NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 Solidaritas Jalur Langit

Lampu jalanan mulai menyala saat motor matic Ramdan berhenti di sebuah bangunan luas yang mereka sebut "Basecamp". Di sana, deretan motor sudah terparkir rapi. Benar dugaannya, rumah yang sepi selalu jadi alasan utama Ramdan lebih memilih menghabiskan waktu di sini bersama Brotherhood.

"Woy! Sang Waketos kalau di sekolah tapi di brotherhood sang ketua akhirnya mendarat!" Kata Kevin yang kebetulan baru nyampe dan masih di depan pintu

Ramdan cuma melepas helm dan masuk dengan wajah datar andalannya. Di dalam, suasana makin ramai. Anak-anak SMA Garuda ternyata sudah standby. Elang, Sagara, dan Revan nampak sedang asyik ngobrol sambil dengerin musik. Meskipun beda seragam kalau di pagi hari, kalau sudah malam, mereka semua adalah satu aspal.

Sagara: "Tumben telat, Ndan? Biasanya lo yang paling disiplin soal jam kumpul."

Revan: "Kek nggak tahu aja lo, Ga. Ramdan kan lagi ada 'proyek rahasia' sama Sekretarisnya."

Alvin: (Baru muncul dari dapur bawa kopi langsung nyamber) "WADUH! WADUH! WADUH! Proyek rahasia apaan, Van? Itu tadi judulnya 'Misi Batagor Cinta'! Gue liat sendiri pakai mata kepala gue yang indah ini, si Bos lagi mojok di depan masjid pom bensin!"

Seketika, seluruh isi basecamp bersorak. Elang yang biasanya kalem langsung ikutan ngeledek.

Elang: "Gila ya, Bos Brotherhood kita. Mau lomba ke Kalimantan bukannya latihan, malah latihan cara jadi ojek pribadi yang baik dan benar!"

Ramdan: (Duduk di sofa, mencoba tenang tapi telinganya nggak bisa bohong kalau merah) "Halah, berisik kalian semua. Tadi itu cuma mampir sebentar karena belum shalat Ashar."

 Pajar: "Shalat Ashar sih iya, Ndan. Tapi habis itu duduk mepet-mepet di bangku masjid itu ibadah bagian mana ya? Hahaha!"

Ramdan cuma bisa melempar bantal sofa ke arah Pajar. Di tengah keramaian Brotherhood sekalipun, pikiran Ramdan tetap tertinggal di depan pagar rumah Tari.

Suasana basecamp yang tadinya riuh penuh ledekan mendadak hening sesaat setelah nama "Tari" disebut dengan nada menggoda oleh trio Elang, Kevin, dan Sagara.

"Aduh, aduh... Tariiiiii!" sorak mereka bertiga kompak, bikin suasana makin panas.

Ramdan berdiri, wajahnya yang tadi sempat merah karena salting kini berubah jadi serius, tapi tetap tenang. Ia menatap teman-temannya satu per satu, dari anak Kusuma Bangsa sampai anak SMA Garuda. Ramdan melempar bantal ke arah mereka bertiga. Akhirnya mode ketuanya langsung keluar lagi.

Ramdan: "Ingat ya, kita memang geng, tapi kita bukan geng motor yang cuma cari ribut. Kita kumpulan anak muda yang solid. Sebentar lagi azan Magrib, kita shalat di basecamp aja ya."

Kalimat itu langsung mematikan semua tawa usil. Wibawa Ramdan sebagai pemimpin Brotherhood memang nggak ada tandingannya. Dia bukan cuma pimpin mereka di aspal, tapi juga pimpin mereka menuju kebaikan.

Kevin: (SMA Garuda, mengangguk mantap) "Gue setuju. Kita shalat berjamaah di basecamp aja. Imamnya seperti biasa, Pak Ketua Ramdan! Habis itu, kita lanjut program rutin kita: setor baca Al-Qur'an 10 ayat per orang. Oke?"

All: "SETUJU!" jawab mereka serempak.

Satu per satu dari mereka mulai bergerak. Ada yang menyiapkan karpet sajadah, ada yang antre wudhu dengan tertib. Tidak ada lagi ejekan soal Tari, yang ada hanyalah persiapan untuk menghadap Sang Pencipta. Ramdan, sambil menunggu giliran wudhu, diam-diam merasa bersyukur. Meskipun dia sering merasa kesepian di rumah, di basecamp ini dia punya keluarga yang tidak hanya asyik diajak seru-seruan, tapi juga selalu saling mengingatkan dalam kebaikan.

