Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau saja...
“semua orang menganggapku kuat, tanpa pernah benar-benar bertanya padaku apakah aku benar-benar kuat?”
***
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui celah tirai dapur.
Nala sudah terbangun lebih dulu. Rambutnya diikat sederhana, mengenakan kemeja rumah berwarna lembut dengan lengan digulung sampai siku. Di atas meja makan kecil, ia menata sarapan untuk Kala—roti panggang hangat, telur setengah matang, dan segelas susu yang masih mengepul tipis.
Aroma mentega memenuhi ruangan, kontras dengan pikirannya yang masih berat sejak semalam.
Kala keluar kamar dengan langkah malas dan rambut sedikit berantakan. “Kak, pagi banget…” gumamnya serak.
Nala tersenyum tipis, senyum yang selalu ia pakai khusus untuk adiknya—lebih tulus, lebih hangat dibanding senyum yang ia berikan pada dunia luar.
“Makan dulu. Jangan telat,” katanya lembut sambil mengusap puncak kepala Kala.
Kala duduk, mulai menyantap sarapan tanpa banyak curiga. Ia tak pernah tahu betapa rumit hidup kakaknya sekarang. Tak pernah tahu tentang sandiwara besar yang sedang Nala jalani. Dan yang paling penting—tak pernah tahu tentang Baskara.
Bagi Nala, Kala tak perlu tahu.
Tak perlu tahu bahwa pria yang selama ini hanya mereka kenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar… adalah ayah kandungnya. Tak perlu tahu bahwa darah yang sama mengalir di tubuh mereka, namun hanya satu yang diakui.
Itu bukan beban yang harus dipikul Kala.
Setelah memastikan adiknya selesai makan, Nala berdiri dan merapikan tasnya. Hari ini ia harus pergi ke rumah Baskara. Ada hal yang perlu dibicarakan—tentang Kaluna yang secara langsung meminta dirinya merancang gaun pernikahan.
Permintaan itu bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah langkah lain dalam permainan yang semakin rumit.
“Aku pergi dulu ya,” ucap Nala pelan.
Kala mengangguk. “Hati-hati, mbak.”
Nala berhenti sepersekian detik di depan pintu. Ada sesuatu yang mengganjal setiap kali ia melangkah keluar menuju dunia Baskara. Dunia yang tak pernah benar-benar mengakuinya.
Ia menarik napas dalam, lalu keluar.
Rumah Baskara berdiri megah seperti biasa—gerbang tinggi terbuka otomatis saat Nala memasuki halaman. Taman tertata rapi, air mancur di tengah halaman memercikkan air dengan ritme yang nyaris angkuh.
Setiap kali ia datang ke sini, ada jarak tak kasatmata yang menekan dadanya.
Ia bukan tamu.
Namun ia juga bukan benar-benar bagian dari rumah itu. Hari ini, ia datang bukan sebagai anak yang ingin disambut. Bukan pula sebagai putri yang ingin dipeluk.
Ia datang untuk berdiskusi bisnis.
Tentang desain gaun pernikahan Kaluna.
Tentang bagaimana ia harus tetap berdiri di garis tipis antara profesionalitas dan kenyataan pahit bahwa semua ini bermula dari keputusan seorang ayah yang memilih anaknya. Dan saat ia melangkah masuk ke ruang tamu besar itu, Nala kembali mengenakan topengnya.
Tenang.
Dewasa.
Tanpa emosi.
Karena bagi dunia Baskara, itulah satu-satunya versi dirinya yang dianggap cukup.
Pintu utama terbuka bahkan sebelum Nala benar-benar menekan bel.
Seorang kepala pelayan yang sudah berusia menyambutnya dengan sikap hormat, setelan hitamnya rapi tanpa lipatan. Wajahnya datar, profesional, seolah rumah megah itu memang tak pernah memiliki ruang untuk ekspresi berlebih.
“Selamat pagi, Nona,” ucapnya tenang. “Tuan Baskara sedang sarapan.”
Nala mengangguk kecil. “Saya akan menemuinya.”
Tak ada sapaan hangat. Tak ada pertanyaan basa-basi. Kepala pelayan itu berbalik dan berjalan lebih dulu, langkahnya teratur melewati lorong panjang dengan lantai marmer mengilap. Nala mengikuti di belakang, suara hak sepatunya menggema pelan di ruang yang terasa terlalu luas.
Ruang makan itu besar, dipenuhi cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela tinggi. Meja panjang dari kayu solid terhampar dengan tata hidangan yang tertata sempurna. Baskara duduk di ujung meja, membaca koran bisnis sambil menyeruput kopi hitamnya.
Ia tidak langsung menoleh ketika Nala masuk.
Kepala pelayan menyingkir tanpa suara.
Nala berdiri beberapa detik, menunggu. Dadanya terasa sedikit sesak, namun wajahnya tetap tenang.
“Ada yang ingin saya bicarakan,” ucapnya akhirnya.
Baru saat itu Baskara melipat korannya perlahan. Tatapannya datar, tajam seperti biasa.
“Apa?”
Nala menelan ludah tipis sebelum berkata, “Kaluna meminta saya—yang ia kira Arsha—untuk mendesain gaun pernikahannya.”
Hening.
Tak ada keterkejutan.
Tak ada pertanyaan.
Baskara hanya menatapnya beberapa detik, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ekspresinya kosong, terlalu tenang untuk kabar yang seharusnya mengandung risiko besar.
