Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Malam setelah keriuhan pertunangan resmi itu berakhir, suasana istana kembali tenang, namun udara di antara Kaisar dan Freya terasa berbeda. Tidak ada lagi jurnalis, tidak ada lagi Buyut yang mengawasi. Hanya ada mereka berdua di paviliun pribadi Kaisar yang menghadap ke kolam air mancur.
Freya duduk di kursi rotan, memandangi cincin safir yang melingkar di jari manisnya. Rasanya berat, bukan hanya karena karatnya, tapi karena beban status yang sekarang ia sandang. Di depannya, Kaisar duduk dengan santai namun tetap terlihat berwibawa. Ia meletakkan sebuah map kulit kecil di atas meja.
"Karena kita sekarang sudah resmi bertunangan di mata publik, ada beberapa hal yang harus kita sepakati," ujar Kaisar memulai pembicaraan.
Freya langsung menegakkan punggungnya, matanya menyipit curiga. "Syarat? Lah, kan lo yang 'nyandera' gue jadi tunangan resmi buat nutupin skandal, kenapa sekarang malah pake syarat-syarat segala sih, Kai?"
"Ini untuk kebaikan kita berdua, Freya. Terutama untuk menjaga citramu sebagai calon pendampingku," balas Kaisar tenang. "Ada beberapa poin yang aku ingin kau patuhi."
Revolusi Kata Ganti
Kaisar berdeham, menatap Freya dengan serius. "Syarat pertama. Aku ingin kau menggunakan 'Aku-Kamu' saat sedang bersamaku. Tidak ada lagi 'lo-gue'. Itu terdengar terlalu kasar untuk pasangan tunangan."
Freya yang saat itu sedang meneguk air mineral dari gelas kristalnya, seketika tersedak.
Croot!
Semburan air langsung keluar dari mulut Freya, mengenai kemeja putih Kaisar yang baru saja diganti. Freya terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya.
"Uhuk! Apa?! Aku-kamu?" Freya mengelap bibirnya dengan kasar. "Kai, lo sehat? Lo mau gue ngomong kayak di drama-drama picisan gitu? Geli tahu nggak sih! Bibir gue bisa sariawan kalau ngomong selembut itu!"
Kaisar mengusap noda air di kemejanya dengan ekspresi datar yang sudah biasa. "Ini bukan drama, Freya. Ini tentang kedekatan. 'Lo-gue' menciptakan jarak yang tidak perlu di antara kita. Jadi, mulai sekarang... coba katakan sesuatu menggunakan 'kamu'."
Freya memutar bola matanya, wajahnya memerah. "I-iya... ka-ka... kamu nyebelin banget, tahu nggak?!"
Kaisar sedikit tersenyum—senyum kemenangan yang tipis. "Bagus. Biasakan itu."
Larangan Street Style Berlebihan
Kaisar mengetuk poin kedua di mapnya. "Syarat kedua. Aku tidak ingin melihatmu memakai baju sobek-sobek lagi, terutama saat keluar dari rumah atau kampus. Aku tahu itu gaya seni, tapi publik akan melihatnya berbeda."
Kaisar memberi kode pada pelayannya. Tak lama kemudian, beberapa kotak besar bermerek ternama dibawa masuk. Di dalamnya terdapat deretan dress cantik, mulai dari floral dress yang elegan hingga setelan kerja yang sangat feminin.
"Gue... eh, aku harus pake ginian?" Freya mengangkat sebuah dress satin warna nude. "Kai, lo mau gue jadi boneka barbie istana? Ihh, geli tahu nggak sih?! Gue ini pelukis, Kai! Kalau gue pake ginian terus kena tumpahan cat, yang ada gue nangis tujuh hari tujuh malam karena sayang bajunya!"
"Aku sudah memilih bahan yang mudah dibersihkan dan nyaman," sahut Kaisar santai. "Simpan saja jeans robekmu itu untuk di dalam studio pribadi. Jika kita keluar bersama, gunakan pemberianku."
Freya mendengus, meraba kain satin yang sangat lembut itu. "Posesif banget sih, sampe baju aja diatur. Kamu mau pamer kalau tunangan kamu cantik, ya?"
Kaisar hanya menaikkan satu alisnya, tidak membantah ucapan Freya.
