"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Ultimatum Jungkook
Malam di Seoul terasa seperti sedang menahan napas. Di luar gedung rumah sakit tempat Seokjin berjuang melawan maut, hujan mulai turun—bukan hujan deras yang membersihkan, melainkan gerimis tipis yang membuat aspal tampak hitam mengkilap seperti sisik ular. Jungkook melangkah keluar dari lobi rumah sakit tanpa menoleh lagi pada Sheril. Hatinya telah mengeras menjadi bongkahan es yang tajam. Kesedihan yang sempat terpancar di matanya saat menatap Sheril kini telah menguap, digantikan oleh kobaran api amarah yang murni dan dingin.
Ia menaiki motornya, memacu mesin hingga raungannya memecah kesunyian malam. Ia tidak menuju restoran, bukan pula menuju apartemen. Tujuannya adalah sebuah gedung perkantoran mewah di pusat distrik Gangnam yang menjadi kedok bagi markas rahasia Park Jimin.
Jungkook melewati gerbang keamanan tanpa berhenti. Para penjaga yang melihat wajahnya—wajah seorang pria yang sudah tidak memiliki apa pun untuk kehilangan—memilih untuk mundur. Mereka tahu siapa Jeon Jungkook. Mereka tahu di balik kelembutan tangannya saat memegang spatula, tersimpan ketangkasan yang mampu memutus urat nadi dalam hitungan detik.
Ia menendang pintu kantor Jimin hingga terbuka lebar. Di dalam, ruangan itu terang benderang, beraroma cerutu mahal dan kayu ek. Jimin sedang duduk di balik meja kerja mahoninya, dengan tenang membolak-balik halaman sebuah majalah seni.
Jungkook menerjang maju secepat kilat. Sebelum Jimin sempat bereaksi, Jungkook sudah melompati meja kerja itu, mencengkeram kerah baju sutra Jimin, dan menekan tubuh pria itu hingga menghantam sandaran kursi kulitnya.
Srak!
Kilatan logam perak muncul di tangan Jungkook. Sebuah pisau koki dengan ujung yang sangat lancip kini menempel tepat di bawah rahang Jimin, menekan kulit lehernya hingga sedikit cekung.
"Kau bilang kau tidak akan menyentuh keluarga Sheril!" geram Jungkook. Suaranya rendah, parau, dan bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau melanggar janji, Jimin! Kau mengirim Hoseok untuk membantai kakak iparku!"
Jimin tidak bergerak. Ia tidak mencoba melawan, tidak juga menunjukkan ketakutan. Ia justru menghela napas panjang, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seorang anak kecil yang sedang tantrum. Matanya menatap mata Jungkook yang menyala penuh amarah dengan ketenangan yang mengerikan.
"Lepaskan kerah bajuku, Kook. Ini sutra dari Italia, kau akan merusaknya," ujar Jimin datar.
"AKU AKAN MEROBEK LEHERMU SEBELUM KAU BISA BICARA SOAL BAJU!" teriak Jungkook, menekan pisaunya lebih dalam. Setitik darah merah muncul di ujung mata pisau, merembes ke kulit pucat Jimin.
Jimin akhirnya tertawa. Bukan tawa yang meledak-ledak, melainkan tawa kecil yang tenang, yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Seokjin yang mencariku, Jungkook-ah. Dia yang datang ke gudang itu sendirian. Dia yang mencoba menodongkan senjata ke arah Hoseok. Aku hanya membela diri. Dalam dunia kita, seseorang yang datang mencari maut biasanya akan menemukannya."
"Dia polisi! Dia menjalankan tugasnya!"
"Dan kau adalah pembersih mayatku! Kau menjalankan tugasmu!" balas Jimin, suaranya kini meninggi, menandingi intensitas Jungkook. "Jangan berpura-pura menjadi suci hanya karena kau jatuh cinta pada seorang dokter forensik. Kau dan aku, kita berada di dalam lumpur yang sama. Bedanya, aku menerima lumpur itu, sedangkan kau mencoba mencucinya dengan air mata Sheril."
Jungkook terdiam, namun pisaunya tidak bergemerincing sedikit pun. Cengkeramannya justru semakin kuat.
"Aku sudah mengikuti semua maumu," bisik Jungkook dengan gigi terkatup. "Aku membersihkan setiap kekacauan yang dibuat J-Hope. Aku menyembunyikan setiap mayat yang kau hasilkan. Aku menjadi monster agar kau tetap kaya dan berkuasa. Aku hanya meminta satu hal: biarkan Sheril dan keluarganya aman. Tapi kau mengkhianatiku."
Jimin menatap Jungkook dengan tatapan kasihan. Ia mengulurkan tangannya yang bebas, perlahan menyingkirkan mata pisau Jungkook dari lehernya. Kali ini, Jungkook membiarkannya.
