NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Bisa Disembuhkan

Satu jam telah berlalu, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Paman Omar mengkhawatirkan keadaan Hanin, dia kemudian memberanikan diri menghampiri Daniyal untuk membujuk Hanin supaya makan. Daniyal mengerti, dia mendekati Hanin dan duduk di sampingnya.

“Nona ini sudah malam, Anda mau makan apa biar saya belikan?” tanya Daniyal hati-hati.

Hanin baru saja ingin menolak tawaran itu, tapi perutnya tiba-tiba bersuara, dengan muka merah dia menjawab, “Apa di sini ada penjual rujak?” tiba-tiba Hanin ingin makanan yang pedas Dan segar.

Daniyal melongo, permintaan Hanin sungguh aneh karena dia baru mendengar nama makanan itu.

“Kalau di rumah, Bibi Zaenab bisa membuatkan untukmu, Nona, tapi kalau di sini sepertinya jarang ada.” Omar ikut menjawab.

Daniyal berpikir sejenak. Lalu beranjak.

“Tunggu di sini, akan aku carikan,” pesan Daniyal.

“Kak, tidak usah!” cegah Hanin. “Tadi itu cuma bercanda, belikan saja yang ada di dekat sini, aku tidak mau merepotkan kalian.”

“Biar Paman Omar saja yang beli,” ujar Omar.

“Jangan, Paman sudah tua, tunggu saja di sini.”

“Maksudmu apa bilang aku tua?” Omar tidak terima dikatakan tua.

“Maksudku, aku ini lebih muda, jalan lebih cepat, kalau Paman nanti kelelahan. Sebaiknya jaga Nona saja di sini.”

Entah benar tidaknya maksud Daniyal, Omar pun menurutinya. Daniyal bergegas pergi mencari makanan di luar rumah sakit.

Tiba di depan pintu utama dia berpapasan dengan pasien terbaring di atas brankar, di dorong dua orang petugas medis, dan seorang pemuda mengikuti di belakangnya. Pemuda itu berjalan sambil menghubungi seseorang. Yang membuat Daniyal penasaran saat pemuda itu menyebut nama Indonesia, dia teringat Hanin juga berasal dari negara itu.

‘Tapi belum tentu juga Hanin mengenal mereka,’ batin Daniyal. Dia lantas melanjutkan langkahnya dan urung untuk mencari tahu tentang pasien itu.

Hanin duduk dengan mata terpejam ketika pasien dari Indonesia itu melintas di tempat itu, juga masuk ruang instalasi Gawat Darurat. Sementara Omar dan Amaan melihat mereka tak terlalu mempedulikannya.

Dokter yang memeriksa Aariz keluar dari ruang instalasi, lalu bertanya tentang keluarga pasien. Hanin mendengar suara dokter seketika terbangun dan menghampirinya.

“Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?” tanya Hanin dengan wajah cemas.

“Ayah Anda ....” dokter terlihat ragu-ragu, tapi dia tidak bisa menyembunyikan keadaan pasien. Apa pun itu dia harus mengatakannya, “Dia sebenarnya terkena serangan jantung stadium 3, saat ini dia harus menjalani perawatan intensif,” jawab dokter dengan wajah lesu.

Hanin menutup mulutnya sendiri tak percaya mendengar sakit ayahnya. Selama ini yang dia tahu ayahnya tidak memiliki riwayat penyakit itu, atau dirinya yang tidak pernah tahu.

“Seberapa parah, Dok? apa bisa disembuhkan?” tanya Hanin dengan wajah tegang.

“Pasien saat ini harus menjalani perawatan, setelah keadaan membaik dia bisa kembali beraktivitas ringan, tapi tanpa tekanan. Peluang bertahan hidup tentu saja masih bisa hingga perkiraan 11 tahun, selama mematuhi proses penyembuhan, tapi tidak bisa sembuh total.”

“11 tahun?” Hanin bertanya dengan bibir gemetar.

“Itu hanya perkiraan dokter, Nak, usia hanya Tuhan yang tahu.”

Usai mendengar penjelasan dari dokter, Hanin bertambah sedih. Ia jatuh terduduk di kursi, Paman Omar berusaha menenangkannya, tapi tidak bisa mengatakan apa pun.

Dalam proses perawatan itu, Hanin selalu menjaga ayahnya di rumah sakit. Ia sampai beberapa hari tidak masuk kuliah karena tidak ingin meninggalkan ayahnya sendirian meskipun sebentar.

Di jam istirahat, Daniyal dan Amaan menyempatkan melihat keadaan atasan mereka. Walau bagaimanapun Aariz adalah CEO perusahaan saat ini. Selama Aariz di rumah sakit perusahaan terpaksa mengirim kandidat untuk menggantikan tugas-tugas Aariz.

Daniyal masuk ruangan, menemui Hanin.

“Nona, Anda sudah menjaga Tuan sejak semalam, sekarang waktunya Anda beristirahat, Amaan akan menjaga Tuan Aariz di sini,” kata Daniyal.

“Aku tidak bisa meninggalkan ayah, bagaimana kalau wanita itu datang kemari, dia bisa mengganggu kesehatan ayah.” Hanin terlihat sangat cemas.

“Aku akan berpesan pada Amaan untuk melarang wanita itu masuk, kalau perlu membuat pengawalan di depan ruangan ini.”

