NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Overprotektif

Di kampus, hari terasa berjalan seperti biasa. Kelas berganti, suara mahasiswa saling bersahutan, dan rutinitas terus berputar. Namun bagi Axel, ada satu hal yang terasa janggal sejak pagi.

Lara tidak ada.

Axel melirik bangku yang biasa ditempati gadis itu—kosong. Tidak ada tasnya, tidak ada botol minum warna pastel yang sering ia letakkan sembarangan.

Ia meraih ponselnya.

Beberapa detik ia menatap layar, lalu akhirnya mengetik.

Axel:

Lara, kamu nggak masuk hari ini?

Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala.

Lara:

Iya, Axel. Aku nggak ke kampus.

Axel mengernyit.

Axel:

Kamu kenapa? Masih sakit?

Lara:

Iya, tapi sekarang sudah agak mendingan. Lagi istirahat aja.

Meski membaca kata mendingan, dada Axel masih terasa tidak tenang. Jemarinya kembali bergerak, kali ini lebih cepat.

Axel:

Kamu sendirian di apartemen? Kalau perlu ditemani—

Pesan itu terkirim sebelum ia sempat menghapusnya.

Beberapa detik berlalu.

Lara:

Nggak kok. Aku lagi di kantor.

Axel terdiam.

Di kantor?

Axel:

Kantor? Maksudmu…

Balasan Lara datang nyaris tanpa jeda.

Lara:

Pamanku nggak mau ninggalin aku sendirian, jadi aku dibawa ke kantornya.

Axel menatap layar ponsel cukup lama. Ada jeda hening yang aneh, bahkan di dalam dirinya sendiri. Namun rasa penasaran itu akhirnya menang.

Axel:

Paman kamu sudah pulang?

Beberapa detik terasa jauh lebih lama dari seharusnya.

Lara:

Iya. Pulang sejak tadi malam.

Axel menelan ludah.

Axel:

Oh…

Ia hendak berhenti di situ, tapi satu kalimat lagi meluncur tanpa izin dari pikirannya.

Axel:

Setidaknya kamu tidak sendirian.

Balasan Lara datang pelan, tapi efeknya menghantam tepat ke dadanya.

Lara:

Iya. Pamanku yang jagain aku. Semalam aku demam.

Deg.

Axel merasa sesuatu di dalam dirinya bergeser. Bukan marah ataupun cemburu ,hanya rasa tidak nyaman yang samar namun menusuk, seperti ada tempat yang tiba-tiba bukan lagi miliknya.

Ia menatap layar ponsel tanpa berkedip.

Akhirnya, setelah cukup lama, ia mengetik kembali.

Axel:

Kalau begitu, kamu istirahat yang baik ya. Jangan dipaksakan.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Lara:

Makasih, Axel.

Axel mengunci layar ponselnya dan menyandarkan tubuh ke kursi. Tatapannya kosong, pikirannya penuh oleh hal-hal yang tidak bisa ia jabarkan.

Axel masih menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Kata-kata Lara terus berputar di kepalanya, saling bertabrakan, meninggalkan gema yang tidak nyaman.

Dibawa ke kantor.

Dijagain semalaman.

Tidak mau meninggalkan Lara sendirian.

Axel menghembuskan napas pelan.

Entah sejak kapan, kata "paman" jadie terdengar… aneh.

Bukan berarti ia menuduh atau berpikir yang tidak-tidak. Ia tahu Lara gadis baik, polos, dan jujur. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal. Seorang paman—paman biasa—apakah akan sebegitu protektifnya?

Axel mencoba berpikir rasional. Mungkin karena pamannya memang pengganti orang tua Lara, pikirnya.

Mungkin dia cuma terlalu sayang. Ia berusaha menenangkan diri dengan kemungkinan itu.

Namun perasaan di dadanya tidak sepenuhnya mau diam.

Ia tidak ingin berprasangka buruk. Tidak sekarang. Tidak tanpa bukti. Tapi rasa penasaran itu sudah terlanjur tumbuh, berakar pelan di pikirannya.

Untuk pertama kalinya, Axel menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak—

Ada sosok lain dalam hidup Lara, yang keberadaannya belum sepenuhnya ia pahami.

Arka masih menatap layar laptopnya, barisan angka dan grafik yang biasanya begitu mudah ia cerna kini terasa kabur. Sudut matanya menangkap gerakan kecil di sofa—Lara yang sejak tadi sibuk menunduk, jarinya lincah membalas pesan.

Awalnya Arka berusaha mengabaikan. Ia memaksa fokus kembali ke layar, menarik napas pelan, berpura-pura tidak peduli.

Namun beberapa detik berlalu, dan rasa penasaran itu justru makin mengganggu.

