NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Getaran di Ujung Langkah

​Pagi ini terasa sangat berbeda bagi Raga. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, ia tidak lagi merasakan tekanan berat dari topeng perak atau lilitan perban yang menyesakkan di wajahnya. Saat ia bangun dan embusan udara dari mesin pendingin ruangan menyentuh pipi kirinya, ada sensasi dingin yang asing namun menyejukkan. Kulitnya terasa sangat sensitif, hampir seperti kulit bayi yang baru lahir, namun rasa kaku dan tarikan jaringan parut yang biasanya menyiksa setiap kali ia mencoba tersenyum, kini telah menghilang.

​Ia menoleh ke samping dan mendapati Nala masih tertidur lelap di kursi malas yang diletakkan tepat di sebelah tempat tidurnya. Tangan istrinya masih menggenggam jari-jari tangannya dengan erat, bahkan dalam tidur sekalipun. Nala tampak sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya adalah bukti dari malam-malam tanpa tidur yang ia lalui demi menjaga Raga. Raga memperhatikan wajah Nala dalam diam. Ia merasa hatinya dipenuhi oleh rasa hangat yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Gadis ini bukan lagi sekadar nama dalam sebuah dokumen kontrak, dia adalah satu-satunya orang yang bersedia masuk ke dalam api demi menyelamatkannya.

​Raga mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Rasa nyeri di punggungnya masih ada, namun tidak separah beberapa hari yang lalu. Ia perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh sisi kiri wajahnya. Ia merasakan kehalusan kulit hasil rekonstruksi tersebut. Pikirannya melayang pada momen kemarin saat pertama kali ia melihat cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Raga yang ada di cermin itu tampak lebih muda, lebih tenang, dan tidak lagi terlihat seperti seseorang yang menyimpan dendam di setiap garis wajahnya.

​"Mas Raga? Kamu sudah bangun?" suara serak Nala memecah kesunyian pagi.

​Nala segera bangkit dari kursinya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan mendekat ke arah Raga. Matanya langsung memeriksa wajah suaminya, memastikan tidak ada kemerahan atau iritasi pada area operasi.

​"Aku mengagetkanmu?" tanya Raga. Suaranya sudah jauh lebih jernih, meskipun volumenya masih belum sepenuhnya kembali normal.

​Nala menggeleng cepat. Ia mengambil segelas air hangat dan memberikannya kepada Raga. "Tidak, aku hanya kaget melihatmu sudah mencoba duduk sendiri. Pelan-pelan saja, Mas. Punggungmu masih dalam masa pemulihan."

​Raga meminum air itu dengan perlahan. "Aku merasa jauh lebih baik hari ini, Nala. Aku tidak ingin terus-menerus terbaring seperti ini. Hari ini adalah jadwal latihan fisik yang lebih berat, bukan?"

​Nala mengangguk, namun ada gurat kecemasan di wajahnya. "Iya, dokter bilang hari ini kamu akan mencoba berdiri menggunakan penyangga besi di ruang fisioterapi. Tapi jangan memaksakan diri jika memang belum sanggup, Mas."

​"Aku harus sanggup, Nala. Aku tidak ingin keluar dari rumah sakit ini dengan didorong oleh Pak Hadi lagi. Aku ingin keluar dengan kakiku sendiri," ucap Raga dengan nada bicara yang tegas. Tekadnya sudah bulat. Memiliki wajah yang baru memberinya energi tambahan untuk memperbaiki sisa hidupnya yang lain.

​Sekitar pukul sepuluh pagi, tim terapis datang untuk membawa Raga ke ruang khusus pemulihan saraf. Ruangan itu luas, dipenuhi dengan alat-alat dari logam yang tampak dingin, serta lantai yang dilapisi karpet karet agar tidak licin. Bau ruangan itu adalah campuran antara keringat, karet, dan minyak urut medis.

​Raga dipindahkan dari kursi roda ke sebuah alat yang memiliki dua palang besi sejajar di sisi kanan dan kirinya. Dokter Gunawan dan dua orang asisten terapis sudah berdiri di sana, siap untuk menopang tubuh Raga jika sewaktu-waktu ia goyah. Nala berdiri di ujung palang besi itu, memberikan pandangan penyemangat yang tidak pernah putus.

​"Baik, Tuan Raga. Fokuslah pada pusat tubuh Anda. Jangan terburu-buru. Gunakan kekuatan tangan Anda untuk membantu menopang berat badan saat Anda mencoba meluruskan lutut," instruksi terapis utama dengan suara yang tenang.

