NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Menyakitkan

Setelah perbincangan yang cukup menguras emosi di meja makan, Aurora memberikan kode kecil kepada dua asisten rumah tangganya yang sudah berdiri sigap di dekat area servis.

"Bi, tolong antarkan tamu-tamu kita ke kamar mereka masing-masing ya. Pastikan semua koper sudah di dalam dan aromaterapi kamarnya sudah dinyalakan," instruksi Aurora dengan nada yang sangat tenang namun penuh otoritas.

Aurora kemudian menoleh ke arah keluarga Adrian dengan senyum sopan.

"Untuk kenyamanan, aku sudah bagi kamarnya. Om dan Tante di kamar utama tamu lantai bawah supaya tidak perlu naik tangga. Lalu Nenek, Sherly, dan Siska di kamar suite lantai dua—tempat tidurnya besar dan luas, jadi bisa sambil mengobrol. Dan untuk Adrian..."

Aurora menjeda sejenak, melirik mantan kekasihnya itu tanpa ekspresi berarti,

"...kamu satu kamar dengan Rico di lantai atas. Rico orangnya seru, pasti kamu nggak akan bosan."

Wajah Adrian mendadak pias.

Membayangkan harus satu kamar dengan Rico—fotografer eksentrik yang sedari tadi terus menyindirnya—adalah mimpi buruk baru.

Sementara itu, Sherly tampak tidak senang karena harus berbagi kamar dengan Nenek dan Siska, namun ia tak punya keberanian untuk protes di rumah semegah ini.

Di halaman depan, Bang Ucok dan Rian sudah bersiap di samping Hiace yang masih mengkilap. Mereka berpamitan sebentar kepada Aurora sebelum meninggalkan rumah.

"Kak Aurora, kami izin pamit dulu ya. Kami mau balik ke kantor sebentar untuk cek ulang kondisi mesin. Sekalian tadi Bang Bram pesan, kami harus ambil titipan paket khusus untuk Kakak yang harus dibawa ke Bukit Lawang besok," lapor Bang Ucok.

Aurora mengangguk.

"Oke, Bang. Hati-hati di jalan. Sampaikan terima kasih sama Bram ya."

Rian menambahkan dengan nada semangat,

"Siap, Kak! Katanya titipannya banyak, mulai dari perlengkapan outdoor tambahan sampai camilan favorit Kakak. Bang Bram wanti-wanti jangan sampai ada yang ketinggalan."

Pernyataan itu terdengar jelas oleh Adrian yang kebetulan sedang melangkah menuju tangga. Dadanya kembali berdenyut perih. Ia melihat bagaimana seorang pria lain—yang bahkan tidak ada di sana—begitu memperhatikan setiap detail kebutuhan Aurora.

Begitu pintu kamar tamu utama tertutup rapat, Ibu Adrian langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur king size dengan sprei sutra yang sangat lembut. Kamar itu lebih mewah daripada hotel bintang lima yang pernah ia kunjungi.

"Yah... kamu lihat tadi?" bisik Ibu Adrian dengan suara bergetar.

"Rumah ini, asistennya, sirkulasi udaranya... Aurora benar-benar sudah jadi orang besar di Medan."

Ayah Adrian meletakkan jam tangannya di atas meja nakas kayu jati. Ia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah sekaligus penuh penyesalan.

"Itulah yang dari dulu Ayah bilang, Bu. Kamu terlalu cepat menilai orang hanya dari 'kepatuhannya'. Kamu dulu bilang Aurora terlalu mandiri, terlalu keras kepala, tidak cocok jadi menantu karena tidak bisa diatur. Sekarang lihat,"

Ayah menunjuk sekeliling kamar dengan dagunya.

"Kemandirian itulah yang membuatnya bisa membangun semua ini. Dia tidak butuh kita, tapi sekarang... kita yang sangat butuh dia."

Ibu Adrian terdiam, tangannya meraba permukaan sprei yang mahal.

"Tapi Ibu nggak menyangka dia bakal sesukses ini. Dan teman-temannya... si Bram itu, sopirnya saja takut sama dia. Adrian benar-benar sudah buang peluang emas."