Di tengah keriuhan anak-anak Brotherhood yang lagi siap-siap wudhu, Ramdan duduk menyandar di pilar basecamp. Jempolnya lincah mengetik sesuatu di layar ponsel, mengabaikan sekitar demi memastikan satu hal. Dia chat seseorang yang bernama Tari ❤️❤️

Ramdan: "Hati-hati kamu di rumah, nyalain semua lampu."

Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk yang bikin sudut bibir Ramdan hampir saja terangkat, kalau saja dia nggak jago jaga imej.

Tari❤️❤️ membalas"Udah aku nyalain semua. Tenang aja Ndan, soalnya Karin sama Tiara mau nginep di sini."

 Ramdan: "Oke."

Singkat, padat, tapi melegakan. Ramdan baru saja mau memasukkan ponselnya ke saku celana, saat tiba-tiba sebuah kepala muncul dari balik bahunya dengan cengiran yang sangat tidak berdosa. Siapa lagi kalau bukan Alvin.

Alvin: "WADUH! WADUH! WADUH! 'Nyalain semua lampu' ya, Ndan? Lu perhatian banget apa takut tagihan listrik rumah Tari kurang mahal? Hahaha!"

Ramdan: (Refleks menjauhkan HP-nya) "Vin, lo sejak kapan di situ?"

Alvin: "Sejak lo ngetik 'H' pertama kali! Hahaha! Gila, Pak Waketos kita ini bener-bener ya. Di luar tampang kayak es batu, tapi isi chat-nya kayak petugas PLN, peduli banget sama penerangan rumah gebetan!"

 Ramdan: "Dia sendirian di rumah, Vin. Gue cuma ingetin."

Alvin: "Iya deh, iya... yang pahlawan kesiangan! Tapi ati-ati Ndan, biasanya kalau lampu nyala semua tapi hati masih gelap karena ditinggal lo ke Kalimantan, tetep aja rasanya sepi! Hahaha! Udah yuk, wudhu! Jangan sampe doa lo isinya minta batagor melulu!"

Ramdan cuma bisa geleng-geleng kepala sambil berdiri, menyembunyikan rasa saltingnya dengan jalan lebih dulu menuju tempat wudhu. Alvin emang bener-bener "setan kecil" yang paling tahu cara bikin Ramdan nggak berkutik.

Setelah suasana khusyuk shalat berjamaah dan lantunan 10 ayat Al-Qur'an selesai, aura di basecamp berubah jadi lebih serius. Ramdan duduk di tengah-tengah sofa ruangan santai, dikelilingi anggota Brotherhood dari dua sekolah yang berbeda.

Ramdan: "Gini guys, ada hal yang ganjil. Akhir-akhir ini Boby sama Bara jarang banget kumpul sama kita. Ada yang tahu kenapa? Gue ngerasa ada yang nggak beres, soalnya kalau di sekolah gue jarang di kelas, stand by di ruang OSIS terus."

Seluruh anggota saling pandang. Alvin yang lagi asyik nyemil kacang langsung nyahut.

Alvin: "Bara emang lagi tugas Humas buat acara Pensi, Ndan. Dia mondar-mandir mulu cari sponsor sama perizinan. Nah, setahu gue Boby yang nemenin dia terus."

Pajar yang tadinya lagi nyender di tembok tiba-tiba menegakkan badannya. Matanya menyipit, mengingat-ingat sesuatu.

Pajar: "Eh, bentar... gue jadi inget. Tadi pas di sekolah, Tiara nanya sama gue. Dia bilang ngerasa Bara sama Boby kayak ada yang lagi disembunyiin. Feeling cewek biasanya kuat kan?"

Mendengar nama "Tiara" disebut, suasana ruangan langsung jadi senyap. Kalau Tiara sampai nanya, berarti emang ada yang janggal. Ramdan menarik napas panjang, tatapannya tajam—mode Alpha Brotherhood-nya keluar.

Ramdan: "Oke, kalau gitu kita nggak bisa diem aja. Kita cari tahu kebenarannya. Gue nggak mau ada anggota kita yang punya masalah sendirian tapi nggak bilang-bilang. Solidaritas kita taruhannya."

"Gue ikut!" sahut Elang dan Kevin kompak dari SMA Garuda. Bagi mereka, masalah anak Kusuma Bangsa adalah masalah mereka juga. Malam itu, di bawah remang lampu basecamp, sebuah rencana penyelidikan dimulai.

