SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: JARINGAN YANG SEMAKIN MENGERAT
BAB 22: JARINGAN YANG SEMAKIN MENGERAT
Hari-hari berikutnya dihabiskan Putri di rumah sakit, mendampingi Rara yang mulai terlihat lebih lemas dan sering mengantuk. Meskipun ruang perawatan yang ditempati Rara adalah ruang VIP yang nyaman dan mewah—semua berkat Rizky—hati Putri tidak pernah tenang. Setiap kali melihat wajah polos adiknya yang pucat, rasa bersalah dan ketakutan menyergapnya kembali.
Rizky benar-benar luar biasa. Dia tidak hanya menanggung semua biaya, tapi juga meluangkan waktu setiap hari untuk datang menjenguk, membawa mainan baru, atau sekadar duduk berjam-jam di samping tempat tidur Rara sambil membacakan dongeng. Pria itu bahkan sering kali menginap di ruang tunggu atau di kamar hotel terdekat agar bisa segera berada di sana jika ada sesuatu yang dibutuhkan Putri atau Rara.
Namun, semakin besar kebaikan Rizky, semakin berat beban di hati Putri. Dia merasa seperti penipu ulung. Di satu sisi, dia berterima kasih sebesar-besarnya karena Rizky telah menyelamatkan nyawa Rara. Tapi di sisi lain, dia menyimpan bukti yang bisa menghancurkan ayah pria itu, mengubah hidup Rizky menjadi neraka, dan mungkin bahkan merusak sumber kebaikan yang sedang dinikmati Rara saat ini.
"Kakak..." suara kecil Rara memecah lamunan Putri di suatu sore. Rara membuka matanya perlahan, menatap Putri dengan tatapan lelah namun manis.
"Iya, Sayang? Kakak di sini," jawab Putri cepat, mengusap kepala adiknya lembut. "Kamu haus? Atau mau sesuatu?"
Rara menggeleng pelan. "Kakak... kenapa wajah Kakak sedih terus? Apakah Rara sakit parah? Apakah Rara bakal pergi ke surga seperti Ayah dan Ibu?"
Pertanyaan polos itu membuat dada Putri sesak. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. "Tidak, Sayang. Tidak boleh ngomong begitu. Rara cuma sakit sedikit, nanti setelah operasi, Rara bakal sembuh total. Rara bakal bisa main lagi, lari-lari, dan makan es krim sebanyak yang kamu mau. Kakak janji."
Rara tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan kecilnya yang terpasang infus. "Kalau gitu, Kakak jangan sedih ya. Kalau Kakak sedih, Rara juga sedih. Dan... Pak Rizky juga sedih kalau lihat Kakak sedih. Pak Rizky baik ya, Kak?"
Putri mengangguk, mencium punggung tangan Rara. "Iya, Sayang. Pak Rizky sangat baik."
"Rara suka Pak Rizky. Kalau Rara sembuh, Rara mau Pak Rizky jadi Ayah Rara yang baru," ucap Rara polos sebelum kembali memejamkan mata karena kelelahan.
Putri terdiam, menatap wajah adiknya yang sudah tertidur. Kata-kata Rara itu terus bergema di kepalanya. "Pak Rizky jadi Ayah Rara yang baru." Apakah itu mungkin? Apakah Putri bisa benar-benar membangun keluarga bahagia dengan Rizky setelah semua kebenaran terungkap? Atau apakah kebenaran itu akan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Rara akan sebuah keluarga?
Tiba-tiba, ponsel Putri bergetar di saku roknya. Dia buru-buru keluar dari ruangan agar tidak mengganggu tidur Rara. Saat melihat layar ponselnya, wajahnya berubah pucat. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, namun dia tahu siapa pengirimnya.
[Besok sore, jam 4. Di tempat biasa. Jangan telat. Dan bawa salinan dokumen yang ada di tas itu. Jangan coba-coba membohongiku lagi, Putri. - D]
Pak Darmawan. Dia tidak membuang waktu. Dia tahu Rara dirawat di rumah sakit, tapi dia tidak peduli. Dia tetap memanggil Putri, bahkan meminta salinan dokumen yang baru saja Putri sembunyikan. Putri mengepalkan tangannya. Pria ini benar-benar tidak punya hati. Dia hanya melihat Putri sebagai alat, sebagai pion dalam permainannya melawan Pak Hidayat.
Putri ingin menolak. Dia ingin membalas pesan itu dan mengatakan dia tidak bisa. Tapi dia ingat ancaman Pak Darmawan terhadap Rara. Jika dia menolak, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan orang gila itu? Dia bisa saja melakukan sesuatu pada Rara di rumah sakit ini. Pikiran itu membuat Putri gemetar. Dia tidak punya pilihan. Dia harus pergi.
Putri mengetik balasan singkat: [Baik. Saya akan datang.]
Malam itu, Putri menelepon Nina. Dia perlu bantuan sahabatnya lagi.