"Kau pikir kau punya posisi untuk memberi ultimatum padaku?" tanya Jimin sambil merapikan kerah bajunya yang kusut. Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Seoul yang gemerlap. "Dengarkan aku baik-baik, Koki kecil. Aku punya rekaman CCTV dari setiap lokasi yang pernah kau bersihkan. Aku punya rekaman suaramu saat kau mengoordinasikan pengiriman mayat melalui truk dagingmu. Aku punya semua bukti yang dibutuhkan Jin untuk menjebloskanmu ke penjara seumur hidup besok pagi."
Jungkook membeku di tempatnya berdiri.
"Bayangkan wajah Sheril saat dia melihat video kekasihnya sedang menjahit mayat dengan penuh ketenangan," lanjut Jimin, suaranya kini kembali lembut, nyaris seperti bisikan seorang sahabat. "Bayangkan saat dia menyadari bahwa anting mutiara yang kau pakaikan di telinganya sebenarnya berasal dari dalam lambung seseorang yang kau 'tangani'. Dia tidak akan hanya membencimu, Kook. Dia akan jijik padamu."
Jungkook menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang. Ancaman itu adalah satu-satunya hal yang bisa menjatuhkannya. Ia tidak takut mati, tapi ia takut pada tatapan jijik Sheril.
Jimin berbalik, berjalan mendekati Jungkook dan meletakkan tangan di bahunya. "Sekarang, pilihannya ada di tanganmu. Ini adalah ultimatumku."
Jungkook mendongak, matanya yang basah kini tampak redup, seperti api yang baru saja diguyur air es.
"Kau berhenti memberontak, dan kau selesaikan satu tugas terakhir. Ada seorang saksi baru, seorang pengacara yang tahu terlalu banyak tentang pencucian uangku. Habisi dia. Bukan hanya dibersihkan, tapi dieksekusi oleh tanganmu sendiri," perintah Jimin. "Jika kau melakukannya, aku akan memerintahkan Hoseok untuk menarik diri dari rumah sakit. Jin akan hidup. Dia akan sembuh, dan dia akan tetap menjadi kakak yang pelindung bagi Sheril. Kalian bisa terus bermain rumah-rumahan sesuka hati kalian."
Jungkook menatap pisau di tangannya. Pisau yang sama yang ia gunakan untuk memotong steak romantis bersama Sheril.
"Dan jika aku menolak?" tanya Jungkook lirih.
"Maka besok pagi, seluruh Seoul akan tahu siapa Jeon Jungkook sebenarnya. Dan malam ini juga, J-Hope akan memastikan alat pacu jantung Seokjin di rumah sakit itu berhenti berfungsi secara 'misterius'. Sheril akan kehilangan kakaknya, dan dia akan kehilangan kau di saat yang bersamaan. Dia akan hancur, Kook. Benar-benar hancur."
Kesunyian menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Jungkook merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Tidak ada jalan keluar yang bersih. Ia telah terjebak dalam jaring laba-laba yang ia bantu bangun sendiri.
"Siapa nama pengacara itu?" tanya Jungkook akhirnya. Suaranya terdengar mati, seolah-olah jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya.
Jimin tersenyum lebar. Ia mengambil sebuah amplop cokelat dari laci mejanya dan menyerahkannya kepada Jungkook. "Aku tahu kau akan membuat keputusan yang bijak. Kau melakukannya demi cinta, bukan? Bukankah cinta itu pengorbanan?"
Jungkook mengambil amplop itu tanpa melihat isinya. Ia memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berat. Di dalam kepalanya, ia melihat wajah Sheril yang sedang menangis di rumah sakit. Ia melihat darah Jin di tangan Sheril.
Ia menyadari bahwa untuk menyelamatkan nyawa Jin dan menjaga agar dunia Sheril tidak runtuh, ia harus benar-benar menjadi monster yang selama ini ditakutkan oleh semua orang. Ia harus mengotori tangannya sendiri dengan darah, bukan lagi sekadar membersihkannya.
Saat ia sampai di parkiran bawah tanah, Jungkook menyalakan motornya. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat foto Sheril yang menjadi wallpaper-nya.
"Maafkan aku, Sheril," bisik Jungkook. "Aku akan pergi ke neraka, asal kau tetap bisa melihat surga."
Ia memacu motornya menuju lokasi target selanjutnya. Di belakangnya, bayangan Jimin dan Hoseok terus mengintai, menunggu saat di mana Jungkook akan sepenuhnya kehilangan kemanusiaannya. Dan di rumah sakit, Sheril masih terus mencuci tangannya, tidak menyadari bahwa di saat yang sama, kekasihnya sedang bersiap untuk melakukan pembunuhan pertamanya demi memastikan kakaknya tetap bernapas.