"Bukan cuma peluang emas, Bu," potong Ayahnya tajam.

"Adrian buang berlian untuk mengambil batu kerikil. Kamu lihat tadi si Sherly? Di meja makan saja dia cuma bisa diam, nggak ada wibawanya sama sekali. Kalau dia yang kita bawa ke Bukit Lawang tanpa Aurora, mungkin kita sudah terlantar di bandara tadi."

Ibu Adrian tidak membantah. Untuk pertama kalinya, egonya sebagai seorang calon doktor merasa kerdil di hadapan wanita yang dulu ia remehkan.

Ada rasa malu yang menjalar, mengingat betapa dulu ia sering menyindir Aurora karena jarang memasak akibat sibuk bekerja—padahal hari ini, masakan Aurora-lah yang menyelamatkan perut mereka.

Di lantai atas, suasana di kamar Adrian jauh dari kata tenang. Rico sedang sibuk mengeluarkan peralatan kameranya, membersihkan lensa dengan sangat teliti, sambil sesekali bercermin dan membetulkan tatanan rambutnya.

​"Duh, Adrian... kamu tuh beruntung banget ya dulu bisa sama Aurora," celetuk Rico tanpa mengalihkan pandangan dari lensanya.

"Aurora itu diamond di Medan. Kamu tahu nggak? Sebenarnya banyak pengusaha muda di sini yang antre cuma buat dapet jadwal dinner sama dia. Tapi dia selalu bilang 'nggak sempat'. Eh, ternyata 'nggak sempat'-nya dia itu karena sibuk bantuin mantan yang sudah blokir dia. So iconic!"

​Adrian yang sedang mencoba membuka koper hanya bisa terdiam. Tangannya mengepal.

​"Kok diam aja, Sayang? Oh, atau kamu lagi mikirin gimana nanti di Bukit Lawang? Tenang, aku bakal fotoin kamu sama pacar barumu itu dengan angle terbaik. Walaupun ya... jujur aja sih, agak susah cari sisi 'mahal' dari dia kalau disandingkan sama Aurora. Vibe-nya beda jauh, kayak membandingkan kain sutra sama kain perca,"

Rico tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Adrian.

​Tak tahan dengan sindiran halus namun tajam dari Rico, Adrian berdiri dan menyambar ponselnya. "Aku mau ke kamar orang tuaku sebentar," pamitnya singkat.

​Adrian melangkah gontai menuju kamar orang tuanya di lantai bawah.

Namun, tepat di depan pintu yang sedikit terbuka, langkahnya terhenti. Ia mendengar suara ayahnya yang berat sedang berbicara dengan sang ibu.

​"Adrian buang berlian untuk mengambil batu kerikil. Kamu lihat tadi si Sherly? Kalau bukan karena Aurora, kita mungkin sudah terlantar..."

​Kalimat ayahnya itu menghantam dada Adrian. Ia memberanikan diri mengetuk pintu dan masuk.

Melihat putranya datang dengan wajah pucat, Ayah dan Ibu Adrian terdiam.

Adrian duduk di antara kedua orang tuanya dengan bahu yang merosot. Suasana kamar yang mewah itu terasa mencekik baginya setelah mendengar penyesalan sang Ayah.

"Yah, Bu..." suara Adrian serak.

"Sebenarnya... apa yang kita lihat hari ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang Aurora lakukan untuk kita dulu tanpa kalian tahu."

Ibu Adrian menoleh, menatap putra tunggalnya itu dengan kening berkerut.

"Maksud kamu apa, Dri?"

"Ingat tidak setiap kali Ibu dan Ayah ada seminar atau urusan dinas ke luar kota? Fasilitas hotel yang selalu mendadak upgrade, jemputan yang selalu siap di bandara... itu semua Aurora yang atur dari balik layar. Dia nggak mau Ibu tahu karena dia tahu Ibu selalu merasa tersinggung kalau dia terlihat 'terlalu berkuasa'."

Adrian menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca.