“Ada yang penting?” tanyanya akhirnya, suaranya dibuat senetral mungkin.

Lara mendongak sebentar. “Hm? Oh, enggak. Cuma balas pesan.”

“Dari siapa?” Arka bertanya lagi, kali ini terlalu cepat untuk ukuran orang yang mengaku tidak peduli.

Lara menjawab tanpa beban. “Axel.”

Arka tidak mengatakan apa-apa, tapi rahangnya mengeras tipis. Tangannya berhenti di atas keyboard. Axel. Lagi-lagi nama itu muncul, seolah selalu menemukan jalan untuk hadir di sela-sela hidup Lara.

Ia kembali menatap layar, pura-pura fokus. Lara sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresinya. Gadis itu kembali bersandar nyaman, lalu membuka ponselnya, mengganti aktivitas—kali ini menonton serial drakor kesukaannya.

Beberapa menit berlalu dengan tenang.

Tiba-tiba ponsel Lara berdering.

Lara mengangkatnya. “Halo?”

Arka melirik refleks, kali ini tidak repot-repot menyembunyikan perhatiannya.

Dari cara Lara tersenyum, Arka tahu—ini bukan panggilan biasa.

“Udah baikan?” suara di seberang terdengar cukup jelas meski tidak sepenuhnya.

“Iya, mendingan kok,” jawab Lara.

“Syukurlah. Kampus hari ini rasanya hampa banget tanpa kamu,” lanjut suara itu, disusul tawa ringan.

Lara menutup mulut, menahan tawa. “Lebay.”

Percakapan berlanjut mereka bercerita tanpa henti, melontarkan candaan absurd yang membuat Lara beberapa kali terkekeh, bahkan sempat tertawa lepas tanpa sadar.

Dan Arka melihat semuanya.

Cara mata Lara menyipit saat tertawa.

Cara bahunya bergerak kecil menahan cekikikan.

Cara wajahnya terlihat… hidup.

Sesuatu di dada Arka mengencang.

Setelah panggilan itu berakhir, Lara meletakkan ponselnya dan kembali bersandar, masih dengan sisa senyum di bibirnya.

Arka menutup laptopnya perlahan.

“Itu… orang yang sama?” tanyanya, nadanya terdengar datar, tapi ada tekanan samar di baliknya.

Lara menggeleng santai. “Bukan.”

Arka menatapnya. “Lalu?”

“Namanya Revan, teman baru."

Nama itu membuat kekesalan Arka—yang tadinya hanya setitik—melonjak begitu saja.

Revan. Nama mahasiswa yang kemarin mengantar Lara pulang.

Arka bersandar di kursinya, menghembuskan napas panjang lewat hidung.

Sungguh tidak masuk akal. Baru ditinggal tiga hari. Tiga hari saja.

Dan keponakannya ini sudah dikelilingi oleh pria-pria asing.

Arka memijat pelipisnya pelan, berusaha menenangkan diri.

Ini normal, katanya dalam hati. Lara masih muda. Dan ruang lingkupnya luas.

Tapi entah kenapa, pikiran itu tidak cukup menenangkan.

Ia tahu. Ia benar-benar tahu.

Lara bukan anak kecil lagi,dan sudah beranjak dewasa, berada di lingkungan kampus, punya banyak teman—itu wajar. Sangat wajar. Arka mengulang kalimat itu dalam kepalanya seperti mantra.

Namun ada satu hal yang terus mengganjal.

Kenapa semuanya laki-laki?

Dari sekian banyak mahasiswa di kampus itu, dari sekian banyak kemungkinan pertemanan, kenapa yang terlihat dekat dengan Lara justru selalu laki-laki? Axel, sekarang Revan. Dan entah siapa lagi nanti.

Keheningan di ruangan itu akhirnya pecah.

“Lara.”

Lara menoleh. “Hm?”

Arka berbicara dengan nada tenang, terlalu tenang bahkan. “Karena kondisimu masih belum stabil, mulai besok kamu pergi dan pulang denganku.”

Lara mengedipkan mata.

“Aku yang akan mengantar dan menjemputmu,” lanjut Arka, seolah itu keputusan paling logis di dunia.

Lara terdiam beberapa detik, mencoba mencerna. Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Tidak ada penolakan, tidak ada protes—hanya ekspresi bingung bercampur kaget.

Arka menatapnya sekilas, memastikan tidak ada bantahan yang menyusul. Dan ketika Lara tetap diam, ia menganggap itu sebagai persetujuan.

Dalam hati, Arka merasa sedikit lebih tenang.

Ia bukan sedang membatasi. Ia hanya sedang menjaga. Begitu pikirnya.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!