Melihat rencana Daniyal, Hanin sedikit merasa tenang. Dia berjalan keluar meninggalkan ruangan itu yang segera digantikan Amaan.

Mereka berjalan di koridor menuju taman, Daniyal sudah menyiapkan makanan untuk Hanin makan siang hari itu.

Ketika melewati pos perawat, Hanin berhenti sejenak, samar-samar Hanin mendengar perbincangan beberapa perawat sedang membicarakan keadaan seorang pasien.

“Kasihan keluarganya, mereka bingung setelah mendengar hasil tes mereka sebagai orang tua tidak bisa menjadi pendonor tulang sumsum untuk putranya. Padahal itu satu-satunya cara untuk kesembuhannya.”

“Apa keluarga lainnya juga tidak ada yang cocok?” temannya yang tengah duduk di depan monitor bertanya, tapi pandangan tetap fokus pada monitor.

“Mereka tidak memiliki keluarga lain, tapi Dokter Farhan menyarankan untuk mencari pendonor lain yang tidak ada hubungan keluarga, dia bilang itu bisa menjadi pendonor asalkan cocok.”

“Kau tahu benar, Eliz , apa kau yang merawat pasien itu?”

“Justru karena aku yang menjaga pasien itu makanya aku tahu. Pasien itu juga tampan dan masih muda, sayangnya sudah penyakitan.”

“Kau begitu menyesal, apa kau suka dengannya?” temannya menggoda.

“Mimpi pun tidak, dia ini pasien super dingin. Jarang berbicara dan sekalinya berbicara sangat ketus.”

“Bukankah kau biasanya juga sebagai perawat selalu ketus ya, sepertinya kali ini kau dapat karmanya.”

“Karma? Apa aku ini berbuat kejahatan? Keluarga pasien ini mengatakan akan memberikan uang tanda terima kasih sebesar 500 juta pada orang yang bisa mendonorkan tulang sumsumnya untuk putranya.”

“Kau tertarik dengan uangnya atau orangnya, si?”

“Kalau cocok sudah dari awal aku berikan dengan cuma-cuma, asal dia mau jadi kekasihku.” Dua perawat temannya tertawa.

“Memang kamu mau tinggal di negara lain, dia pasien dari Indonesia itu, kan?”

“Iya, sih.”

Mendengar pasien itu berasal dari negara yang sama, Hanin tergerak ingin membantunya.

“Nona kamu mau ke mana?” cegah Daniyal.

“Aku ingin membantu pasien itu.”

“Apa aku tidak salah dengar? Ayah Anda sedang terbaring di sana dan membutuhkan Anda.”

“Aku tahu, aku hanya berpikir kalau aku bisa menolong orang lain, mungkin Tuhan juga akan menolong ayahku.”

“Tapi ini donor tulang sumsum.”

“Apa sakit?”

“Bukan masalah prosesnya, mungkin proses pemulihan nanti akan membuat Anda tidak bisa menjaga Tuan Aariz.”

“Ini baru rencana, Kak, kalau tulang sumsum punyaku cocok, kalau tidak ya tidak jadi.”

Hanin berjalan menghampiri perawat itu dan menawarkan diri menjadi pendonor. Sementara Daniyal berpikir lama, donor tulang sumsum hanya bisa dilakukan keluarga pasien, jika Hanin menjadi pendonornya kemungkinan cocok itu sangat kecil, jadi Daniyal berpikir Hanin tidak mungkin bisa menjadi pendonor, jadi dia tidak perku mengkhawatirkannya.

Daniyal menyusul Hanin dan menemaninya saat proses pengecekan. Saat mereka kembali ke taman hari sudah sore, makanan untuk Hanin sudah dingin, jadi Daniyal memberikannya pada orang lain. Melihat hal itu Hanin merasa tidak enak hati.

“Maaf, gara-gara aku Kak Daniyal tidak jadi makan.”

“It’s okay, aku bisa makan di rumah,” kata Daniyal menenangkan perasaan Hanin.

“Bukankah seharusnya Kakak kembali ke perusahaan, kakak tidak bisa selalu di sini.”

“Tidak apa-apa, aku sudah izin untuk menengok Tuan Aariz hari ini.”

“Kak bisa aku minta tolong sekali lagi?”

“Untuk Nona apa saja akan aku lakukan.”

Hanin tersenyum senang, Daniyal selain baik juga seperti kakaknya sendiri. Hal itu mengingatkan Hanin pada Satya dan Awan. Hanin nyaris melamun memikirkan dua orang itu. Jika semakin diingat dia juga akan teringat dengan Papa Elvan dan Miranda, dia bisa sedih nantinya. Hanin berusaha mengabaikan perasaan rindu itu.

“Saat aku tidak bisa menjaga ayah, Kak Daniyal bersedia menjaga ayah?” tanya Hanin.

“Tapi ...,”

“Kalau soal pekerjaan Kakak di kantor, nanti biar aku yang jelaskan, bukankah bosnya adalah ayahku, nanti aku minta ayah untuk tidak memarahi kakak.”

Daniyal tertawa.

“Oke kau pintar juga ya.” Daniyal mengusap-usap kepala Hanin. Dia buru-buru menarik tangannya saat sadar gadis yang diusap kepalanya itu adalah putri atasannya, dan dia bukan gadis kecil lagi seperti Lima tahun yang lalu. Kalau Hanin marah dan mengadu pada ayahnya bisa terancam pekerjaan dirinya.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!