"Nina, aku butuh bantuanmu," bisik Putri lewat telepon, berdiri di koridor rumah sakit yang sepi. "Pak Darmawan memanggilku besok sore. Dia minta aku membawa salinan dokumen dari tas itu. Aku harus mengambilnya dari rumah kakekmu besok pagi sebelum bertemu dia."
"Dasar serigala tua! Dia benar-benar tidak tahu rasa takut ya, malah minta dokumen saat adikmu sedang sakit?" gerutu Nina kesal lewat telepon. "Tapi baiklah, Putri. Besok pagi aku akan jemput kamu di rumah sakit sebelum Rizky datang. Kita ambil dokumennya, kamu salin, dan kita simpan lagi. Tapi hati-hati, Putri. Kalau dia tahu kamu punya bukti asli dan hanya memberinya salinan, dia bisa marah besar."
"Aku tahu, Nina. Tapi aku tidak mungkin memberinya bukti asli. Itu satu-satunya harapanku untuk keadilan orang tuaku. Aku hanya akan memberinya salinan, biar dia puas dan tidak menggangguku sementara waktu," jawab Putri tegas.
Keesokan paginya, rencana berjalan lancar. Putri berpamitan pada perawat dan mengatakan dia akan pergi sebentar untuk membeli kebutuhan. Nina menjemputnya dengan mobil yang tidak mencolok, dan mereka berangkat menuju rumah tua milik kakek Nina di pinggiran kota.
Rumah itu memang sepi dan terpencil, dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rimbun. Nina memarkir mobil di halaman belakang, lalu mereka masuk ke dalam. Debu-debu beterbangan saat mereka berjalan menuju ruang bawah tanah yang kering dan sejuk, tempat Nina menyembunyikan tas hitam itu di dalam sebuah lemari besi tua yang sudah tidak terpakai.
Putri mengeluarkan dokumen-dokumen penting, terutama buku catatan Pak Soleh dan beberapa foto kunci, lalu memotokopynya di sebuah toko fotokopi kecil di dekat sana sebelum kembali menyimpan dokumen asli dengan aman di lemari besi itu.
"Kamu yakin mau pergi sendirian?" tanya Nina cemas saat mereka kembali ke kota. "Aku bisa mengawasimu dari jauh, lho."
"Jangan, Nina. Terlalu berisiko. Kalau Pak Darmawan melihatmu, dia akan curiga dan malah bisa mencelakaimu. Aku harus menghadapi ini sendiri. Kamu sudah cukup banyak membantuku," jawab Putri sambil memeluk sahabatnya sebentar sebelum kembali masuk ke rumah sakit.
Sore harinya, setelah memastikan Rizky datang dan menjaga Rara, Putri berpamitan dengan alasan ingin pulang sebentar untuk mandi dan mengganti baju. Rizky tidak curiga dan malah menyuruhnya berhati-hati.
Putri pergi ke taman kota tua, tempat pertemuan biasa mereka. Seperti sebelumnya, mobil sedan hitam milik Pak Darmawan sudah menunggu. Putri masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut.
"Kau tepat waktu," ucap Pak Darmawan saat Putri masuk. Dia terlihat lebih rapi dari biasanya, namun tatapannya tetap tajam dan mengintimidasi. "Bawa apa yang aku minta?"
Putri mengeluarkan map berisi salinan dokumen itu dan menyerahkannya. "Ini. Semua yang ada di dalam tas itu aku salin. Sekarang, apa lagi yang Bapak mau? Adikku sedang sakit keras di rumah sakit, dan aku tidak punya waktu untuk main-main, Pak Darmawan."
Pak Darmawan membuka map itu dan memeriksa isinya sekilas. Dia tersenyum miring. "Bagus. Kau patuh. Ini akan sangat berguna untuk rencanaku. Dan jangan khawatir, pertemuan ini tidak akan lama. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa rencana penggulingan Hidayat akan segera berjalan. Dalam minggu ini, aku akan bergerak. Dan kau, Putri, akan memainkan peran penting."
"Apa maksud Bapak?" tanya Putri waspada.
"Aku butuh kau untuk memasukkan ini ke dalam ruang kerja Hidayat malam ini," kata Pak Darmawan, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi perangkat keras elektronik yang tidak Putri kenali. "Ini alat penyadap canggih yang bisa merekam semua percakapan dan juga mengakses data di komputernya. Kau kan sering di rumah, mudah bagimu untuk menyelipkan ini di balik meja kerjanya atau di dekat teleponnya."
Putri menatap kotak itu dengan ngeri. "Bapak gila? Kalau aku ketahuan, aku mati. Pak Hidayat tidak akan segan-segan membunuhku."
"Kalau kau tidak melakukannya, aku yang akan memastikan adikmu tidak selamat dari operasinya," jawab Pak Darmawan dingin, tanpa ragu sedikit pun. "Pilih, Putri. Nyawa adikmu, atau risiko kecil ini."
