NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Viola Mulai Curiga

🌹 Puisi: Mawar yang Terlalu Sunyi

Di taman sunyi, mawar merah bersemi

Tanpa suara, tanpa keluh, tanpa air mata

Angin curiga mulai bertiup pelan

"Kenapa kau diam saat durimu menusukku?"

Kupikir kau boneka porselen yang retak

Kupikir kau selingkuh yang buta dan bisu

Tapi di matamu yang teduh itu

Ada lautan yang tak pernah kuselami

Saat kau tersenyum padaku setiap pagi

Rasa bersalahku berubah jadi tanya

Siapa sebenarnya yang terkubur di balik senyum itu?

Dan mengapa tanganku gemetar melihatmu tenang?

—Viola, di malam yang mulai gelap

---

Viola meregangkan lehernya yang pegal.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Kamar tidurnya gelap, hanya diterangi cahaya biru dari layar laptop yang terbuka di pangkuannya. Richard terlelap di sebelahnya dengan dengkur halus—laki-laki itu selalu bisa tidur nyenyak setelah bercinta, seolah tak punya beban sedikit pun.

Tapi Viola tidak bisa tidur.

Sudah seminggu ini ia gelisah. Perasaannya mengganggu seperti duri yang tertinggal di bawah kulit—tak terlihat, tapi sakit setiap kali tersentuh.

Alana.

Namanya muncul di layar laptop. Viola membuka folder yang ia curi diam-diam dari komputer Richard minggu lalu. Isinya: laporan keuangan perusahaan, data investor, dan... surat-surat lama Wijaya Group.

Ia menggulir perlahan, matanya menyipit.

"Ada yang aneh," bisiknya.

Perusahaan Richard memang goyah. Tiga proyek besar gagal dalam dua bulan terakhir. Investor mulai menarik diri. Richard mengira ini karena persaingan bisnis biasa. Tapi Viola tidak percaya hal sederhana itu.

Terlalu cepat. Terlalu terarah. Terlalu... rapi.

Viola ingat bagaimana perusahaan Richard masih stabil tiga bulan lalu. Lalu tiba-tiba, satu per satu proyek ambruk seperti domino. Dan yang membuatnya curiga: semua proyek yang gagal adalah proyek yang tidak melibatkan aset atas nama Alana.

"Kebetulan?" gumamnya.

Ia membuka catatan kecil di ponselnya—kebiasaan lamanya sebagai wartawan lepas dulu. Di sana ia mencatat hal-hal aneh tentang Alana dalam sebulan terakhir:

📌 13 Maret: Alana keluar rumah jam 10 pagi, pulang jam 4 sore. Bilang ke supir "ke mal", tapi mobil diparkir di kawasan bisnis. (Cek lokasi: dekat gedung PNM Investment).

📌 19 Maret: Paket atas nama "Sari" datang ke rumah. Alana yang terima. Isinya? Buku? dokumen? Viola lihat sampulnya logo konsultan keuangan.

📌 25 Maret: Alana "sakit" dan tidak keluar kamar. Tapi Viola lihat dari jendela belakang: Alana duduk di taman membaca dokumen tebal, sesekali menelepon dengan laptop di sampingnya.

📌 1 April: Alana tersenyum aneh saat Richard mengumumkan proyek barunya gagal. Bukan senang, bukan sedih. Tapi senyum orang yang sudah tahu sebelumnya.

Viola menghela napas panjang. Ia menatap Richard yang tidur tak berdosa.

"Kau benar-benar bodoh atau memang sengaja buta?" bisiknya kesal.

Pagi harinya, Viola memutuskan menguji Alana langsung.

Sarapan di ruang makan berjalan seperti biasa. Richard sudah pergi lebih awal ke kantor—mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari perusahaannya. Hanya Viola dan Alana yang duduk berhadapan di meja panjang marmer putih.

Alana menyendok bubur ayamnya pelan-pelan. Wajahnya tenang. Gaun rumah sutra warna krem membungkus tubuhnya yang ramping. Tidak ada riasan berarti, tapi kulitnya berseri—terlalu berseri untuk wanita yang katanya "tertekan" karena suami selingkuh di depan matanya.

Viola mengamati dari balik cangkir kopinya.

"Kamu tidur nyenyak tadi malam, Lan?" tanya Viola dengan nada paling manis yang bisa ia ciptakan.

Alana mengangkat wajah. Senyum tipis terukir. "Cukup nyenyak. Kamu?"

"Ah, aku agak begadang. Baca-baca berita." Viola meletakkan cangkirnya. "Omong-omong, kamu dengar kabar perusahaan Richard makin kacau?"

