama dia udah pacaran?" tanya Oliver serak.
Aqqela menggeleng pelan dengan isakan tertahan, "Bukan. Tapi lebih dari itu. A-aku udah nikah sama Fattah."
"APA?" Oliver tersentak begitu saja dengan mata melebar.
Apa katanya? Menikah? Ya Tuhan, apalagi ini?
"Aku minta maaf karena baru bilang sekarang!"
"Nggak, nggak mungkin. Kamu bohong."
"Aku nggak boh-"
"KAMU BOHONG, QELL. KAMU BOHONG!"
teriak Oliver membentak nyalang, "Ini nggak mungkin. Kamu nggak mungkin se-jahat ini sama aku. Please, kamu bilang ini akal-akalan kamu aja, kan? Karena kamu lagi marah sama aku, iya kan?" Oliver meraih kedua bahu Aqqela, meminta gadis itu agar mau melihat ke arahnya.
Tangis Aqqela semakin tumpah di sana. Dia merunduk dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya-mencoba menguasai diri.
"Stop playing with me! Aku sayang sama kamu, Qell. Jangan begini, aku mohon!" kata Oliver sambil menangis.
Aqqela mendongak, menatap Oliver. Dadanya sesak melihat kehancuran pemuda itu, tetapi Aqqela juga tidak mau menyakiti Fattah lebih lama.
"Kita udah bener-bener selesai sekarang. Aku udah nikah sama Fattah. Aku minta maaf karena udah kecewa-in kamu!"
"Dia ngancam kamu, kan?" tanya Oliver membuat Aqqela tersentak.
"Enggak." Aqqela menggeleng.
"BOHONG!" bentaknya murka, "Aku tau semuanya berkaitan sejak awal. Kamu, Fattah, Sandrina, papa kamu, iya, kan? Bilang sama aku kalau ini bener, kan? Kamu nggak mungkin sayang sama dia, kan?"
"Oliv-"
"KAMU TINGGAL JAWAB, IYA ATAU NGGAK?" sentak Oliver murka.
Aqqela mengangguk pelan, "Iya, awalnya karena itu. Karena Fattah marah setelah tau pembunuh Sandrina itu papa aku. Tapi dia nggak ngancam aku, kayak yang kamu pikir."
"Terus gimana? Dia ngancam kamu yang gimana, sampai kamu nurut buat nikah sama dia? Ya Tuhan, aku harus gimana lagi sekarang?"
Oliver meremas rambutnya, benar-benar merasa sakit luar biasa sekarang.
"Fattah ngerasa bersalah karena papa meninggal. Fattah lihat aku kerja di club waktu itu.
Dia yang nolong aku waktu aku mau bunuh diri-"
"A-apa? Bunuh diri?"
Aqqela mengangguk, "Kamu ingat Adit?"
Oliver menatapnya dengan mata memerah.
"Malam itu, dunia aku rasanya mau hancur waktu aku hampir di lecehin sama Adit. Aku bener-bener nggak sanggup lagi. Aku udah kehilangan semuanya. Aku ngerasa udah nggak ada lagi alasan buat aku hidup. Jadi malam itu... aku mutusin bunuh diri."
Oliver membulatkan mata merasa dadanya di tinju oleh fakta yang tak pernah dia tau sebelumnya.
Aqqela melewati banyak hal sulit, tapi dia seakan bodoh yang tak tau apapun.
"Aku lompat ke sungai. Tapi Fattah justru datang dan selametin aku. Dia bawa aku ke Jakarta Selatan. Dan semuanya di mulai dari sana."
Oliver menggigit bibir sambil merunduk dengan air matanya kian tumpah.
"Fattah udah lama nahan sakit setiap lihat aku lebih peduli sama kamu. Jadi aku mohon sama kamu, udah, ya! Kita harus berhenti. Jangan sayang aku lagi! Aku takut nyakitin Fattah lebih parah dari itu. Dan aku nggak mau kamu sedih terus-terusan."
"Aku nggak bisa," jawab Oliver.