“Sudah kuduga,” jawabnya singkat.
Seolah memang ini bagian dari skenario yang sudah ia perhitungkan.
Tak ada nada cemas. Tak ada penyesalan. Hanya kalkulasi.
Baskara mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada seseorang di luar ruangan. Beberapa detik kemudian, asistennya masuk dengan map arsip tebal berwarna hitam.
“Berikan itu,” perintah Baskara pendek.
Map itu diletakkan di hadapan Nala.
“Di dalamnya ada sketsa desain Arsha yang belum pernah dipublikasikan,” lanjut Baskara tenang. “Pelajari. Gunakan sebagai referensi. Pastikan tidak ada yang mencurigakan.”
Nada suaranya tidak terdengar seperti seorang ayah yang sedang membantu anaknya.Lebih seperti direktur yang sedang memberikan materi kerja kepada bawahannya. Nala menatap map itu beberapa detik. Jarinya menyentuh permukaan kertasnya yang dingin. Sketsa Arsha. Bahkan untuk gaun pengantin orang lain… ia tetap harus memakai bayangan Arsha.
“Baik,” jawab Nala pelan.
Baskara kembali mengangkat cangkir kopinya, seolah percakapan itu sudah selesai.
Tak ada pertanyaan seperti, “Kamu sanggup?”
Tak ada kalimat, “Hati-hati.”
Hanya instruksi.
Nala berdiri dengan map di tangannya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya—bukan marah, bukan sedih sepenuhnya. Lebih seperti rasa kosong yang terlalu sering dirasakan hingga menjadi biasa.
Ia sempat berharap, mungkin pagi ini akan berbeda.
Namun ternyata tidak.
Dan ketika ia berbalik untuk pergi, Baskara sudah kembali membuka korannya—seolah keberadaan Nala tadi hanyalah bagian kecil dari jadwal pagi yang teratur.
Sementara Nala melangkah keluar dengan membawa sketsa milik saudari kembarnya, sadar bahwa bahkan dalam karya yang akan ia buat… namanya sendiri tetap tidak akan pernah disebut.
Nala melangkah menuju ruangan yang selama ini menjadi tempatnya “belajar menjadi Arsha”.
Ruangan itu terletak di sisi timur rumah Baskara—sebuah studio pribadi dengan meja gambar besar, rak-rak penuh buku desain internasional, serta papan moodboard yang ditempeli potongan kain dan sketsa. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, menyinari debu-debu halus yang beterbangan pelan di udara.
Di sinilah ia berlatih meniru.
Meniru cara Arsha menggambar garis bahu.
Meniru bagaimana Arsha memilih jatuhnya kain.
Meniru tanda tangan kecil di sudut sketsa.
Nala meletakkan map hitam di atas meja dan membukanya perlahan.
Satu per satu lembaran desain terbentang di hadapannya.
Dan untuk sesaat… ia benar-benar terdiam.
Sketsa-sketsa itu indah.
Garisnya tegas namun lembut. Siluet gaun-gaun itu tampak hidup, seolah bisa bergerak hanya dengan melihatnya. Ada permainan tekstur, detail renda yang digambar begitu teliti, lipatan kain yang jatuh sempurna di atas kertas. Setiap desain memiliki karakter. Elegan. Modern. Berkelas.
Arsha memang berbakat.
Bukan hanya karena ia bersekolah tinggi di luar negeri. Bukan hanya karena fasilitas yang lengkap. Tapi karena ia benar-benar memiliki mata yang terlatih.
Nala mengusap pelan salah satu lembaran, jemarinya berhenti di detail garis leher gaun yang rumit.
“Keren sekali…” gumamnya lirih.
Kagum.
Tulus.
Namun di sela kekaguman itu, sesuatu yang lain menyusup perlahan.
Iri.
Iri yang kecil, tapi tajam.
Arsha beruntung.
Beruntung bisa belajar di kampus desain luar negeri. Beruntung memiliki studio sendiri. Beruntung memiliki nama yang diakui.
Sedangkan dirinya?
Nala tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit.
Ia hanya lulusan SMP.
Kemampuan yang ia miliki bukanlah menggambar haute couture atau memahami struktur kain mahal. Ia tahu cara menyeduh kopi dengan takaran pas di warnet. Ia tahu cara memasak mie instan cepat saat pelanggan ramai. Ia tahu cara menghitung uang di laci kasir tanpa salah.
Itu dunia yang ia kenal.
Bukan dunia dengan buku desain impor dan pensil arsitektur mahal. Nala menunduk, menatap lagi lembaran-lembaran itu.
Ia belajar keras untuk mengejar bayangan seseorang yang sejak awal sudah berada jauh di depan.
“Kalau saja…” bisiknya tak selesai.
Ia tersenyum lagi—kali ini lebih rapuh.
Dan tanpa ia sadari, pandangannya mulai mengabur. Ada rasa panas yang menumpuk di pelupuk mata. Air mata yang tak ia izinkan jatuh sejak lama, kini perlahan berkumpul di ujung matanya.
Ia cepat-cepat mengedipkan mata, seolah bisa menahan semuanya kembali.
Namun satu tetes tetap lolos. Jatuh tepat di atas sketsa gaun pengantin yang indah itu. Meninggalkan noda kecil di atas karya Arsha. Nala terdiam, menatap noda itu dengan napas tertahan. Entah ia sedang menangisi nasibnya.
Atau sedang berduka atas kehidupan yang seharusnya bisa ia miliki.