"Richard jarang cerita bisnis denganku." Alana menjawab datar, masih menyendok buburnya.

"Aneh ya," Viola menyandarkan dagu di tangan, berpura-pura berpikir. "Dulu waktu ayahmu masih ada, Wijaya Group sebesar apa. Sekarang perusahaan Richard yang katanya 'warisan' dari ayahmu malah goyah. Apa mungkin ada yang sengaja menghancurkannya?"

Untuk pertama kalinya, gerakan sendok Alana berhenti.

Sejenak.

Lalu lanjut lagi, sempurna.

"Mungkin memang sudah waktunya." Alana menatap Viola dengan mata sendu. "Semua yang naik pasti turun. Bukankah begitu?"

Viola menahan napas. Matanya menatap Alana dalam-dalam, mencari celah, mencari kepalsuan.

Tapi Alana hanya tersenyum—senyum yang sama seperti tiga tahun lalu, saat pertama Viola datang ke rumah ini sebagai "sahabat". Lembut. Tulus. Bodoh.

"Kau baik-baik saja, Lan?" tanya Viola pelan.

"Baik. Kenapa?"

"Kau terlalu... tenang." Viola mencondongkan badan. "Suamimu hampir bangkrut. Mertuamu, eh, maksudku... ayah mertuamu sudah tiada. Sahabatmu ini kadang khawatir kalau kau depresi atau sesuatu."

Alana tertawa kecil. Suaranya seperti lonceng kaca. "Terima kasih khawatirnya, Via. Tapi aku baik-baik saja."

"Terima kasih khawatirnya." Viola mengulang dalam hati. Bukan "terima kasih sudah peduli." Bukan "aku bersyukur punya sahabat sepertimu." Hanya... formalitas.

Viola menggigit bibir dalam.

Setelah sarapan, Viola berpura-pura ke kamar mandi. Tapi sebenarnya ia mengendap ke sayap barat rumah—tempat ruang kerja Alana dulu, sebelum ayahnya meninggal. Sekarang ruang itu terkunci rapat.

Viola sudah mencoba membukanya berkali-kali. Tapi kuncinya diganti.

Hari ini, Viola membawa kunci cadangan yang ia buat diam-diam dua minggu lalu dari tukang kunci lokal. Ia mengaku kehilangan kunci kamarnya sendiri.

Kini, dengan jantung berdebar, ia memasukkan kunci ke lubang.

Klik.

Pintu terbuka.

Viola melangkah masuk. Ruangan itu gelap, tirai tebal menutup jendela. Bau kertas tua dan kayu rosewood memenuhi hidungnya. Viola meraba dinding, mencari saklar lampu.

Saat lampu menyala, matanya membelalak.

Ruangan itu bukan ruang kerja biasa.

Dinding penuh rak buku, tapi bukan buku biasa—laporan tahunan, dokumen hukum, arsip perusahaan. Di tengah ruangan, meja kayu besar dengan tiga layar komputer yang tersusun rapi. Salah satunya masih menyala, menampilkan grafik saham dan pergerakan pasar.

Viola mendekati meja. Tangannya gemetar menyentuh mouse.

Satu klik.

Layar utama menampilkan folder dengan judul: PROYEK DOMINO.

Ia membukanya. Daftar file muncul:

· Target 1: Proyek Sentosa (Gagal total - Maret) ✅

· Target 2: Akuisisi Tambang (Batal - April) ✅

· Target 3: Kerjasama PNM (Dialihkan - April) ✅

· Target 4: Richard (Dalam proses) ⏳

· Target 5: Viola (Pending) ⏳

Darah Viola terasa membeku.

Ia membaca lebih lanjut. File-file itu berisi detail rencana penghancuran proyek-proyek Richard—satu per satu, dengan rapi, dengan bukti-bukti penggelapan yang dikirim ke pihak berwenang secara anonim. Bahkan ada daftar investor yang dihubungi untuk menarik diri dari kerja sama dengan Richard.

Viola menggigit bibir sampai hampir berdarah.

Selama ini... Alana?

Pikirannya berpacu. Ia ingat semua senyum Alana, semua sikap lemahnya, semua air mata palsunya? Atau... air mata itu nyata, tapi di baliknya ada mesin perang yang bekerja diam-diam?

"Ya Tuhan..." bisik Viola.

Ia mengeluarkan ponsel, mulai memotret semua bukti. Layar komputer, folder, catatan-catatan di meja.

Satu foto. Dua foto. Tiga—

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak Viola?"

Viola berbalik cepat.