"Oliv-"
"AKU NGGAK BISA QELL," bentaknya marah, "Kamu pikir aku main-main waktu aku bilang sayang kamu? Kamu bilang sama aku sekarang, kamu belum sayang dia, kan?"
Aqqela mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dan hujan.
"Qel, jawab aku! Kamu masih sayang aku, kan?
Nggak mungkin kamu sayang Fattah, kan? Iya, kan?"
Melihat diamnya Aqqela membuat dada Oliver merasa di tusuk ribuan jarum sekarang.
Air mata pemuda itu terus mengalir di pipinya, sebelum akhirnya Oliver memilih menarik tubuh Aqqela ke dalam dekapan hangatnya.
"Qell, tolong jangan nyakitin aku lebih parah dari ini! Aku beneran nggak sanggup," isaknya sambil mengurung tubuh Aqqela di pelukannya.
"Aku selalu bilang sama kamu, aku nggak percaya kalau karma itu ada. Terus ini apa?" lirih Oliver sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Aqqela, membuat tangis gadis itu jadi ikut pecah.
"Aku udah jahat sama kamu. Please, lupain aku, ya! Kamu harus sayang cewek lain lagi! Jangan sayang aku terus!" kata Aqqela bergetar.
Oliver menggeleng lemah, "Nggak mau. Aku cuma mau sayang sama kamu," bisik cowok itu serak sambil mengeratkan pelukannya.
Oliver kemudian melepaskan pelukan dan menangkup wajah Aqqela.
"Kalian cerai, ya! Terus kamu nikah sama aku, biar kamu nggak kemana-mana lagi!"
Mata Aqqela membulat sepenuhnya, "Oliv, kamu bercanda?"
"Aku serius. Kamu pikir aku masih bisa bercanda dalam keadaan kayak gini?" sentak Oliver.
"Aku nggak mau main-main sama pernikahan. Lang, please! Kita harus berhenti! Terutama kamu. Kamu harus berhenti sebelum semuanya makin jauh."
"AKU NGGAK MAU," teriaknya frustasi, "Kamu denger Qell, kamu satu-satunya perempuan yang aku sayang setelah mama. Aku nggak pernah sayang sama Vicky atau siapapun itu. Aku cuma sayang sama kamu selama ini. Aku emang salah karena dari awal jadiin kamu bahan taruhan atau alat balas dendam. Tapi aku nggak bohong, kalau aku beneran jatuh cinta sama kamu."
"Udah terlambat Oliv, aku udah-"
"ANJING!" Oliver menendang body mobilnya dengan rahang mengeras membuat Aqqela terkejut, "Jadi kamu lebih pilih dia?" tanyanya menunjuk Fattah nyalang.
Sementara Fattah hanya diam, tidak mengatakan apapun.
"Kamu beneran mau ninggalin aku karena dia? Iya?"
Aqqela menghapus air matanya sesaat, sebelum akhirnya memilih mengangguk.
"Fattah udah suami aku sek-"
BRAK!!!
"BRENGSEK!" umpat Oliver menggebrak mobilnya dengan kepalan tangannya membuat Aqqela menjerit kaget.
Oliver menatap Aqqela nyalang, "Lo mau gue pergi dari hidup lo, kan? Karena gue di sini cuma pengganggu kalian. Iya, kan? Padahal gue yang dari awal sama lo, bukan dia. Dia yang rebut lo dari gue, bukan gue yang rebut lo dari dia," sentak Oliver berapi-api.
Aqqela menggigit bibir, menatap Oliver dengan mata memerah.
"Fine, gue bakalan pergi dari lo, selamanya. I hate you, Nat. I hate you so much! Gue cuma berharap, kita nggak akan ketemu lagi," teriaknya.
"Gue nyesel. Demi Tuhan gue nyesel, kenapa gue harus jatuh cinta sama cewek jahat kayak lo!"
Aqqela mendongak menatapnya. Oliver mengeraskan rahang dan menatap gadis itu tajam.
