Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM HRD, HATI ORANG DALAM
Pagi itu, Bagas bangun lebih awal dari ayam jago tetangganya. Setelah semalaman nyaris tidak tidur karena membayangkan berbagai skenario wawancara mulai dari ditanya visi misi hidup sampai disuruh memeragakan cara menjual bolpoin yang macet ia akhirnya berdiri di depan cermin pecah seribu di kamarnya.
Dengan bantuan sedikit air dan sisir plastik yang giginya sudah ompong dua, ia berhasil menjinakkan rambutnya yang biasanya mirip sarang burung pecicilan. Kemeja putih hasil setrikaan Ibu semalam tampak sangat rapi, saking rapinya Bagas takut untuk duduk. Ia merasa seperti selembar kertas HVS berjalan yang harus dijaga agar tidak lecek sebelum sampai di medan perang.
"Ibu, Bapak, Bagas berangkat dulu ya. Doakan semoga hari ini bukan cuma sekadar mampir kasih lamaran, tapi pulang bawa kabar gajian," pamit Bagas sambil mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
"Amin, Gas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa baca doa, biar hatinya tenang," jawab Ibu sambil menyelipkan uang dua puluh ribu ke saku celana Bagas uang hasil upah mencuci baju pagi itu yang sepertinya dipaksakan cukup untuk ongkos anaknya.
Bagas sampai di PT. Sumber Makmur Sejahtera tepat pukul 08.30. Gedungnya tidak terlalu besar, tapi tampak sangat sibuk. Ia segera melapor ke bagian keamanan dan diarahkan menuju lantai dua. Di sana, sudah ada sekitar lima orang pemuda lain yang nasibnya kurang lebih sama kemeja putih, celana kain hitam, dan wajah yang memancarkan aura "Tolong terima saya, saldo ATM saya tinggal dua ribu rupiah".
Bagas duduk di pojok, mencoba bersikap tenang sambil memperhatikan saingannya. Di sebelahnya, ada seorang cowok tinggi yang terus-menerus merapikan dasinya dengan gugup.
Namun, perhatian Bagas teralih pada seorang pemuda lain yang duduk paling depan. Pemuda itu tidak memakai kemeja putih standar, melainkan kemeja batik bermerk yang tampak mahal. Ia tidak terlihat gugup.
Malah, ia asyik mengobrol dan tertawa dengan salah satu karyawan yang lewat. "Lho, lu yang anaknya Om Darwin itu kan? Wah, udah gede ya. Mau interview buat posisi admin ya? Tenang aja, Pak Manajer udah tahu kok," ujar si karyawan tadi sambil menepuk pundak si pemuda batik.
Jantung Bagas terasa seperti dihantam palu godam. Om Darwin? Pak Manajer udah tahu? Kalimat-kalimat itu berputar di kepala Bagas seperti lalat yang mengganggu.
Ia melirik map cokelatnya yang mulai sedikit basah karena keringat dari telapak tangannya. Perasaan minder mulai merayap, mencoba meruntuhkan benteng percaya dirinya yang sudah ia bangun susah payah sejak subuh tadi. "Saudara Bagas Pratama? Silakan masuk," panggil seorang wanita berkacamata dari balik pintu kaca.
Bagas berdiri, menarik napas dalam, dan masuk dengan langkah yang dicoba untuk tetap tegap meskipun lututnya gemetar. Di dalam ruangan, duduk seorang wanita HRD yang tampak sangat profesional namun auranya sedingin es di kutub utara.
"Silakan duduk, Bagas. Jelaskan tentang dirimu secara singkat," ujar si HRD tanpa basa-basi, matanya tetap tertuju pada berkas di depannya.
Bagas memulai presentasinya. Ia bercerita tentang pengalamannya memimpin organisasi di sekolah, keahliannya menggunakan Microsoft Office yang ia pelajari secara otodidak, hingga tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Ia bicara dengan penuh semangat, mencoba menunjukkan bahwa meskipun ia tidak punya "Om Darwin", ia punya kompetensi yang bisa diandalkan.
Si HRD hanya mengangguk-angguk kecil, sesekali mencatat sesuatu di kertasnya. "Kualifikasi kamu cukup bagus untuk lulusan baru. Tapi jujur saja, kami mencari seseorang yang bisa langsung nyambung dengan ritme kerja di sini. Kamu tahu kan, sekarang persaingan sangat ketat?"