​Raga mencengkeram palang besi itu dengan sangat kuat. Ia bisa merasakan urat-urat di lengannya menonjol. Ia menarik napas panjang, lalu mulai memberikan perintah pada otot-otot kakinya.

​Satu detik. Dua detik.

​Raga merasakan getaran yang hebat di paha dan betisnya. Keringat dingin mulai membasahi kening dan punggungnya. Rasa sakit yang tajam seperti sengatan listrik menjalar dari telapak kakinya menuju tulang belakang. Ia mengerang pelan, giginya mengatup rapat menahan rasa perih yang luar biasa. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah-olah gravitasi sedang mencoba menariknya kembali ke lantai dengan kekuatan dua kali lipat.

​"Tarik napas, Mas! Kamu bisa!" seru Nala. Ia mengepalkan tangannya sendiri, seolah-olah sedang ikut merasakan perjuangan Raga.

​Dengan satu sentakan terakhir yang penuh dengan keputusasaan dan amarah yang tertahan, Raga berhasil meluruskan kakinya. Ia berdiri tegak. Meski tubuhnya gemetar hebat dan kedua tangannya gemetar karena menahan beban, ia berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Selama beberapa detik, ruangan itu menjadi sangat sunyi. Para terapis tampak menahan napas, menyaksikan keajaiban dari tekad seorang manusia.

​Raga menatap Nala dari posisinya yang berdiri. Pandangan mereka bertemu. Ada rasa bangga dan haru yang meledak di antara mereka. Raga merasa dirinya kembali menjadi pria seutuhnya. Ia bukan lagi pangeran yang cacat, ia adalah Raga Adhitama yang asli.

​"Sangat bagus, Tuan Raga. Pertahankan posisi ini selama lima detik lagi," puji Dokter Gunawan.

​Namun, baru saja detik ketiga berlalu, kekuatan di lutut kiri Raga mendadak hilang. Tubuhnya goyah ke arah samping. Dengan sigap, kedua terapis langsung menangkap tubuhnya dan menurunkannya kembali ke kursi roda. Raga terduduk dengan napas yang terengah-engah. Wajahnya pucat pasi karena kelelahan yang luar biasa, namun matanya berkilat penuh kemenangan.

​"Aku berdiri," bisik Raga. Suaranya bergetar karena emosi.

​"Iya, Mas. Kamu berdiri tegak sekali tadi," ucap Nala sambil berlutut di depan kursi roda Raga, mengusap keringat di wajah suaminya menggunakan handuk kecil. "Itu kemajuan yang luar biasa."

​Raga menyandarkan kepalanya, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdebu kencang. "Rasanya sakit sekali, Nala. Kakiku terasa seperti ditusuk-tusuk jarum panas. Tapi melihatmu berdiri di sana menungguku, rasa sakit itu jadi terasa layak untuk dilalui."

​Setelah sesi latihan yang melelahkan itu selesai, mereka kembali ke kamar. Raga tertidur karena pengaruh obat pereda nyeri dan kelelahan fisik. Nala duduk di sofa, membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa laporan dari Pak Hadi. Ia menyadari bahwa tanggung jawabnya di kantor belum selesai. Beberapa kontrak baru membutuhkan persetujuannya sebagai wali resmi Raga.

​Sore harinya, Sera datang membawa buket bunga segar dan sebuah kotak kecil. Wajah Sera tampak jauh lebih santai dari biasanya.

​"Nyonya Muda, ada titipan dari galeri lukisan. Mereka bilang lukisan badai yang Anda buat sudah terjual dalam sebuah lelang amal tertutup dengan harga yang sangat fantastis," ucap Sera sambil meletakkan kotak itu di meja.

​Nala terkejut. "Siapa yang membelinya?"

​"Seorang kolektor anonim dari Singapura. Namun, uangnya sudah masuk ke rekening yayasan kanker yang Anda pilih sebelumnya," jelas Sera. Ia kemudian melirik Raga yang masih tertidur. "Bagaimana kondisi Tuan Muda?"

​"Dia sudah bisa berdiri hari ini, Sera. Meskipun hanya beberapa detik, tapi itu perkembangan yang sangat besar," jawab Nala dengan senyum bangga.

​"Tuan Muda adalah pria yang keras kepala. Saya yakin dia akan segera berjalan lagi untuk mengejar siapa pun yang berani mengganggunya," ucap Sera dengan nada sedikit bercanda, sesuatu yang sangat langka bagi wanita kaku itu.