"Tugas gue buat jagain lo udah selesai. Kita putus. Kita bener-bener putus sekarang," desisnya sebelum akhirnya berbalik arah menuju ke mobilnya.
Oliver berhenti sebentar. Cowok itu merunduk dengan tangan mengepal.
Hancur.
Semuanya sudah hancur lebur sekarang.
Aqqela Calista, gadis yang selalu dia ikrarkan sebagai cinta pertamanya, kini sudah sah menjadi istri orang lain.
Oliver melangkah mendekati mobil dan membuka pintu.
"Oh, ya!" Oliver menatap Fattah dan Aqqela bergantian, membuat Aqqela menatapnya nanar, "Congrats, buat pernikahan kalian!"
Brak!
Pintu mobil di tutup kasar, sebelum akhirnya Ferarri itu melaju cepat di jalan raya meninggalkan keduanya.
"Brengsek Aqqela, brengsek!" umpatnya memukul setir kemudi, dengan perasaan kecewa.
Oliver menancap mobilnya kencang, hingga mobilnya hendak melewati lampu merah dan perempatan jalan.
Namun karena mengemudi dalam keadaan marah, Oliver mengabaikan lampu lalu lintas yang menyala merah sekarang dan memilih menerobos begitu saja.
Hingga dia terlambat menyadari, sebuah truk bermuatan berat melaju kencang dari arah kirinya.
BRAKKKK!!!
Dan detik selanjutnya, mobil Oliver terpental sangat jauh dengan bagian samping mobilnya hancur, sementara tubuh Oliver terpental keluar dan tergeletak di aspal.
Darahnya mengalir deras bercampur dengan hujan.
Pandangan Oliver mulai mengabur, merasakan banyak orang berlarian mendekatinya dan berkerumun di dekatnya.
"OLIVER!!!" jerit Aqqela histeris dan melompat turun dari atas motor Fattah.
Aqqela berlari menerobos orang-orang dan mendekati Oliver yang tergeletak tak berdaya di jalan raya.
"Oliver! Bangun, Oliv! Ya Allah, ini gimana?"
Aqqela menangis keras dan terisak sejadi-jadinya sambil menepuk-nepuk pipi Oliver.
Fattah menaruh helmnya di motor dan berlarian ke arah Oliver, kemudian jongkok di sebelahnya dengan panik.
"Oliv, Oliver! Pak, tolong panggilin ambulance, pak!" panik Fattah.
Tangis Aqqela makin tumpah dengan kepala Oliver dia letakkan di atas pahanya.
"Fattah, ini gimana?" rancaunya cemas.
"Iya-iya, bentar, ya!" kata Fattah tak kalah cemas, sementara satu orang mulai menghubungi rumah sakit.
"Darahnya banyak banget," adunya terisak, membuat Fattah semakin bingung, "Oliv, please! Jangan bikin gue takut kayak gini, gue mohon!"
Samar-samar, Fattah masih melihat bahwa Oliver masih sadar.
"Oliv, lo denger gue, kan?" tanya Fattah menepuk pipinya.
Oliver bergumam pelan dengan suara tidak jelas.
Sebelum akhirnya kesadaran Oliver hilang total dengan kepalanya sudah melemas di paha Aqqela.
"OLIV!" Fattah berteriak panik.
Aqqela sendiri tersentak dengan tangannya sudah penuh oleh darah sekarang, sementara orang-orang semakin banyak mengerubungi mereka.
"OLIVER! BANGUN OLIV!" Jerit Aqqela histeris dan menangis keras dengan tak terkendali.
Tidak lama, ambulance datang. Membuat Fattah bersama para warga membantu petugas untuk menaikkan cowok itu ke ambulance.
"Ikut ke ambulance nggak papa! Gue susulin pakai motor," kata Fattah membuat Aqqela menoleh kaget.
"Fat-"
"Udah, nggak papa. Masuk aja!" kata Fattah berlari menuju motornya.
Aqqela tertegun. Gadis itu menghapus air matanya sesaat dan naik ke atas ambulance, sementara motor Fattah mengikuti di belakang.
***