Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DALAM SEPIRING NASI GORENG
Aroma embun di Lembang masih tertinggal di sela-sela jendela kayu, berpadu dengan wanginya kebun teh yang terbawa angin masuk ke dalam rumah. Rangga menghirup dalam-dalam aroma itu, menghirup rasa syukur yang selama ini ia dambakan. Benar kata Syakira, langit di Bandung memang beda. Di sini, setiap napas tidak lagi terasa sesak oleh makian, cuma ada ketenangan yang menyusup pelan ke pori-pori kulitnya.
Langkah kaki Rangga berderap halus menuju dapur. Ia sengaja bangun lebih awal, bahkan sebelum azan subuh beneran selesai berkumandang. Suasana dapur rumah barunya ini modern sekali, tapi Rangga tetap merasa paling nyaman saat ia memegang sudip kayu tua miliknya. Tapi, langkahnya terhenti saat menatap Syakira sudah berdiri di depan wastafel. Wajah istrinya itu pucat pasi, kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat sekali.
"Hoek... hoek..."
Suara itu menyayat hati Rangga. Seketika ia menghampiri istrinya, memijat tengkuk Syakira dengan gerakan yang sangat hati-hati. Syakira memejamkan mata, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ini sudah minggu ketiga Syakira mengalami morning sickness yang parah sekali. Tiap kali mencium aroma nasi yang baru matang, perutnya seolah diaduk-aduk tanpa ampun.
"Masih mual ya, Dek? Masak apa sih sampai begini? Sudah, istirahat saja deh di kamar," bisik Rangga penuh kecemasan.
Syakira menggeleng pelan, mencoba menarik napas panjang meski dadanya naik turun. "Cuma mau bikin teh hangat kok, Mas. Tapi kok bau air mendidih saja bikin aku pusing ya... ah, lemah sekali deh aku ini," keluhnya dengan suara yang kecil.
Rangga tersenyum tipis, lalu menuntun Syakira duduk di kursi makan kayu yang empuk. "Lemah apa sih? Kamu itu lagi berjuang bawa nyawa di dalam perut. Sudah, urusan dapur biar Mas yang pegang hari ini. Kamu duduk manis saja ya, temani Mas masak."
Rangga mulai bergerak lincah. Ia mengambil nasi sisa semalam dari penanak nasi. Tangannya dengan cekatan mengiris bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit. Suara irisan pisau di atas talenan kayu terdengar ritmis, seperti melodi yang menenangkan. Sambil mengaduk bumbu di atas wajan, ingatan Rangga seketika melayang kembali ke beberapa tahun silam di Jakarta.
Dulu, di apartemen mewah yang terasa dingin seperti es itu, Rangga pernah mencoba memasak nasi goreng yang sama untuk Laras. Saat itu Laras juga sedang hamil Rinjani. Tapi bukannya pujian yang didapat, Rangga justru menatap wajah jijik Laras.
"Mas, bau bawangnya busuk sekali sih! Kamu mau bikin aku mati mual ya? Ah, kamu ini kuli ya tetap kuli, seleranya rendahan sekali. Masak nasi goreng pakai terasi? Jijik deh!"
Suara Laras yang melengking itu dulu sukses meruntuhkan martabat Rangga dalam sekejap. Tapi sekarang, pemandangan di depannya jauh berbeda. Meski wajahnya masih pucat, Syakira justru menatap Rangga dengan binar mata yang penuh kekaguman. Syakira menopang dagu, memperhatikan setiap gerakan suaminya dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
"Mas Rangga kok jago sekali sih pegang sudip? Gayamu sudah kayak koki di hotel bintang lima saja deh," goda Syakira sambil terkekeh pelan di sela rasa mualnya.
"Loh, kamu lupa ya? Mas ini kan bos Angkringan Berkah. Kalau Mas nggak jago masak, nggak mungkin cabangnya sampai tiga," jawab Rangga sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Syakira tertawa kecil.
Meski perutnya bergejolak, Syakira beneran berusaha menghargai usaha suaminya. Ia menghirup aroma nasi goreng yang mulai menguar. Anehnya, aroma terasi yang dulu dihina Laras, kali ini terasa seperti wangi surga bagi Syakira. Ia menatap punggung tegap Rangga, punggung yang dulu memikul beban berat sebagai kuli panggul, kini menjadi sandaran paling kokoh buat hidupnya.
"Sudah jadi! Nasi goreng spesial ala Chef Rangga. Sedikit jahe biar mualmu hilang ya, Dek," ujar Rangga sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat di depan Syakira.
Syakira menyuap sesendok kecil ke mulutnya. Rangga menahan napas, takut kalau Syakira bakal lari ke kamar mandi lagi. Tapi, Syakira justru mengunyahnya pelan, lalu matanya berbinar. "Enak... enak sekali, Mas. Kok bisa pas begini sih rasanya? Makasih ya, Mas Rangga."
Hati Rangga membuncah. Pujian sederhana itu terasa jauh lebih mewah daripada keuntungan ratusan juta dari cabangnya. Menatap istrinya makan dengan tenang meski dalam kondisi payah adalah kemenangan sejati bagi Rangga. Ia menyadari satu hal; bahagia itu cuma soal kepada siapa kita memberikan hati. Di tangan orang yang salah, emas pun dianggap sampah. Tapi di tangan yang tepat, sepiri nasi goreng pun terasa seperti harta karun.