"siapa pun yang mendapatkan kabar tentang Bara dan Boby langsung kabarin ke gue ya " kata Ramdan

"Siap Bos" jawab semuanya

Suasana ruangan santai di basecamp mendadak berubah tegang. Kabar soal Bara dan Boby bukan lagi sekadar jarang kumpul, tapi sudah merembet ke urusan perasaan.

Pajar: "Apalagi Bara dan Tiara, terus Boby dan Karin. Kalian tahu sendiri kan, mereka itu pasangan paling romantis se-SMA Kusuma Bangsa. Tapi sekarang? Meskipun mereka masih bercanda di circle Geng Receh, tapi kayak ada yang palsu. Gue ngerasa tawa mereka itu cuma cover doang."

Elang: (Sambil mengotak-atik HP-nya) "Ndan, coba cek deh. Status WhatsApp (SW) Tiara justru berbanding terbalik sama SW Bara tadi. Gue sempet screenshot sebelum ilang. Coba aja kalian cek sendiri sekarang."

Ramdan langsung merogoh ponselnya. Matanya yang tajam menelusuri satu per satu status WhatsApp di kontaknya. Benar saja, ia menemukan dua kutub yang berbeda.

Ramdan: (Suaranya memberat) "Iya, bener. Ini beda banget. Tiara nulis status yang isinya sedikit kecewa, tapi kok Bara malah bikin SW bahagia banget seolah nggak ada beban?"

Alvin: "Wadidawww! Bagaimana itu ceritanya? Kok bisa jomplang gitu? Apa jangan-jangan ada 'orang ketiga' yang masuk di sela-sela tugas Humas Pensi?"

Ramdan terdiam sejenak, mematikan layar ponselnya lalu menatap teman-temannya dengan tatapan penuh wibawa. Dia tidak mau gegabah. Sebagai pemimpin, dia harus adil.

Ramdan: "Kita nggak boleh asal tebak. Kita cari bukti dulu yang kuat biar tidak salah menuduh. Gue nggak mau persaudaraan kita pecah cuma karena asalan yang belum jelas."

Seluruh anggota Brotherhood mengangguk mantap. Misi malam itu resmi dimulai: Membongkar rahasia di balik senyum palsu Bara dan Boby.

Malam semakin larut, namun udara di dalam basecamp terasa lebih berat dari biasanya. Kesepakatan sudah diambil. Brotherhood tidak akan membiarkan duri dalam daging merusak solidaritas yang sudah mereka bangun dengan keringat dan tawa.

Ramdan kembali menyandarkan punggungnya di sofa, menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya yang nampak serius. Ada Elang dan tim Garuda yang siap siaga, juga ada Alvin dan Pajar yang sudah memasang mode detektif. Di balik kepemimpinannya yang tegas, hati Ramdan sebenarnya sedikit cemas. Ia tahu, kebenaran seringkali menyakitkan, tapi baginya, kepalsuan jauh lebih berbahaya.

"Oke, semuanya. Malam ini cukup. Istirahat yang bener, jangan ada yang mikir macem-macem sampai kita dapet bukti nyata dan semoga cepat terungkap" ucap Ramdan menutup diskusi panjang itu.

Satu per satu anggota mulai mencari posisi nyaman. Ada yang menggelar tikar, ada yang tetap di sofa, dan beberapa anak Garuda pamit untuk pulang karena rumah mereka yang searah. Basecamp perlahan menjadi tenang, hanya menyisakan suara kipas angin yang berputar konsisten.

Ramdan kembali merogoh ponselnya untuk terakhir kali sebelum memejamkan mata. Ia membuka kembali room chat dengan Tari. Jarinya ragu, ingin mengetik sesuatu tentang kegelisahannya malam ini, namun akhirnya ia urungkan. Ia hanya ingin Tari tidur dengan tenang tanpa ikut memikirkan drama yang sedang terjadi di antara sahabat-sahabat mereka.

Di luar, lampu jalanan bergoyang pelan tertiup angin malam, seolah ikut mengawasi rahasia apa yang sebenarnya sedang disimpan rapat oleh Bara dan Boby. Persahabatan mereka kini sedang diuji, dan di sekolah besok pagi, sandiwara itu harus segera berakhir.

— BAB 16 SELESAI —

Karena sayang bukan soal seberapa sering bersentuhan, tapi seberapa sering saling mendoakan dan menjaga dalam ketaatan. Selamat baca Bab 16, semoga ada 'Ramdan' lain yang lahir setelah membaca ini!"

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!