Protokol Komunikasi 24/7
"Syarat ketiga," lanjut Kaisar. "Kau harus selalu mengabariku. Di mana pun kau berada, dengan siapa, dan jam berapa kau pulang. Aku tidak ingin kejadian 'menghilang tanpa sinyal' terulang lagi. Jika aku menelepon, angkat dalam tiga dering pertama."
"Gila! Lo tunangan apa operator telepon?" protes Freya lagi. "Gue punya hidup, Kai! Kadang gue asyik ngelukis sampe lupa naruh HP di mana!"
"Maka belajarlah untuk tidak lupa," sahut Kaisar tegas. "Keamananmu adalah prioritasku. Kholid masih mengintai, dan setelah pertunangan ini, musuh-musuh politik keluargaku pasti akan mencari celah lewat kamu."
Freya terdiam. Ia baru menyadari bahwa syarat ini bukan hanya soal posesif, tapi soal keselamatan. "Oke, oke. Aku bakal usahain kirim kabar. Tapi jangan marah kalau aku cuma kirim foto kanvas yang berantakan."
Batasan dengan Lawan Jenis
Kaisar menatap mata Freya dalam-dalam, suaranya sedikit merendah. "Dan yang terakhir... jaga jarak dengan laki-laki lain. Termasuk Ethan, apalagi Kholid. Aku tidak suka melihat tunanganku terlalu akrab dengan mereka di depan umum."
Freya menahan tawa. "Tuh kan, ujung-ujungnya cemburu! Kai, Ethan itu adek kamu sendiri! Masa aku harus kaku sama dia juga?"
"Ethan tidak masalah jika dalam konteks bercanda, tapi jangan biarkan dia merangkulmu seperti waktu itu," ujar Kaisar dengan nada yang sangat posesif.
Setelah perdebatan panjang soal syarat-syarat itu, Freya akhirnya bersandar di kursi, merasa lelah namun entah kenapa... hatinya terasa penuh. Ia menatap langit malam istana yang begitu luas.
"Kai," panggil Freya pelan. "Kenapa kamu ngelakuin ini semua? Maksud aku... kamu beneran mau terjebak sama aku selamanya? Kita kan belum... kamu tahu lah... belum ada rasa."
Kaisar ikut menyandarkan punggungnya. Ia menatap profil wajah Freya dari samping. Wajah gadis itu tampak sangat manis di bawah cahaya lampu taman, jauh dari kesan 'rebel' yang selama ini ia tampilkan.
"Aku tidak merasa terjebak, Freya," jawab Kaisar jujur. "Awalnya, aku memang melihat ini sebagai tugas. Tapi setelah malam di penginapan itu, setelah melihat bagaimana kamu berani menghadapi Kholid... aku sadar bahwa istana ini butuh kamu. Dan mungkin... aku juga."
Freya menoleh, matanya bertemu dengan mata gelap Kaisar yang kini tampak sangat tulus. "Kamu baru saja bilang kalau kamu butuh aku?"
Kaisar berdehem canggung, membuang muka ke arah kolam. "Jangan terlalu percaya diri. Aku butuh seseorang yang bisa membuat Buyut berhenti mengomeliku setiap pagi."
Freya tertawa lepas, sebuah tawa yang merdu di keheningan malam. "Dasar kaku! Bilang aja kalau kamu mulai suka sama aku, susah banget sih!"
Freya kemudian berdiri, berjalan mendekati Kaisar, lalu menepuk pundak pria itu. "Oke, 'Sayang'... aku bakal turutin syarat-syarat kamu. Tapi ada satu syarat dari aku."
Kaisar mendongak. "Apa itu?"
"Jangan pernah jadi robot lagi di depan aku. Kalau kita cuma berdua, aku mau kamu jadi 'Kai' yang aku kenal di warung nasi Padang, bukan 'Pangeran Mahkota' yang ngebosenin."
Kaisar terdiam sejenak, lalu perlahan ia meraih tangan Freya dan mengecup punggung tangannya dengan sangat sopan namun penuh perasaan. "Deal."
Malam itu, di paviliun pribadi, kesepakatan baru ditandatangani—bukan di atas kertas, tapi di dalam hati mereka masing-masing. Perjalanan 10 hari terakhir menuju status 'tunangan resmi' baru saja dimulai, dan kali ini, Freya tidak lagi ingin melarikan diri.