"Bahkan, bukan cuma Aurora. Ibu tahu kan Bang Andre, kakak laki-laki Aurora yang punya jaringan bisnis distribusi itu? Dulu, setiap kali aku bilang ke Aurora kalau keluarga kita ada kesulitan logistik atau saat saat urusan bisnis keluarga kita macet, Aurora diam-diam meminta Bang Andre untuk mem-back up semua. Aurora memakai koneksi kakak kandungnya sendiri untuk memastikan urusan kita lancar. Dia menjaga kita, Bu. Dia menjaga nama baik kita seolah kita sudah jadi keluarganya sendiri."

Ibu Adrian terpaku. Ia teringat betapa dulu ia sering membandingkan Aurora dengan Sherly, menganggap Sherly lebih "manis" karena selalu bergantung pada Adrian.

Ia tidak pernah tahu bahwa di balik kemandirian Aurora yang dulu ia benci, ada perlindungan besar yang menyelimuti keluarganya.

"Jadi selama ini... kita menikmati bantuan dari keluarganya juga?" tanya Ayah Adrian dengan nada bicara yang sangat rendah, seolah terpukul oleh kenyataan.

"Iya, Yah. Dan sekarang, setelah aku memblokir semua aksesnya, setelah aku membuangnya demi Sherly... dia tetap menyambut kita dengan Hiace mewah, supir terbaik, dan jamuan ini. Dia bahkan memanggil kakaknya dan Sarah untuk memastikan kita aman di hutan nanti."

Adrian menatap Ibunya dengan tatapan kosong.

"Aku baru sadar, selama enam tahun ini aku bukan cuma didampingi seorang pacar, tapi aku sedang dilindungi oleh seorang ratu. Dan aku melepaskannya hanya karena aku merasa 'terintimidasi' oleh kehebatannya."

Ibu Adrian tidak mampu berkata-kata lagi. Rasa malu itu kini terasa nyata dan panas di dadanya.

Sementara itu, di kamar suite atas, Siska—adik sepupu yang sudah dianggap adik kandung oleh Adrian—sedang asyik mengamati foto-foto di dinding lorong yang sempat ia lihat tadi.

"Kak Sherly," panggil Siska.

"Ternyata Kak Aurora itu bukan cuma hebat sendiri. Kakak laki-lakinya, Bang Andre, itu orang berpengaruh di sini. Tadi aku dengar dari pelayan di bawah, Bang Andre juga yang bakal pantau keamanan kita lewat jaringan orang-orangnya di Langkat."

Sherly yang sedang mengoleskan krim malam hanya bisa terdiam. Ia merasa posisinya sebagai "gadis yang butuh dilindungi" kini terlihat sangat tidak berguna.

Di rumah ini, kekuatan dan koneksi adalah segalanya, dan ia sama sekali tidak memilikinya.

...

Waktu menunjukkan pukul lima subuh. Suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang di sekitar perumahan elit itu.

Aurora sudah berada di dapur, kali ini ditemani oleh Sarah dan para asisten rumah tangga. Mereka sedang sibuk menata kotak-kotak bekal mewah untuk perjalanan.

Aroma kopi Sidikalang yang kuat dan harum memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi nasi goreng spesial yang sedang dipersiapkan.

Bang Ucok dan Rian baru saja sampai di halaman depan. Mereka membawa beberapa tas besar—titipan dari Bram.

"Kak Aurora," panggil Bang Ucok dari pintu dapur. "Ini titipan dari Bang Bram. Ada sepatu trekking kualitas terbaik buat Kakak, jaket outdoor tahan air, dan... ini ada beberapa botol suplemen serta makanan organik untuk rombongan Tante. Bang Bram bilang, jangan sampai ada yang kurang gizi di hutan nanti."

Sarah menyenggol bahu Aurora sambil tersenyum menggoda.

"Ciye... ada yang diperhatiin segitunya sama Bos Rental."

Aurora hanya tertawa kecil, namun ia menyadari bahwa di balik tangga, Adrian berdiri terpaku, mendengarkan semua perhatian yang diterima Aurora dari pria lain.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!