NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 SIBUK

Pagi itu, cahaya matahari masuk perlahan lewat jendela ruang TV, menyelinap di sela tirai tipis berwarna krem. Sinar hangatnya jatuh tepat di sofa tempat Ara duduk bersandar sambil menonton FTV pagi.

Di layar, adegan tokoh perempuan menangis karena lamaran mendadak dari kekasihnya. Ibu Adis yang duduk di samping Ara sesekali tersenyum kecil, kadang berkomentar pelan seolah ikut terbawa cerita.

Suasana santai. Tenang. Hangat.

Namun di dalam kepala Ara, pikirannya jauh dari adegan televisi. Ia sibuk memikirkan persiapan lamarannya sendiri yang tinggal menghitung hari. Minggu depan terasa datang terlalu cepat.

“Bu… tadi aku sempat lihat beberapa EO untuk lamaran” ucap Ara sambil membuka ponselnya dan men-scroll daftar referensi yang sudah ia kumpulkan sejak dua hari lalu.

Ibu Adis menoleh perlahan “Oh ya? Kamu sudah mulai pikirin semuanya?”

Ara mengangguk kecil “Iya Bu. Kalau dari sekarang rapi, minggu depan jadi nggak akan bakal panik. Aku sudah hubungi beberapa EO tapi masih bingung. Ada yang harganya oke, ada yang konsepnya bagus banget”

Ibu tersenyum lembut dan menepuk tangan Ara. “Jangan terlalu stres Nak. Ini lamaran bukan pesta besar tapi kalau kamu mau semuanya berkesan dan tertata Ibu bantu”

Ara menatap ibunya dengan mata berbinar “Aku pengen bagus tapi tetap sederhana Bu. Tema warna, bunga, dekorasi meja… terus butik untuk kebaya juga. Aku butuh pendapat Ibu”

“Coba sini lihat” kata Ibu Adis, bergeser lebih dekat.

Ara menunjukkan foto demi foto “Yang ini modern minimalis, dominan putih sama sage green. Cantik banget tapi mahal. Yang ini lebih terjangkau, cuma dekorasinya standar. Nah ini beberapa butik yang terbaik yang mungkin Ibu suka”

Ibu memperhatikan serius “Yang pertama memang cantik. Coba negosiasi dulu. Untuk kebaya…”

Ia menunjuk salah satu foto “Ibu suka ini. Simpel, elegan, nggak berlebihan. Itu kamu banget”

Ara tersenyum lega “Aku juga paling suka yang itu”

“Berarti sudah satu suara” ujar Ibu Adis sambil tertawa kecil.

Ara menarik napas panjang “Bu… nanti kita bikin list final besok pagi ya. Jadi tidak mepet-mepet” sambil tanggannya membuat list untuk buat opsi yang mendekati

“Setuju. Kita urus bareng. Kamu jangan panik sendirian kalo butuh apa apa jangan ragu tanyakan ke Ibu atau Ayah” jawab Ibu lembut

Ara mengangguk. Dadanya terasa ringan karena merasa ditemani.

Di tengah obrolan itu, ponsel Ara tiba-tiba bergetar di pangkuannya.

Ia melirik layar.

Pesan dari Danu.

Danu: Dek… besok cari seserahan ya. Mas nggak tau kebutuhan kamu apa aja

Ara terdiam beberapa detik.

“Dek…”

Pipinya langsung terasa hangat. Ia menunduk sedikit, menahan senyum yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Ibu Adis memperhatikan perubahan ekspresinya. “Nak… kok senyum sendiri?”

Ara tersipu “Mas Danu Bu”

“Ohhh…” nada Ibu langsung berubah menggoda. “Bahas apa pagi-pagi?”

Ara membaca ulang pesannya lalu membalas dengan hati-hati.

Ara: Iya, Mas… nanti aku siapin listnya. Biar jelas dan nggak bingung

Beberapa detik kemudian, balasan masuk lagi.

Danu: Sip… Mas tunggu ya Dek. Aku pengen semuanya sesuai yang kamu suka

Ara tidak bisa menahan senyum lebarnya kali ini.

Ibu Adis menggeleng pelan sambil tersenyum. “Sudah mulai panggil Dek ya sekarang?”

Ara makin tersipu “Ibu tahu saja…”

“Dari wajahmu sudah kelihatan” jawab Ibu sambil tertawa kecil.

Ara memeluk ponselnya sebentar, lalu kembali mengetik.

Ara: Mas nggak usah banyak-banyak ya. Yang penting seperlunya aja

Danu membalas cepat.

Danu: Tenang. Aku nggak mau berlebihan. Yang penting kamu nyaman

Ara membaca kalimat itu pelan-pelan. Hatinya terasa hangat.

“Dia perhatian banget ya Nak” ujar Ibu lembut.

Ara mengangguk “Iya Bu. Mas Danu itu nggak banyak gaya tapi detail”

“Bagus. Lelaki yang mikirin detail itu biasanya mikirin masa depan juga”

Ara tersenyum kecil mendengar kalimat itu.

FTV di layar sudah berganti adegan bahagia, tapi kini Ara merasa hidupnya sendiri lebih manis daripada drama televisi.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Danu: “Dek nanti sore aku ke rumah ya. Sekalian bahas list seserahan sama Ayah dan Ibu.”