Sinar matahari mulai menembus masuk melalui celah gorden, menyinari meja makan yang sudah tertata rapi. Rinjani turun dari lantai atas dengan langkah riang. Seragam sekolahnya sudah rapi, rambutnya dikuncir kuda yang bergoyang setiap kali ia melompat kecil. Gadis itu seketika berhenti saat menatap Ayah dan Mamanya sudah asyik di meja makan.
"Wah, Ayah masak nasi goreng ya? Bau harumnya sampai ke kamar Rinjani loh!" seru Rinjani sambil langsung duduk di samping Syakira.
"Iya dong, spesial buat Mama yang lagi rewel perutnya," jawab Rangga sambil mengusap kepala Rinjani.
Rinjani menatap piring Syakira, lalu pandangannya beralih ke perut Syakira yang mulai tampak membuncit sedikit di balik daster longgarnya. Dengan gerakan lembut yang bikin hati Rangga meleleh, Rinjani mengelus perut Syakira.
"Dedek bayi, jangan nakal-nakal ya di dalam. Kasihan Mama loh, mual terus. Kamu makannya yang pinter ya di dalam sana, biar cepat besar dan main sama Kakak," bisik Rinjani ke arah perut Syakira.
Syakira tertegun, lalu mengusap pipi Rinjani dengan penuh kasih. "Rinjani sayang sekali ya sama Dedek bayi? Nggak takut nanti kasih sayang Ayah sama Mama terbagi?"
Rinjani menggeleng cepat. Wajahnya yang polos tampak serius sekali. "Nggak dong, Ma. Kata Ayah, cinta itu bukan kayak kue yang kalau dipotong jadi habis. Tapi kayak cahaya lampu, makin banyak lampunya, rumah kita makin terang. Rinjani malah senang deh punya teman main nanti."
Rangga terdiam, tenggorokannya mendadak terasa tersumbat oleh rasa haru. Ia menatap kedua wanita di depannya ini. Dulu, Rinjani adalah anak yang pendiam dan sering ketakutan karena suasana rumah yang penuh konflik di Jakarta. Tapi sekarang, di bawah asuhan Syakira yang lembutnya luar biasa, Rinjani tumbuh jadi anak yang punya empati besar sekali.
"Mas, kok malah melamun sih? Ayo makan, nanti nasi gorengnya dingin loh," tegur Syakira sambil menyodorkan sendok ke arah Rangga.
"Eh, iya... iya Dek," Rangga tersadar dari lamunannya.
Meja makan itu beneran jadi saksi bisu betapa hidup Rangga sudah berputar 180 derajat. Tidak ada lagi piring yang dibanting, tidak ada lagi hinaan soal gaji yang kecil, atau sindiran tentang status sosialnya yang dulu cuma kuli. Cuma ada suara tawa Rinjani dan perhatian-perhatian kecil Syakira yang selalu memastikan nasi di piring Rangga cukup banyak.
"Mas, nanti sepulang dari ruko, mampir ke toko buah ya? Aku pengen jeruk yang asam sekali deh. Kayaknya segar kalau dimakan siang-siang," pinta Syakira.
"Siap, Tuan Putri. Jeruk satu truk pun Mas bawakan kalau itu bikin kamu senang," canda Rangga yang disambut tawa renyah oleh Rinjani.
"Ah, Ayah gombal deh! Mama jangan percaya ya," timpal Rinjani sambil menjulurkan lidah.
Suasana santai itu beneran membuat Rangga merasa batinnya pulih seutuhnya. Ia menyadari bahwa kekayaan yang ia miliki sekarang—tiga cabang angkringan yang sukses dan rumah di Lembang—hanyalah bonus. Kekayaan sejati yang sebenarnya ia perjuangkan sejak keluar dari Terminal Jakarta adalah rasa dihargai dalam kesederhanaan. Ia tidak butuh validasi dari dunia, ia cuma butuh tatapan bangga dari istrinya dan pelukan hangat dari anaknya.
Sambil menyantap nasi goreng buatannya sendiri, Rangga menatap keluar jendela. Langit Bandung mulai membiru cerah. Ia tahu, ke depan mungkin bakal ada tantangan baru, urusan bisnis yang makin rumit, atau kelelahan mengurus bayi. Tapi selama ada Syakira di sampingnya yang selalu memuji masakannya meski dalam keadaan mual, Rangga merasa ia sanggup menaklukkan dunia.
"Mas, habis makan, tolong bantu aku pilih baju buat pengajian nanti sore ya? Badanku rasanya agak melar nih, jadi kurang percaya diri deh," ujar Syakira malu-malu.
Rangga tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Syakira di atas meja. "Dek, di mata Mas, kamu itu tetap wanita paling cantik. Mau melar, mau pucat, mau pakai daster sekalipun, kamu itu ratunya Mas. Nggak usah nggak percaya diri gitu dong."
Syakira tersipu, wajahnya yang tadi pucat kini sedikit merona. Rinjani cuma bisa geleng-geleng kepala menatap kemesraan orang tuanya. Kehangatan ini, cinta dalam sepiring nasi goreng ini, beneran jadi fondasi yang takkan tergoyahkan buat masa depan mereka di Bandung. Rangga pun tersenyum, menyadari bahwa ia sudah beneran sampai di rumah yang sesungguhnya.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,