Putri gemetar hebat. Dia ingin meledak dalam kemarahan, tapi dia tahu pria di sampingnya ini serius. Dia mengulurkan tangannya dan mengambil kotak itu dengan tangan gemetar. "Bapak benar-benar iblis."
"Aku hanya orang yang tahu apa yang dia mau," balas Pak Darmawan sinis. "Lakukan malam ini. Dan kirimkan pesan padaku setelah selesai. Ingat, mata-mataku ada di mana-mana. Aku akan tahu kalau kau melakukannya atau tidak."
Putri tidak menjawab lagi. Dia membuka pintu mobil dan turun, berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan hati yang membara. Dia merasa kotor, merasa diperas, dan merasa terjebak dalam jaring yang semakin mengerat.
Malam itu, Putri kembali ke rumah Adinata setelah memastikan Rara tidur nyenyak di rumah sakit dengan pengasuh yang setia menjaganya. Rumah itu terasa sepi dan mencekam. Pak Hidayat ada di ruang kerjanya di lantai bawah, dan Putri bisa melihat lampu ruangan itu masih menyala dari jendela kamarnya.
Dia memegang kotak kecil pemberian Pak Darmawan di sakunya. Dingin dan berat. Dia harus melakukan ini. Demi Rara. Tapi bagaimana caranya? Pak Hidayat jarang meninggalkan ruang kerjanya kalau tidak ada keperluan mendesak.
Tiba-tiba, Putri mendengar suara langkah kaki di lorong. Dia buru-buru menyembunyikan kotak itu di bawah bantal. Pintu kamarnya terbuka, dan ternyata itu adalah Bang Rio, kepala keamanan pribadi Pak Hidayat. Putri terkejut. Bang Rio jarang sekali datang ke kamarnya kecuali ada perintah khusus.
"Maaf mengganggu, Bu Putri," ucap Bang Rio dengan nada hormat namun tegas. Wajahnya yang berwajah keras tampak sedikit cemas. "Pak Hidayat memanggil Ibu di ruang kerjanya sekarang. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
Jantung Putri seketika berhenti berdetak. Apakah Pak Hidayat tahu tentang pertemuannya dengan Pak Darmawan? Apakah dia tahu tentang rencana penyadapan ini? Putri menelan ludah. Dia tidak punya pilihan. Dia harus pergi menghadapnya.
"Baiklah, Bang Rio. Aku akan datang sekarang," jawab Putri berusaha tenang, meski suaranya sedikit bergetar.
Putri berjalan di belakang Bang Rio menuju ruang kerja Pak Hidayat. Setiap langkah terasa berat. Dia memegang kotak itu di sakunya, merasa seolah itu adalah bom waktu. Saat mereka sampai di depan pintu ruang kerja, Bang Rio mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara berat Pak Hidayat dari dalam.
Putri menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu mendorong pintu itu dan masuk. Pak Hidayat duduk di balik meja kerjanya yang besar, menatap beberapa dokumen. Saat Putri masuk, dia mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, membuat Putri merasa seperti burung yang sedang ditatap elang.
"Duduklah, Putri," ucap Pak Hidayat pelan, menunjuk kursi di hadapannya. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Putri duduk dengan kaku, tangannya di pangkuan mengepal erat. "Ada apa, Pak Hidayat?"
Pak Hidayat meletakkan pena di tangannya, lalu mencondongkan tubuh ke depan, menatap Putri lekat-lekat. "Aku mendengar dari orang-orangku bahwa kemarin sore kamu pergi ke taman kota tua. Dan pagi tadi, kamu pergi ke pinggiran kota, ke daerah yang sepi bersama seorang wanita. Siapa wanita itu? Dan apa yang kamu lakukan di sana? Dan kenapa kamu berbohong pada Rizky soal tujuanmu?"
Darah Putri seketika turun ke kaki. Jadi dia memang diawasi. Bukan hanya oleh Pak Darmawan, tapi juga oleh Pak Hidayat. Putri merasa dunia seakan runtuh. Dia terjebak di antara dua raksasa yang sama-sama berbahaya, dan sekarang dia tertangkap basah.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja dipaksa oleh Pak Darmawan untuk menyadap ruang kerja Pak Hidayat dengan ancaman nyawa Rara, namun begitu sampai di rumah, dia langsung dipanggil oleh Pak Hidayat yang ternyata sudah tahu pergerakan Putri kemarin dan pagi tadi. Putri kini berada di ruang kerja Pak Hidayat, ditatap tajam, dan ditanya tentang kegiatannya. Jika kamu jadi Putri, apa alibi yang akan kamu buat untuk menyelamatkan diri saat ini? Apakah kamu akan terus berbohong, atau ada cara lain untuk meredakan kemarahan dan kecurigaan Pak Hidayat?