Ara langsung menegakkan badan “Bu… Mas Danu mau ke sini sore ini.”

Ibu Adis tersenyum lebar “Ya sudah. Biar sekalian kita diskusikan. Bagus kalau dia mau terlibat langsung”

Ara membalas cepat.

Ara: Iya, Mas. Nanti aku tunggu

Danu: Siap. Jangan overthinking ya

Ara terkekeh pelan.

“Apa lagi?” tanya Ibu.

“Dia bilang jangan overthinking.”

Ibu tertawa kecil “Dia sudah hafal kamu”

Sore harinya, suara motor berhenti di depan rumah. Ara yang sedang membantu Ibu di dapur langsung menoleh.

“Assalamualaikum” suara Danu terdengar dari luar.

“Waalaikumsalam” jawab Ayah Hasan sambil membukakan pintu.

Danu masuk dengan wajah sedikit gugup tapi mantap. Di tangannya ada satu kantong berisi buah dan kue

“Ini… buat Ibu sama Ara” katanya sopan

“Terima kasih Nak” jawab Ibu Adis hangat

Mereka duduk di ruang tamu. Ara membawa buku kecil dan pena

“Jadi… seserahannya apa saja?” tanya Danu pelan sambil menoleh ke Ara

Ara membuka catatannya “Aku nggak mau ribet, Mas. Satu set alat salat, mukena, tas kecil, skincare secukupnya, sama mungkin sepatu”

Danu mengangguk serius “Baik. Ukurannya nanti kamu kirim ya”

Ayah Hasan memperhatikan dengan tenang “Yang penting sesuai kemampuan Danu. Jangan dipaksakan”

Danu menoleh hormat “Iya Pak. Saya ingin sederhana tapi tetap pantas”

Ara menatapnya sekilas. Ada rasa bangga yang tidak ia ucapkan.

“Dek, kalau ada yang kurang bilang ya” ujar Danu lembut.

Ara tersenyum malu mendengar panggilan itu di depan orang tuanya “Iya Mas”

Ibu Adis menahan senyum “Sudah mulai terbiasa ya panggilannya”

Danu tersenyum canggung “Refleks, Bu”

Semua tertawa kecil. Suasana terasa hangat dan tidak lagi kaku.

Obrolan berlanjut ringan. Tentang jadwal belanja, tentang warna kotak seserahan, bahkan tentang pita yang cocok.

Di sela percakapan, Ara menyadari sesuatu.

Semua ini terasa nyata

Bukan lagi sekadar rencana di kepala

Danu duduk di sana, berdiskusi, mencatat, bertanya. Tidak setengah-setengah

Menjelang magrib, Danu pamit

Di teras, Ara mengantarnya sebentar

“Makasih ya Mas… sudah mau repot” ucap Ara pelan

Danu tersenyum hangat “Ini bukan repot. Ini tanggung jawab”

Ara menatapnya beberapa detik

“Mas…”

“Iya?”

“Makasih sudah bikin aku merasa nggak sendirian”

Danu tersenyum lebih dalam “Memang nggak sendirian”

Motor dinyalakan

Ara berdiri sampai suara mesin itu menjauh

Malamnya, ia kembali duduk di ruang TV bersama Ibu.

“Bu…” suaranya pelan “Menurut Ibu, Mas Danu itu gimana?”

Ibu Adis tersenyum lebih serius “Dia laki-laki yang tahu posisinya. Nggak banyak janji, tapi langkahnya jelas. Datang sopan, bicara hormat, mau diskusi. Dan yang paling penting… dia nggak gengsi”

Ara menunduk.

“Yang penting kamu jangan minta berlebihan” ucap ibunya dengan nada serius

Ara mengangguk “Iya, Bu… aku juga nggak mau berlebihan yang penting sesuai adat dan secukupnya”

Ibu Adis menghela napas pelan “Nah, itu yang penting. Lamaran itu bukan soal mahalnya isi seserahan tapi niat dan tanggung jawabnya”

Ara terdiam sejenak.

Kata “tanggung jawab” membuatnya memikirkan banyak hal.

Ara kembali membuka catatan di ponselnya “Bu, kalau seserahan biasanya apa saja, ya? Biar aku buat listnya rapi”

Ibu Adis mulai menghitung dengan jari “Biasanya ada seperangkat alat salat, mukena atau sajadah. Terus pakaian, tas, sepatu, kosmetik secukupnya. Buah-buahan juga bisa. Kue tradisional kalau mau lebih lengkap”

Ara mengetik satu per satu dengan serius.

“Bu, kalau kosmetik… aku nggak mau banyak nanti dibilang matre lagi” ucapnya pelan setengah bercanda

Ibu Adis langsung menatapnya tegas tapi lembut. “Nak jangan pernah kecilkan diri sendiri cuma karena takut dinilai orang. Kalau itu memang kebutuhanmu, ya wajar”

Ara terdiam.

“Ibu nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan yang minta berlebihan” lanjut Ibu Adis “Tapi ibu juga nggak mau kamu merasa nggak pantas menerima”

Kalimat itu terasa menenangkan sekaligus menguatkan.

Ara tersenyum kecil “Iya Bu”

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!