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Seragam putih abu-abu, sapu tangan di kepala. Mbok Darmi—pembantu tua yang sudah bekerja untuk keluarga Wijaya sejak Alana kecil.

Mbok Darmi menatapnya dengan mata tajam. Matanya beralih ke ponsel Viola, lalu ke layar komputer yang terbuka.

Viola tersenyum kaku. "Ah, Mbok... saya cari Alana. Pintunya kebetulan terbuka, jadi saya masuk..."

"Kamar ini selalu dikunci, Mbak." Mbok Darmi melangkah masuk, tanpa suara. "Dan Alana tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke sini."

"Aku sahabatnya—"

"Saya tahu siapa Mbak Viola." Potong Mbok Darmi datar. "Saya yang menyiapkan kamar tamu untuk Mbak tiga tahun lalu. Saya juga yang melihat Mbak keluar dari kamar Tuan Richard jam dua pagi, setiap Kamis malam, selama tiga tahun."

Viola tersedak udaranya sendiri.

Mbok Darmi tersenyum tipis. Bukan senyum ramah pembantu pada tamu. Tapi senyum orang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya.

"Alana sudah menunggu Mbak di ruang tamu," kata Mbok Darmi. "Katanya, Mbak pasti akan datang ke sini hari ini. Katanya... suruh saya sampaikan: anggrek liar tidak akan pernah bisa tumbuh di taman mawar, karena akarnya berbeda."

Viola membeku.

Alana tahu.

Alana tahu Viola akan datang. Alana tahu Viola curiga. Alana tahu—tentang dirinya dan Richard, tentang semuanya.

Dan Alana membiarkannya datang.

Sengaja.

Viola turun ke ruang tamu dengan langkah gontai. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia berusaha memasang wajah tenang. Mungkin ini jebakan. Mungkin Alana hanya menebak. Mungkin...

Alana duduk di sofa panjang, secangkir teh di tangan. Wajahnya menghadap ke taman melalui jendela kaca besar. Cahaya matahari pagi membingkainya seperti lukisan.

"Via," sapa Alana tanpa menoleh. "Duduklah."

Viola duduk di sofa seberangnya. Alana baru menoleh saat Viola sudah duduk.

Dan untuk pertama kalinya, Viola melihat sesuatu di mata Alana yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan kesedihan. Bukan kelemahan. Bukan ketulusan bodoh yang selama ini ia kira ada.

Tapi ketenangan predator yang tahu mangsanya sudah masuk perangkap.

"Aku tahu kau ke ruang kerjaku," kata Alana tenang. "Aku sengaja membiarkan pintu tidak terkunci."

Viola menelan ludah. "Alana, aku hanya—"

"Mencari bukti?" Alana menyela, tersenyum. "Menemukannya?"

Viola diam.

Alana meletakkan cangkir tehnya. Gerakannya lambat, elegan, seperti dalam film-film lama.

"Tiga tahun, Via." Suaranya masih lembut, tapi ada nada baru di sana—dingin, seperti air danau di pagi hari. "Tiga tahun kau tidur dengan suamiku di rumahku. Tiga tahun kau memakai bajuku, perhiasanku, bahkan parfumku. Tiga tahun kau tersenyum padaku sambil menusukku dari belakang."

"Alana, aku—"

"Dan aku diam." Alana menatapnya lekat-lekat. "Kau tahu kenapa?"

Viola tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa kering.

"Karena aku sedang mengukur seberapa dalam duriku harus tertancap," bisik Alana. "Sekarang aku sudah tahu."

Viola bangkit berdiri, ponselnya terangkat. "Aku punya bukti! Semua foto di ruang kerjamu! Aku bisa menghancurkanmu! Aku bisa kasih ke Richard, ke polisi, ke media—"

Alana tertawa.

Tawanya mengalun indah, seperti lonceng perak. Tapi di telinga Viola, tawa itu terdengar seperti lonceng kematian.

"Via sayang." Alana berdiri, melangkah mendekat. "Kau pikir aku tidak tahu kau akan datang? Kau pikir aku tidak sengaja meninggalkan semua bukti itu untuk kau temukan?"

Viola mundur selangkah. "Apa maksudmu?"

Alana berhenti tepat di depan Viola. Ia lebih pendek beberapa sentimeter, tapi Viola merasa dirinyalah yang mengecil.

"Foto-foto itu," bisik Alana di telinganya. "Kirim ke siapa pun kau mau. Tapi sebelum kau kirim, lihat lagi tanggalnya. Lihat lagi isinya. Dan tanya pada dirimu sendiri: mana yang benar-benar bukti, dan mana yang sengaja kusiapkan untuk kau temukan?"