​Sera kemudian menyerahkan sebuah dokumen lagi. "Mengenai Burhan, hakim telah memutuskan untuk tidak memberikan jaminan sama sekali. Dia akan tetap di tahanan rumah sakit sampai proses persidangan dimulai bulan depan. Pengacaranya mencoba mencari celah dengan alasan kesehatan mental, namun tim medis kita sudah mematahkan klaim tersebut."

​Nala mengangguk puas. "Pastikan dia tidak punya kesempatan untuk bicara pada media. Aku tidak ingin nama Adhitama terus-menerus dikaitkan dengan kegilaannya."

​Setelah Sera pergi, Raga mulai terbangun. Ia melihat kotak kecil yang dibawa Sera tadi. "Apa itu?" tanya Raga dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

​Nala membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kartu ucapan terima kasih dari galeri dan sebuah plakat kecil atas keberhasilan lelang lukisannya. "Lukisanku laku, Mas. Dan uangnya sudah didonasikan."

​Raga tersenyum, kali ini senyumannya terlihat lebih bebas karena tidak ada lagi jaringan parut yang menarik sudut bibirnya. "Aku tahu lukisanmu berharga. Tapi bagiku, lukisan terbaikmu adalah saat kau melukis harapanku kembali."

​Nala tersipu. Ia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. "Mas Raga, dokter bilang dalam tiga hari kita sudah boleh pulang ke rumah. Kamu akan melanjutkan terapi di mansion agar suasana hatimu lebih baik."

​"Pulang," gumam Raga. Ia menatap langit-langit. "Aku sudah bosan dengan bau obat ini. Aku ingin segera pulang. Aku ingin melihat studio lukismu, dan aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

​"Menunjukan sesuatu?" tanya Nala penasaran.

​"Nanti kau akan tahu saat kita sampai di sana," jawab Raga misterius. Ia meraih tangan Nala dan menciumnya.

​Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbicara banyak hal. Bukan tentang bisnis, bukan tentang dendam, tapi tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi saat Raga sudah bisa berjalan sempurna nanti. Raga menceritakan masa kecilnya sebelum kecelakaan, sebuah sisi kehidupan yang tidak pernah ia bagi dengan siapa pun sebelumnya. Nala mendengarkan dengan penuh perhatian, menyadari bahwa di balik topeng perak yang dulu selalu ia takuti, tersimpan seorang pria yang hanya merindukan kedamaian dan kasih sayang yang tulus.

​Penantian panjang di rumah sakit ini akan segera berakhir. Namun, bagi Raga dan Nala, ini hanyalah garis awal dari sebuah perlombaan yang sesungguhnya. Mereka tahu bahwa di luar sana masih ada tantangan, masih ada mata-mata yang mengincar, dan masih ada pemulihan fisik yang menyakitkan. Namun, dengan genggaman tangan yang saling menguatkan, mereka yakin bahwa setiap langkah yang mereka ambil tidak akan pernah lagi terasa sendirian.

​Raga menatap wajah Nala yang mulai terlelap di sampingnya. Ia menyentuh wajahnya sendiri sekali lagi. Ia bukan lagi monster. Ia adalah pria yang dicintai oleh wanita paling luar biasa di dunia. Dan bagi Raga Adhitama, itu adalah mahkota yang jauh lebih berharga daripada seluruh aset perusahaannya.

1
Blu Lovfres
next thor, ku tunggu selalu updated nya💪💪❤️❤️
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Blu Lovfres
is the amazing novel
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
ohh pantas,,novel ini
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
Blu Lovfres
kembar jagoan
Blu Lovfres
wahh selamat untuk keluarga adihtama❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️💪💪
Blu Lovfres
g tau kedepannya 🙄
Blu Lovfres
kok ga ada,mlm pertama ,atw siang pertana😂🤣🙏
Blu Lovfres
🥰🥰🥰❤️❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️🥰
Blu Lovfres
💪💪💪❤️❤️🥰
Blu Lovfres
setiap bab,kata" mu sangat bagus thor
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
Blu Lovfres
lanjut membaca 💪
novel yg sangat bagus
Blu Lovfres
good job nalla,dn ilmu yg kau pelajari jangan di siakan"
Blu Lovfres
💪💪💪masih semangat utk membaca🥰
Blu Lovfres
knpa ga oplas dari dlu,
anga,seorang melyeder, ceo kya
ga mampu oplas🙄🤦‍♀️
Blu Lovfres
💪💪💪best novel ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!