"Saya sadar akan hal itu, Bu. Itulah kenapa saya siap belajar lebih cepat dan bekerja lebih keras daripada yang lain. Saya punya motivasi besar untuk membuktikan kemampuan saya," jawab Bagas dengan mata yang berbinar tulus.
Wawancara itu berlangsung sekitar tiga puluh menit. Di akhir sesi, si HRD tersenyum tipis jenis senyum yang sulit diartikan apakah itu tanda setuju atau sekadar basa-basi administratif. "Baik, Bagas. Terima kasih atas waktunya. Kami akan mengabari kamu dalam satu minggu jika kamu lolos ke tahap selanjutnya."
Bagas keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa telah memberikan segalanya, tapi bayangan "Anak Om Darwin" tadi masih menghantuinya.
Saat ia berjalan menuju lift, ia sempat melewati ruangan manajer yang pintunya terbuka sedikit. Di sana, ia melihat si pemuda batik tadi sedang duduk santai sambil meminum kopi di depan sang manajer, mereka tampak tertawa akrab seolah sedang merencanakan liburan akhir pekan bersama, bukan sedang membicarakan pekerjaan.
Bagas menunduk, menekan tombol lift dengan perasaan hampa. Di dalam lift yang sepi, ia menatap bayangannya sendiri di dinding logam yang mengkilap. Kemeja putihnya sudah mulai lecek di bagian perut. Ia meraba uang dua puluh ribu di sakunya.
Sebagian besar habis untuk ongkos busway dan ojek tadi. Sisanya mungkin hanya cukup untuk membeli es teh manis dan sebungkus roti untuk dibagi bersama orang tuanya nanti sore.
"Ternyata benar kata orang," bisik Bagas pada dirinya sendiri saat keluar dari gedung. "Ijazah itu tiket masuk, tapi orang dalam itu pintu tolnya. Saya di sini masih antre di gerbang manual, sementara mereka sudah melesat pakai jalur cepat."
Ia berjalan menuju halte busway dengan langkah cepat. Matahari siang itu terasa lebih menyengat daripada biasanya. Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah baliho besar bergambar sebuah keluarga bahagia yang sedang berlibur di Menara Eiffel persis seperti mimpinya semalam. Bagas berhenti sejenak, menatap baliho itu cukup lama.
"Sabar, Bu, Pak. Bagas janji, suatu hari nanti bukan cuma keponakan manajer yang bisa ketawa. Bagas juga bakal ajak kalian ketawa di depan menara itu," gumamnya pelan.
Satu minggu berlalu. Setiap kali ponselnya bergetar, jantung Bagas seolah berhenti berdetak. Ia selalu berharap itu adalah pesan dari HRD PT. Sumber Makmur Sejahtera. Namun, yang masuk justru tawaran pinjaman online atau pesan dari grup alumni yang pamer kalau mereka sudah diterima kerja (lewat jalur orang dalam juga, tentu saja).
Hingga pada hari ketujuh, sebuah pesan masuk.
‘Terima kasih atas minat saudara Bagas pada perusahaan kami. Saat ini kami telah memilih kandidat yang lebih sesuai dengan kebutuhan kami...’
Bagas meletakkan ponselnya pelan-pelan di atas kasur. Ia tidak marah, ia tidak berteriak. Ia hanya merasa... kosong. Ia berjalan keluar kamar, melihat ibunya yang sedang menyetrika baju tetangga sambil mengipasi dirinya sendiri dengan koran bekas.
"Gimana, Gas? Ada kabar?" tanya Ibu tanpa menoleh, tangannya tetap lincah menyetrika.Bagas terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tidak akan melukai hati ibunya.
"Belum rezeki, Bu. Katanya mereka cari yang tingginya minimal seratus delapan puluh senti. Kayaknya Bagas kurang minum susu pas kecil," jawab Bagas sambil mencoba tertawa.
Ibu berhenti menyetrika, menoleh ke arah Bagas dengan tatapan yang sangat dalam. "Nggak apa-apa, Gas. Berarti Tuhan sedang nyiapin tempat yang lebih baik. Mungkin tempat yang gajinya cukup buat beli susu biar kamu makin tinggi," canda Ibu sambil mengelus pundak Bagas.
Bagas memeluk ibunya dari belakang. Ia tahu perjuangan baru saja dimulai. Penolakan pertama ini hanyalah "pemanasan". Di luar sana, masih banyak drama "Orang Dalam" dan "Persyaratan Absurd" yang menunggunya. Tapi Bagas sudah bersumpah: Ia tidak akan berhenti sampai ia berhasil mengubah air mata ibunya menjadi air mata bahagia di negeri orang.