Viola membuka ponselnya, jemarinya gemetar membuka foto-foto tadi.

Target 1: Proyek Sentosa (Gagal total - Maret)

Target 2: Akuisisi Tambang (Batal - April)

Target 3: Kerjasama PNM (Dialihkan - April)

Target 4: Richard (Dalam proses)

Target 5: Viola (Pending)

Ia perbesar layar. Di sudut file, tertulis kecil:

"Dokumen ini sengaja dibuat untuk konsumsi Viola. - Alana"

Viola tersentak.

Ia lihat foto-foto lainnya. Semua ada catatan kecil di sudut. Semua ditujukan untuknya. Semua... jebakan.

"Selama ini..." bisik Viola, suaranya pecah. "Kau tahu... dari awal?"

Alana kembali duduk di sofanya, mengambil cangkir teh lagi. Wajahnya teduh, seperti patung dewi Yunani.

"Ayahku pernah bilang," ucapnya pelan. "Jangan pernah melawan ular dengan tangan kosong. Biarkan ular itu merayap, biarkan ia merasa aman, biarkan ia mengira taman ini miliknya. Lalu... ketika ia paling tidak curiga..."

Alana menyesap tehnya.

"Tunjukkan bahwa taman ini penuh duri."

Viola jatuh duduk di sofa. Ponselnya terlepas dari tangan. Matanya kosong menatap Alana—wanita yang selama ini ia anggap bodoh, lemah, buta.

Ternyata selama tiga tahun, dialah yang buta.

"Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Viola lirih.

Alana menatapnya lama. Lalu tersenyum—bukan senyum kemenangan, tapi senyum lembut yang dulu Viola kenali.

"Aku belum memutuskan," jawab Alana jujur. "Tapi kau tahu, Via? Yang paling menyakitkan dari pengkhianatan bukanlah lukanya."

"Apa?"

Alana menunduk, melihat bunga mawar di vas kaca di meja. Dengan hati-hati, ia memetik satu kelopak.

"Luka bisa sembuh. Tapi kehilangan kepercayaan?" Ia menatap Viola lagi. "Itu tidak akan pernah kembali. Kepada siapa pun."

Viola merasakan dadanya sesak. Ia tidak tahu apakah itu takut, menyesal, atau keduanya.

Alana bangkit, berjalan menuju tangga. Sebelum naik, ia berbalik.

"Oh ya, Via." Suaranya ringan. "Kamar tamu sudah tidak tersedia mulai hari ini. Dan Richard? Kau boleh tetap bersamanya. Tapi ingat..."

Senyum Alana mengembang—indah, sempurna, mematikan.

"Duri mawar ini baru mulai tumbuh."

Di kamarnya, Alana berdiri di depan jendela. Ia melihat Viola keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, menenteng koper kecil.

Di taman belakang, tukang kebun sedang memangkas mawar-mawar merah.

Alana tersenyum tipis.

"Babak pertama selesai," bisiknya pada cermin. "Sekarang, biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya hidup di taman yang kutanam."

Ia mengambil ponsel, mengetik pesan singkat ke Lucas:

"Viola sudah tahu. Jalankan rencana B. Dan kirim bunga ke Nathan—mawar merah, tanpa duri. Katakan: 'Terima kasih sudah meminjamkan pisau. Sekarang biar aku yang menggunakannya.'"

Pesan terkirim.

Alana memandang bayangannya sendiri di cermin. Gaun sutra krem, rambut tergerai rapi, wajah tanpa riasan berarti.

Tapi di matanya...

Di matanya, api sudah menyala.

Mawar ini mekar di tengah duri.

Dan siapa pun yang memetiknya... harus siap berdarah.

---

[Bersambung (⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

---

🌹 Puisi Penutup Bab:

Kau kira mawar hanya diam di taman

Kau kira kelopaknya lemah tak bersenjata

Tapi saat kau petik, kau baru tahu

Duri yang kau lihat kemarin baru permulaan

Yang tak kau lihat: akarnya menjalar di bawah tanah

Mencengkeram bumi, menunggu waktu

Saat kau paling nyaman berpijak

Tanah itu akan runtuh, dan kau ikut jatuh

—Alana, untuk Viola yang mulai melihat

---

1
lin sya
msih menyimak alurnya, ttp smgat aluna, Lo diterpa byk badai tp lo ttp sehat cuma mental dan kesabaran Lo aj yg diuji, jadi gunakanlah logika dan hati hati dalam bertindak 😍
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!